Denzel Dumfries: A Legend in the Making

Denzel Dumfries, pilar lini tengah dan belakang Internazionale. (Instagram/@inter)

Kekuatan terbesar Denzel Dumfries adalah mental bajanya. Dengan itu, dia selalu berhasil mematahkan keraguan di saat yang tepat. Jika Denzel Washington adalah legenda Hollywood, Denzel Dumfries adalah calon legenda sepak bola.

Rasanya tak banyak yang familiar dengan nama Denzel Dumfries sebelum Euro 2020 digelar. Mungkin, mereka yang terbiasa bermain video game FIFA atau Football Manager, serta mereka yang mengikuti kompetisi sepak bola Belanda sudah menyadari kehebatan Dumfries. Akan tetapi, selain di kalangan itu, Dumfries adalah sosok asing.

Dumfries tak butuh banyak waktu untuk memperkenalkan diri. Pada pertandingan pertama Belanda, Dumfries mencetak gol kemenangan ke gawang Ukraina. Pada laga kedua menghadapi Austria, Dumfries pun lagi-lagi mencetak gol untuk membawa Belanda menang. Dalam dua laga tersebut Dumfries menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Apa yang terjadi pada Dumfries di Euro 2020 itu adalah buah dari perjalanan yang amat panjang dan berat. Beberapa kali dia dipandang tak cukup bagus. Dia juga pernah dicap pengkhianat. Namun, Dumfries selalu bisa bangkit karena sedari awal dia punya tujuan jelas: Menjadi pesepak bola Belanda yang hebat.

Dumfries adalah pemain yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Sebagai wing-back, dia seperti tak kenal lelah menyisir sisi sayap. Pemain 25 tahun itu juga tak jarang merangsek sampai ke dekat gawang lawan dan, itulah mengapa, dia cukup produktif untuk seorang pemain bertahan. Itu semua ditunjang dengan kemampuan teknis di atas rata-rata. Dribelnya oke, begitu pula dengan kemampuan menembak dan mengumpan, serta penempatan posisi.

Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas, Dumfries harus melalui jalan berkelok untuk meraih semua itu. Lahir dari ayah asal Aruba dan ibu orang Suriname yang hidup nyaman di Rotterdam, Dumfries sudah merasakan kekecewaan bahkan sejak di akademi sepak bola pertamanya, Spartaan '20. Setelah dua tahun menuntut ilmu di sana, Dumfries dikeluarkan karena dirasa tidak cukup bagus.

Dumfries lantas harus mencari klub baru dan pilihannya jatuh ke sebuah klub bernama Smitshoek. Sebenarnya, menyebut Smitshoek sebagai pilihan Dumfries kurang tepat. Yang benar, klub ini adalah satu-satunya klub yang mau menerima Dumfries. Dia harus mendaftar sendiri ke sana dan pelatih Dumfries di Smitshoek pun tidak menganggapnya berbakat.

Dumfries sendiri mengakui bahwa dia kesulitan bersaing di Spartaan '20 karena sewaktu kecil dia amat pemalu dan pendiam. Dia merasa tidak ada tempat untuknya di tengah anak-anak kota yang bermain untuk Spartaan '20. Di Smitshoek, yang berada di sebuah desa, Dumfries bisa lebih leluasa dalam mengembangkan diri.

Kendati tidak dianggap berbakat, nyatanya cukup lama bertahan di Smitshoek, dari 2002 sampai 2013. Di Smitshoek inilah dia pertama kali bermain sebagai bek kanan. Dulunya, Dumfries adalah seorang penyerang. Ternyata, bermain sebagai bek kanan membuka jalan bagi Dumfries untuk berkompetisi setidaknya di level amatir. Pada 2013, dia bergabung dengan klub amatir Barendrecht yang masih berada satu area dengan Smitshoek.

Terkadang, yang dibutuhkan seseorang hanyalah sebuah kesempatan. Bagi Dumfries, kesempatan itu datang ketika dirinya berkostum Barendrecht. Suatu hari, dia mendapat telepon. "Denzel," kata orang di seberang telepon itu. "Maukah kau bermain untuk tim nasional?"

Tanpa berpikir panjang, Denzel mengiyakan tawaran tersebut. Akan tetapi, tim nasional yang dibicarakan di telepon itu bukanlah Timnas Belanda, melainkan Aruba yang masih merupakan bagian dari Kerajaan Belanda. Giovanni Franken, pelatih Aruba, memberi Dumfries kesempatan untuk membela timnas negara asal ayahnya, Boris.

