Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Alexis Sanchez dari Sudut Iblis

Foto: @PlayersSayings

Bila masih menganggap Sanchez sebagai pemain buangan, kamu salah besar. Pemain buangan macam apa yang bisa mencetak gol di saat-saat yang paling dibutuhkan?

Alexis Sanchez lahir di Tocopilla yang berada pada utara Chile. Dalam bahasa Quechua, Tocopilla berarti “Sudut Iblis”. 

Ada beberapa versi yang menjelaskan pandangan itu. Salah satunya dari Alejandro Jodorowsky, seniman legendaris kelahiran Tocopilla. Dalam otobiografinya berjudul “The Dance of Reality”, Jodorowsky mengamini bahwa iblis bukanlah inkarnasi kejahatan. Mereka adalah makhluk dari dimensi bawah tanah yang menatap melalui jendela yang terbuat dari roh dan materi—tubuh—untuk mengamati dunia dan berbagi pengetahuan.

***

Hidup Sanchez seperti dongeng. Dia lama berkubang dengan kesederhanaan sebelum menjadi pemain top dunia. Bersama tiga saudara laki-lakinya, Sanchez dibesarkan oleh ibunya yang berstatus orang tua tunggal. Situasi ini memaksanya untuk lekas dewasa. Mencari uang sudah menjadi kewajibannya sejak remaja. 

Sanchez rela mengejar tambahan uang dari bermain bola dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Dari sini harapan sebagai pesepak bola tumbuh. Karena terkadang mimpi menguar dari mereka yang terhimpit kebutuhan, bukan sebaliknya.

Sinergi antara bakat dan semangat berbuah hasil. Sanchez mulai dikenal di seantero kota. “Anak Ajaib”, begitu julukannya. Walikota Tocopilla sampai menghadiahi Sanchez sepatu bola—yang kemudian dia pakai saat pertama kali mentas dengan Cobreloa.

Hanya setahun yang dibutuhkan Sanchez untuk naik ke tim senior Cobreloa. Pada Februari 2005, dia mencicipi debut profesionalnya. Sebulan berselang, gol perdananya tercipta. Sanchez juga manggung saat Cobreloa berduel dengan Once Caldaz di Copa Libertadores. Usianya baru 16 tahun waktu itu.

Bakatnya terendus hingga lebih dari 10 ribu kilometer jauhnya. Adalah Udinese klub yang dimaksud. Mereka menebus Sanchez dengan harga 1,7 juta poundsterling. Le Zebrette tidak langsung memboyongnya ke Italia. Mereka membiarkan Sanchez tumbuh kembang di level Amerika Selatan lebih dulu. Dia dipinjamkan ke Colo-Colo kemudian River Plate.

Keputusan jitu. Di Colo-Colo, Sanchez bertandem dengan salah satu striker terbaik Chile, Humberto Suazo. Pun di River Plate semusim berselang. Di sana Sanchez bermain bersama Radamel Falcao dan Ariel Ortega dengan Diego Simeone sebagai pelatihnya. 

Setelah melewati penggemblengan selama dua musim, Udinese akhirnya menarik Sanchez ke Friuli. Well, musim perdananya memang klise. Hanya 3 gol yang dibuatnya dari 43 pementasan lintas ajang. Namun, ya, harus diingat juga bahwa Sanchez masih berumur 20 tahun waktu itu. Dan semuanya cuma perkara waktu.

Di musim ketiganya, Sanchez mulai mempertebal kontribusinya. Bersama Antonio Di Natale, dia menjadi tonggak keberhasilan Udinese finis di posisi empat. Total 12 gol dibuatnya—tiga di antarnya dicetak sekaligus saat menghadapi Palermo di giornata 27.

Apa yang dipertontonkan Sanchez membuat Pep Guardiola kepincut. “Dia bisa bermain di tiga posisi ofensif. Dia juga menunjukkan kemampuan bertahan yang intens,” puji Guardiola.

Di matanya, Sanchez adalah opsi ideal untuk melengkapi trio lini depan Barcelona. Sebagai “pelayan” Lionel Messi sekaligus alternatif pencetak gol. Guardiola tahu betul potensi pemain yang diinginkannya. Perkara mencocokan isi kepalanya dengan sang pemain kemudian mensinergikan dengan skuad. Sanchez punya bekal untuk itu. Di Udinese dia terbiasa bermain sebagai penyerang sayap dan gelandang serang—selain ngepos di sektor naturalnya sebagai striker.

Langsung nyetel Sanchez di musim pertamanya dengan Blaugrana. Dia menyumbang 12 gol dari 25 pertandingan—hanya kalah dari Messi. Itu belum ditambah dengan torehan 5 assist. Bila dirata-rata per musimnya di La Liga, Sanchez sukses memproduksi 13 gol dan 8 assist.

Setelah bergelimang gelar bersama Barcelona, Sanchez kemudian hijrah ke Arsenal. Pada awalnya, dia diplot Arsene Wenger untuk menyokong Olivier Giroud sebagai mesin gol utama. Namun, konstelasi itu berubah di musim 2016/17. Sanchez menjadi tulang punggung tim. Cetak gol iya, bikin assist juga iya.

Wenger, yang semula memasang Sanchez di pos winger kiri dalam wadah 4-2-3-1, memindahkannya sebagai ujung tombak. Emang dasarnya Sanchez jago. Apa pun posisinya, dia bisa menunaikan tugasnya dengan sempurna. Itu terpampang dari torehan 24 gol dan 10 assist. Jumlah lesakan itu dua kali lipat dari milik Giroud. Pun dengan assist-nya yang melebihi torehan Mesut Oezil.

