Bukan Lagi Captain America

Foto: Instagram @cmpulisic.

Siapa bilang nasib Christian Pulisic bakal lebih baik di tangan Thomas Tuchel?

Christian Pulisic datang ke Chelsea dengan julukan Captain America. Melihat penampilannya dalam dua bulan terakhir, barangkali orang-orang akan menjulukinya Red Skull.

Musim panas 2019 lalu, Pulisic resmi bergabung Chelsea dengan angan-angan besar. “Rasanya luar biasa melihat apa yang dilakukan Eden Hazard di sini. Dia adalah inspirasi saya dan saya berharap bisa memberikan kontribusi sepertinya,” kata Pulisic.

Chelsea memboyong Pulisic dari Borussia Dortmund dengan biaya sekitar 64 juta euro dan kontrak lima setengah musim. Angka ini membuatnya jadi pemain dengan biaya termahal ketiga yang pernah dikeluarkan oleh Chelsea saat itu.

Sangat wajar bila Chelsea rela merogoh kocek sedalam itu. Pada usia 19 tahun, Pulisic sudah mengunci satu posisi di lini serang Dortmund. Tiga setengah musim di tim utama Dortmund, ia diturunkan 90 kali dengan kontribusi 13 gol dan 18 assist.

Dari nominal yang dikeluarkan dan panjangnya kontrak yang diberikan oleh Chelsea rasanya kita bisa sepakat bahwa The Blues memiliki ekspektasi besar kepada Pulisic. Kenyataannya, ekspektasi tersebut tidak bisa dipenuhi olehnya.

Ketidakmampuan Pulisic memenuhi ekspektasi tersebut membuatnya sempat diisukan hengkang. Belakangan, isu ini makin santer terdengar dan kabarnya ia akan kembali memperkuat tim asal Jerman.

Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa kondisi Pulisic di Chelsea bisa sedemikian rumit. Alasan pertama, cedera. Sejak bergabung Chelsea musim panas 2019, Pulisic telah menepi selama 283 hari.

Cedera bukan hal yang baru bagi Pulisic. Sejak masih bergabung Dortmund, dia telah absen dalam banyak pertandingan karena cedera. Masalahnya, Chelsea tampak tidak memperhitungkan risiko ini saat memutuskan membeli Pulisic.

Masalah tersebut membuat Pulisic kesulitan mempertahankan performa terbaiknya. Satu contohnya terjadi pada November lalu. Sempat tampil apik dalam tiga pertandingan yang berujung dengan satu gol ketika melawan Krasnodar, ia justru mengalami cedera.

Pulisic butuh 24 hari untuk sembuh dari cedera tersebut. Saat pulih dan kembali diturunkan, penampilannya mengecewakan. Beruntungnya, ia hanya membutuhkan dua pertandingan untuk kembali ke penampilan terbaiknya.

Alasan kedua yang menyulitkan Pulisic adalah kedalaman skuat Chelsea di posisi penyerang sayap. Di skuat saat ini, ada empat pemain yang dapat dipasang di pos tersebut, Mason Mount, Hakim Ziyech, Timo Werner, dan Kai Havertz.

Chelsea, saat dipimpin Frank Lampard, amat sering menggunakan dua penyerang sayap. Sewajarnya penyerang sayap, mereka ini diharuskan memiliki pengaruh besar terhadap gol.

Pulisic sempat gagal memberikan pengaruh terhadap gol yang diciptakan tim. Selama 10 pertandingan, sejak pertengahan Desember 2020 hingga akhir Januari 2021 lalu, ia sama sekali tidak mencetak gol atau menciptakan assist.

Secara keseluruhan, Pulisic menjadi penyerang sayap dengan kontribusi gol dan assist paling minim. Ia hanya mampu membuat 0,17 gol dan assist per 90 menit. Werner menjadi pemain dengan kontribusi terbesar dengan 0.44, diikuti Ziyech (0.42), Mount (0.32), dan Havertz (0.23).

Imbas dari minimnya sumbangsih tersebut, ia tidak mendapatkan banyak kesempatan bermain. Per musim ini, ia hanya mendapatkan kesempatan rata-rata 57 menit per pertandingan. Jumlah tersebut di bawah rata-rata empat nama sebelumnya yang mencapai 66 menit per pertandingan.

Pulisic makin tidak berkembang seiring taktik yang dipilih oleh Tuchel. Hal ini tentu di luar prediksi banyak pihak mengingat ia melakoni debut bersama Dortmund saat mereka dipegang oleh Tuchel.

Saat tiba di Chelsea, Tuchel langsung mengadopsi pola 3-4-2-1. Dipilihnya pola ini seakan tidak memberikan ruang bagi Pulisic mengingat dua orang pemain di belakang penyerang tengah adalah seorang gelandang serang.

Sejak Tuchel datang, Pulisic lebih banyak turun sebagai pemain pengganti. Dalam lima laga perdana Tuchel di Premier League, ia hanya mendapatkan kesempatan bermain selama 84 menit.

Pulisic baru mendapatkan kesempatan sebagai starter di ajang Premier League pada laga melawan Leeds United, 13 Maret lalu. Meski dalam susunan formasi ia bermain sebagai penyerang sayap, tapi kenyataannya ia tampak sebagai wing-back.

Dalam laga tersebut, ia tak banyak berkontribusi atas serangan yang dibangun oleh The Blues. Selama 69 menit, ia hanya menciptakan satu umpan kunci. Selebihnya, Pulisic banyak melakukan aksi defensif.

Situasi yang dihadapi oleh Pulisic di Chelsea memang terbilang pelik. Ia tidak hanya harus berhadapan dengan garis tangan tuhan (baca: cedera), tapi juga persaingan di atas lapangan.

Kini, Pulisic hanya punya dua opsi, menerima dan berserah atas semuanya atau membalas setiap kesempatan dengan kejutan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.