Warna Corinthian pada Identitas Real Madrid

Ilustrasi: Arif Utama.

Warna putih, buat Real Madrid, seringkali disimbolkan dengan kesempurnaan dan kejayaan sesuai dengan yang dicita-citakan oleh para pendiri.

Orang mengingat Real Madrid dengan berbagai julukan: Los Vikingos, Los Galacticos, hingga Los Blancos.

Los Vikingos populer sebagai julukan Madrid pada era 1970-an. Meski terkesan menyeramkan, julukan ini mulanya muncul sebagai bentuk ejekan dari pendukung Atletico Madrid kepada Madrid, yang skuatnya diisi oleh beberapa pemain Skandinavia berpostur tinggi dengan rambut pirang.

Los Galacticos disematkan kepada Madrid pada awal 2000-an. Label ini muncul karena kebijakan presiden baru saat itu, Florentino Perez, yang rela mengucurkan dana tak sedikit untuk memboyong bintang, seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, hingga David Beckham.

Berbeda dengan predikat sebelumnya yang lahir sebagai bentuk cibiran, frasa Los Blancos diberikan kepada Madrid berkaitan dengan warna kebesaran dan kostum mereka, putih (Los Blancos memiliki arti “Si Putih”).

***

Pembentukan Madrid diawali oleh adanya klub bernama Nuevo Sociedad yang kemudian berganti nama menjadi Madrid FC. Dari 50 orang pendiri Nuevo Sociedad ada pria asal Irlandia bernama Arthur Johnson, yang diketahui memiliki pengalaman bermain di level amatir Inggris.

Johnson diceritakan pernah bermain untuk Corinthian FC. Corinthian tercatat sebagai klub amatir dengan reputasi besar di Britania Raya hingga dunia meski tercatat hanya sekali melakoni pertandingan resmi.

Dalam buku 'The Flying Sportsman: A Biography of FNS Creek', dijelaskan bagaimana Corinthian didirikan atas semangat sportivitas, fair play, dan akan selalu menjadi tim yang berjuang tanpa peduli hadiah atau trofi.

Ide pembentukan Corinthian dimulai saat petinggi Football Association, N. L. Jackson cemas melihat perkembangan sepak bola di Skotlandia. Lantas, bersama beberapa guru dari sekolah-sekolah ternama Inggris, ia membentuk sebuah klub sepak bola.

Corinthian FC ketika melakoni tur ke Amerika Utara pada 1906. Foto: Wikimedia Commons.

Pada masa awal didirikan, Corinthian diisi oleh anak-anak muda yang pandai secara akademis yang didukung tubuh atletis. Klub ini menggunakan putih sebagai warna jersey dan hitam sebagai warna celana.

Nama Corinthian mulai dikenal pada akhir 1880-an. Pada era tersebut, mereka tercatat pernah mengalahkan tim yang menjadi cikal bakal Manchester United, Newton Heath LYR FC, dengan skor 11-3.

Pada level nasional, Corinthian diketahui pernah mengalahkan dua mantan juara FA Cup, Blackburn Rovers dan Bury. Blackburn dikalahkan dengan angka 8-1, sementara Bury digasak lewat skor akhir 6-0.

Mimpi Jackson seakan menjadi kenyataan saat mayoritas pemain Inggris diisi oleh mayoritas pemain Corinthian. Pertandingan melawan Wales pada 1894 dan 1895, seluruh pemain Inggris bahkan berasal dari Corinthian.

Cerita paling unik soal Corinthian terjadi ketika mereka dihadapkan pada penalti. Saat dihukum, mereka tak segan untuk mempersilakan lawan mencetak gol. Sementara, saat mereka diberi hadiah penalti, mereka akan menembak ke atas gawang agar tidak terjadi gol.

Segala hal soal Corinthian diceritakan dan dipraktikkan oleh Johnson ketika bergabung Madrid pada 1902. Pada periode awal kedatangannya, ia mempelopori banyak hal yang terinspirasi dari Corinthian dan menjadi fondasi sepak bola masa kini, mulai dari pentingnya kapten tim hingga posisi pemain.

Last but not least, Johnson juga memberi ide untuk menggunakan warna kebesaran Corinthian, yakni putih, sebagai warna jersey Madrid. Ia percaya bahwa putih, yang seringkali disimbolkan dengan kesempurnaan dan kejayaan sesuai dengan yang dicita-citakan oleh para pendiri.

***

Toni Kroos dengan jersey putih Real Madrid. Foto: Twitter @realmadrid.

Sejak berdiri, Madrid menjadikan putih sebagai warna dominan pada kostum kandang. Dari yang awalnya putih polos hingga sekarang putih dengan balutan pink dalam tiga garis.

Satu-satunya perubahan terjadi pada 1925. Meski tetap menggunakan putih sebagai warna jersey, mereka mengganti putih sebagai warna dominan di celana dengan hitam. Tujuannya sebagai bentuk penghormatan atas jasa yang diberikan Corinthian kepada mereka.

Saat ini, Madrid tak lagi diisi oleh pemain-pemain asal Skandinavia dan bukan lagi klub yang mau merogoh kocek dalam-dalam untuk mendatangkan pemain bintang. Melihat kenyataan tersebut, barangkali, Los Blancos mungkin menjadi julukan yang paling relevan untuk Madrid.

[AF]

====

*Buat yang mau tahu lebih banyak soal jersey, lengkap dengan panduan fashion dan lifestyle-nya, bisa main-main ke KultureKit. Cek Instagram mereka di: @kulturekit.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.