AS Roma vs Inter Milan: Angin Segar Nerazzurri

AS Roma vs Inter Milan. Ilustrasi: Arif Utama.

Inter Milan sedang bagus-bagusnya. Sementara itu, Roma dan Mourinho tengah dilanda kesulitan.

Simone Inzaghi menyanjung Jose Mourinho setinggi langit. Mourinho, kata Inzaghi, punya kualitas dan rekam jejak oke di Italia.

Ya, Mourinho sempat mengantarkan Inter Milan menjejak kejayaan pada 2010 dengan menggamit tiga trofi sekaligus dalam semusim: Liga Champions, Coppa Italia, dan Serie A.

Capaian itu membuat Inter menjadi satu-satunya klub Italia peraih treble sampai saat ini. Apa yang pernah Mourinho raih dulu melekat di benak Inzaghi yang saat ini mengarsiteki Inter.

“Akan menyenangkan bertemu dengan pelatih treble,” kata Inzaghi sebagaimana mengutip Football Italian.

Eks pelatih Lazio itu boleh saja memuji Mourinho. Namun, saat keduanya bertemu pada pekan ke-16 Serie A di Stadio Olimpico, Minggu (5/12/21) dini hari, Inzaghi berada di atas angin.

Inter sedang tampil bagus-bagusnya. Mereka masuk barisan terdepan klub Serie A yang performanya paling meyakinkan sampai saat ini. Tanpa kekalahan dalam sepuluh laga terakhir jadi bukti sahih. Hebatnya, dalam kurun tersebut, Inter menang delapan kali di lintas ajang.

Tangan dingin Inzaghi tentu turut menopang daya ledak Inter. Ia mampu membentuk Inter sebagai kesebelasan terproduktif di Serie A. Hingga pekan ke-15, Inter sudah merangkum 36 gol. Hanya AC Milan yang mendekati rangkuman gol Inter, yakni 33 lesakan.

Inter versi Inzaghi adalah Inter yang mengedepankan perpindahan bola-bola pendek dengan cepat. Pemain memiliki kebebasan untuk mencari posisi saat fase ofensif. Kebebasan ini berdampak pada serangan Inter yang amat cair, terutama di area belakang penyerang.

Fluiditas membuat sebaran gol Inter cukup luas. Sudah 12 pemain yang berhasil mencetak gol sampai saat ini. Yang paling menonjol tentu saja Lautaro Martinez dan Edin Dzeko. Jika dikalkulasi, kedua pemain itu sudah mengemas 15 gol di Serie A.

Agresivitas Martinez-Dzeko terlihat juga dari rata-rata 2,88 shot creating actions (SCA) per laga. SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan.

Jadi, selain ganas menjebol gawang lawan, mereka pun piawai menciptakan peluang. Apalagi, pergerakan mereka di kotak penalti lawan cukup dinamis. Jika Dzeko merupakan pemantul dan piawai menyebarkan bola ke sisi kanan-kiri, Martinez adalah pembuka ruang bagi rekan-rekannya.

Kedalaman skuat Inter untuk pos striker tergolong mumpuni. Selain Martinez dan Dzeko, Inter masih punya Joaquin Correa. Sejauh ini, penampilan Correa cukup oke. Pria 27 tahun itu sudah merangkum 4 gol dan 2 asis di Serie A.

Yang membuat Correa terbilang spesial adalah daya jelajahnya yang tinggi. Ia bisa berlari ke semua area pertahanan lawan. Entah itu sisi kanan, tengah, maupun kiri. Pergerakan dinamisnya bertujuan untuk membuka ruang sekaligus merusak bentuk pertahanan.

Satu lagi, Correa mahir menjadi pelayan bagi rekan-rekannya. Ia punya kebiasaan berlari ke belakang untuk menarik lawan dan menyodorkan umpan terobosan. Gol ketiga Inter ke gawang Napoli pada pekan ke-13 Serie A bisa jadi rujukan.

Saat Inter tertekan, Correa turut membantu pertahanan. Ia turun sampai garis kotak penalti Inter. Ketika pertahanan Inter mampu meredam serangan Napoli, Correa menerima umpan dan berlari sampai sepertiga akhir. Setelah itu, ia menyodorkan bola kepada Martinez untuk dikonversikan menjadi gol.

