Paripurna Bernardo Silva

Foto: @BernardoCSilva.

Bernardo Silva memainkan peran barunya dengan paripurna: Dari winger yang menyisir tepi lapangan lawan menjadi gelandang yang mengemban peran bertahan.

“Dia pemain yang hebat. Performanya sungguh luar biasa. Dia sangat intuitif, itu bukan perannya naturalnya sebagai gelandang bertahan, tetapi dia melakukannya dengan sempurna. Dia mampu mengantisipasi apa yang akan terjadi, dengan dan tanpa bola.”

Pep Guardiola puas bukan kepalang dengan suguhan Bernardo Silva malam itu. Berkat dirinya, Manchester City sukses mempermalukan salah satu kandidat kampiun Premier League musim ini, Chelsea. Di Stamford Bridge pula.

Guardiola tidak memainkan Silva di posisi yang lumrah. Ia memasangnya sebagai gelandang bertahan di samping Rodri—posisi yang biasanya dihuni Ilkay Guendogan. Itu sama sekali bukan keputusan yang buruk.

Justru posisi natural Silva sebagai winger menawarkan spektrum yang berbeda buat lini tengah City. Determinasi dan kecepatannnya memudahkannya untuk menjaga tempo sekaligus mengawal kedalaman. Ia berhasil mengadang Mateo Kovacic sebagai salah satu titik serangan Chelsea. Well, inilah yang membuat high pressing Guardiola berjalan sukses.

Silva meng-cover ruang di antara Kyle Walker dan duo bek sentral, Ruben Dias serta Aymeric Laporte. Khususnya, saat Walker bergabung dengan Gabriel Jesus di sayap kanan. Dari sana juga Silva melakukan tugas lainnya sebagai distributor bola area tengah. Catatan bertahan Silva mengesankan. Tiga tekel ia buat (tertinggi bersama Kevin De Bruyne dan Dias), pun dengan empat sapuan yang juga terbanyak bersama Dias.

Foto: Stats Perform

***

Messizinho, begitu julukan Bernardo Silva setelah pertama kali mencuat di Seixal, akademi Benfica. Potensinya melebihi pemain seumurannya. Julukan yang berarti "Little Messi" itu menjadi kian sahih setelah Silva dikalungi gelar pemain muda potensial Divisi Dua Portugal 2013/14 bersama Benfica B.

Sejak kecil Silva sudah identik dengan kecerdasan. Ketika sedang tidak berlatih, ia banyak menghabiskan waktu untuk menonton di stadion bersama ayah atau kakeknya. Kalau tidak, ya, menonton dari rumah. Itu sudah dilakukannya sejak berumur empat tahun. Satu hal lain yang membedakan Silva dengan bocah seumurannya adalah keinginannya untuk belajar. Ia sudah mulai mendalami Bahasa Inggris saat memasuki usia enam tahun.

“Selalu seperti itu karena saya selalu suka belajar,” kenangnya.

Para brilian adalah mereka yang berani mengambil keputusan dengan risiko besar. Walaupun itu mesti mengorbankan banyak hal. Silva, salah satunya. Ia berani merantau ke AS Monaco dan meninggalkan Benfica, klub yang sudah lebih sedekade dinaunginya. Usia Silva belum genap 20 tahun waktu itu.

Di lain sisi, motifnya jelas. Silva tahu ia bukan pemain pilihan Jorge Jesus. Ia tak mendapatkan tempat di tim senior Benfica. Itulah alasan Silva menerima pinangan Monaco. Lagi pula, waktu itu Dmitry Rybolovlev lagi gencar-gencarnya menggabungkan pemain veteran dan potensial dalam timnya. Termasuk dua pemain Portugal, Ricardo Carvalho dan Joao Moutinho, yang kemudian membantu proses adaptasi Silva.

Silva langsung menjadi bagian integral skuad Leonardo Jardim pada musim 2014/15. Spot winger kanan dalam wadah 4-2-3-1 rutin ia isi. Hebatnya lagi, Silva menjadi topskorer Monaco di Ligue 1 musim itu (bersama Anthony Martial) lewat 9 golnya.