Dumfries memang menyetujui tawaran Franken. Namun, diam-diam, hasrat memperkuat Oranje tetap dia pelihara. Mimpi membela Belanda itu memang sudah dipupuk Dumfries sejak kecil. Di dinding kamarnya, dia menuliskan mimpi itu: "Suatu hari aku akan bermain untuk Timnas (Belanda)."

Pada 2014, Dumfries resmi memperkuat Aruba dalam pertandingan persahabatan menghadapi Guam. Dalam pertandingan tersebut, Dumfries dijadikan starter oleh Franken. Lalu, pada laga kedua menghadapi lawan yang sama beberapa hari berikutnya, Dumfries bahkan sukses mencetak gol lewat tendangan jarak jauh. Pada hari itulah Dumfries mulai menunjukkan bahwa dia sebetulnya memiliki potensi.

Franken pun senang bukan kepalang. Namun, yang Franken tidak ketahui waktu itu, Dumfries mengiyakan tawarannya karena Aruba cuma akan berlaga di sebuah laga persahabatan. Dumfries hanya menggunakan Aruba sebagai ajang unjuk gigi kemampuannya. Dia tidak mau memperkuat Aruba di laga kompetitif karena itu akan mengubur mimpinya bermain untuk Timnas Belanda. Dan benar saja, setelah itu, Dumfries dikontrak oleh Sparta Rotterdam yang berlaga di Eerstedivisie alias divisi dua Liga Belanda.

Perasaan Franken terhadap Dumfries sendiri campur aduk. Di satu sisi dia mengakui kuatnya determinasi Dumfries dalam membuktikan diri. Namun, di sisi lain, dia juga kesal bukan kepalang karena Dumfries pada akhirnya memilih Belanda. Franken inilah yang memberi cap pengkhianat kepada Dumfries.

Franken boleh berkata apa saja, tetapi Dumfries-lah yang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Nyatanya, ketika sudah berkostum Sparta Rotterdam, semua keraguan yang pernah tersemat kepadanya sirna. Setelah mematangkan diri di tim junior Sparta Rotterdam selama beberapa bulan, Dumfries akhirnya menandatangani kontrak profesional yang mengikatnya sampai 2017.

Dumfries mulanya cuma pemain cadangan di Sparta Rotterdam. Namun, talenta memang ada untuk selalu dipamerkan. Tiap kali diberi kesempatan, Dumfries selalu sukses memanfaatkannya. Pada musim keduanya di Sparta Rotterdam, dia akhirnya berhasil menjadi bek kanan utama dan mengantarkan klub tersebut promosi ke Eredivisie. Tak cuma itu, Dumfries juga diganjar penghargaan Pemain Muda Terbaik Eerstedivisie.

Setelah sukses membawa Sparta Rotterdam ke Eredivisie, Dumfries terus menunjukkan kehebatannya. Dia mencetak gol perdana di Eredivisie pada November 2016. Di akhir musim, dia juga sukses menyelamatkan Sparta Rotterdam dari degradasi. Namun, Dumfries tak mau berpuas diri. Sejak Oktober 2016, dia bahkan sudah menyatakan ingin pindah ke klub yang levelnya di atas Sparta Rotterdam. Sekitar setahun kemudian, terwujudlah keinginan itu. Dumfries bergabung dengan Heerenveen pada musim panas 2017.

Selama memperkuat Sparta Rotterdam, Dumfries terus mendekatkan diri dengan mimpi yang menjadi nyata. Dia mulai bisa memperkuat Timnas Belanda meski cuma di level kelompok umur. Heerenveen sendiri akhirnya menjadi batu loncatan bagi Dumfries untuk naik ke level yang lebih tinggi lagi. Pada awal musim 2018/19, Dumfries tidak cuma berhasil pindah ke PSV tetapi juga mendapat panggilan Timnas Belanda senior.

Akhirnya, Dumfries berada di level yang dia pantas dapatkan. Di PSV, dia berhasil masuk ke dalam tim terbaik Eredivisie musim 2018/19. Selain itu, pemain bertinggi 188 cm itu juga sempat dipercaya mengapteni PSV. Meski begitu, di PSV sendiri, Dumfries bukannya tak pernah mengalami masa sulit.

