Bermulanya Narasi tentang Pessina

Foto: Twitter @Squawka.

Jangan cepat-cepat mencecar Pessina dengan tudingan pemain aji mumpung karena sering diturunkan sebagai pengganti. Siapa tahu itu memang dibutuhkannya agar ia tak sekadar menjadi one hit wonder Azzurri.

Di hadapan Matteo Pessina yang menggiring bola dalam kegembiraan yang tak dibuat-buat, entah mengapa terdengar lamat-lamat lagu 'Father and Son'.

Lagu milik Cat Stevens ini unik. Meski bukan lagu duet, Stevens yang belakangan mengganti namanya menjadi Yusuf Islam, bernyanyi sebagai dua orang berbeda. Waktu menyanyikan bagian bapak, Stevens terbebas dari gempuran emosi. Sementara saat menyanyikan bagian anak, emosinya meletup, suaranya meninggi, hentakannya terasa.

“How can I try to explain, cause when I do, he turns away again. It's always been the same, same old story. From the moment I could talk I was ordered to listen.” 

Rasanya itu menjadi bagian paling getir dari 'Father and Son'. Siapa pun anak yang dimaksud Stevens di sana, kedengarannya ia muak dengan ekspektasi, enek dengan segala macam nasihat yang menuntutnya menjadi ini dan itu.

Di atas lapangan sepak bola, Pessina adalah anak. Celakanya, sejak mencuat di Atalanta, ia dituntut menjadi The Next Papu Gomez.

Tentu saja Papu tidak semewah Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Ia juga tidak selegendaris Andrea Pirlo. Namun, bagi orang-orang Atalanta, Papu adalah keajaiban. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang ikut membangun Atalanta dalam generasi didikan Gian Piero Gasperini.

"Pessina harus setajam Papu," "Seharusnya penampilan Pessina bisa sesangar Papu," "Bagaimana kalau Pessina memermak diri supaya jadi terlihat bad boy seperti Papu?" Itulah riuh tuntutan yang datang kepada Pessina.

Sejak remaja Pessina terbiasa menghidupi pilihannya sendiri. Ayahnya seorang akuntan, sedangkan ibunya bekerja sebagai arsitek. Ia menghabiskan beberapa tahun masa remaja untuk membayangkan bagaimana rasanya menjadi arsitek seperti ibunya. Akan tetapi, Pessina tahu ia tak harus memilih jalan saat itu juga. Jika punya banyak waktu untuk mencari, mengapa ia harus lekas-lekas memilih?

Ketika akhirnya Pessina mendapat tempat di Atalanta, ia tak mau menjadi The Next Papu. Saya bukan pengganti Papu, begitu katanya dengan tegas dalam sebuah konferensi pers.

Sebenarnya agak menggelikan untuk mengharapkan Pessina menjadi the next siapa pun mengingat ia bermain di Atalanta. Beberapa musim terakhir, Atalanta meninggalkan watak lama sepak bola Italia. Atalanta ingin menghentak, bermain tangkas dan membuat puluhan ribu suporter menahan napas setiap kali para penggawa menyentuh arena pertahanan seteru.

Gasperini bukan pelatih ortodoks yang suka membuat timnya bertumpu pada sosok pemain. Ia adalah pelatih yang merancang sistem agar Atalanta bermain sebagai tim yang menekan dan menyerang seolah besok sudah kiamat. Hasrat itu membuat Atalanta menjadi tim yang trengginas. Dalam dua musim terakhir Serie A mereka adalah tim yang paling banyak mencetak gol: 98 gol pada 2019/20 dan 90 gol pada 2020/21.

Kabar baik bagi suporter Atalanta mulai tercium ketika melihat perfoma Pessina. Dipinjamkan ke Hellas Verona pada 2019/20, ia kian matang saat kembali ke Atalanta. Ternyata Pessina bisa tampil berkelas saat dimainkan sebagai gelandang tengah maupun gelandang serang. Seringnya, Pessina turun dengan mengemban peran pemain nomor 10 dalam skema 3-4-1-2 ala Gasperini.

Meski demikian, jangan buru-buru mengecap Pessina sebagai pengganti Papu. Semasa membela Atalanta, Papu didapuk sebagai kreator serangan utama, sedangkan Pessina diberi tugas memastikan koneksi dengan pemain sayap.