Kemudian kita tahu apa yang Silva torehkan bersama Monaco dua musim setelahnya. The Monegasques menjadi kampiun Ligue 1 sekaligus memutus hegemoni Paris Saint-Germain selama empat musim lamanya.

City lantas memboyongnya di musim 2017/18. Dari tipikal permainan, Silva memang Guardiola banget. Kepiawaian soal olah bola dan pemanfaatan ruang menjadi faktor pertama. Utamanya, tentu saja, perkara pemahaman taktik.

Secerdas-cerdasnya strategi pelatih tak akan berhasil tanpa pemain yang tangkas. Itulah mengapa Guardiola memboyong personel yang punya daya serap tinggi. Silva, salah satunya. Walaupun di awal-awal ia blakblakan mengatakan bahwa ia butuh waktu adaptasi lebih dengan skema Guardiola.

“Di bawah Pep, kami mengubah taktik dan cara bermain kami di hampir setiap pertandingan. Kami beradaptasi dengan apa yang dibutuhkan setiap pertandingan,” ucap Silva dalam wawancaranya dengan AS.

Musim pertama Silva bersama The Citizens tak bisa dibilang spesial. Ia lebih banyak berangkat dari bench dibanding menjadi starter. Walau di satu sisi, kontribusinya sebenarnya juga tak bisa dibilang minim. Total 6 gol dan 4 assist sukses ditorehkannya di Premier League. 

Masuk akal, sebab City punya stok winger yang melimpah dan alasan itu masih relevan sampai sekarang. Mereka punya Raheem Sterling di kiri dan Riyad Mahrez di kanan. Kemudian Foden yang bisa mengisi kedua sisi. 

Lebih-lebih lagi di musim ini, seiring kedatangan Jack Grealish. Makin berjubel stok pemain sayap yang Guardiola punya. Malah, pelatih pelontos itu juga beberapa kali memindahkan Jesus ke sayap kanan dan memasang Torres sebagai false nine.

Tak heran kalau kemudian Silva dikabarkan bakal angkat kaki di musim panas. Barcelona dan AC Milan menjadi destinasinya. Secara matematis, posisi tawar Silva masih kalah dibanding Sterling atau Mahrez. Jumlah gol keduanya relatif lebih banyak ketimbang Silva.

Namun, pada akhirnya Silva menjawabnya dengan lantang. Alih-alih memperebutkan slot winger, ia bertransformasi sebagai gelandang bertahan. 

Begini, sulit dimungkiri bahwa City mengalami krisis di sana. Fernandinho sudah terlampau uzur. Pun dengan Rodri yang sebenarnya belum mampu menyamai bentuk terbaik Fernandinho di masa lalu. Silva, hadir untuk menutup lubang itu.

Duel versus Liverpool menjadi bukti lainnya. Guardiola kembali memasangnya sebagai gelandang, bersama Rodri. Bedanya kali ini ia intens beroperasi di sisi kiri. Hasilnya impresif. Persentase kemenangan duelnya mencapai 61% (dari 18 duel) sekaligus yang terbanyak di antara pemain lain. 

Ball recoveries Silva menyentuh angka 7—hanya kalah dari Walker, Henderson, dan Cancelo. Tingginya peran defensif bukan kemudian membuat aksi ofensif Silva menjadi minim. Nyatanya ia memrakarsai peluang emas Foden di menit 19 meski akhirnya digagalkan Alisson Becker.

Silva mengalami peningkatan signifikan dari aksi defensif musim ini. Whoscored mencatat rata-rata tekelnya menyentuh 2 per laga. Ini bukan hanya menjadi pencapaian tertinggi dalam kariernya, tetapi juga di antara personel City lainnya. Terhitung hanya Joao Cancelo yang mengungguli rerata tekelnya: 2,3 pada tiap pertandingan.  

Overall, sejauh ini Silva memainkan peran barunya dengan sempurna. Dari winger yang menyisir tepi lawan menjadi gelandang yang mengemban peran bertahan. Sebuah evolusi peran yang membuatnya makin paripurna untuk City-nya Guardiola. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.