Day to Day Atletico Madrid

Foto: @atleticodemadrid.

Dari hari ke hari, dari laga ke laga, Atletico Madrid terus membaik dan meraup poin.

Diego Simeone menggenggam teguh prinsip day to day. Karena prinsip itu, ia berpandangan bahwa hidup selalu soal saat ini. Bukan kemarin. Bukan juga besok. Yang paling penting, hari ini selalu lebih baik dari kemarin dan seterusnya dan seterusnya.

Prinsip itu juga yang menyulut Simeone tutup mulut soal misi Atletico Madrid musim ini. Tentu saja, ia ingin Atletico bergelimang prestasi. Namun, prestasi itu bisa diraih asalkan bermain lebih tangguh, tangguh, dan tangguh, dari laga ke laga.

Kesalahan-kesalahan yang terjadi kemarin harus diperbaiki hari ini. Esoknya, Simeone akan memperbaiki kesalahan yang muncul hari ini. Terus dan terus sampai ia angkat kaki atau degup jantungnya berhenti.

"Saya hidup dari hari ke hari," kata Simeone dilansir Marca. "Apa yang terjadi kemarin tidak ada artinya. Hanya laga demi laga yang kami pikirkan."

Jelas, prinsip dan apa yang dilakukan Simeone itu mampu mengatasi problem demi problem Atletico. Baru-baru ini, ia berhasil meniup badai inkonsisten yang sempat melanda Los Rojiblancos. Pelan dan pasti, performa mereka mulai stabil.

Sudah lima laga Atletico tidak terkalahkan di lintas ajang. Empat di antaranya bahkan diakhiri dengan kemenangan. Semakin spesial karena dalam kurun tersebut, mereka merangkum 11 gol dan cuma kebobolan tiga kali.

Hasil oke itu juga yang menyalakan optimistis Simeone bahwa Atletico bisa meraup poin penuh pada laga sisa La Liga. Ya, meski target tertinggi yang paling logis adalah mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

"Hal paling penting malam ini (usai mengalahkan Cadiz) adalah hasil akhir pertandingan. Sisa musim ini semakin menipis. Yang terpenting adalah meraup poin penuh seluruh pertandingan sisa," kata Simeone sebagaimana mengutip Football Espana.

Selama memenangkan pertandingan, Simeone akan tutup telinga terkait penilaian orang-orang bahwa cara bermain Atletico monoton dan tidak mengasyikkan. Toh, tiga poin adalah segalanya 'kan? Apalagi di akhir-akhir musim. Sedikit keseleo, peluang merealisasikan misi menyusut tajam.

Omongan Simeone koheren dengan perubahan gaya bermain Atletico. Itu terlihat dari formasi yang ia terapkan dalam empat laga terakhir, dari 4-4-2 atau 4-4-3 menjadi 3-5-2.

Efek terbesar dari transformasi itu adalah cara bertahan Atletico. Dalam fase defensif, Atletico beralih fomat dari 3-5-2 menjadi 5-3-2. Dalam situasi tersebut, wing-back akan menyejajarkan diri dengan trio bek tengah.

Yang membuat skema ini efektif, tiga gelandang plus dua penyerang menutup ruang di jalur tengah. Jarak antarpemain tengah dan bek tengah pun tergolong dekat dan rapat. Itu dilakukan agar lawan menggunakan rute flank untuk membangun serangan.

Skema itu pun memaksa lawan melakukan umpan-umpan silang atau melepaskan tembakan dari jarak jauh. Cara itu diharapkan dapat meminimalkan lawan melepaskan bola dari kotak penalti.

Tuahnya, angka harapan kebobolan Atletico menyusut. Itu terlihat dari catatan FBref. Sejak memakai format tiga bek dalam empat laga terakhir, ekspektasi kebobolan mereka 3,1. Bandingkan dengan tiga laga terakhir sebelum menerapkan skema tiga bek; ekspektasi kebobolan Atletico mencapai 4,3.

Semakin paripurna karena kemampuan defensif gelandang Atletico tergolong mumpuni. Salah satunya adalah Marcos Llorente yang jago memutus serangan lawan via tekel atau intersep. WhoScored mencatat, rata-rata tekel dan intersep Llorente berada di angka 2,9.

Selain itu, kedatangan Reinildo Mandava pada bursa transfer musim dingin kemarin membuat pertahanan Atletico semakin kokoh. Ia begitu cekatan meredam serangan-serangan lawan. Merujuk WhoScored, rata-rata tekel dan intersep pria 28 tahun itu sejak membela Atletico menyentuh angka 3,9.

Belum lagi performa kiper Jan Oblak yang sedang bagus-bagusnya. Kembali mengutip catatan FBref, pemain berkebangsaan Slovenia itu menepis 18 kali tembakan tepat sasaran lawan dalam lima laga terakhir.

Simeone pun mengubah skema menyerang Atletico. Sejak menerapkan format tiga bek, Atletico bermain lebih direct. Mereka tidak lama-lama menguasai bola dan menyerang secepat-cepatnya via tepi lapangan. Kecepatan wing-back betul-betul dimanfaatkan.

Itu berefek persentase penguasaan bola Atletico yang menurun. Mereka tidak pernah menguasai bola lebih dari 45 persen sejak memakai formasi 3-5-2. Sementara ketika memasang format empat bek, penguasaan bola mereka dominan berada di atas 50 persen.

Yang menarik dari modifikasi cara menyerang adalah pergerakan dua penyerang mereka. Para striker akan mendekati wing-back yang menguasai bola. Pun demikian dengan para gelandang. Kerapatan pemain di satu sisi saat menyerang ini membuat aliran bola Atletico di pertahanan lawan mengalir optimal.

Skema menyerang seperti itu turut menopang produktivitas Joao Felix. Sudah empat gol yang ia lesakan setelah Simeone rutin memasang format tiga bek. Suplai dan ruang Felix melepaskan tembakan semakin melimpah.

Jika perubahan-perubahan sudah memperlihatkan hasil yang oke, Simeone tinggal menjaga konsistensi pasukannya. Dengan begitu, Atletico bisa mengamankan tiket Liga Champions musim depan. Apalagi mereka cuma terpaut dua angka dengan Real Betis yang memata-matai di posisi kelima. Selain itu, Atletico pun bisa mengawetkan perjalanan di Liga Champions musim ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.