Zidane dan Ego Sebesar Madrid

Foto: Instagram @realmadrid

Sebagian orang yang hidup di ranah sepak bola percaya bahwa hanya pelatih berego besar yang bisa mengendalikan klub besar. Namun, Zidane berbeda.

Sebagian orang yang hidup di ranah sepak bola percaya bahwa hanya pelatih berego besar yang bisa mengendalikan klub besar.

Jose Mourinho adalah contohnya. Sebagai pelatih, ia tak segan memancing kontroversi. Ganjarannya adalah treble winner bersama Inter.

Sir Alex Ferguson mungkin sering terlihat sebagai kakek baik hati yang siap mengiyakan apa pun keinginan para cucu dan paling sigap membela saat kamu dimarahi ibu akibat nilai ulangan yang jelek. 

Namun, jangan tertipu tampang. Ferguson adalah pelatih yang tak punya waktu untuk bermulut manis dengan siapa pun, termasuk pemainnya. Dua dekade kesuksesan di Old Trafford serta apa yang terjadi pada Roy Keane dan David Beckham adalah buktinya.

Diego Simeone dan Jurgen Klopp adalah dua orang dengan emosi meletup-letup yang terlihat bahkan sebelum peluit dibunyikan. Sementara Antonio Conte ibarat guru fisika killer yang siap menghajarmu ketika lupa rumus hukum Newton. Orang-orang demikianlah yang menjadi dalang mengapa sepak bola modern beralih rupa menjadi arena perebutan juara yang brutal.

Zinedine Zidane berbeda. Perawakannya dingin. Sulit betul menemukan potretnya yang sedang tersenyum. Omongannya sebagai pelatih tak istimewa. Gayanya pun begitu-begitu saja. Bahkan semua orang heran mengapa kepalanya bisa tetap plontos saat sepak bola digulirkan kembali setelah karantina pandemi.

Namun, itu menurut kita yang tidak pernah berada di satu lapangan yang sama dengannya.

“Zidane bukan orang yang suka asal semprot. Ia memercayai para pemain dan yakin bahwa mereka akan memenangi segalanya. Namun, saat para pemain tampil buruk, ia akan memberi tahu mereka di ruang ganti. Lalu mereka semua paham bahwa ada seorang legenda hidup yang berbicara langsung kepada mereka. Legenda itu adalah Zidane. Di situlah perbedaan dimulai." 

Entah siapa yang berbicara demikian kepada Dermot Corrigan. Yang jelas, narasumber The Athletic itu disebut sebagai orang yang bekerja di lingkungan Real Madrid.

Sepak bola ala Zidane bicara tentang keselarasan. Sepak bola Zidane adalah sistem untuk merengkuh kemenangan atas Barcelona di Camp Nou setelah dua kekalahan memalukan: 0-1 dari Cadiz dan 2-3 dari Shakhtar Donetsk.

Sebagian besar penonton netral jelang El Clasico pada 24 Oktober 2020 itu rasanya tidak berpikir bahwa Madrid akan mengalahkan Barcelona 3-1. Namun, dengan jeli Zidane menyumbat sisi kiri Barcelona yang merupakan jalur primer serangan musim ini.

Foto: Twitter @realmadriden

Zidane menyuruh Nacho Fernandez untuk tetap menjaga kedalaman dan Ferland Mendy aktif membantu serangan di tepi kiri. Sementara, Federico Valverde diinstruksikan untuk membantu Casemiro mengover sisi kanan pertahanan.

Wawancara Corrigan adalah gambaran tentang kemampuan Zidane dalam mengendalikan ego para pesohor. Madrid bukan hanya tim yang hanya diisi oleh para pemain kelas kakap, tetapi juga para pemain senior yang kenyang gelar dan pengalaman.

Bagi para penonton, menyaksikan Luka Modric berlaga di tim yang sama dengan Sergio Ramos dan Karim Benzema di akhir pekan adalah keasyikan tersendiri. Namun, belum tentu demikian bagi para pelatih.

Jika ada satu pemain yang egonya tidak terkendali dan selalu ingin tampil sebagai pahlawan, talenta dan nama besar sama dengan menusukkan pisau ke perut sendiri. Itu belum ditambah dengan pemain-pemain muda yang membutuhkan jam terbang, dengan ego yang tak jarang membuat kepala mau meledak.

“Zidane bukan pelatih yang memperlakukan pemain dengan brutal. Ia mendengarkan para pemainnya.”

Zidane adalah bagian dari ambisi Florentino Perez sejak kekuasaannya pada 2000. Dalam tiga tahun pertama kepemimpinannya, Perez melepas 222,5 juta euro untuk mengangkut empat pemain bintang: Luis Figo (2000), Zidane (2001), Ronaldo (2002), dan Beckham (2003).

