Yang Dibutuhkan Manchester United Adalah Stabilitas

Foto: @ManUtd

Dari era Sir Alex Ferguson, Manchester United mestinya belajar bagaimana caranya menjaga stabilitas, bukan sekadar mengumpulkan trofi.

Apa yang membuat Manchester United-nya Sir Alex Ferguson istimewa bukan sekadar gelimang trofi. Ia lebih mirip seperti sebuah imperium yang maruk: Dari waktu ke waktu berada di atas, emoh untuk turun.

Tentu saja menyebut Ferguson atau United-nya dulu dalam tatanan sepak bola sekarang bak menyeka relik. Membayangkan ada manajer bisa bertahan dua dekade lebih atau sebuah klub mendominasi hampir seluruh musim liga domestik selama 20 tahun sama saja seperti berbicara ketidakmungkinan.

Ferguson adalah alfa dan omega United era lawas. Ia yang merancang kerangka bangunan, menancapkan pancang-pancang, membangun fondasi, dan berulang kali memugar klub tersebut. Begitu ia mengundurkan diri, cerita tidak pernah sama buat ‘Iblis Merah’.

Namun, bukan berarti United tidak bisa menoleh dan mengejar pelan-pelan apa yang dilakukan Ferguson. Ketika pertama kali masuk ke lapangan latihan United pada 1986, Ferguson menemukan klub dalam kondisi tak karuan: Lama puasa gelar liga dan puas menjadi pemenang turnamen domestik, plus pemain yang doyan mabuk-mabukan, menjadi wabah buat klub.

Ferguson paham bahwa apa yang menantinya di depan adalah jalan terjal. Menyingkirkan kultur mabuk-mabukan sekaligus mengubah perangai pemain bukan perkara gampang. Ini bukan perkara menjual atau menyingkirkan pemain satu per satu perlahan-lahan, melainkan kerja seharian dan seminggu penuh secara terus-menerus. Ibaratnya, Ferguson harus mendedikasikan hidupnya cuma untuk mengenyahkan mental bobrok itu dari klub.

Kalau pada akhirnya Ferguson berhasil dan mendapatkan karier yang begitu masyhur sebagai manajer United, ia tidak mendapatkannya dengan mudah. Cercaan—salah satu yang paling terkenal adalah banner ‘3 Years of Excuses And It’s Still Crap… Ta Ra Fergie’— dan ancaman pemecatan pernah menghampiri.

Salah satu anekdot dalam kariernya yang paling dikenang adalah bagaimana seorang pemain bernama Mark Robins menyelamatkan kans United di Piala FA 1989/90 lewat golnya di pertandingan replay babak semifinal. Lewat gol itu, United lolos ke final dan akhirnya menjadi juara.

Menurut laporan BBC, pada tahun 1990 banyak suporter United sudah gerah dengan kepemimpinan Ferguson. Kalau saja tahun itu United gagal meraih trofi, ucapan ‘Ta Ra Fergie’ tersebut sudah pasti jadi kenyataan.

Setahun setelah menjuarai Piala FA, United memenangi Piala Winners. Dua tahun setelahnya, mereka menjuarai Premier League untuk pertama kalinya. Dua puluh tahun setelah itu, Ferguson pensiun dan United menjadi tim paling sukses di Liga Inggris.

Ferguson yang tadinya hendak ditendang berubah menjadi sosok yang warisannya mesti dijaga sebaik-baiknya. Bahkan, sampai para pendukung United membuat ingatan kolektif bahwa ada yang namanya ‘Man Utd Way’ mengenai cara bermain ofensif ala Ferguson. Padahal, kemenangan-kemenangan yang diraih Ferguson tak melulu rupawan.

Cerita Ferguson di United adalah cerita bagaimana seorang anak buruh dari Skotlandia membangun stabilitas dari nol. United-nya memang bergelimang gelar juara, tetapi mereka tidak akan meraihnya tanpa stabilitas.

Orang-orang boleh menggarisbawahi deretan trofi sebagai pencapaian paling tinggi dari era Ferguson. Namun, seringkali banyak yang melupakan bahwa stabilitas itu sendiri yang merupakan magnum opus dari United-nya Ferguson. Tanpa stabilitas, bagaimana caranya bisa bertahan selama itu di level teratas?

