Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Dari Bola Mati ke Bola Mati Lain

Foto: Instagram @prowsey16

Apakah James Ward-Prowse akan menjadi raja bola mati berikutnya?

David Beckham mungkin jadi alasan besar mengapa anak-anak yang tumbuh di era 90-an menggilai sepak bola. Saya adalah salah satunya.

Saya lupa bagaimana awalnya menyukai Beckham. Yang jelas, itu terjadi sebelum Piala Dunia 2002, karena itulah kompetisi besar yang pertama yang saya tonton tanpa ketinggalan dan selalu ceritakan.

Saya memiliki 3 poster David Beckham di kamar. Saya memilih Adidas sebagai sepatu sepak bola pertama karena Beckham. Meski tak terlalu menyukai Manchester United, saya meminta jersi Beckham sebagai hadiah ulang tahun.

Apa yang dilakukan oleh Beckham juga saya tiru saat bergabung dengan sekolah sepak bola (SSB). Sejak hari pertama, saya selalu bermain di area kanan agar ditempatkan di posisi sayap kanan. Bedanya, dulu SSB saya tidak bermain dengan 4-4-2, melainkan 3-5-2.

Saya tak mau ketinggalan saat tahu bahwa Beckham menjadi andalan tendangan bebas dan memiliki gaya yang khas. Mulai dari caranya mundur saat akan menghadapi bola hingga gerakan tangan saat menyepak bola.

Satu waktu, saya tahu bahwa James Ward-Prowse juga hidup di dunia yang sama.

***

Saya tidak tahu bagaimana seberapa besar Beckham mempengaruhi Ward-Prowse. Namun, dalam banyak wawancara soal penampilan apiknya di Premier League musim ini, terlihat bagaimana ia amat mengaguminya.

“Beckham adalah idola saya. Saya meniru banyak potongan rambutnya, saya menginginkan sepatu-sepatu dan menyukai nomor punggung yang ia gunakan,” kata Ward-Prowse kepada The Guardian.

Ah, potongan rambut Ward-Prowse rasanya belum pantas disamakan dengan Beckham. Soal nomor punggung, Ward-Prowse bernomor delapan, sementara Beckham menggunakan nomor tujuh. Soal sepatu, keduanya di-endorse merek yang berbeda.

Jadi, mari berbicara soal kemampuannya saja.

Pekan lalu, Ward-Prowse sedang banyak dibicarakan. Meski akhirnya gagal menang, tapi satu assist dan satu golnya ke gawang Manchester United membuat ia disejajarkan dengan banyak eksekutor bola mati nomor wahid, seperti Beckham, Juninho Pernambucano, dan Andrea Pirlo.

Saat mengeksekusi assist, ia dengan cermat mengarahkan bola ke area kiper. Jan Bednarek, yang memiliki tinggi 190 cm dan tak dikawal oleh pemain United, dengan mudah mengarahkan bola ke gawang karena David De Gea berada di posisi yang sulit untuk memotong bola.

Hal serupa juga dilakukan Ward-Prowse, 10 menit berselang. Lewat tendangan bebas, ia melepaskan bola ke sisi kanan bawah gawang De Gea. Kiper asal Spanyol tersebut sebenarnya mampu mengenai bola, tapi halauannya tak cukup kuat.

Roy Keane memberikan kredit bagi Ward-Prowse. “Ia tahu cara mengukur kecepatan bola dan bagaimana menempatkannya di posisi tertentu. Mungkin saat ini, ia pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik di Eropa,” kata Keane.

Gol ke gawang United membuat Ward-Prowse kini mengoleksi sembilan gol dari upaya tendangan bebas sejak debut di Premier League 2012/13. Koleksinya bahkan lebih banyak dari Juan Mata, yang bermain di Premier League sejak 2011/12.

Jika diukur berdasarkan catatan keseluruhan, hanya Beckham yang punya koleksi jauh lebih banyak dari Ward-Prowse. Beckham sendiri memiliki 18 gol dari tendangan bebas dari 265 pertandingan.

Di usia yang baru menginjak 26 tahun, Ward-Prowse masih memiliki kemungkinan untuk mengejar Beckham.

***

Setiap pemain memiliki metode yang berbeda dalam mengeksekusi bola mati. Andrea Pirlo misalnya. Dari buku 'I Think Therefore I Play', kita tahu bahwa Pirlo menonton DVD dan video untuk tahu bagaimana Juninho Pernambucano mengubah peluang jadi gol.

Banyak hari, waktu, dan latihan yang dihabiskan oleh Pirlo untuk mengetahui cara Juninho. Ia juga mencoba bereksperimen dalam banyak cara dan metode. Namun, tetap saja, kadang berhasil, kadang gagal.

Hingga akhirnya, saat berpikir di sebuah toilet, ia paham bahwa Juninho selalu berpikir soal bagaimana bola ditendang, bukan di bagian mana bola harusnya ditendang. Ia lantas mencoba cara tersebut di kemudian hari dengan hanya tiga jari kaki yang mengarah ke bola.

Di suatu pagi, Pirlo coba berlatih dengan hanya menggunakan sepatu loafers. Percobaan pertamanya berhasil mengenai ujung kanan gawang. Dari percobaan itu, ia merasa berhasil. Maka dilakukanlah percobaan-percobaan berikutnya dan berhasil.

Ward-Prowse punya cara yang berbeda dengan Pirlo. Ia bercerita bahwa ia selalu menempatkan logo merek bola di bagian atas. “Ini hanya soal kebiasaan dan cara tersebut saya gunakan untuk memacu langkah saya selanjutnya,” kata Ward-Prowse.

“Saya selalu berlatih untuk membuat ini jadi sempurna. Semakin banyak berlatih dan mengulanginya, maka kamu akan semakin terbiasa. Kamu tidak hanya akan tahu cara melakukannya, tapi juga akan tahu bagaimana hasil akhirnya.”

Tak hanya belajar soal bagaimana melepaskan tembakan, Ward-Prowse juga menganalisis kiper lawan, mulai dari kemampuan, gerakan badan, hingga mindset. “Saya percaya bahwa ini memperbesar kemungkinan untuk jadi gol,” pungkasnya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now