Kesukesan membajak pemain kunci rivalnya di Eropa adalah kartu as Perez untuk congkak. Dia lantas menyematkan sebutan Los Galacticos untuk Madrid kala itu.

Los Galacticos jilid dua hadir saat Perez menjalani periode kedua bersama Madrid sejak 2008. Tiga kali Madrid memecahkan rekor transfer dunia dengan mengakuisisi Ricardo Kaka (67 juta euro, 2009), Cristiano Ronaldo (97 juta euro, 2009), dan Bale (100 juta euro, 2013).

Hidup bertahun-tahun bersama klub seambisius Madrid memberi Zidane pengertian bahwa gelar juara tidak hanya datang dari kucuran dana berlimpah, tetapi juga keberanian untuk menyingkirkan racun dari ruang ganti.

Di era kepelatihan Zidane, salah satu racun itu adalah Bale. Sampai akhirnya Bale pindah ke Tottenham Hotspur pada bursa transfer teranyar 2020 ini, entah berapa kali media mengangkat cerita tentangnya yang ogah-ogahan bermain di Madrid.

Ketimbang menjawab pertanyaan adil atau tidakkah tindakan itu, saya lebih suka berhitung mundur hingga ke Piala Dunia 2006. Ketika itu, Zidane kembali beraksi meski sebelumnya telah menyatakan diri untuk pensiun.

Jika waktu itu saya adalah suporter Prancis, barangkali saya akan khawatir. Bagaimana tidak cemas jika timmu yang dipimpin oleh pemain bangkotan harus berhadapan dengan Timnas Brasil dan Spanyol?

Namun, Zidane adalah Zidane. Maginya tidak habis dimakan usia. Dalam keanggunan yang mematikan ia mengobrak-abrik pertahanan Brasil dan Spanyol sendirian. Aksinya di dua laga itu tidak hanya membikin Ronaldo dan Raul Gonzalez menelan ludah, tetapi juga memaksa orang-orang untuk berpikir ulang tentang apa artinya menjadi tua.

Sayangnya, Piala Dunia 2006 berakhir antiklimaks bagi para suporter Prancis. Italia yang bermain dengan pertahanan gerendel malah keluar sebagai kampiun. Bukan itu saja. Zidane yang masyhur dan membuat entah berapa banyak orang Prancis membentangkan spanduk “The Old France is Magic” mendapat kartu merah karena menanduk Materazzi. 

Belakangan kita mengetahui bahwa Zidane yang tenang bisa berubah jadi banteng yang mengamuk karena hinaan Materazzi. Insiden itu melahirkan dua kubu: Mereka yang menganggap Zidane tidak profesional--karena tak bisa mengendalikan emosi--dan mereka yang ingin Materazzi tiba-tiba mati disambar petir.

Saya menganggap bahwa tandukan Zidane itu adalah bagian dari perlawanannya terhadap manusia-manusia beracun di ranah sepak bola. Toh, sepak bola seperti itulah yang dimasuki oleh Zidane di Piala Dunia 2006. Perhelatan itu boleh menyuarakan perlawanan terhadap rasialisme. Namun, coba ingat kembali hinaan yang diterima oleh skuad Prancis yang didominasi oleh para imigran. Bahkan Perdana Menteri Prancis sendiri ikut mencemooh Les Bleus.

Lewat tandukannya itu Zidane menegaskan bahwa Materazzi dan mulut-mulut rasial lainnya tak pantas ada di lapangan bola. Jika pada akhirnya ia juga yang diusir dari lapangan, itu adalah penanda bahwa Zidane tidak berasal dari sepak bola kotor seperti itu.

Sekali waktu Zidane pernah meninggalkan kursi kepelatihannya di Madrid. Ketika itu ia berkata bahwa ia harus pergi karena ingin Madrid berubah. Namun, setelah kepergiannya Madrid tak juga berubah, malah tambah menjadi. Maka, Zidane datang kembali. Tanpa emosi meletup-letup dan semangat us against the world ia membukakan pintu bagi mereka yang harus angkat kaki dari Santiago Bernabeu. 

Kalaupun timnya tidak dipenuhi pemain bintang, tak masalah. Kalaupun ia membutuhkan waktu lebih lama untuk mendatangkan trofi ke lemari klub, juga tak apa. Yang penting, ruang gantinya 'bersih'. 

Dengan kepelatihannya itu Zidane barangkali tidak akan pernah bisa mengubah air menjadi anggur. Namun, dengan cara itu bukan tak mungkin Zidane mengulang apa yang pernah ia buat di final Liga Champions 2001/02: Mengubah carut-marut frustrasi menjadi mahakarya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.