Perhatikan Danny

Foto: @SouthamptonFC.

Melabeli Danny Ings sebagai striker yang komplet bukanlah sesuatu yang berlebihan. Penampilannya di Southampton gemilang dan kini klub-klub besar mengantre untuk mendapatkan jasanya.

Mimpi Danny Ings untuk menjadi pesepak bola top Inggris dikubur dalam-dalam saat ia menginjak usia 10 tahun. Saat itu, Ings ditolak dari klub impiannya, Southampton, karena dianggap terlalu kecil.

Sebagai bocah yang lahir dan tumbuh di Tenggara Inggris, Ings jelas punya keinginan untuk menembus akademi Southampton. The Saints adalah salah satu klub besar dan populer di wilayah tersebut. Banyak bocah berebut mencuri perhatian pelatih-pelatih akademi agar bisa direkrut. Ings salah satunya.

Namun, ketika teman seangkatannya seperti Alex Oxlade-Chamberlain berhasil masuk, Ings justru ditolak. Penolakan itu kemudian membuatnya tak punya mimpi tinggi lagi. Dia hanya berharap bisa bermain di Sunday League (kompetisi semi-profesional Inggris). Itu pun di Itchen Tyro, klub yang dimanajeri ayahnya sendiri.

Semua kemudian berubah saat dia menginjak usia 15 tahun. Ings dipanggil untuk menjalani trial di Bournemouth, salah satu klub di Tenggara Inggris juga. Trial sukses dan Ings kemudian masuk ke akademi klub. Dari situ, meski tak mudah, dia merintis kariernya.

Foto: Twitter @TheAnfieldTalk

Saat dikontrak secara profesional pada 2010 pun, Ings cuma diberi durasi kontrak selama tiga bulan. Ketika kemudian diperpanjang, dia malah dipinjamkan ke klub guram bernama Dorchester Rovers. Namun, di divisi enam Liga Inggris itulah Ings menunjukkan pendarnya.

Bersama Dorchester, dia mampu mencetak tujuh gol dari 13 penampilan. Catatan yang kemudian membuatnya langsung dipanggil kembali oleh Bournemouth, yang saat itu memang sedang krisis striker. Ings kemudian mendapat banyak kesempatan dan total mencetak delapan gol pada sisa musim 2010/11 untuk The Cherries.

Penampilan singkat pada musim 2010/11 sudah cukup untuk membawa Ings dilirik banyak klub. Saat itu, Celtic, Newcastle United, dan Fulham dikabarkan berminat merekrutnya. Akan tetapi, Ings lebih memilih Burnley sebagai labuhan baru. Alasannya adalah Eddie Howe, pelatih Burnley saat itu yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ings di Bournemouth.

Namun, puncak karier Ings di Burnley tak terjadi di era Howe. Justru saat Howe diganti oleh Sean Dyche-lah, Ings baru bersinar. Kebetulan, saat itu, Dyche ingin membuat Burnley bermain penuh pressing. Para pemain depan Burnley dituntut punya kemampuan merebut bola dari lawan dengan baik, bukan hanya bisa mencetak gol.

Ings kemudian belajar banyak untuk menjalankan tugas tersebut dan puncaknya terjadi pada musim 2013/14. Dia mampu jadi mesin pressing dan mesin gol Burnley. Pada akhir musim, pria kelahiran 23 Juli 1992 itu mencetak total 22 gol dan terpilih sebagai pemain terbaik Championship, sekaligus membawa Burnley promosi ke Premier League.

Ings hanya bermain bersama Burnley selama satu musim di Premier League. Pada musim 2014/15 itu, dia bermain 35 kali dan mencetak 11 gol. Namun, raihan itu sudah cukup untuk membawanya pindah ke klub yang lebih besar: Liverpool.

Kita kemudian tahu apa yang terjadi dengan Ings di Liverpool. Dia tak mampu menunjukkan penampilan terbaiknya karena terus-terusan diserang cedera. Selama tiga musim, Ings cuma bermain 25 kali dengan total 947 menit. Dan pada musim 2018/19, dia akhirnya bisa bermain di klub impiannya, Southampton.

Di Southampton-lah Ings berhasil bangkit kembali dan di Southampton pula mimpinya untuk menjadi pemain top Inggris terwujud.

***

Danny Ings adalah striker yang komplet. Dia bisa mencetak banyak gol, bisa melancarkan pressing dengan baik, dan punya kemampuan link-up play yang oke. Ings buas di kotak penalti, tapi juga mau menjelajah ke berbagai area lapangan untuk merebut bola dari kaki lawan atau sekadar jadi opsi umpan rekan-rekannya untuk membantu progres tim.

Semua itu didapatkan Ings lewat perjalanan beratnya sejak remaja. Naluri mencetak gol dia dapatkan saat bermain di Dorchester, kemampuan pressing dan bertahannya diperoleh setelah dia mendapat ilmu dari Sean Dyche dan Juergen Klopp, dan kemampuannya jadi penghubung didapat saat dia diplot jadi second striker di Bournemouth dan Burnley.

Jika Anda pikir pujian kami buat Ings hanya bualan semata, mari lihat catatan statistiknya. Mari kita lihat angka nyata yang dicatatkan seorang Ings.

