Efek Tudor di Verona

Igor Tudor. Foto: @hellasveronafc

Tudor datang seperti seorang messiah. Ia menyulap Verona yang tinggal menunggu kehancuran menjadi kesebelasan penuh gairah dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Satu hal yang membuat Hellas Verona jadi buah bibir musim 2021/22 adalah keberadaan Igor Tudor. Tudor bukan pelatih dengan reputasi setinggi langit, bukan juga juru taktik bergelimang prestasi. Musim lalu, nama Tudor betul-betul bersembunyi di balik ketenaran Andrea Pirlo.

Namun, Tudor adalah sebenar-benarnya kejutan yang mengasyikkan. Dengan racikan taktik yang tepat, ia menerbitkan Verona sebagai tim agresif yang siap membungkam klub besar meski tidak bertabur bintang. Verona pun hadir sebagai kesebelasan yang tidak pantas dipandang sebelah mata.

Tudor datang saat Verona sedang sengsara. Ya, Gialloblu keok dalam tiga laga awal Serie A 2021/22 di bawah kepelatihan Eusebio Di Fransesco. Selain tanpa poin, pertahanan Verona rapuh. Dalam kurun tersebut, tujuh lesakan bersarang ke gawang mereka.

Maka ketika Tudor merapat, manajemen hanya ingin Verona bangkit dan meraih poin. Tidak usah berbicara tiket Liga Europa musim depan, selamat dari degradasi menjadi prioritas teratas.

Tudor datang seperti seorang messiah. Ia menyulap Verona yang tinggal menunggu kehancuran menjadi kesebelasan penuh gairah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Performa dan daya ledak mereka meningkat secara signifikan. Kemenangan 3-2 atas AS Roma menjadi kejutan sekaligus laga pertama Tudor di Verona.

Lima laga berikutnya, Verona memecundangi Lazio dengan skor 4-1. Verona pun intens memberikan guncangan kepada klub-klub Serie A pasca-kedatangan Tudor. Guncangan terbesar terjadi ketika Verona menang 2-1 atas Juventus.

Keberhasilan Tudor mengangkat derajat Verona tidak hanya diiringi sukacita fan, tetapi juga berbalut puja-puji. Salah satu sanjungan keluar dari mulut Massimiliano Allegri. Pelatih Juventus itu berkata, Verona saat ini adalah Verona yang berbeda.

"Mereka bermain dengan cara yang sama sekali berbeda," kata Allegri sebagaimana mengutip Football Italia. "Mereka agresif dan memiliki teknik yang oke. Mereka berada dalam momen yang tepat."

***

Tudor selalu menggunakan skema tiga bek saat mengarsiteki Verona. Variasinya hanya dua, yakni 3-4-2-1 dan 3-4-3. Dalam format tersebut, ia melibatkan tiga bek untuk turut melakukan build-up serangan.

Saat menguasai bola, tiga bek akan menjaga jarak. Bek sebelah kanan-kiri bergerak melebar. Sedangkan, bek tengah menjadi titik awal serangan. Gelandang tengah Verona, yang kerap diisi oleh Miguel Veloso dan Ivan Ilic, akan mendekat dan menjadi opsi umpan.

Jarak antarbek yang cukup lebar bermaksud melepaskan diri dari tekanan lawan, terutama ketika bermain dengan klub yang memiliki intensitas cukup tinggi macam AC Milan dan Atalanta. Saat bek tengah dan dua gelandang dapat pressure tinggi, bola dialirkan ke sisi kanan atau kiri. Setelah keluar dari tekanan, bola akan dikirim ke pemain tengah.

Atribut gelandang Verona pun bervariasi. Ilic adalah pemain yang jago menggiring bola, sedangkan Veloso mahir mengirim umpan-umpan panjang.

Statistik Smarterscout (situs yang memberikan ponten 1-99 untuk atribut seorang pemain) memberi poten 96 soal dribbling Ilic. Sedangkan, Veloso mendapat poten 70 soal mengirim umpan ke arah gawang lawan. Bandingkan dengan Ilic yang hanya diberi poten 34 soal menyodorkan bola ke depan.

Baik Ilic maupun Veloso rutin mengarahkan bola ke kedua tepi. Ya, Verona versi Tudor adalah Verona yang rajin menyerang dari kedua sayap. Merujuk data WhoScored, persentase serangan Verona di sisi kiri mencapai 39 persen, sedangkan sisi kanan 38 persen.

