Bab Baru Pertahanan Real Madrid

Ilustrasi: Arif Utama

Kepergian Ramos dan Varane membuat pertahanan Real Madrid menghadapi bab baru. Kini, mereka hanya punya 3 bek senior: Alaba, Nacho, dan Militao. Bisa apa Madrid dengan kondisi baru ini?

Karang-karang lini belakang Real Madrid angkat kaki. Sergio Ramos merapat ke Paris Saint-Germain, dan Raphael Varane berlabuh ke Manchester United. Kepergian bek-bek kelas dunia itu tidak hanya merupakan tanda dari kemunduran finansial klub, tetapi juga memunculkan retak-retak baru di pertahanan Los Blancos.

Ya, Ramos adalah salah satu pemain yang sudah memberikan segalanya untuk Madrid. Lima gelar La Liga dan empat trofi Liga Champions cukup bagi Ramos masuk dalam daftar legenda Madrid.

Prinsip pantang menyerah plus jiwa kepemimpinan Ramos kerap menyulut motivasi dan memberikan impak positif kepada skuad. Laga final Liga Champions 2014 kontra Atletico Madrid dapat menjadi bukti sahih.

Pertandingan memasuki menit 93. Saat itu, Madrid tertinggal 0-1. Kekalahan Madrid pun sudah menyeruak hingga ke tribune penonton. Namun, Ramos enggan menyerah. Menyambut umpan sepak pojok Luca Modric, ia mampu menyarangkan bola ke gawang Atletico.

Gol itu bukan gol biasa. Gol itu memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu sekaligus menjadi titik awal kebangkitan dan keberhasilan Madrid merengkuh 'Si Kuping Besar' yang kesepuluh.

Berbicara perfoma di lapangan, Ramos sungguh mengesankan. Ia tidak hanya mahir memutus gempuran lawan dengan tekel, intersep, ataupun sapuan, tetapi juga piawai mengirim umpan panjang.

Mengacu WhoScored, bek Spanyol itu merangkum rata-rata 7,6 longball per laga sepanjang La Liga 2020/2021. Atribut tersebut memudahkan Madrid melancarkan serangan balik secara kilat.

Ramos juga berperan penting membawa Madrid meraih gelar La Liga 2019/2020. Selain membuat Madrid menjadi tim paling sedikit kebobolan, ia keluar sebagai pencetak gol kedua terbanyak Madrid di La Liga dengan 11 gol. Hanya kalah dari Karim Benzema yang merangkum 21 gol.

Catatan tersebut membuktikan bahwa rasa haus akan gol Ramos jauh lebih banyak dari Vinicius Junior dan Marco Asensio yang berposisi sebagai penyerang sayap. Apalagi tingkat harapan membuat gol (xG) Ramos pada musim lalu mencapai 10,65. Tertinggi kedua, lagi-lagi, setelah Benzema.

Jika Madrid dan Florentino Perez ingin membuat pleidoi atas kepergian Ramos, mereka bisa bahas usia si pemain yang sudah 35 tahun. Apabila kurang, mereka boleh berucap rentannya Ramos terjangkit cedera. Transfermarkt mencatat Ramos telah melewatkan 201 hari dan 32 pertandingan bersama Madrid lantaran cedera.

Lalu, bagaimana dengan Varane?

Kepergian bek Prancis itu berawal dari kontraknya yang bakal berakhir musim panas 2022. Madrid memang sudah mengajukan pembicaraan, tapi Varane menolak dengan dalih mencari petualang baru.

Di luar dalih petualangan baru, kepindahan Varane ke Manchester United dikabarkan karena Madrid tidak bisa memenuhi keinginan si pemain soal nilai-nilai yang berkaitan dengan fulus. Karena itu pula, hengkangnya Varane bisa menjadi tanda bagaimana Madrid sedang kelimpungan soal finansial.

Padahal, Varane adalah bek utama Madrid musim lalu. Seringnya Ramos menepi karena cedera mampu ia kover dengan baik. Melihat statistik musim lalu, Varane membukukan rasio keberhasilan tekel hingga 57% dan 1,1 intersep per 90 menit. Angka tersebut jadi catatan terbaiknya selama pengabdiannya di Madrid.

Varane bergabung Madrid pada musim panas 2011 saat usianya baru mencapai 18 tahun. Dalam 10 musim, ia berhasil membawa Madrid menjuarai 18 gelar, termasuk empat gelar Liga Champions dan tiga trofi La Liga. Berkat torehan itu, mengutip GOAL, ia menjadi pemain dengan trofi terbanyak kedelapan dalam sejarah Madrid.

