Yang Krusial untuk Man United Bukan Soal ‘Back-Four atau Back-Three?’

Raphael Varane (kiri) dan Harry Maguire (kanan) berlatih dengan holding midfielder terbaik terakhir yang pernah dimiliki United, Michael Carrick. Carrick kini menjabat sebagai asisten pelatih. Foto: @utdreport.

Alih-alih membahas soal harus bermain dengan empat bek atau tiga bek, Man United semestinya memikirkan bagaimana caranya mendatangkan holding midfielder bonafide ke dalam skuad mereka.

Raphael Varane tampil gagah. Dengan setelan jas berwarna hitam yang pas dengan bentuk tubuhnya, ia menenteng jersi bernomor punggung 19 sembari berjalan dengan langkah-langkah panjang dan menyunggingkan senyum.

Hari itu adalah hari spesial untuknya. Baru semalam sebelumnya, ia menandatangani sebuah kontrak yang membuatnya resmi bergabung dengan Manchester United. Belum ada video perkenalan, tetapi kubu United—dan kabarnya Ole Gunnar Solskjaer sendiri—memiliki ide yang lebih brilian: Bagaimana bila Varane diperkenalkan di hadapan puluhan ribu orang yang memadati Old Trafford.

Itu adalah pertama kalinya Old Trafford terisi penuh. Selama berbulan-bulan, para pemain bertanding di hadapan tribune kosong yang ditutupi terpal. Ketika penonton berangsur-angsur diizinkan hadir ke dalam stadion, tribune tak langsung terisi penuh karena ada pembatasan, persis seperti yang terlihat pada laga melawan Fulham pada akhir musim kemarin.

Maka, ketika penonton tumpah-ruah, tidak ada perayaan yang lebih tepat selain memperkenalkan seorang pemain baru yang sudah lama mereka tunggu-tunggu tepat di tengah lapangan. Panggungnya sempurna, harinya juga sempurna—pertandingan pertama pada musim baru, meskipun Manchester menunjukkan rupa aslinya: Hujan turun, meski langit sedikit cerah.

Varane adalah pria berbadan tegap dengan tinggi menjulang hingga 191 cm. Bangun tubuhnya, serta keeleganan yang ia tonjolkan, membuatnya terlihat seperti seorang dewa—seperti Zeus. Hari itu, Zeus turun dari Olympus hanya untuk menyapa para manusia biasa yang sudah menanti-nantikannya.

Para pendukung United tentu saja gumun. Pria yang ada di hadapan mereka bukan hanya seorang pemenang Piala Dunia, tapi telah mengoleksi trofi Liga Champions lebih banyak daripada klub mereka sendiri. Bayangan-bayangan bakal seperti apa Varane dengan kostum merah kebesaran United langsung menyesaki benak.

Pertama-tama, Varane datang untuk menjadi partner utama Harry Maguire di pos bek sentral. Kendati memiliki Victor Lindeloef yang performanya secara teknis tidak bisa dibilang buruk, kehadiran Varane adalah upgrade tersendiri. Dalam tulisan ‘Raphael Varane: Jack of All Trades yang Man United Butuhkan’ kami sudah menjelaskannya secara khusus.

Lantas, muncul pertanyaan lain: Dengan kehadiran Varane, mungkinkah United bermain dengan format tiga bek alih-alih empat bek? Jawabannya: Bisa. Mengingat Maguire, Varane, dan Lindeloef adalah tipikal bek tengah yang cukup nyaman menguasai bola dan disiplin dalam perkara penempatan posisi, mestinya memasang mereka dalam format tiga bek tidaklah aneh.

Namun, semestinya pertanyaannya bukanlah bisa atau tidak bisa, melainkan: Kapan? Sebagai tim yang sudah memiliki pakem dengan format empat bek, biasanya United akan memainkan format tiga bek sebagai opsi saja. Mereka tidak akan menjadikannya format utama dari satu pertandingan ke pertandingan lain, tetapi mungkin saja bakal menggunakannya ketika lawan yang mereka hadapi mengharuskan mereka demikian.

Bermain dengan formasi berbeda-beda, entah dari satu pertandingan ke pertandingan lain, atau dalam satu pertandingan yang sama, bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus di-drill dalam sesi latihan supaya pemain terbiasa. Beda formasi tentu saja beda cara main dan penempatan posisi.

