Dari Belakang Garis Tepi Lapangan, Sebuah Gol Bisa Terlahir

Ilustrasi: Arif Utama.

Throw in bukan sekadar mengembalikan bola ke lapangan, ia bisa menjadi senjata mematikan yang membuat lawan tak berkutik. Rory Delap telah membuktikannya dan baru-baru ini Danny Ings menjadi yang bersorak karena throw in.

Tangan adalah orang asing di ranah sepak bola. Penggunaannya minim, paling sering digunakan oleh para penjaga gawang. Pemain outfield sesekali menggunakan tangan, itu adalah ketika mereka harus melakukan throw in atau lemparan ke dalam. Bagi sebagian besar orang, throw in adalah perkara sepele. Namun, keajaiban sesekali juga lahir dari apa-apa yang tak kita anggap besar, apa-apa yang kita perhitungkan sebagai perkara biasa.

Throw in paling menyebalkan bagi Arsene Wenger lahir dari tangan Rory Delap. Lemparan ke dalam ala Delap melekat menjadi senjata andalan Stoke City terutama saat masih dilatih Tony Pulis. Delap diklaim sanggup melempar bola hingga 30-40 meter dengan kecepatan 60 km per jam sehingga efektivitasnya lebih mirip dengan umpan silang.

Mengutip ESPNFC, Wenger yang kala itu menjabat sebagai pelatih Arsenal merespons manuver Delap dengan satire. Katanya, alih-alih bermain layaknya tim sepak bola, Stoke yang mengandalkan throw in Delap itu lebih cocok disebut sebagai tim rugby. Pelatih asal Prancis ini bahkan pernah meminta FA untuk meniadakan throw in. Di era Wenger, Arsenal hanya sekali menang dalam delapan laga terakhir di markas Stoke, Britania Stadium. Pantas saja ia kesal bukan kepalang.

Kembali ke Premier League pada musim 2008/09, Stoke membukukan kemenangan 2-1 atas Arsenal di Stoke-on-Trent. Sebagian orang menganggap ini sebagai kesialan Arsenal, sebagian lagi menggambarkannya dengan lebih ironis. Tim yang begitu membanggakan penguasaan bola dan operan-operan dikalahkan oleh tim yang mengandalkan permainan tangan dari luar lapangan, kekuatan yang tidak benar-benar berasal dari sepak bola.

Yang menganggap throw in Delap begitu berbahaya (dan menyebalkan) bukan cuma Wenger. West Ham yang beberapa kali menjadi lawan bahkan pernah memindahkan papan iklan ke dekat garis lapangan agar Delap tak leluasa untuk melakukan manuver andalannya itu.

Latar belakang sebagai atlet lempar lembing merupakan salah satu jawaban untuk pertanyaan apa faktor pemicu kehebatan throw in Delap. Keistimewaan ini konon ditemukan oleh Pulis secara tidak sengaja.

"Kami baru tahu Rory Delap bisa melempar bola seperti itu ketika kompetisi sudah bergulir. Dia mengambil bola dan mampu melemparkannya hingga belakang gawang. Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Dia melemparkan bola dengan begitu datar," papar Pulis dalam podcast BBC Radio 1.

"Kami lantas bertanya langsung padanya tentang throw in itu. Ternyata ia merupakan juara lempar lembing saat masih bersekolah. Dari situ kami menggunakan throw in Rory sebagai senjata yang luar biasa. Dengan sengaja memanfaatkannya, kami seperti memiliki delapan atau sembilan tendangan sudut tambahan dalam satu pertandingan," jelasnya.

Stoke pernah menjadi mimpi buruk yang membuat lawan berdebar-debar pada 2008/09. Pulis membangun tim dengan kualitas komplet, mulai dari kekokohan pertahanan, kepiawaian mengacak penguasaan bola lawan, hingga bersorak ketika bola keluar dari garis lapangan. Pada detik-detik itu Delap akan berjalan ke luar lapangan, mengelap bola dengan handuk atau rompi khusus yang dipakainya, lalu melesakkan throw in yang membuat kegaduhan di kotak penalti lawan.

“Rory Delap sungguh fantastis,” kata Thomas Gronnemark yang pernah tercatat sebagai pelatih throw in Liverpool dan Ajax. “Kualitas lemparan ke dalamnya bisa dilihat dari panjangnya dan--terutama--dari kecepatan dan kerataannya. Dua faktor itu sangat penting. Saya melihat beberapa pemain yang membuat lemparan ke dalam dengan baik. Masalahnya, kebanyakan dari mereka melempar terlalu jauh sehingga mudah untuk diatasi," jelas Gronnemark.

Sebenarnya throw in adalah penanda penting dalam sejarah Premier League. Musim 1992/93 menjadi musim perdana Premier League. Siapa yang menyangka pula bahwa kelahiran gol pertama di kompetisi ini dibidani oleh lemparan ke dalam?

Titik itu dipijak pertama kali oleh penggawa Sheffield United, Brian Deane, dalam laga melawan Manchester United pada 15 Agustus 1992. Satu setengah dekade kemudian, Delap membuktikan bahwa throw in bukan aturan tak penting. Ia menyempurnakan throw in menjadi senjata mematikan yang membikin lawan-lawannya terkesima dan geram sekaligus.