Lain ladang lain belalang. Lain di Barcelona, lain pula di Arsenal. Performa ciamik Sanchez itu tidak benar-benar terbayarkan. Hanya berbuah tiga gelar juara, itu pun “cuma” sekelas Piala FA dan Community Shield. Sanchez lantas memutuskan pergi ke Manchester United. Sebagai kompensasi, Arsenal meminta Henrikh Mkhitaryan sebagai gantinya.

Kita kemudian tahu apa yang terjadi. Pertukaran ini sama sekali tak menguntungkan kedua belah pihak. Mkhitaryan gagal nyetel dengan Arsenal. Pun dengan Sanchez. Baru kali ini dia merasa kepindahannya adalah sebuah kegagalan.

Sanchez cuma mencetak 5 gol selama dua musim. Bila ada yang bisa dibanggakan, itu hanyalah dari segi marketing. CEO Manchester United, Ed Woodward, mengatakan bahwa kedatangan Sanchez memberi banyak kontribusi finansial.

"Supaya konteksnya lebih jelas, unggahan pengumuman transfer Alexis menghasilkan 75 persen interaksi lebih dari ketika Neymar diumumkan sebagai pemain termahal dunia dari Barcelona ke Paris Saint-Germain," ujar Woodward sebagaimana dilansir Telegraph.

Sergutnya kondisi manajemen United pada waktu itu menjadi pangkal kegagalan Sanchez. Dia tak sendirian, ada sederet pemain bintang yang akhirnya gagal kemudian dibuang. Angel Di Maria, Radamel Falcao, Memphis Depay, dan Bastian Schweinsteiger adalah tumbal dari transfer ngawur United selama 8 tahun ke belakang.

Michael Cox dalam tulisannya di ESPN berpendapat bahwa Sanchez memang tak mendapatkan sokongan yang memadai untuk memainkan peran free-role di United. Argumen Cox masuk akal. United tak memiliki struktur permainan yang jelas. Baik itu di era Jose Mourinho dan juga Ole Gunnar Solskjaer. Sementara cedera yang dialami Sanchez juga merupakan faktor lainnya. Mengacu Transfermarkt, Sanchez telah absen 139 hari akibat cedera. Itu cuma di musim 2018/19.

Setelah semua petaka yang terjadi, datanglah Inter sebagai penyelamat. Mereka mendatangkan Sanchez meski dengan status pinjaman. Di atas kertas, Inter adalah destinasi ideal buatnya. Serie A merupakan pekarangan pertama yang membawanya sukses di Eropa. Antonio Conte jadi faktor pendukung selanjutnya. Dengannya, Sanchez tak akan lagi jatuh di tangan pelatih yang salah.

Conte yang mengandalkan pakem tiga beknya, cenderung memaksimalkan tipikal penyerang yang cepat dan piawai bermain di sisi tepi. Tujuannya demi melengkapi peran Romelu Lukaku. Sanchez adalah tepat untuk ini.

Lagipula, skema tiga bek bukan perkara anyar buatnya. Dia pernah bermain di bawah arahan Francesco Guidolin dengan pakem yang sama. Bersama Udinese di musim 2010/11 itu, Sanchez menemukan bentuk terbaiknya.

Di musim itu, Guidolin intens memakai pakem 3-5-2 dengan menempatkan Sanchez sebagai ujung tombak. Secara posisi, ia memang berada di garis terdepan. Akan tetapi, pada praktiknya, pergerakan Sanchez tak terpaku sebagai striker murni.

Bersama Conte, Sanchez memang tak mendapatkan garansi untuk mengisi pos reguler. Masih ada Lautaro Martinez yang rutin menjadi tandem Lukaku di garda terdepan. Namun, bila dikomparasi semasa di United, Sanchez mengalami peningkatan meski masih diganggu cedera. Total 11 gol dan 13 assist ditorehkannya selama dua musim. Dalam periode itu pula Sanchez dipermanenkan Inter.

Beruntung bagi Sanchez, Inter menunjuk Simone Inzaghi sebagai penerus Conte. Secara taktik keduanya tak jauh berbeda. Dengan begitu, Sanchez tak perlu repot-repot beradaptasi setelah bangkit dari keterpurukan.

Inzaghi menyukai permainan dinamis. Dia mengedepankan perpindahan bola-bola pendek dengan cepat. Saat menyerang, Inzaghi memberikan kebebasan pemain untuk mencari posisi. Gaya yang semestinya cocok dengan tipikal main Sanchez.

Martinez dan (kini) Edin Dzeko, memang menjadi pemain paten Inzaghi di musim ini. Namun, bukan kemudian dia mengesampingkan Sanchez. Karena besaran kontribusi pemain bukan diukur dari seberapa banyak menit dia bermain. Melainkan, seberapa besar impak yang dia hadirkan saat turun di lapangan. Dan Sanchez menjawab itu dengan sempurna.

Sudah 2 gol dan 2 assist yang Sanchez cetak di Serie A. Bila dirata-rata, dia berkontribusi atas gol/assist per 135 menit. Well, bukan catatan yang buruk untuk pemain berstatus buangan.
Dan bila masih menganggap Sanchez demikian, kamu salah besar. Pemain buangan macam apa yang bisa mencetak gol di saat-saat yang paling dibutuhkan? Membobol gawang klub sekelas Juventus di Super Coppa Italia, misalnya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now