Atletico Madrid Sudah Cukup Agresif, tapi Agresif Saja Belum Cukup

Foto: Twitter @atletienglish

Kalau bicara agresivitas, Atletico sudah terbilang lumayan. Namun, agresif saja tidak cukup untuk memenangi pertandingan.

Awalnya, Atletico Madrid tampak menjanjikan. Kemenangan 6-1 atas Granada pada pekan perdana La Liga musim ini boleh jadi bikin banyak pendukung mereka tersenyum lebar. Namun, dua laga berikutnya menunjukkan bahwa Atleti masih perlu pembenahan.

Berturut-turut, Atletico bermain imbang 0-0 dengan Huesca (tandang) dan Villarreal. Meski tidak menghasilkan gol, tim besutan Diego Simeone tersebut sebetulnya tampil cukup agresif. Per catatan ESPNFC, ada 16 attempts mereka lepaskan ke gawang Huesca. Sementara, untuk laga melawan Villarreal, mereka melepaskan 13 attempts.

Masalahnya, dari puluhan tembakan tersebut, hanya 2 attempts yang mengarah tepat sasaran. Keduanya tercipta pada laga melawan Huesca. Padahal, catatan xG (expected goals alias angka harapan gol) Atletico terbilang lumayan.

Understat mencatat, Atletico menorehkan 1,79 xG pada laga melawan Huesca (sementara Huesca sendiri menorehkan 0,63). Sedangkan pada laga melawan Villarreal, Atletico membuat 0,61 (berbanding dengan 0,20 milik Villarreal). Sebagai perbandingan, ketika menekuk Granada, angka xG Atletico mencapai 3,60.

xG mengukur sebuah kualitas percobaan untuk mencetak gol, entah itu tembakan atau sundulan. Beberapa variabel yang digunakan untuk mengukurnya --menurut catatan Opta-- adalah angle percobaan tersebut, jarak dengan gawang, hingga tipe assist.

Melihat pencapaian xG Atletico dalam tiga laga perdana mereka di La Liga musim ini, sebetulnya sudah cukup oke untuk menciptakan peluang. Namun, mereka kudu memperbaiki penyelesaian akhir.

Ini adalah salah satu problem yang membuat Atletico mendapatkan inkonsistensi hasil sejak musim kemarin. Lalu, apa problem lainnya?

***

Inkonsistensi tersebut mestinya sudah bisa diwaspadai sejak musim 2019/20. Los Colchoneros hanya sanggup meraih 18 kemenangan dari 38 pertandingan La Liga. Atletico juga 16 kali mendapatkan hasil imbang.

Jangan lupa juga, Atletico bisa dengan superiornya menyingkirkan Liverpool pada babak 16 besar Liga Champions dengan agregat 4-2. Namun, saat jumpa RB Leipzig di delapan besar, pasukan Diego Simeone malah kalah dengan skor 1-2.

Memang, masalah musim lalu yakni lini depan sedikit demi sedikit sudah dibenahi. Kedatangan Luis Suarez dari Barcelona diharapkan menjadi solusi jangka pendek Atletico.

Penyerang asal Uruguay itu diharapkan mampu mendongkrak perolehan gol Atletico yang cuma bisa mencapai angka 51. Jumlah itu paling sedikit di antara tim-tim yang berada di tujuh besar klasemen La Liga musim lalu.

Suarez sendiri sukses membuat 21 gol untuk Barcelona pada semua ajang musim lalu. Catatan itu berbanding jauh dengan perolehan penyerang-penyerang yang dimiliki Atletico Madrid.

Alvaro Morata yang tampil sebanyak 44 kali di semua ajang cuma bisa membuat 16 gol. Lalu, Diego Costa hanya membuat lima gol, dan Joao Felix hanya mencatatkan sembilan gol.

Efek kedatangan Suarez langsung terasa untuk Atletico. Pada laga debutnya melawan Granada, Suarez langsung memberikan andil. Baru 60 detik berada di lapangan, Suarez langsung memberikan assist untuk Marcos Llorente. Kemudian, Suarez juga membuat gol pada menit ke-85 serta 90+3.