Tentu saja Delap bukan pemain yang bermain sepak bola dari luar lapangan melulu. Jangan lupa bahwa ia pernah mencetak gol tendangan salto yang membuat seluruh penonton di laga Tottenham Hotspur melawan Southampton di St. Mary's pada 2004 mengenyahkan predikat lawan dan kawan. Dengan cara itulah Delap memastikan Southampton yang dibelanya meninggalkan London sambil menenteng cerita kemenangan.

Mengecap gol yang berawal dari lemparan ke dalam sebagai keberuntungan adalah stigma yang barangkali masih melekat sampai sekarang. Bagaimanapun, sepak bola adalah permainan kaki. Itulah sebabnya cerita-cerita terbaik di lapangan bola sudah sewajarnya lahir dari kaki. Bahkan dewa mengetuk-ngetukkan tongkat ajaibnya ke kaki ia yang bakal dilahirkan sebagai bocah ajaib.

Namun, selalu ada percik yang dipantik dari luar kelaziman. Sehebat-hebatnya kaki, tim tetap membutuhkan tangan untuk menghalau bola. Untuk itulah mereka menempatkan kiper dengan kostum warna-warni berdiri di depan gawang. Sespektakuler apa pun kaki, tim tetap membutuhkan tangan untuk mengembalikan bola ke tempatnya di atas lapangan hijau. Untuk itulah mereka membutuhkan pelempar.

Ingatan akan Delap muncul ketika Danny Ings mencetak gol dalam laga Aston Villa melawan Newcastle United di Premier League 2021/22. Gol itu spesial. Ia muncul dari tendangan salto di depan gawang, lahir dari assist Tyrone Mings yang berawal dari lemparan ke dalam Matthew Cash.

Bagi Gronnemark yang memang berprofesi sebagai pelatih throw in, manuver itu bukan formalitas belaka sehingga pantas untuk disia-siakan. Menurutnya, menggunakan tangan adalah kesempatan langka bagi para pemain outfield. Oleh karena itu, mengapa tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya?

Melempar bola dengan akurat sama berbahayanya dengan melepas assist cerdik. Itulah sebabnya, lemparan ke dalam tidak hanya bicara tentang teknik melempar bola. Ia adalah ornamen kompleks yang juga berkutat soal membuat ancang-ancang, menentukan posisi melempar dan target lemparan, serta memanfaatkan ruang dengan tepat. Throw in juga bukan soal kekuatan, melainkan kelenturan. 

Throw in bicara soal atensi pada detail. Jika mengulang video gol Ings, kita akan menyaksikan Cash yang mengelap bola dengan handuk sebelum melakukan throw in. Tindakan itu bukan tak ada gunanya. Cash melakukannya untuk memastikan bola kering sehingga tidak tergelincir dari tangannya ketika dilemparkan. Jika tergelincir, bukan tidak mungkin dapat merusak akurasi lemparan.

Pemahaman itu membuat sesi latihan throw in yang diinisiasi Gronnemark berlangsung dengan sama detailnya dengan latihan mencetak gol atau memutus serangan lawan. Tidak cuma mengandalkan praktik di lapangan, latihan ala Gronnemark dilengkapi dengan sesi analisis video. Dengan kegigihan yang entah datang dari mana, Gronnemark mengumpulkan data-data statistik terkait throw in, lalu meramunya menjadi taktik yang dapat masuk dalam keseluruhan strategi pelatih.

Jurnal 'The undervalued set piece: Analysis of soccer throw-ins during the English Premier League 2018–2019 season' yang ditulis oleh praktisi sport science Sheffield Hallam University, Joseph Antony Stone, bersama Adam Smith (Wigan Athletic Football Club) dan Anthony Barry (Chelsea Football Club), menjelaskan bahwa throw in bisa menjadi senjata krusial bagi klub-klub sepak bola jika dilakukan dengan tepat.

Dari 16.154 lemparan ke dalam di Premier League 2018/19, 54% di antaranya mengakibatkan tim mempertahankan penguasaan bola selama 7 detik atau lebih lama. Fokus analisis lemparan ke dalam biasanya terfokus pada lemparan jarak jauh yang berasal dari kotak serangan 18 yard karena titik ini menyerupai spot tendangan sudut.

Namun, hasil penelitian yang dipaparkan jurnal tersebut ternyata menunjukkan bahwa 78,5% lemparan ke dalam berasal dari luar kotak 18 yard. Dengan begitu, seharusnya throw in dapat digunakan sebagai alat untuk merebut kembali penguasaan bola dalam permainan terbuka secara cepat. Lemparan ke dalam yang tidak akurat justru dapat memicu risiko efek negatif pada operan berikutnya karena dapat merusak penguasaan bola atau kepemilikan bola.

***

Lemparan ke dalam barangkali bukan atribut mewah. Keberadaannya sering dipandang sebagai angin lalu sehingga para penonton menganggap eksekutor throw in hanya sedang mengembalikan bola ke dalam lapangan. 

Namun, lapangan bola adalah tempat yang paling tepat untuk merayakan cerita-cerita tak terduga. Jika hari ini kita sibuk membicarakan bintang yang pulang ke rumahnya di Manchester, bisa jadi dua-tiga pekan lagi kita merayakan gol yang diawali dengan gerakan dari luar lapangan yang kerap dianggap remeh.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.