Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Yang Baik Adalah Mane

Foto: @FCBayern

Mane pergi meninggalkan segala hal baik yang pernah ia ukir bersama Liverpool. Kini, ia tiba di Bayern Muenchen, klub yang siap membuatnya terus bahagia.

Sebagai fan Liverpool, saya tidak pernah menyangka bahwa Sadio Mane akan pergi lebih dulu ketimbang dua rekannya, Mohamed Salah dan Roberto Firmino.

Sebelum musim panas ini, kepergian Mane jadi yang paling sedikit dibicarakan. Orang-orang lebih sibuk membicarakan Salah dan kontraknya. Ketika berbicara soal Mane, hal yang muncul hanyalah hal-hal baik. Entah itu soal keberhasilannya bersama Senegal atau kemurahan hatinya dalam membangun kampung halaman.

Kalaupun berbicara dalam konteks Liverpool, itu adalah soal penampilan Mane yang menanjak musim ini--setelah inkonsisten musim lalu (hanya mencetak 12 gol di liga)--dan soal peran barunya sebagai penyerang tengah dalam pola 4-3-3 milik Juergen Klopp. Dan itu semua, lagi-lagi, adalah perihal baik.

Maka selaiknya kepergian orang baik lain, kepergian Mane juga meninggalkan kesedihan. Setidaknya buat saya atau buat fan Liverpool lainnya. Sebab, sebagai pemain, Mane memang spesial. Bukan saja soal penampilan, tetapi juga soal etos kerja dan kerendahan hati yang ia tunjukkan selama berseragam Liverpool.

Jika berbicara penampilan, kita tahu seberapa spektakulernya Mane. Ia membukukan 120 gol selama membela panji The Reds, pernah jadi top-skorer Premier League, dan empat kali terpilih masuk ke dalam Tim Terbaik Premier League versi PFA. Ia adalah sosok penting di balik beragam gelar yang diraih Liverpool di eranya Klopp.

Soal kerja keras, jangan ditanya. Mane bisa menjadi sosok yang terlihat tak kenal lelah sepanjang laga. Ia siap berlari, siap melewati lawan, siap menekan, siap menembak, dan siap melakukan segala hal untuk membantu Liverpool jadi pemenang selama 90 menit. Ia juga tak serakah, tak pernah meminta jadi sorotan utama--meski kita tahu ia selalu layak untuk ini.

Kini Mane sudah menginjakkan kaki di Muenchen. Ia memutuskan hengkang setelah enam tahun bersama Liverpool. Bayern, sejauh ini, terlihat sebagai klub yang tepat untuk Mane. Mereka punya segalanya untuk membuat Mane bahagia: Peluang jadi juara, tempat untuk menjadikannya superstar, rekan setim yang berkualitas, dan suporter yang fantastis.


Selama membela Liverpool, Mane pernah bermain di seluruh pos lini depan: Mulai dari penyerang kiri, penyerang kanan, sampai kemudian jadi penyerang tengah. Melihat ia mampu tampil di seluruh posisi itu dengan sama baiknya, adaptasi di Bayern jelas bukan perkara sulit buat pria asal Senegal ini.

Jika Robert Lewandowski pergi, besar kemungkinan Mane akan bermain sebagai penyerang tengah. Jadi ujung tombak Bayern. Ia melakukan ini cukup sering di Liverpool musim kemarin dan hasilnya tak mengecewakan. 11 kali tampil di posisi tersebut, Mane mampu membukukan delapan gol.

Postur Mane mungkin tidak sebesar dan sekekar Lewandowski. Namun, ia memiliki pelbagai atribut yang dibutuhkan untuk jadi penyerang tengah tajam: Naluri gol tinggi, cukup kuat untuk menahan bola, pintar mengelabui lawan lewat gerakan dan kecepatan, serta punya penyelesaian yang apik via kaki maupun kepala.