Namun, Suarez saja rasanya tidak cukup mendongkrak penampilan Atletico. Dibutuhkan sosok kreator dan pemain senior yang bisa menolong Atletico dalam kondisi buntu.

Pada laga versus Huesca terlihat betapa mandeknya Atletico. Hanya ada 249 passing di final third lawan. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan passing Atletico di tengah yang mencapai 334 kali.

Thomas Partey menjadi pemain yang paling banyak melakukan passing pada laga tersebut dengan jumlah 95. Akurasi passing Thomas juga menyentuh angka 89,5 persen.

Lucunya, Atletico malah kehilangan Thomas di hari terakhir bursa transfer musim panas ini. Pemain asal Ghana itu hengkang ke Arsenal setelah klub asal London Utara itu menebus klausulnya.

Kepergian Thomas ini bakal berpengaruh kepada permainan Atletico. Pasalnya, ia menjadi salah satu pemain Atleti yang paling banyak melakukan operan sukses di daerah lawan pada La Liga musim kemarin.

Menurut catatan Squawka, Thomas bisa melepaskan 770 operan sukses di opposition's half pada La Liga musim kemarin, lebih banyak dari Saul yang 744 kali melepas operan sukses. Thomas cuma kalah dari Koke yang melepas 851 operan sukses di daerah lawan.

Musim ini, dari tiga pertandingan, Thomas justru jadi yang paling banyak melepaskan operan sukses di daerah lawan. Sementara ia melepaskan 128 operan sukses, Saul melepaskan 87 operan dan Koke melepaskan 79.

Oh, ya, Thomas juga menjadi pemain yang paling banyak melakukan passing ke depan sukses musim ini. Total, ia melakukan forward passes sebanyak 51 kali. Sementara, Saul hanya 49 dan Koke 39.

Pemain berusia 27 tahun itu juga yang bisa memecah kebuntuan Atletico lewat dribel serta tembakan jarak jauhnya.

Masalah lain yang belum dipecahkan oleh Atletico adalah leadership. Selepas kepergian pemain-pemain senior seperti Antoine Griezmann, Diego Godin, Juanfran, Filipe Luis, dan Joao Miranda, Atletico belum menemukan pengganti yang sepadan.

Belum ada yang bisa membimbing talenta-talenta muda seperti Joao Felix, Renan Lodi, Thomas Lemar, dan Marcos Llorente di dalam dan luar lapangan.

Kemudian, taktik Simeone juga dinilai menjadi salah satu alasan Atletico sulit berkembang. Memang, sih, Atletico piawai sekali kalau bermain bertahan. Namun, kokoh dalam bertahan saja tidak cukup.

Selain acap menumpuk pemain di belakang, Atletico juga dianugerahi penjaga gawang hebat bernama Jan Oblak. Namun, untuk bisa menang dalam bermain sepak bola, ya, mereka perlu mencetak go lebih banyak dari lawanl.

Dalam hal ini Simeone belum menemukan variasi taktik yang jitu. Padahal, gelandang-gelandang seperti Saul, Koke, dan Joao Felix piawai untuk memberikan umpan dan mengkreasikan peluang.

Simeone seringkali mengandalkan kedua sisi untuk menyerang dan sesekali mengharapkan kemampuan individu pemainnya. Kalau Atletico memiliki pemain-pemain seperti Messi dan Cristiano Ronaldo, sih, bisa saja. Sayang, pemain yang dipunya Atletico belum mencapai level tersebut. Oleh karena itu, Simeone mesti menerapkan skema progresi serangan dari sayap yang tidak cuma mengandalkan kemampuan individu.

Biasanya, kalau sayap-sayapnya buntu, Simeone bakal mengandalkan Thomas untuk mendobrak dari second line. Namun, ya, itu tadi… Thomas-nya sudah pergi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.