Pessina juga bertanggung jawab untuk menopang tim saat menyerang dengan menjadi salah satu opsi umpan di area sepertiga akhir. Dengan begitu, teman-temannya bisa memberi peluang dari sayap via overlap. Dalam situasi yang memungkinkan, Pessina dapat menyelinap ke kotak penalti dan menambah opsi penyelesaian akhir.

Roberto Mancini tidak menutup mata atas segala hal yang dibuat Pessina di lini tengah Atalanta. Terlebih, lini tengah adalah nyawa permainan Italia yang dibangunnya sekarang. Coba ingat-ingat lagi siapa yang beroperasi di area ini.

Meski demikian, Mancini sadar tak semua pemainnya bisa langsung menjadi pemeran utama. Begitu pula dengan Pessina yang belum pernah bermain penuh di Piala Eropa 2020.

Namun, Pessina peduli setan. Yang penting ia punya tempat dan memiliki waktu untuk membuktikan bahwa ia bukan pemain kacangan meski pernah dibuang AC Milan. Buktinya, Pessina berhasil mencetak dua gol dalam penampilannya bersama Italia. Satu di antaranya bahkan jadi gol tunggal Italia ketika berlaga melawan Wales.

Menjadi pemain pengganti bukan perkara menyenangkan bagi sebagian pemain. Namun, bukan tidak mungkin hal itu tidak berlaku bagi Pessina. Lewat sepak terjangnya sebagai pesepak bola yang baru terlihat, Pessina sedang ada dalam momen-momen awal ia dapat berbicara. 

Ia berbicara lewat gol dan pergerakan tanpa bolanya yang membuat lawan limbung. Ia berbicara dengan keberhasilan mengelabui pertahanan lawan dan lewat kontribusinya dalam meloloskan Italia ke perempat final Piala Eropa 2020.

Pesepak bola mana yang tidak mendambakan menjadi pilihan utama? Namun, siapa tahu menjadi pemain pengganti membuat Pessina bermain lebih leluasa, tanpa ekspektasi macam-macam.

Entah benar atau hanya spekulasi liar para penikmat musik, lagu 'Father and Son' merupakan bagian dari proyek drama musikal berjudul Revolussia. Ia bertutur tentang perbedaan idealisme bapak dan anak laki-laki dalam satu keluarga Rusia di era revolusi.

Sang bapak ingin agar anaknya ini menetap di kampung halaman untuk mengurus peternakan keluarga, sementara si anak punya hasrat berbeda. Ia tak mau tinggal di rumah. Ia ingin bergabung dengan teman-teman dan saudara-saudara idealismenya: Maju ke garda depan, mengusahakan kemenangan, memperjuangkan revolusi.

Karena belum jadi pilihan utama, Pessina tidak selalu tampak. Akan tetapi, dengan begitu mungkin ia tak perlu menjadi seperti anak dalam 'Father and Son' tadi. Ia bisa dengan bebas menjadi diri sendiri atau bahkan memahami pesepak bola seperti apa ia sebenarnya.

Tanpa lampu sorot, Pessina tidak perlu menyimpan amarah karena muak dipaksa menjadi The Next Papu atau next-next lainnya. Ia bisa mengembangkan diri dengan tenang, menjalani hidupnya sebagai pesepak bola dan pemain Azzurri dengan cara yang asyik.

Jangan cepat-cepat mencecarnya dengan tudingan pemain aji mumpung karena sering diturunkan dalam situasi yang tak genting-genting amat. Siapa tahu itu memang dibutuhkannya agar ia tak sekadar menjadi one hit wonder Azzurri, tetapi bisa bertahan sambil tumbuh menjadi versi terbaiknya.

Lalu pada saatnya nanti, Pessina menutup perjalanannya di lapangan bola sebagai bapak yang menyanyikan baris "Look at me; I'm old, but I'm happy" dalam lagu 'Father and Son' dengan lantang. Ia akan mengenang hari-harinya di lapangan bola sambil menonton pentas balet atau berjalan-jalan di taman kota dengan menenteng tas Pornhub, tanpa menghabiskan satu hari pun dengan bermain Playstation.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.