Maka tidak heran jika Inzaghi sering mengotak-atik starting line-up Inter di lini depan. Pada pekan ke-14 Serie A melawan Venezia, misalnya, Inzaghi memainkan Correa-Dzeko sejak menit pertama. Pekan berikutnya melawan Spezia, duet Correa-Martinez jadi pilihan.

Kedalaman skuat tidak hanya untuk pos penyerang, tetapi juga lini tengah dan belakang. Ketika Matteo Darmian, Stefan de Vrij, dan Andrea Ranocchia, cedera, Inzaghi masih punya Danilo D'Ambrosio dan Denzel Dumfries. Itu juga yang membuat Inter mampu menjaga konsistensi.

Sedangkan AS Roma dalam kondisi yang kurang bagus. Sumber gol Roma saat ini akan absen melawan Inter. Setelah pencetak gol terbanyak klub musim ini Lorenzo Pellegrini cedera, Roma tidak bisa menurunkan Tammy Abraham karena akumulasi kartu. Semakin rumit karena Felix Afena-Gyan positif COVID-19.

Afena-Gyan sendiri sempat mencuri perhatian karena berhasil mencetak brace saat Roma melawan Genoa pada pekan ke-13. Karena stok menipis, Mourinho kemungkinan besar akan menurunkan Eldor Shomurodov. Meski jadi opsi terakhir, kapasitas dan kapabilitas Shomurodov tidak bisa dipandang sebelah mata.

Shomurodov bukan tipe poacher klasik dengan tugas mencetak gol saja. Pria 26 tahun itu mampu bermain melebar dan rajin menjemput bola ke lini tengah. Hal itu sekaligus memberikan ruang ofensif untuk secondline macam Henrikh Mkhitaryan, Stephen El Shaarawy, dan Jordan Veretout.

Pemain yang disebut terakhir paling mencolok di antara ketiganya. Veretout adalah pemain yang pandai mengeksploitasi celah. Sudah 4 gol dibuatnya di Serie A, terbanyak kedua bersama Abraham. Angka expected goal (xG) pria 28 tahun itu cukup tinggi, yakni 3,3. Itu jadi tertinggi ketiga di Roma setelah Abraham dan Pellegrini.

Veretout bisa menjadi tumpuan Mourinho pada laga nanti. Selain penyelesian akhir yang cukup ciamik, Veretout berperan penting dalam memperkokoh pertahanan Roma. Kemampuan defensifnya pun terbilang baik. Mengacu data WhoScored, rata-rata tekel dan intersepnya berada di angka 2,2 per laga.

Jika melihat agresivitas Inter dalam fase ofensif yang melibatkan banyak pemain, Mourinho mungkin saja menerapkan garis pertahanan rendah, seperti yang diterapkan saat bermain imbang imbang melawan Napoli. Gaya tersebut terbukti manjur meredam daya ledak Napoli.

Mourinho dapat menunaikan hal itu dengan menginstruksikan dua wing-back bermain lebih dalam guna meredam serangan sayap Inter. Pun demikian dengan Bryan Cristante dan Veretout. Mereka harus fokus melindungi pintu pertahanan pertama dengan memutus aliran bola Inter di sepertiga akhir.

Dengan menerapkan garis pertahanan rendah, Roma dapat meneror gawang Inter via serangan balik cepat. Ada Mkhitaryan dan El Shaarawy yang bisa menjadi kunci serangan Roma. Apalagi, keduanya punya kecepatan dan dribbles mumpuni.

Sedangkan untuk Inter, keputusan logis jika Inzaghi mengarahkan Hakan Calhanoglu rajin melepaskan tembakan jarak jauh. Apalagi musim ini, eks pemain AC Milan itu sudah mencetak dua gol via tembakan jarak jauh, ke gawang Genoa dan Venezia.

Angin segar sedang berembus ke kubu Inter. Kans mereka untuk mengamankan poin penuh terbuka lebar. Tapi, seperti apa yang dikatakan Inzaghi, Mourinho adalah pelatih berkualitas.

"Kami harus lebih berhati-hati karena kami tahu kualitas dan sejarahnya."

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.