Buat soal mencetak banyak gol, kita tentu tahu bahwa sejak berseragam Southampton, catatan gol Ings memang banyak. Pada musim pertama saat masih berstatus pemain pinjaman dia memang cuma mencetak tujuh gol, tapi musim lalu dia berhasil mencetak 22 gol dan jadi top-skorer kedua Premier League di bawah Jamie Vardy.

Musim ini dia memang baru mencetak sembilan gol, tetapi perlu dicatat bahwa Ings baru tampil 23 kali (21 di antaranya jadi starter) karena cedera. Kendati demikian, Ings masih merupakan striker yang mengerikan. Bayangkan saja, di musim ini, presentase tembakan akurat per 90 menitnya menyentuh angka 45,5%.

Itu artinya, hampir separuh dari seluruh tembakan yang dilepaskan Ings setiap 90 menit selalu tepat sasaran alias mengarah ke gawang lawan. Dibanding striker Premier League lain seperti Harry Kane, Jamie Vardy, Roberto Firmino, atau Gabriel Jesus, catatan Ings adalah yang terbaik.

Ings sendiri punya catatan 1,02 tembakan tepat sasaran per 90 menit. Dibanding para striker yang kami sebutkan di atas, hanya Kane (1,38) yang punya catatan lebih baik. Selain itu, Ings juga merupakan striker yang bisa mencetak gol melalui kaki kiri, kepala, dan kaki kanan dengan sama baiknya. 

Untuk soal kedua, yakni soal pressing, Ings memang kalah dari seorang Roberto Firmino yang kita tahu merupakan jagonya perkara ini. Namun, ketika kita bandingkan dengan Kane, Vardy, atau Jesus, catatan Ings jelas lebih baik. Ings mencatatkan 15,8 pressing per 90 menit di mana lebih dari setengahnya dia lakukan di area sepertiga akhir lawan.

Ings juga punya 0,56 tekel sukses per 90 menit. Angka itu, lagi-lagi, hanya kalah dari Firmino. Bahkan jika dibanding catatan Patrick Bamford yang notabene bermain di Leeds--yang sangat gentol menerapkan pressing dan melakukan tekel--saja, angka Ings itu bisa lebih baik.

Sementara soal jadi penghubung, Ings juga tak kalah apik dari Firmino, Kane, atau Jesus yang punya kelebihan soal ini. Dia juga mampu turun ke area tengah, menempatkan diri jadi opsi umpan untuk menghubungkan rekan yang ada di belakang dan di depannya. Ruang geraknya bisa tak terbatas.

Karena itu, ketika menengok heatmaps Ings dalam tiga laga di mana dia bermain sejak awal (vs Burnley, vs Everton, dan vs Chelsea), kita tahu bahwa daya jelajah pemain ini amat luas. Dia bisa ada di kiri, kanan, tengah. Tak cuma di area sepertiga akhir lawan saja, meski Southampton sedang jadi pemegang kendali permainan.

Heatmaps Ings vs Burnley, vs Everton, vs Chelsea. Grafis: WhoScored

Ings juga penerima bola yang baik. Catatan receiving sukses per 90 menit miliknya ada di angka 54,7%. Dia juga jeli dalam hal memberikan operan kepada rekan-rekannya, terutama ketika dia sedang membuka ruang. Ings punya catatan 0,81 umpan ke kotak penalti per 90 menit. Umpan kunci per 90 menit miliknya juga ada di angka 0,96. Catatan yang tentu saja tak buruk.

Ings memang pandai menciptakan peluang buat rekan-rekannya. Striker 28 tahun ini punya catatan 2,34 shot-creating actions (aksi yang menghadirkan tembakan) per 90 menit. Itu pun tak hanya dari umpan saja, penciptaan peluangnya juga berasal dari dribel, prosesnya dilanggar, tembakan, atau bahkan aksi defensifnya.

Seperti yang sudah kami bilang, Ings memang komplet. Jika ada masalah yang kerap mengaburkan kekompletannya itu tentu saja adalah cedera. Sepanjang kariernya, cedera adalah momok paling menakutkan. Kariernya di Liverpool terenggut karena hal ini.

Sementara dalam tiga musim terakhir bersama Southampton, Ings absen 167 hari karena cedera. Padahal, jika konsisten terus berada di lapangan, pendar Ings bisa sangat jelas terlihat. Musim lalu adalah contoh terbaiknya.

Histori cedera Ings. Grafis: Transfermarkt

***

Sekarang Ings memang tengah berada di klub impiannya. Namun, dia belum memperpanjang kontrak yang akan habis pada musim panas 2022 nanti. Peluang untuk angkat kaki dan kembali ke klub yang lebih besar terbuka lebar.

Kebetulan, Manchester City dan Tottenham Hotspur dikabarkan tertarik meminangnya. City memang akan mencari pengganti Aguero yang akan hengkang musim panas nanti, sedangkan Tottenham harus siap-siap memburu striker anyar kalau Harry Kane tiba-tiba hengkang.

Dengan kemampuannya yang komplet, Ings adalah pilihan yang tepat. Wajar kalau klub-klub itu tertarik. Apabila Anda mengerenyitkan dahi mendengar kabar ini dan menganggap kami berlebihan, sebaiknya Anda lebih memperhatikan Ings ketika dia bermain.

Jangan sampai seperti Southampton yang tak memperhatikan Danny Ings bocah. Sampai akhirnya mereka tahu bahwa bocah yang mereka tolak 18 tahun lalu karena posturnya kekecilan itu, kini jadi pemain andalan mereka.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.