Ferguson memulainya dengan membenahi scouting dan akademi United. Tujuannya jelas, demi mendapatkan bibit-bibit terbaik yang bisa mereka semai di kemudian hari. Setelah itu, ia mulai mengumpulkan pemain-pemain yang sekiranya bisa dijadikan tulang punggung kokoh tim.

Bryan Robson, meskipun pemabuk berat, tidak ia tendang karena paham seberapa pentingnya Captain Marvel ini buat tim. Selanjutnya, ia membangun tim dari lini belakang. Steve Bruce dan Gary Pallister, duet bek kokoh yang jarang betul absen, plus Denis Irwin, bek kiri yang katanya reliable minta ampun, hingga akhirnya menemukan kiper tinggi-besar dan sulit untuk ditaklukkan bernama Peter Schmeichel.

Ketika kepingan-kepingan penting sudah terkumpul satu demi satu, barulah satu keping terakhir ia temukan. Namanya Eric Cantona. Di antara keping-keping yang bercirikan kekokohan, Cantona menyajikan imajinasi. Maka, lengkap sudah semuanya.

Ketika fondasi bangunan sudah tertanam dan bangunan akhirnya berdiri dengan kokoh, Ferguson hanya perlu memugarnya dari tahun ke tahun, menyesuaikan diri dengan zaman. Kita kemudian melihat bahwa seiring dengan zaman, United bermain dengan berbagai macam formasi: 4-4-2 pada era 1990an, 4-4-1-1 pada era 2000an awal, hingga 4-3-3 pada 2008.

Ferguson, sekalipun dianggap tidak cemerlang dalam perkara menyusun taktik, nyatanya bukan pelatih yang buta-buta amat. Sejak muda, ia mengagumi bagaimana Hongaria, yang berisikan Nandor Hidegkuti dan Ferenc Puskas, mempersetankan posisi saklek dan membuat lawan bingung bukan kepalang. Konon, ide yang begitu lama tersimpan di sudut kepalanya ini baru bisa terwujud di United ketika memiliki Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez sekaligus.

Sebagai orang yang ahli dalam tata kelola klub dan man management, Ferguson tinggal membuat kerangka taktik tim—atau mengomunikasikan seperti apa ia ingin timnya bermain—dan membiarkan asisten-asistennya mengisi kerangka tersebut dan mewujudkan permainan seperti yang ia mau.

Ketika Ferguson pensiun, United akhirnya mengalami siklus. Kebanyakan tim besar dan modern paham mesti berbuat apa ketika mengalami siklus. Namun, United gagap.

Alih-alih memikirkan bagaimana caranya stabilitas itu terjaga, mereka justru bersikap asal-asalan. Mulai dari penunjukan pelatih yang karakternya berbeda satu sama lain hingga pembelian pemain mahal yang kontribusinya dipertanyakan adalah menu wajib.

Tak heran apabila kedatangan satu atau dua trofi dilanjutkan dengan performa medioker pada musim berikutnya. Stabilitas itu hilang. Maka, ketika wacana menunjuk Director of Football (DoF) muncul beberapa musim silam, United dianggap mulai sadar diri dan akhirnya mau beradaptasi dengan zaman.

Pada era Ferguson, dia adalah manajer dengan kewenangan luas. Ia sendiri yang menilai pemain apakah cocok untuk timnya atau tidak—atau sesuai dengan skema yang ia inginkan atau tidak—dan membelinya. Ini membuat Ferguson menjadi pancang paling penting dari United. Dialah yang mengetahui luar-dalam bagaimana United sebagai sebuah tim (dan sebuah klub) bekerja. Begitu ia pergi, semuanya hilang.

Pada sepak bola modern, peran Director of Football menjadi penting karena dialah yang menjaga sebuah tim (dan klub) sustain dari musim ke musim. Pemain dan pelatih yang digaet harus sesuai dengan profil yang diinginkan oleh klub.

