Rest Defence

Foto: FC St. Pauli

Saya melihat bagaimana St. Pauli takluk karena mereka tak cukup baik dalam rest defence.

“Kami tidak cukup baik dalam counter pressing, kami tidak cukup baik dalam rest defence, kami sering menerima serangan balik.”

Jackson Irvine berkata demikian ketika kami, para wartawan, bertanya kepadanya perihal kekalahan yang dialami St. Pauli akhir pekan kemarin. Kekalahan yang janggal, kekalahan yang disebut Irvine sebagai kekalahan terburuk yang dialami timnya musim ini. Dan saya sepakat akan hal itu.

Sebagai konteks, sebelum laga ini St. Pauli sama sekali belum pernah kalah di kandang dalam ajang 2. Bundesliga. Mereka juga belum pernah menelan kekalahan beruntun sepanjang musim ini. Akan tetapi, dalam satu hari dua tren tersebut putus. Mereka keok 3-4 dari Elversberg di Millerntor, kekalahan berturut-turut setelah akhir pekan lalu takluk 1-2 dari Karlsruhe SC.

Secara garis besar permainan, St. Pauli memang bermain buruk (untuk ukuran mereka). Anak asuh Fabian Hürzeler tak mampu mengontrol tempo permainan karena mereka terbawa tempo lambat—seperti keinginan Elversberg. Dalam beberapa momen, mereka gagal mengontrol laga. Awareness buruk, payah dalam memenangi second ball.

Empat gol yang bersarang di gawang Nikola Vasilj adalah empat gol yang seharusnya bisa diantisipasi bila mereka mampu lebih agresif dalam mengambil second ball, lebih agresif dalam melancarkan pressing, dan seperti yang Irvine bilang: Lebih baik dalam rest defence. Sebab rest defence St. Pauli memang terlihat bermasalah pada laga tersebut.

***

Sebelum saya menulis lebih jauh, saya ingin coba menjelaskan dulu apa itu rest defence. Sederhananya, rest defence tercipta pada momen transisi saat sebuah tim kehilangan bola dalam fase menyerang dan berhadapan dengan serangan balik atau transisi ofensif lawan.

Dalam situasi ini, mengingat sebuah tim sebelumnya tengah menyerang, yang mana otomatis banyak pemain mereka yang berada di depan (atau area pertahanan lawan), sisa pemain-pemain yang berada di belakang dan akan jadi perisai bagi serangan lawan inilah yang disebut dengan rest defence.

Mungkin terdengar aneh, karena kalian pikir rest yang dimaksud mungkin merujuk pada momen. Namun, mengingat istilah ini berasal dari istilah Jerman yakni restverteidigung, istilah rest defence merujuk pada kelompok sisa (pemain). Jadi, pada sepak bola modern ini, sebuah tim terbagi pada dua kelompok: Attacking unit dan rest defence.

Sebuah tim bisa mengatur rest defence sesuai dengan keinginan dan situasi individu. Mereka bisa mengatur shape untuk kembali secepat mungkin ke area pertahanan sendiri dan kemudian bertahan dengan rapat dan dalam, atau juga bisa bertahan di area lapangan lawan dengan mengandalkan overload atau pressing.

Jika ingin mengambil contoh mudah: Arsenal adalah tim dengan rest defence yang bagus (bahkan terbaik di Premier League buat saya pribadi) dan Manchester United adalah tim dengan rest defence yang buruk. Silakan tonton bagaimana kedua tim tersebut bereaksi terhadap serangan balik lawan dan kalian akan mengerti maksud saya.

Rest defence biasanya lebih penting bagi tim yang cenderung memiliki kendali tinggi dan dominan atas penguasaan bola. Sebab tim yang seperti itulah yang punya kecenderungan menghadapi serangan balik lebih sering. Karenanya, pelatih-pelatih yang acap berbicara soal rest defence adalah pelatih macam Pep Guardiola, Julian Nagelsmann, atau, ya, pada zamannya, Erik ten Hag.

***

Akhir pekan kemarin, saya melihat bagaimana rest defence St. Pauli tidak terlalu baik dalam menghalau serangan-serangan balik Elversberg. Dalam satu momen mereka acap terlalu fokus pada sisi tertentu, tapi tidak dibarengi agresivitas, yang membuat sisi lain menjadi kosong dan bisa dieksploitasi lawan. Dalam momen lain, saya melihat bagaimana kelompok ini salah ambil keputusan karena bertindak terlalu cepat.

St. Pauli adalah tim yang dominan akan penguasaan bola dan sebelumnya mereka menunjukkan bahwa mereka punya rest defence yang bisa diandalkan. Namun dua laga terakhir, dan puncaknya laga vs Elversberg itu, menunjukkan bahwa lawan sudah mulai menemukan titik lemah, bahwa ada yang bisa dieksploitasi dari shape 2-3 pada rest defence-nya St. Pauli. Dengan mengirim bola-bola direct secepat mungkin ke half-space, misalnya.

Rest defence jelas sesuatu yang harus diperbaiki oleh St. Pauli. Mengingat kompetisi 2. Bundesliga tinggal menyisakan lima laga lagi, St. Pauli tak boleh terpeleset bila ingin menyegel tiket promosi ke Bundesliga. Saat ini mereka memang ada di posisi dua alias masih di zona promosi, tapi jarak dengan peringkat tiga hanya menyisakan lima poin seiring dengan dua kekalahan beruntun yang ditelan.

Yang menyedihkan lagi buat saya pribadi, beberapa hari sebelumnya saya juga menyaksikan tim jagoan saya yang lain, Liverpool, diporak-porandakan lawan karena rest defence yang buruk. Kekalahan 0-3 dari Atalanta pada laga leg pertama perempat final Liga Europa adalah pertandingannya. Gol-gol yang dicetak Atalanta tercipta lewat serangan balik saat rest defence Liverpool tak berada pada shape terbaiknya.

Liverpool memang memiliki masalah saat menghadapi transisi menyerang sejak bermusim-musim lalu. Dan itu kembali terekspos sejak mereka keok dari Manchester United pada babak perempat final Piala FA. Jürgen Klopp harus memperbaiki ini jika tak ingin melihat timnya terus terperosok. Rest defence dengan shape 2-2 mungkin menguntungkan karena attacking unit memiliki lebih banyak opsi, tapi ini juga berarti terlalu banyak ruang kosong yang bisa lawan eksploitasi dengan switch atau kecepatan.

Sebab, Sir Alex Ferguson mungkin pernah bilang bahwa, “Attack wins you games, defence wins you titles.” Namun, pada sepak bola modern sekarang, saya sepakat dengan apa yang ditulis oleh Liam Tharme: “Attack(ing unit) wins you games, rest defence wins you titles.”