Keberadaan Ramos-Varane membuat lini bertahan Madrid tangguh. Mereka juga saling melengkapi dan memahami untuk bahu-membahu mengadang serangan lawan. Maka, ketika mereka hengkang bersamaan, tembok kokoh pertahanan Madrid dinilai akan meretak dan goyah.

Kekhawatiran itu semakin menjadi ketika melihat geliat Madrid di bursa transfer. Mereka baru mendatangkan David Alaba dengan bebas transfer untuk menambal dua lubang besar pascakepergian Ramos-Varane.

Alaba memang mengantongi sejumlah komponen yang dimiliki Ramos. Pertama, ia punya jiwa kepemimpinan yang oke. Hal itu terlihat ketika ia membungkam mulut Marko Arnautovic yang mengucapkan kata-kata kotor untuk orang Albania di Piala Eropa 2020 saat Austria melawan Makedonia Utara.

Kedua, pemain Austria itu punya stamina berlimpah. Ia tidak ragu menyisir sisi lapangan sambil fokus mengover ruang-ruang kosong di area tengah saat berperan sebagai bek sayap. Terakhir, ia mampu mengirim umpan-umpan panjang ke depan dengan baik.

Namun, atribut itu tidak cukup melegakan. Mengacu Whoscored, Alaba lebih mahir menguasai bola ketika berada di kakinya ketimbang menekel lawan. Catatan itu berbanding terbalik dengan Ramos yang garang saat berduel di darat.

Satu yang patut disoroti dari Alaba adalah kemampuan bermain di sejumlah posisi. Ia mampu bermain sebagai bek sayap, bek tengah sebelah kiri, ataupun gelandang bertahan, dengan sama baiknya.

Pemain berusia 29 tahun itu juga memiliki kedekatan dengan pelatih anyar Real Madrid, Carlo Ancelotti, saat membela Bayern Muenchen. Hubungan yang baik akan membantunya mengejawantahkan instruksi-instruksi sang pelatih di lapangan.

Selain Alaba, Madrid memiliki dua bek tangguh, yakni Nacho dan Eder Militao. Kapasitas dan kapabilitas kedua pemain itu sudah teruji sepanjang musim lalu.

Nacho yang dinilai WhoScored cakap membaca serangan lawan dan memotong aliran bola mencatatkan 1,1 tekel dan 1,7 intersep per laga. Namun, lagi-lagi menurut catatan WhoScored, pemain berusia 31 tahun itu lemah soal tekel dan duel.

Kelemahan Nacho itu mampu ditutup Militao. Bek Brasil itu sangat sigap mengantisipasi pemain lawan yang coba merangsek ke kotak 16. Ia punya kepercayaan diri yang tinggi saat menekel lawan, baik di dalam maupun luar kotak penalti.

Kendati mengantongi plus dan minus yang berbeda, Nacho dan Militao cukup fasih mengirim umpan panjang. Rata-rata umpan panjang Nacho sepanjang musim 2020/2021 mencapai 2,8 per laga. Sedangkan Militao lebih banyak lagi dengan 4,7 long balls per 90 menit.

Selain mereka bertiga, Madrid tidak punya bek tengah yang perkasa lainnya. Memang masih ada Victor Chust, tapi pemain berusia 20 tahun itu belum siap melakoni laga-laga besar. Ia perlu beberapa tahun lagi untuk benar-benar siap.

***

Kepergian Ramos-Varane bisa menjadi bagian baru sekaligus penyegaran di lini pertahanan. Namun, Madrid harus tetap memprioritaskan bek baru pada jendela transfer kali ini. Sebab, hanya punya tiga bek tengah senior untuk melakoni musim yang padat dan panjang adalah sebuah risiko besar.

Oke, Ancelotti bukan pelatih yang saklek dengan satu gaya. Ia bisa beradaptasi dengan menimbang kekuatan skuad. Misal menerapkan skema tiga bek dengan menggunakan Ferland Mendy sebagai salah satu bek tengah. Masalahnya, pelatih sekaliber Ancelotti pun membutuhkan kedalaman skuad yang baik.

Bukankah kedalaman skuad menjadi hal krusial jika ingin meraih gelar La Liga dan Liga Champions sekaligus? Apalagi di tengah pandemi, pemain inti bisa tiba-tiba absen karena terpapar COVID-19. Seperti yang terjadi pada Alaba saat tulisan ini dimuat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.