Dalam Nostalgia Milan vs Juventus, Ada Dida dan Buffon

Ilustrasi: Arif Utama

Dalam gempuran serangan lawan di depan gawang, Dida, Buffon, dan para penjaga gawang lainnya tidak punya waktu untuk mengharapkan keajaiban. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi penyelamat, dengan menjadi keajaiban itu sendiri.

A lot of people took goalkeepers for granted, but Nelson Dida and Gianluigi Buffon stood mighty in front of their goalposts. Each time they got a match to save, they told me a strange and gripping story afterward. It began with solitude and ended with the subtle elegance that couldn't be replaced, even by the most subversive goal.

Jika suatu saat mendapat kesempatan untuk membuat tulisan tentang Dida dan Buffon dalam bahasa Inggris, saya akan membukanya dengan paragraf demikian.

Laga Bologna melawan AC Milan pada 24 Januari 1999 adalah pertandingan sepak bola pertama yang saya tonton. Pada malam itu, akhirnya saya melihat apa-apa yang membuat bapak saya rela menahan kantuk hampir di setiap akhir pekan.

Pertandingan perdana itu tidak hanya membuat saya memiliki tim dan keahlian mengendap-endap agar tidak ketahuan ibu saat menonton laga tengah malam pada hari sekolah. Dari sana saya pun menyadari bahwa di antara sekian banyak pemain yang turun arena, ada dua orang yang berlaga dengan keanehan paripurna.

Ketika kawan-kawannya berlaga dengan kaki, mereka berdua bertanding menggunakan tangan. Ketika kawan-kawannya merayakan gol, mereka berselebrasi saat gol gagal tercipta. Saat kawan-kawannya menggunakan kostum yang seragam, mereka tampil beda dengan kostum warna-warni atau hitam pekat. Sorotan kamera kepadanya diarahkan ketika bahaya terjadi, saat gawang mereka diancam oleh sundulan atau sepakan lawan. Mereka adalah para penjaga gawang, kesunyian paling tangguh yang lahir di atas lapangan sepak bola.

Entah kenapa nasib kiper cenderung miris. Mereka acap disalahkan ketika gol bersarang di gawang. Christian Abbiati yang melakoni laga penuh perdananya sebagai pemain Milan di duel melawan Bologna tadi juga punya nasibnya sendiri. Tempat utamanya di Milan didapat karena Sebastiano Rossi berulah dengan menggampar pemain Perugia, Cristian Bucchi, pada pekan sebelumnya. Pengujung laga melawan Perugia itulah yang menjadi debut Abbiati bersama Milan.

Setelah mempersembahkan scudetto 1998/99 untuk AC Milan, Abbiati sempat menjadi pilihan utama selama beberapa musim berikutnya. Hingga akhirnya pada 2002/03, tersisih kembali ke bangku cadangan. Apa boleh buat, Milan telah mendatangkan Nelson Dida dari Corinthians. Performa kiper asal Brasil ini memang spektakuler.

Perihal sepak bola, saya punya satu kecenderungan. Kebanyakan pemain favorit saya bertugas di garis pertahanan. Yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun adalah Paolo Maldini. Saya ingat betul segirang apa saya ketika bapak menjanjikan jersi Maldini sebagai hadiah naik kelas. Sayangnya, ia tidak pernah punya cukup waktu untuk memenuhi janji tersebut.

Lalu, tentu saja ada Dida. Bagi suporter Milan, mudah untuk menjadikan Dida sebagai jagoan. Penyelamatan-penyelamatannya spektakuler. Ia berulang kali melindungi Rossoneri dari kebobolan. Namun, di tengah kekaguman panjang terhadap Dida, muncullah Gianluigi Buffon.

Sebenarnya saya pertama kali menyaksikan Buffon ketika ia masih berseragam semarak khas Parma. Di mata saya, Buffon adalah sosok yang cukup menyebalkan. Ia acap berteriak-teriak dan banyak polah. Namun, tingkah yang macam-macam itu melengkapi daya tarik Buffon. Ia menyadari betul bahwa namanya yang sering diartikan sebagai badut mesti diejawantahkan dalam penampilan memukau yang memantik kegirangan suporternya. Ketangguhannya pula yang membuat Juventus bersedia melirik bahkan merekrutnya.

Lalu tibalah saya pada 8 Mei 2005, hari ketika dua penjaga gawang yang paling saya sukai kembali bertemu untuk saling mengejar kemenangan.

