Barcelona dan 3-5-2

Foto: Instagram @fcbarcelona.

Sejauh ini, keputusan Ronald Koeman mengubah formasi dasar Barcelona berbuah manis.

Ronald Koeman tidak pernah berpikir bahwa loyalitas itu ada. Baginya, selama Anda punya bekal luar biasa, orang akan lupa Anda berasal dari mana dan di mana Anda ditempa.

Saat bergabung dan membawa PSV menjuarai Eredivisie tiga musim beruntun, mulai dari 1986/87 hingga 1988/89, orang-orang mendadak lupa bahwa ia adalah mantan pemain Ajax. Pun demikian saat ia bergabung Feyenoord di pengujung karier.

Apa yang dilakukan oleh Koeman saat menjadi pelatih tidak jauh berbeda. Ia kembali menangani klub tiga klub tersebut dan orang-orang tidak peduli dengan deretan klub yang pernah dilatih di curriculum vitae-nya.

Koeman tidak hanya membangkang dalam urusan klub, soal formasi ternyata sama saja. Menurut laporan Sky Sports, selama menukangi Everton atau dalam 58 pertandingan, Koeman bahkan telah menggunakan 9 formasi yang berbeda.

Jumlah formasi yang digunakan oleh Koeman bahkan hampir menyamai David Moyes, dengan 11 formasi berbeda. Padahal, Moyes memegang kendali The Toffees dalam kurun waktu yang cukup panjang, 516 pertandingan.

Satu hal yang bisa dipetik dari sini adalah bagaimana Koeman termasuk sosok pelatih yang adaptif. Ia bukan saja menggunakan racikan berdasarkan kebutuhan tim, tapi juga melihat bagaimana penerapan yang dilakukan oleh lawan.

Baru-baru ini, cara tersebut dipraktikkan di Barcelona. Barcelona, dulunya, sangat akrab dengan 4-3-3. Entah dimulai dari siapa, tapi formasi ini lengket dengan Barcelona hingga pelatih sebelum Koeman, Quique Setien.

Namun, yang terjadi sekarang berbeda. Koeman kini mengubah pola Barcelona menjadi 3-5-2. Formasi ini pertama kali digunakan saat mereka bersua Sevilla di ajang La Liga, akhir Februari lalu. Hasilnya lumayan, mereka menang 2-0.

Formasi ini kembali digunakan oleh Koeman dalam empat pertandingan berikutnya. Dari segi hasil, Barcelona menang dalam tiga pertandingan dan sekali imbang. Mereka mencetak total 10 gol dan hanya kemasukan dua gol.

Penggunaan 3-5-2 menjadi hal yang baru bagi Barcelona di era Koeman. Sebelumnya, Koeman kerap menggunakan 4-2-3-1. Pakem tersebut diubah Koeman menjadi 4-3-3 saat memasuki awal 2021.

Di atas lapangan, pola ini bisa berkembang. Dalam tiga pertandingan--melawan Sevilla di Copa del Rey, Paris Saint Germain, Huesca--formasi berkembang menjadi 3-4-1-2. Sedangkan, saat bersua Sevilla di La Liga dan Osasuna, formasi berubah 3-1-4-2.

Perubahan paling besar dari pola ini adalah bagaimana Lionel Messi dituntut lebih banyak menjemput bola dari tengah lapangan. Sebelum menggunakan 3-5-2, Messi rata-rata menjemput 42,4 umpan di tengah lapangan. Saat pola ini dipilih, ia menerima 51 umpan.

Dengan turun lebih dalam, Messi dapat membantu peran gelandang dalam mengkreasikan peluang. Tidak hanya itu, kini ia tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan Barcelona untuk mencetak gol.

Saat Messi turun, Koeman mempersilakan Frenkie De Jong dan Pedri untuk berada di half space. Dalam laga melawan Osasuna, keduanya sukses membuat lawan kocar kacir karena mereka kerap tidak terkawal.

Adanya Messi di tengah membuat Sergio Busquets kini punya peran untuk membantu serangan. Sejak formasi ini digunakan, ia mencatat rata-rata 2,7 umpan yang berujung peluang. Angka tersebut di atas rata-ratanya sebelum Barcelona menggunakan pola ini, yakni 2,1.

Namun demikian, perkembangan terbesar Barcelona bukan dari serangan, tapi pertahanan. Seperti yang dijelaskan oleh Koeman usai laga melawan Sevilla di La Liga, formasi ini dipilih dengan tujuan meminimalisir kesempatan untuk menyerang.

“Cara ini kami gunakan agar bisa sesegera mungkin mematikan serangan lawan. Adanya tiga pemain belakang dan dua bek sayap membuat kami dapat mengungguli jumlah pemain lawan yang menyerang,” kata Koeman.

Pilihan Koeman pada akhirnya berbuah manis. Sevilla yang memiliki rata-rata 8.3 umpan silang dari sisi kanan hanya mampu melepaskan 4 umpan silang saat bersua Barcelona. Begitu pula PSG yang punya rata-rata 14,3 percobaan hanya dapat menciptakan tujuh peluang.

Kini, peluang pemain lawan untuk mendapatkan bola semakin kecil. Kylian Mbappe jadi satu korbannya. Sebelum Barcelona menggunakan formasi ini, ia bisa leluasa mendapatkan 43 umpan. Sebaliknya, saat formasi ini dipilih, ia hanya mampu menerima 22 umpan.

Sejauh ini, pilihan ini cukup sukses diterapkan. Patut dinanti, apakah Koeman kembali menunjukkan pembangkangan seperti yang sudah-sudah?



Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.