Beruntung buat United, format tiga bek bukanlah sesuatu yang asing buat mereka. Bahkan, semenjak Solskjaer datang sebagai caretaker, format tersebut sudah beberapa kali mereka terapkan dalam beberapa pertandingan. Ini menunjukkan bahwa pakem tiga bek itu sudah ikut masuk ke dalam menu latihan mereka.

Untuk mengetahui kapan format tiga bek tersebut bisa digunakan, kita bisa mundur sejenak ke musim 2019/20. Pada musim tersebut, setidaknya ada dua laga krusial di mana United bermain dengan tiga orang bek sentral dan dua orang wingback. Kedua laga tersebut merupakan laga-laga melawan klub yang memiliki kekuatan di area sayap, yakni melawan Liverpool di Premier League dan Chelsea di Piala Liga Inggris.

Formasi tiga bek United ketika menghadapi Liverpool pada 2019/20. Foto: The Busby Babes/SBNation.

Sadar bahwa United tidak hanya harus memenangi duel di area tengah, tetapi juga mengantisipasi serangan dari sisi sayap, Solskjaer memainkan 3-5-2 pada kedua laga tersebut. Susunan tiga bek tengahnya pun sama, yakni Maguire, Lindeloef, dan Marcos Rojo. Yang berbeda hanya wingback yang mengapit mereka. Jika pada laga melawan Liverpool Solskjaer memilih Aaron Wan-Bissaka dan Ashley Young, pada pertandingan melawan Chelsea, pelatih asal Norwegia itu menurunkan Wan-Bissaka dan Brandon Williams.

Hasilnya pun lumayan. United bermain imbang 1-1 dengan Liverpool setelah sempat unggul terlebih dahulu dan menang 2-1 atas Chelsea. Mengingat United memiliki stok pemain yang bisa dimainkan sebagai full-back ataupun wingback di skuad saat ini, semestinya susunan pemain di lini belakang tidak menjadi masalah. Pertanyaannya sekarang, siapa yang bisa melindungi ketiga bek mereka di area sentral?

Keberadaan Fred dan Scott McTominay memang cukup membantu, mengingat keduanya memiliki determinasi dan mobilitas yang bagus. Menghadapi lawan yang bermain terbuka, keduanya adalah senjata ampuh. Persoalannya, keduanya tidak memiliki kemampuan untuk memberikan operan sebaik Nemanja Matic. Dengan begitu, gaya main United yang amat mengandalkan progresi bola secepat mungkin jadi sedikit terganggu.

Matic, di sisi lain, adalah seorang pemberi operan yang jitu. Namun, dengan usia 33 tahun, ia tak lagi memiliki mobilitas seperti pada masa puncaknya. Ini yang menyebabkan ia tidak bisa dibiarkan tampil sendirian sebagai seorang holding midfielder.

Laga melawan Southampton di Premier League, Minggu (22/8/2021), adalah contohnya. Akibat McTominay tak cukup bugar untuk menjadi starter, Solskjaer memilih memainkan Matic dan Fred sebagai duet gelandang poros. Hasilnya, ritme mereka terganggu. Matic bagus dalam melepas operan, tapi minim mobilitas. Sementara Fred apik dalam bergerak, tetapi tidak sebagus Matic untuk urusan mengoper bola.

Karena Matic seringkali kerepotan—dan beberapa kali kehilangan bola—para pemain depan seperti Bruno Fernandes pun sering turun ke lini tengah untuk membantu mengalirkan bola. Ini, ditambah Southampton yang bermain dengan low-block rapat, membuat pekerjaan para pemain depan seperti Bruno menjadi dobel.

Oleh karena itu, ketimbang meributkan bakal bermain dengan format empat bek atau tiga bek, semestinya United memikirkan hal yang lebih krusial: Bagaimana caranya menghadirkan seorang holding midfielder yang bonafide di lini tengah mereka. Karena, tak peduli bermain dengan empat bek atau tiga bek, sosok tersebut bakal menjadi kepingan penting.

Ia tak hanya bisa dijadikan alat untuk menjaga sirkulasi bola sembari menunggu celah untuk melakukan progresi permainan, tetapi juga melindungi lini pertahanan dengan baik. Oleh karena itu, buang jauh-jauh anggapan Lindeloef bisa bermain pada role tersebut. Sebab, sebaik-baiknya seorang holding midfielder tidaklah cuma piawai melepaskan operan (baik panjang ataupun pendek), tetapi juga press-resistant. Sehingga, ia tidak akan kagok untuk membawa bola keluar dari lini pertahanan manakala tim lawan memberlakukan pressing ketat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.