Menghargai Gini Wijnaldum

Foto: @GWijnaldum

Ada pemain yang kehebatan dan pengaruhnya tak tergambarkan lewat statistik. Gini Wijnaldum salah satunya. Orang tak banyak melihat betapa besar pengaruhnya untuk Liverpool dan (mungkin) baru akan menyesal ketika Wijnaldum pergi.

Orang-orang sering bilang kalau kita, sebagai manusia, akan lebih menghargai sesuatu apabila sesuatu itu sudah tiada. Entah hilang, entah pergi.

Florentino Perez tahu betul akan hal itu. Presiden Real Madrid itu pernah mengalami penyesalan besar setelah dia melepas seseorang pergi dari timnya di awal 2000-an silam.

Semua terjadi pada tahun 2003. Kala itu seorang pemain datang kepada Perez, meminta kenaikan gaji. Dasar sang pemain cukup kuat; dia merasa layak diberi kenaikan gaji karena merupakan bagian penting dalam tim yang mampu membawa Madrid meraih beragam gelar juara, mulai dari La Liga sampai Liga Champions.

Saat itu, dibanding bintang Madrid lain seperti Luis Figo atau Zinedine Zidane, gaji sang pemain memang kalah banyak. Maklum, namanya memang kalah populer. Namun, perannya di dalam tim sama pentingnya dengan Figo atau Zidane. Itu hal yang tak bisa dibantah.

Sayangnya, permintaan sang pemain ditolak oleh Perez. Sang Presiden lebih memilih untuk menjual sang pemain ke Chelsea dengan banderol 16,8 juta poundsterling. Memang uang yang cukup besar pada masa itu. Perez menilai uang itu lebih menguntungkan daripada mempertahankan sang pemain dalam tim sembari menaikan gajinya juga.

"Dia tidak menyundul bola dan jarang mengumpan dengan jarak lebih dari tig meter. Saya terkejut dengan perbedaan antara perilaku teladan yang ditunjukkannya selama tiga tahun terakhir dengan apa yang dia tunjukkan baru-baru ini. Dia menginginkan setengah dari gaji Zidane, dan itu tidak mungkin," ujar Perez terkait permintaan sang pemain kala itu.

Kepergian sang pemain kemudian menjadi salah satu penyesalan terbesar Perez. Sebab, Madrid tak pernah sebagus saat sang pemain masih ada dalam tim. Proyek Galaticos yang dibangun Perez tak ada artinya tanpa kehadiran pemain itu. Figo, Beckham, Raul, beserta Ronaldo sampai Beckham tak pernah bisa mengangkat derajat Madrid ke puncak tertinggi. Gelar Liga Champions bahkan baru didapatkan lagi satu dekade setelah sang pemain pergi.

Pemain yang jadi penyesalan terbesar Perez itu bernama Claude Makalele. Selepas dilego ke Chelsea, dia masih menjuarai banyak trofi. Makalele berhasil mengangkat derajat tim barunya itu. Di Inggris, dia lebih dihargai dan sampai saat ini bahkan disebut sebagai salah satu holding midfielder terbaik yang pernah ada di Premier League.

***

Kontrak Georginio "Gini" Wijnaldum di Liverpool akan berakhir pada musim panas 2021 mendatang. Sampai saat ini, belum terjalin kesepakatan untuk memperpanjang kontrak tersebut. Negosiasi di antara agen Wijnaldum dan pihak Liverpool masih berjalan alot. Bahkan banyak yang ragu akan negosiasi itu. Wijnaldum dijagokan bakal hengkang ketimbang bertahan di Liverpool.

Jika itu terjadi, maka Liverpool bisa saja merasakan apa yang dialami Florentino Perez kala melepas Makalele ke Chelsea. Di Liverpool saat ini, Wijnaldum sama pentingnya dengan Makalele di Madrid pada era 2000-an awal itu. Satu persamaan lain: Pentingnya peran mereka itu tak tergambarkan dalam statistik.

Wijnaldum bukanlah gelandang yang punya angka mentereng dalam urusan gol dan assist di Liverpool. Dari 204 penampilannya di seluruh kompetisi sejak tahun 2016 lalu, pemain berpaspor Belanda itu hanya mencatatkan 20 gol dan 16 assist. Bukan catatan yang luar biasa tentu saja, mengingat dia punya catatan 56 gol dan 24 assist dalam 154 penampilan kala berseragam PSV Eindhoven.

Dibanding Jordan Henderson yang secara peran lebih defensif pun, angka assist Wijnaldum kalah. Henderson punya 17 assist di seluruh kompetisi sejak Wijnaldum berseragam merah. Padahal, dalam periode yang sama, Wijnaldum bermain 38 laga lebih banyak dibanding rekan setimnya itu.

Jika ada satu statistik di mana Wijnaldum menonjol dibanding gelandang Liverpool lainnya, itu adalah statistik mempertahankan penguasaan bola. Kami mencari statistik kehilangan bola via Opta dan menemukan bahwa Wijnaldum adalah yang terbaik dalam urusan ini dibanding gelandang Liverpool lain seperti Jordan Henderson, Naby keita, Fabinho, atau James Milner.

Wijnaldum cuma kehilangan penguasaan bola (possession lost) 8,1 kali per 90 menit di Premier League musim lalu. Angka ini unggul dibanding Henderson (15,5 kali), Keita (12.5 kali), Fabinho (10,5 kali), Milner (13,6). Pada musim ini pun, angka 7,1 kali kehilangan penguasaan bola per 90 menit milik Wijnaldum masih lebih baik ketimbang gelandang Liverpool lain, termasuk Thiago.