***

Berlaga di San Siro, Milan datang dengan sisa-sisa tenaga setelah berlaga melawan PSV Eindhoven di semifinal Liga Champions 2004/05 pada 4 Mei 2005. Juventus ada di kubu yang cukup diuntungkan karena kekalahan dari Liverpool di perempat final membuat mereka memiliki waktu rehat yang cukup panjang.

Di hadapan hampir 79.000 orang yang hadir di San Siro saat itu, Milan dan Juventus bertemu. Pierluigi Collina, wasit sangar berkepala plontos inilah yang memimpin duel. Nilai taruhan pertandingannya setinggi langit. Ini adalah empat pertandingan terakhir di kompetisi liga. Keduanya sedang berebut scudetto pula. Tergelincir sedikit, Milan bisa menutup musim di Serie A dengan merutuk.

Pertandingan dibuka dengan ketangguhan masing-masing pemain bertahan. Berhadapan dengan Milan yang diperkuat oleh Andriy Shevchenko dan Ricardo Kaka di lini serang jelas menjadi hantu paling menakutkan bagi setiap tim, termasuk Juventus saat itu. Geliat Shevchenko bahkan memaksa Pavel Nedved melakukan tekel keras padanya. Meski bermain sedikit lebih lamban daripada biasanya, Milan tetap tampil menakutkan.

Mungkin yang menyaksikan laga tersebut mengingat seperti apa manuver Kaka yang membuat pertahanan Juventus ketar-ketir sekitar menit 20. Kaka, dengan ketenangan paling ganjil, memainkan umpan terobosan indah kepada Shevchenko. Shevchenko berhasil masuk dalam kotak. Seluruh suporter Juventus berharap Tuhan berpihak pada mereka karena bagaimanapun, yang memberikan ancaman adalah salah satu striker terbaik di dunia.

Buffon sadar bahwa setiap penjaga gawang adalah palang pintu terakhir bagi tim. Dengan pengawalannya, Buffon memaksa Shevchenko menjauhi gawang. Shevchenko lantas mencoba untuk mengarahkan bola kepada Jon Dahl Tomasson. Namun, Buffon dengan segala daya berhasil membelokkan bola.

Delapan menit setelah ketegangan tersebut, giliran Milan yang menarik napas. Ketika situasi penguasaan bola sedang tidak baik, Juventus justru berhasil mencetak gol spektakuler lewat David Trezeguet. Prosesnya dimulai ketika Stephen Appiah mencari celah untuk mengirim bola kepada Nedved. Sang penggawa Republik Ceko lantas beradu kuat dengan Alessandro Nesta.

Nedved meraih bola terlebih dahulu dan mempertahankannya dalam permainan, tetapi ia disambut dengan tekel keras yang membuatnya terjatuh. Bola kini telah melewati saluran sebelah kiri lapangan yang merupakan area kendali Del Piero. Gennaro Gattuso memang berusaha menyerang, tetapi Del Piero berhasil melewatinya bahkan merangsek ke dalam kotak. Del Piero tahu persis bahwa Gattuso yang ada di belakangnya itu sanggup menyeruduk seperti badak. Dengan cepat, ia memutar dan melepaskan diri dari amukan sang badak.

Gattuso tidak menyerah. Tekanannya memaksa Del Piero membawa bola ke tepi kotak. Dari titik itu pula Del Piero melepaskan tendangan salto ke kotak enam yard. salah besar jika mengira manuver itu sebagai tendangan spekulatif belaka karena di sana sudah ada David Trezeguet, sang oportunis ulung.

Ketika Del Piero menguasai bola, Trezeguet melesat ke depan Maldini dan memanfaatkan lubang yang ditinggalkan Nesta. Maka ketika Del Piero melesakkan tendangan saltonya, Trezeguet menyambutnya dengan sundulan. Apes, Dida salah langkah. Posisinya terlalu maju sehingga ia hanya bisa menyentuh ujung bola yang melesat ke arah gawang. Yang terlihat setelahnya, Trezeguet berlari dan berlutut memeluk Del Piero.

Carlo Ancelotti mengubah rencana pada babak kedua. Ia menarik Andrea Pirlo dan menggantikannya dengan Serginho lalu memberikan tempat Tomasson kepada Filippo Inzaghi. Nama yang disebut terakhir itulah yang berulang kali menjadi ancaman bagi Juventus.