Sepanjang 2019 dia tak pernah sekali pun mengenakan kostum Oranje. Beberapa bulan jelang Euro 2020 dia juga sempat dikeluarkan dari Timnas Belanda, lagi-lagi karena dirasa tidak cukup bagus. Akan tetapi, rentetan kegagalan dan kesulitan itu hanya membuat Dumfries jadi lebih terpacu. Dia sudah terbiasa gagal dan sudah terbiasa bangkit pula. Tak heran bila pada Mei 2021, ketika skuad Belanda untuk Euro diumumkan, nama Dumfries tercantum dalam daftar.

Sisanya adalah sejarah. Belanda sebetulnya tak bermain terlalu mengesankan selama Euro 2020. Namun, ada sejumlah pemain, salah satunya Dumfries, yang berhasil mencuri perhatian. Setelah turnamen, akhirnya dia pindah ke Internazionale yang menebusnya dari PSV dengan mahar 12,5 juta euro plus bonus 2,5 juta euro.

Secara teknis, Dumfries adalah pemain yang sangat bagus. Namun, kekuatan terbesar pemain satu ini adalah mental bajanya. Dia selalu diragukan tetapi selalu mampu mematahkan keraguan-keraguan tersebut di saat yang tepat. Dumfries juga selalu ingin berkembang dan tak segan melakukan kerja ekstra untuk meraih mimpinya. Selama di PSV, Dumfries bahkan berguru langsung kepada Edgar Davids untuk meningkatkan kemampuan bermain.

Hal-hal seperti itulah yang membuat Dumfries kini jadi bagian tak tergantikan di skuad Inter. Dengan pakem 3-5-2 yang kurang lebih sama dengan formasi Belanda di Euro 2020, Dumfries bersinar bersama Inter. Dari 22 pertandingan Serie A dan Liga Champions, Dumfries sudah mencatatkan 3 gol dan 3 assist. Untuk seorang wing-back, ini adalah angka yang sangat, sangat bagus. Inter pun dibawanya memimpin klasemen Serie A dan lolos ke 16 besar Liga Champions.

Meski begitu, Dumfries sendiri mengaku bahwa dia masih terus belajar. Dalam sebuah wawancara dengan media Belanda, Dumfries menyebut bahwa beradaptasi dengan sepak bola Italia bukanlah hal mudah.

"Sepak bola Italia sangat menggilai taktik. Sementara, permainanku banyak bergantung pada intuisi. Di sini, cara bermain sepertiku tidak disukai. Di Belanda, ketika bola berada di sayap kiri, aku akan membawanya masuk ke dalam. Di Italia, mereka ingin aku tetap bermain melebar. Sangat sulit untuk beradaptasi karena aku sudah punya gaya main sendiri selama 20 tahun. Untungnya, rekan-rekan di sini banyak membantuku," tutur Dumfries kepada dutchsoccersite.org.

Dumfries sudah punya gaya main sendiri yang membuatnya jadi komoditi panas pasca-Euro 2020. Namun, seperti yang sudah dikatakannya sendiri, dia tetap mau belajar. Dia selalu ingin berkembang menjadi yang terbaik. Di situlah mental dan determinasi pegang peranan. Tak semua pemain memiliki itu.

Bagaimana Dumfries memilih Inter pun didasarkan pada keinginan jadi yang terbaik itu. Dumfries memahami kebesaran Inter. Dia tahu persis legenda-legenda mana yang pernah bermain di Giuseppe Meazza. Dia paham betul bahwa Inter adalah jalan terbaiknya untuk merengkuh kejayaan.

"Ketika aku duduk di ruang ganti Inter sebelum derbi melawan Milan dan mendengar suara suporter di tribune, aku seketika sadar: Ini adalah alasan mengapa aku berada di sini. Dan ketika aku berjalan menuju lapangan, aku teringat bagaimana Gullit, Rijkaard, Van Basten, Seedorf, Davids, Van Bommel, dan Bergkamp pernah bermain di stadion ini. Aku merinding," aku Dumfries.

Pernyataan itulah yang pasti ingin didengar semua pendukung Inter di muka bumi. Mereka ingin pemain yang memang ingin bermain untuk klub kesayangannya. Dumfries adalah sosok itu. Dumfries memahami arti penting mengenakan seragam Inter dan dia adalah pemain yang selalu ingin lebih, lebih, dan lebih. Dengan mentalitas demikian, jangan heran bila suatu hari nanti Dumfries akan dikenang sebagai seorang legenda, seperti halnya aktor yang jadi inspirasi namanya, Denzel Washington.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.