Buntut Revolusi Brentford

Foto: @brentfordfc.

Peringkat tujuh Premier League sejauh ini adalah buah revolusi Brentford. Bagaimana selanjutnya? Apakah mereka bisa lebih baik lagi?

Dari insting dan mata Lee Dykes, barangkali Brentford tak akan seperti yang kita lihat sekarang.

Semua bermula dari 2019. Dykes yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga di Bury dipastikan bakal menganggur setelah berakhirnya musim 2018/19. Kebangkrutan menyebabkan Bury harus mengurangi nyaris seluruh pegawai mereka.

Dykes memilih untuk mencari kerja secepat mungkin. Tanpa pengalaman meneropong bakat pemain atau mengarahkan para pencari bakat ke seluruh belahan dunia, ia memberanikan diri untuk melamar ke posisi direktur rekrutmen Brentford.

“Saya pikir posisi tersebut menarik. Saya tahu struktur sebuah klub sepak bola, saya punya pengalaman melatih, dan saya tahu cara algoritma bekerja. Tidak banyak kepala rekrutmen memiliki kompetensi tersebut,” kata Dykes kepada The Athletic.

Dykes dan Brentford akhirnya berjodoh. Keputusan Dykes memilih Brentford menjadi pelabuhan karier seakan tepat saat Matthew Benham, sang pemilik klub memberikan banyak keleluasaan. Begitu pula sebaliknya. Brentford selalu membiarkan Dykes mengeksekusi ide-ide gilanya.

“Saya beruntung mereka memberikan banyak kebebasan bagi saya mengatur transfer pemain, yang notabene memegang peran penting untuk kelangsungan klub ini,” kata Dykes kepada 90min.

Sebagai kesebelasan yang tidak memiliki akademi, proses rekrutmen pemain jadi penting di Brentford. Namun demikian, yang mereka pikirkan bukan soal untung dan untung, melainkan juga kesuksesan klub di masa depan.

Kisah Brentford yang membesarkan Ollie Watkins jadi cerita paling mahsyur dari cara mereka mengeruk untung dari transfer pemain. Semula, Watkins hanya penyerang biasa di League Two. Kariernya amat jauh dari kata cemerlang.

Lantas, Brentford datang membelinya di angka 2,1 juta euro. Tiga musim di Brentford, Watkins menunjukkan penampilan apik. Pada musim panas 2020, ia diboyong Aston Villa dengan biaya 33 juta euro. Untuk ukuran klub kecil, keuntungan yang didapatkan Brentford amat besar.

Selain Watkins, masih ada nama-nama lain yang dijual Brentford dengan angka fantastis. Misalnya, Neal Maupay ke Brighton and Hove Albion dan Said Benrahma ke West Ham United.

Namun demikian, menurut Dykes, transfer pemain tidak sesederhana itu. Hanya berpikir menjual pemain bakal membuat klub tak berkembang. “Oleh karena itu kami berupaya menciptakan agar strategi transfer kami berbanding lurus dengan prestasi,” ujar Dykes.

Salah satu cara yang dilakukan Dykes adalah mendatangkan pemain berpengalaman. Strategi transfer lawas yang tidak memungkinkan mereka memboyong pemain-pemain berusia senja diubah.

“Sejak 2019 kami menjadikan level pengalaman sebagai salah satu atribut yang harus dipenuhi. Buat apa fasilitas dan staf kepelatihan bagus apabila tidak ada pemimpin di ruang ganti?” ujar Dykes.

Tidak ada kata terlambat untuk mengubah haluan. Perpaduan antara pemain berpengalaman dan bakat menjadi alasan mengapa Brentford berhasil promosi ke Premier League akhir musim lalu.

***

Ada banyak alasan untuk mengatakan bahwa Thomas Frank adalah pelatih yang amat fleksibel musim lalu. Mulai rajin mengubah susunan formasi hingga menurunkan paling banyak pemain di Championship.

Fleksibilitas yang ditunjukkan Frank musim lalu kini tidak terlalu tampak. Dari tujuh pertandingan Premier League, ia nyaris selalu menggunakan formasi 3-5-2. Begitu pula perkara pemain, sejauh ini hanya ada 14 pemain yang menit bermainnya di atas 90 menit.

Hal serupa juga terlihat dari bagaimana mereka menyerang lawan. Sejak Frank datang, serangan Brentford nyaris selalu dimulai dengan umpan terobosan ke area-area kosong di pertahanan lawan.

Yang membuat serangan Brentford berbahaya adalah mereka sangat efektif. 10 gol yang sudah mereka buat terjadi hanya lewat 20 sepakan tepat sasaran. Itu artinya, sejauh ini, mereka hanya butuh dua percobaan tepat sasaran untuk mencetak gol.

Perkara pertahanan, Brentford jauh lebih spesial. Sejauh ini, mereka bahkan telah mencatat 34,9 tekel dan intersep per 90 menit. Angka tersebut menempatkan mereka di urutan keempat dengan rata-rata total tekel dan intersep terbanyak per 90 menit.

Pressing agresif juga jadi pilihan Brentford. Menariknya, mereka baru memulai pressing saat bola sudah memasuki area tengah lapangan. Dua pemain depan, Ivan Toney dan Bryan Mbeumo, jadi poros mereka memulai pressing.

Selain pressing, kunci kokohnya pertahanan mereka adalah bagaimana mereka menghadapi lawan yang membawa bola. Mereka mengandalkan banyak pemain untuk menutup lawan yang melepaskan percobaan dan tentu saja, Raya, di bawah mistar.

Sejauh ini, Brentford hanya menerima 22 percobaan tepat sasaran dari lawan. Jumlah tersebut serupa dengan Chelsea. Hanya Manchester City, Brighton, dan Liverpool yang menerima lebih sedikit percobaan tepat sasaran dari lawan.

Penampilan terbaik pertahanan Brentford jatuh saat bersua Wolverhampton Wanderers lalu. Saat itu, selain berhasil membuat lawan tidak mampu melepaskan satu pun percobaan, mereka berhasil membuat 15 tekel sukses--catatan terbaik mereka sejauh ini.

***

Untuk sebuah klub promosi, pencapaian Brentford jelas layak diberi aplaus. Apa yang mereka dapat sekarang tidak hanya perkara waktu tapi juga dilakukan lewat metode yang di luar kebiasaan manajemen sepak bola umumnya.

Kesuksesan Brentford--sejauh ini--baik dari urusan di luar lapangan dan dalam lapangan, seakan membuktikan bahwa untuk menjadi istimewa, tim perlu selaras. Dan mungkin, sedikit revolusioner.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.