Dua wing-back Verona, yang sering diisi Darko Lazovic di sisi kiri dan Marco Faraoni di seberangnya, akan naik dan berduel. Untuk mengambil penguasaan bola, mereka akan mendapat back-up dari dua gelandang serang, Gianluca Caprari dan Antonin Barak, yang bergerak melebar.

Jika berhasil menguasai bola di sepertiga akhir, Verona mengandalkan kombinasi wing-back dan gelandang serang untuk masuk ke dalam kotak penalti. Gelandang tengah mendekat untuk menambah opsi umpan.


Saat meneror lawan, lima pemain (dua wing-back, dua gelandang serang, dan penyerang) akan berdiri sejajar dengan jarak cukup lebar. Hal itu bertujuan agar jarak antarpemain belakang lawan berjauhan dan menciptakan celah di kotak penalti.

Verona memiliki dua skema untuk melepaskan tembakan. Pertama, wing-back maupun gelandang serang bergerak melebar dan mengirim umpan silang. Kedua, mereka akan menusuk ke dalam kotak penalti via dribel.

Lewat skema tersebut, Verona menjadi klub terproduktif kelima di Serie A dengan rangkuman 33 gol. Jumlah itu hanya kalah banyak dari Inter Milan (43 gol), Atalanta (37 gol), AC Milan (36 gol), dan Napoli (34 gol). Keempat tim tersebut berada di peringkat 1-4 sementara Serie A.

Daya ledak Verona turut ditopang ketajaman Giovanni Simeone. Pria 26 tahun itu bertengger sebagai pencetak gol terbanyak Verona dengan torehan 12 gol. Apa yang membuat Simeone spesial adalah finishing. Understat mencatat, xG Simeone surplus 7,39.

Selain itu, Verona versi Tudor menerapkan pressing tinggi untuk meredam serangan lawan. Itu terlihat dari passes per defensive action (PPDA). PPDA Verona, mengacu data The Analyst, berada di angka 10,5 atau terendah keempat di antara kontestan Serie A musim ini.

Oh, iya, PPDA merupakan salah satu statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. PPDA menghitung berapa banyak operan yang dilakukan tim lawan sebelum tim coba merebut bola kembali dengan aksi defensif, baik tekel maupun intersep. Semakin rendah angka PPDA, semakin garang pressure sebuah tim.

Di Verona sendiri, gelandang serang dan penyerang mempunyai peran penting dalam menyukseskan gaya bermain tersebut. Mereka pun memiliki pemain depan dengan work rate defensif yang mumpuni. 

Antonin Barak, misalnya. Berposisi sebagai gelandang serang, ia menjadi pemain yang paling sering melakukan pressure. Mengacu data FBref, Barak melakukan 233 percobaan pressure dengan persentase pressure sukses 29,2 persen.

Hellas Verona vs Juventus

Tak hanya meredam serangan lawan secepat mungkin, pressing tinggi dapat menjadi titik awal gol Verona. Lesakan pertama Verona ke gawang Juventus bisa menjadi contoh. Setelah Juventus berhasil menguasai bola, dua pemain Verona langsung menekan dan berhasil merebut bola.

Lini belakang Juventus yang bersiap merancang serangan tidak mampu meredam gempuran kedua Verona. Apalagi, di sekitar kotak penalti Juventus, masih ada lima pemain Verona.

Serangan balik AS Roma saat melawan Hellas Verona

Namun, imbas dari permainan agresif tersebut, baik saat menyerang maupun melepaskan pressure, adalah rapuhnya lini belakang dalam meredam serangan balik. Hanya ada dua atau tiga pemain di area pertahanan saat lawan menyerang dengan cepat. 

Situasi itu memudahkan lawan untuk meneror gawang Verona via umpan panjang. Verona sering kalah jumlah pemain di lini belakang. Itu juga yang membuat jumlah kebobolan Verona mencapai 30 sekaligus melenyapkan kemenangan. Efeknya, Verona bertengger di peringkat 11 sampai pekan ke-17 Serie A.

Meski belum mampu menembus papan atas klasemen, setidaknya, Tudor sudah memberikan efek kejut bagi klub-klub besar Serie A. Guncangan tersebut berpotensi membesar jika Tudor diberi waktu dan duit untuk memperkuat skuat.

Tidak ada salahnya, kontestan Serie A mulai menyalakan tanda bahaya saat berlaga melawan Verona versi Tudor.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.