Mane memang lebih dikenal sebagai pemain sayap yang memulai pergerakan dari sisi tepi kotak penalti, tapi 118 dari 120 gol yang ia ciptakan buat Liverpool tercipta di dalam kotak. Ini menunjukkan betapa berbahayanya ia di kotak penalti lawan. Bayern akan mendapat mesin gol yang amat berbahaya dalam dirinya.

Grafis: @petemotz

Andai pun Lewandowski bertahan, Mane bisa bermain dari sayap seperti sediakala. Ia akan bergerak dari sisi tepi seperti biasanya, kemudian menusuk ke dalam kotak penalti, dan melepaskan tembakan atau umpan. Dinamika pada lini depan Bayern pun akan lebih liat, sebab Mane jelas memberikan sesuatu yang tak dimiliki sayap-sayap Bayern lain: Kemampuan membuat momen-momen spesial secar konsisten.

Sejak kepergian Franck Ribery dan Arjen Robben, Bayern belum punya lagi sosok pemain sayap yang seperti ini (tentu saya tak menghitung Thomas Mueller sebagai pemain sayap). Leroy Sane, Serge Gnabry, dan Kingsley Coman memang pemain sayap yang bagus, tapi daya ledak mereka belum sekonsisten Mane.

Dalam diri Mane, Julian Nagelsmann juga bakal menemukan mesin pressing baru buat lini depan timnya. Sejak membela Liverpool, angka pressing sukses Mane tak pernah di bawah 30%. Bila direratakan per 90 menit, ia juga mampu mencatat lima pressing sukses per laga. Ini jelas akan menguntungkan Bayern.

Mane juga punya bisa bermain di kondisi apa saja, ketika tim memegang kendali penguasaan bola maupun saat tim bermain lebih reaktif dengan mengandalkan transisi. Kecepatan dan kontrol bola akan jadi jagoannya. Dengan Nagelsmann yang suka bermain di dua kondisi itu, memiliki Mane jelas akan menjadi nilai tambah.

Singkatnya, Mane dan Bayern memang saling membutuhkan. Mane membutuhkan klub baru yang bisa terus membuatnya jadi pemain paling bahagia di dunia, Bayern membutuhkan pemain yang bisa mendongkrak performa tim secara signifikan. Dan Bayern, di riwayat transfer yang buruk dalam beberapa musim terakhir, juga membutuhkan tambahan pemain bintang.

Sudah lama sekali Bayern tidak mendatangkan pemain dari liga lain dengan CV sementereng Mane. Untuk makin menegaskan filosofi Mia San Mia (we are who we are) bahwa Bayern adalah klub besar, klub pemenang, salah satu klub terbaik di muka Bumi, mereka membutuhkan sebuah gerakan besar dengan merekrut superstar.

***

Bagi Liverpool dan fansnya, Mane akhirnya harus pergi. Mereka kehilangan salah satu pemain terbaik. Pemain yang konsisten berkontribusi besar dalam beberapa musim terakhir. Pemain yang mungkin akan sangat dirindukan karena beberapa aksinya tak mampu digantikan oleh pemain lain. Pemain yang begitu menyenangkan untuk didukung.

Kepergian Mane juga mengakhiri era trio emas bersama Salah dan Firmino. Memang sudah ada Diogo Jota, Luis Diaz, sampai sekarang Darwin Nunez. Namun, trio ini begitu ikonik bagi fans Liverpool karena di era merekalah Liverpool kembali sebagai klub raksasa Eropa setelah tertidur lelap sekian tahun lamanya.

Buat fans Liverpool, atau setidaknya saya, sebenarnya ada terbesit harapan untuk melihat trio itu bertahan lebih lama di Anfield. Namun, setelah Mane pergi, harapan itu, mengutip Gunawan Maryanto, rontok seketika, berjatuhan seperti bunga-bunga yang gugur di musim yang kering dan berangin.

Semoga yang terbaik, Mane. Dan untuk Bayern dan seluruh pendukungnya: Tolong jaga Mane baik-baik.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now