Pada musim lalu pun, Wijnaldum memiliki angka akurasi umpan per 90 menit terbaik di antara gelandang Liverpool yang lain. Pemain berdarah Suriname itu punya catatan akurasi umpan sebesar 90,83% per 90 menit. Catatan yang paling mendekati adalah milik Keita dengan angka 88,79%.

Juergen Klopp sebagai Manajer Liverpol memang menginginkan sosok gelandang yang mampu mempertahankan penguasaan bola dengan baik. Serta tidak ceroboh dan juga tidak sering melepaskan umpan-umpan yang berisiko tak sampai di kaki rekan setim. Wijnaldum adalah sosok yang tepat untuk itu semua.

Dia adalah gelandang yang bisa diandalkan Klopp untuk menjaga penguasaan bola. Dan jika ada statistik yang menghitung keberhasilan seorang pemain menjaga penguasaan bola ketika dalam posisi tertekan atau ketika berada di ruang yang sempit, maka Wijnaldum pasti akan memuncaki statistik tersebut. Anda bisa nonton video ini untuk mengetahui kehebatan Wijnaldum dalam hal tersebut.

Pemain berusia 30 tahun itu juga merupakan sosok yang pintar membaca permainan. Dia handal menutup jalur umpan lawan dan mengover posisi rekan timnya ketika bertahan atau menyerang. Wijnaldum juga multifungsi, bisa bermain di banyak posisi. Jika ada sosok yang mampu bermain sebagai bek tengah di laga vs Brighton dan bermain sebagai striker pada laga vs Barcelona, maka itu adalah Wijnaldum.

Pemain jebolan akademi Sparta Rotterdam itu juga merupakan pemain yang bisa diandalkan setiap saat. Dia tak ringkih, tak mudah cedera. Dibandingkan dengan nama seperti Henderson, Fabinho, atau Keita, Wijnaldum adalah pemain yang paling jarang masuk ruang perawatan. Kami coba menemukan catatan cederanya di Transfermarkt dan tak menemukan satu laga pun Wijnaldum absen karena cedera selama membela Liverpool.

Jika Wijnaldum absen, maka sebagian besar itu karena Klopp mengistirahatkan dirinya. Tengoklah bagaimana sebelum diistirahatkan pada laga vs Midtjylland tengah pekan lalu, Wijnaldum bermain sebagai starter dalam delapan laga terakhir Liverpool. Klopp benar-benar bergantung pada Wijnaldum, terlebih dalam kondisi banyak pemain cedera seperti saat ini.

Yang menarik, Wijnaldum juga memberikan faktor "hoki" untuk Liverpool. James Pearce, dalam tulisannya di The Athletic, mencatat bahwa Wijnaldum mampu memenangi 133 laga dari 200 penampilannya bersama Liverpool. Catatan itu adalah yang terbaik yang dimiliki seorang pemain dengan 200 penampilan (atau lebih) bersama Liverpool.

Catatan terdekat dari Wijnaldum dimiliki Alan Kennedy yang menorehkan 131 kemenangan dalam 200 pertandingan. Sementara Ian Rush, top-skorer sepanjang masa Liverpol, hanya memiliki catatan 122 kemenangan dari 200 pertandingan. Faktor seperti ini, lagi-lagi, membuktikan seberapa pentingnya seorang Wijnaldum.

Sosok yang pada masa kecil lebih tertarik jadi atlet senam ketimbang pesepak bola itu juga punya kepemimpinan yang bagus di dalam maupun luar lapangan. Dia juga bukan pemain yang banyak tingkah. Karena itu Klopp memercayakannya jadi kapten keempat Liverpool setelah Henderson, Milner, dan Virgil van Dijk.

***

Wijnaldum memang tak seeksplosif Keita, tak punya letupan sebesar Henderson, tak secerdik Thiago, dan tak sekokoh Fabinho. Angka statistiknya pun tak mentereng. Namun, dia punya peran yang sangat besar dalam sistem Liverpool saat ini. Dan itu memang tak bisa dilihat hanya dalam satu, dua, atau lima pertandingan saja.

Tak jarang kita melihat di lini masa media sosial bagaimana Wijnaldum mendapat kritikan karena output-nya dalam permainan tak kelihatan--gol atau assist jarang datang dari kakinya. Rasanya tak sedikit pula fans Liverpool yang merelakannya pergi di musim panas tahun depan.

Mungkin ada juga yang lupa bahwa Wijnaldum adalah pencetak dua gol dalam kemenangan dramatis atas Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions musim 2018/19 lalu. Bahwa ketika dirinya masuk ke dalam lapanganlah Liverpool punya semangat tambahan untuk bisa memenangkan pertandingan.

Yang lebih diingat dari laga itu adalah Divock Origi yang menjadi pencetak gol keempat. Sama seperti ketika berbicara Liverpool di era Klopp, maka yang lebih sering diingat adalah nama seperti Sadio Mane, Mohamed Salah, Virgil van Dijk, Alisson Becker, atau Trent Alexander-Arnold yang memang punya catatan angka mentereng.

Wijnaldum, sama seperti Claude Makalele di Madrid, tak punya catatan itu. Banyak orang tak melihat peran besar mereka yang tak terejawantahkan dalam angka-angka statistik. Gelandang dengan catatan 0,08 expected assist (xA) per 90 menit seperti Wijnaldum memang jarang diperhitungkan saat kita berbicara statistik, bukan?

Pengaruh besarnya mungkin baru akan terlihat ketika dia pergi. Jangan sampai saja, Liverpool dan orang-orang yang memandang Wijnaldum dengan sebelah mata, jadi menyesal setelah sang pemain hengkang dari Anfield. Menyesal seperti Florentino Perez selepas Makalele pergi. Musim panas masih setengah tahun lagi, The Reds masih punya waktu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.