Tentu, tak semua pelatih setuju bekerja dengan kehadiran seorang Director of Football karena merasa kewenangannya bakal dikebiri. Namun, tak semua pelatih yang bekerja dengan Director of Football bakal bermasalah. Asal komunikasi terjaga dan visi selaras, semua aman-aman saja. Juergen Klopp dan Michael Edwards di Liverpool, serta Pep Guardiola dan Txiki Begiristain di Manchester City, bisa menjadi contoh bagus. Malah, Guardiola belakangan berterima kasih kepada Begiristain atas pembelian Ruben Dias.

Kinerja yang baik dari Director of Football memungkinkan sebuah tim mengidentifikasi pemain-pemain yang betul-betul cocok untuk tim, sesuai dengan skema yang sudah disepakati sang pelatih dan sang DoF. Ini bisa menghindari sebuah klub mendapatkan pemain dengan harga kelewat mahal, tapi kontribusinya minim. Malah, kalau beruntung, bisa saja sebuah klub mendapatkan pemain dengan harga murah, tetapi atribut-atribut si pemain amat cocok dengan skema tim. Cara Liverpool mengidentifikasi Ibrahima Konate sebagai bidikan teranyar bisa dijadikan contoh.

Maka, sebelum musim 2020/21 berakhir, United mengumumkan bahwa mereka telah menunjuk John Murtough sebagai Football Director (FD) mereka. Jika DoF seperti Begiristain berdiri di atas pelatih, Murtough, menurut hierarki United, berdiri sejajar dengan Ole Gunnar Solskjaer, sang pelatih kepala tim.

Solskjaer dan Murtough, menurut The Athletic, bakal berkomunikasi secara harian. Mereka bakal bertukar pikiran mengenai bagaimana tim akan bermain dari waktu ke waktu, rekrutmen pemain, dan profil pemain mana saja yang cocok untuk masuk ke dalam tim. Tujuannya jelas: Untuk mengidentifikasi bagan mana saja di dalam tim yang butuh pembenahan dan menghindari pembelian pemain yang mahal, tapi tak memberikan kontribusi signifikan.

Murtough sendiri bukan orang baru buat United. Datang pada 2013 sebagai salah satu rekrutan David Moyes, ia bertahan sampai akhirnya menjadi Head of Football Development (Kepala Pengembangan Sepak Bola) United. Murtough, menurut The Athletic, ikut merapikan kembali akademi dan menyusun pembentukan tim sepak bola wanita Manchester United. Pencapaian-pencapaian inilah yang membuatnya dijuluki 'The Fixer' dan akhirnya mendapatkan status sebagai DF pertama dalam sejarah klub.

Kemunculannya sebagai DF bukan tanpa masalah. Nicky Butt, yang sebelum ini menjabat sebagai Head of First Team Development (Kepala Pengembangan Tim Utama) mundur. Butt, menurut sejumlah laporan termasuk dari The Athletic, merasa bahwa kehadiran Murtough telah mengambil alih kewenangannya.

United, sesungguhnya, memang amat lambat mengambil langkah ini. Rumah mereka sudah lama reyot, tetapi selalu dibenahi seadanya. Akibatnya, trofi boleh saja datang beberapa kali, tetapi permainan mereka tak kunjung konsisten dan stabil dari musim ke musim.

Bahwa para pendukung United gerah karena tim tak kunjung mendapatkan hasil (baca: Trofi), itu wajar. Namun, hanya peduli trofi tetapi emoh melihat kenyataan bahwa klubnya butuh stabilitas lebih dulu adalah sebuah kepandiran.

DoF atau DF sendiri, menurut Tifo Football, punya tugas untuk merancang sebuah visi yang jelas supaya klub bisa terjaga dan stabil untuk waktu yang lama, plus mengawasi pergantian manajerial dari satu pelatih ke pelatih lain. Kedatangan satu pelatih yang menerapkan gaya main proaktif, tentu saja tidak bisa dilanjutkan dengan pelatih yang menerapkan gaya main pragmatis dan reaktif.

Apakah Murtough bakal berhasil atau Solskjaer bakal bertahan dalam waktu yang lama atau tidak, hanya perkara waktu yang bisa menyibaknya. Untuk sekarang, setidaknya, United sudah mau berbenah meskipun untuk membenahi rumah reyot itu bisa jadi tidak sebentar.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.