Baru dua menit berlaga, Inzaghi sudah mendapatkan kesempatan emasnya. Prosesnya dimulai ketika Gattuso berhasil merebut bola dari Mauro Camoranesi. Serginho lantas mengambil alih dan melepaskan umpan kepada Shevchenko. Sang penggawa Ukraina tahu persis tugasnya, ia harus mampu mengantarkan bola ke pemburu ulung, Inzaghi. Upaya tersebut berhasil, begitu bola sampai di kakinya, Inzaghi langsung melepaskan tembakan lurus mengarah ke gawang.

Buffon tak mau kandas. Dengan sepakannya ia menggagalkan peluang emas yang sekaligus menjadi tembakan tepat sasaran pertama Milan di sepanjang laga.

Namun, bahaya belum usai karena bola kembali memantul ke kaki Inzaghi. Bersyukurlah suporter Juventus karena kali ini Gianluca Zambrotta ikut turun tangan. Berkat tekanannya, tembakan Inzaghi jadi tak akurat sehingga membentur tiang gawang.

Lima menit babak tambahan terasa seperti seumur hidup bagi kedua kubu, terlebih Juventus. Di kubu Milan, elegansi Manuel Rui Costa sudah seperti mitos belaka. Dalam sekejap ia berubah menjadi Gattuso yang siap menyeruduk demi menyerbu area pertahanan lawan. Buffon kembali dalam mode siaga. Lima menit itu barangkali menjadi salah satu lima menit paling mengerikan dalam hidupnya.

Ketika Collina meniup peluit tanda pertandingan usai, Buffon melompat dan melepaskan tinju ke udara. Teriakannya lantang, khas mereka yang merengkuh juara. Maldini dan Ancelotti memang berkeras menyebut bahwa perebutan gelar juara belum usai. Namun, siapa pun yang menyaksikan duel tersebut mengamini bahwa scudetto akan kembali ke pangkuan Si Nyonya Besar. Toh, di laga selanjutnya Juventus hanya akan bertemu Parma.

***

Buffon dan Dida berasal dari dua kultur sepak bola yang berbeda, tetapi saat itu mereka sama-sama bermain di ranah Italia. Dalam buku yang berjudul 'Italian Job', Gianluca Vialli dan Gabriel Marcotti memamparkan bahwa suporter Italia memperlakukan fanatisme sepak bola sebagai iman. 

Jika ada yang mengusik iman, termasuk penampilan buruk dan kekalahan, mereka akan turun ke lapangan. Marcotti menganalogikannya dengan gereja. Jika ada yang tak beres dengan gereja, jemaat pasti menuntut perubahan majelis dan hal-hal sejenis. Pemahaman itu pulalah yang membuat Dida dan Buffon jatuh bangun di laga sengit 8 Mei 2005 itu.

Masalahnya, kiper berbeda dengan posisi lainnya dalam sepak bola. Ketika mereka tampil superior dengan aneka penyelamatan tak masuk akal yang mengundang decak kagum, itu bisa saja berarti ada yang tak beres dengan lini pertahanan tim. Rangkaian penyelamatan itu bisa saja berpangkal dari kerja tak becus teman-temannya.

Menjadi penjaga gawang adalah perkara masokis yang harus diemban sepanjang karier. Satu-satunya kepastian adalah gawangmu kemasukan gol. Bayangkan jika kau menjadi satu-satunya orang yang berhadapan dengan pemain yang siap menendang bola ke arah gawang. Barangkali kalian sama-sama sendirian. Satu lawan satu. 

Namun, pemain itu adalah orang yang beberapa saat sebelumnya lolos dari penjagaan teman-temanmu. Ia memang belum mencetak gol, tetapi kau sedang berhadapan dengan orang yang 'menang' dari kepungan barisan pertahanan kesebelasanmu. Kalau kau salah sedikit saja, lawanmu bisa menambah angka.

Situasi seperti itulah yang dihadapi Dida dan Buffon, bahkan di laga sepenting tadi. Dalam gempuran serangan lawan di depan gawang, mereka bahkan tidak punya waktu untuk mengharapkan keajaiban. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi penyelamat, dengan menjadi keajaiban itu sendiri. 

Dan dalam duel Milan versus Juventus tadi, Buffon berhasil melakukannya, sedangkan Dida tidak. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.