Di Piala Eropa 2020, Chiesa Tak Pernah Berdiri Sendiri

Federico Chiesa merayakan gol dengan dikelilingi rekan-rekannya. Foto: Instagram @fedexchiesa.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan Federico Chiesa bersinar di Piala Eropa 2020. Selain karena kemampuannya sendiri, orang-orang yang berdiri di sekelilingnya pun ikut mendukungnya tampil apik.

Federico Chiesa kehilangan daya penciuman selama Piala Eropa 2020. Ia bukan hanya sulit menghirup wangi semerbak label dan puja-puji, tetapi juga tidak bisa mengendus penghakiman orang-orang yang menciutkan vitalitas.

Dua laga perdana fase grup Piala Eropa 2020, Chiesa memulai laga dari bangku cadangan—tempat bagi kebanyakan pemain-pemain nomor dua. Pemain yang dibutuhkan, tapi bukan pilihan utama dan belum tentu krusial untuk tim, biasanya memulai laga dari bangku cadangan.

Saat Italia menang 3-0 atas Turki di Stadion Olimpico, misalnya, tidak ada sorak-sorai untuk Chiesa. Namanya lenyap dari radar dan tidak pernah menjadi bahan obrolan pengamat sepak bola warung kopi maupun pandit-pandit berkelas.

Begitu juga ketika Italia melibas Swiss dengan skor 3-0 pada laga kedua fase grup. Chiesa yang bermain dan melucuti jaket pada menit ke-69 hanya serupa bayang-bayang Manuel Locatelli.

Akan tetapi, Chiesa tidak menilai pemain cadangan sebagai serep. Ia juga enggan mengadili aib bangku cadangan sebagai tempat pemain-pemain yang hanya bisa berharap dan meratapi nasib. 

Bagi Chiesa, bangku cadangan adalah tempat terbaik untuk mengamati jalannya laga. Dengan sudut pandang yang lebih luas, ia bisa melihat kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan rekannya maupun lawan. Ruang-ruang di pertahanan lawan akan terlihat jelas dari bangku cadangan.

Maka, saat pelatih memerintahkan bermain, Chiesa tahu betul apa yang ia harus lakukan. Apakah itu meneror gawang lawan dengan menusuk dari sayap atau mengirim umpan silang kepada striker.

Penilaian Chiesa ditopang dengan keyakinan Roberto Mancini bahwa skuad Italia di Piala Eropa 2020 adalah pemain inti. Tidak ada istilah pemain nomor dua dan seterusnya. Semuanya sama dan setara.

Berbicara soal skuad Italia di Piala Eropa 2020, Mancini berani mengambil risiko. Ia tidak ragu memanggil nama-nama debutan. Jika ditotal, ada 64 pemain yang pernah menjalani laga internasional di bawah Mancini. Satu di antaranya adalah penyerang Sassuolo, Giacomo Raspadori, yang melakoni debut Juni 2021 lalu.

Banyak manfaat yang didapat Mancini dari keberanian tersebut. Italia tidak pernah kesulitan mencari pemain dengan kualitas manakala ada pemain yang cedera. Contohnya, kepergian Stefano Sensi dapat diisi oleh Matteo Pessina.

Mancini menyusun puing-puing kehancuran Italia seusai gagal menjejak lantai dansa Piala Dunia 2018 dengan sungguh-sungguh. Ia seperti tidak membangun kemegahan Italia dari puing-puing yang rapuh.

Maka tidak usah heran apabila Chiesa berkata begini setelah Italia mengalahkan Austria di babak 16 besar:

“Pelatih memilih 11 dari kami, tetapi seperti yang pernah saya katakan bahwa kami adalah 26 pemain pilihan dan malam ini kami menunjukkannya. Inilah mengapa pelatih meminta para pemain di bangku cadangan untuk mengikuti pertandingan secara cermat."


***

Saat kondisi finansial mengempis dan sulit mengembang, Paulo Coelho menulis cerita tentang veteran perang dari Rusia bernama Igor dalam novel 'The Winner Stands Alone' yang terobsesi merampas mimpi orang-orang di Festival Film Cannes untuk meraih cinta mantan istrinya yang sudah lama lenyap.

Igor berjuang sendirian. Ia mempersetan bantuan orang-orang. Selama misi sudah ditetapkan, ia yakin dapat menuntaskannya dengan sungguh-sungguh dan berdiri sendiri sebagai pemenang. Termasuk saat membunuh satu per satu orang yang menaruh harapan pada Cannes.

Sebagian cerita Chiesa adalah pertentangan bagi Igor dalam 'The Winner Stands Alone'. Banyak orang menilai Chiesa adalah pemain hebat di Piala Eropa 2020. Sinarnya pun semakin berkilau. Namun, anak dari pesepak bola Enrico Chiesa itu tidak pernah betul-betul berjuang sendirian.

Selama Piala Eropa 2020, Chiesa berperan sebagai penyaji peluang sekaligus pencetak gol. Peran itu selaras dengan kecepatan dan kemampuan menggiring bolanya yang oke.

Daya juang Chiesa menyisir pertahanan lawan tergolong tinggi. Ia tidak ragu menerobos atau meliuk-liukkan badan meski ada dua pemain lawan mengadang. Jika lawan merebut bola yang berada di kakinya, ia tak segan mengejar untuk mendapatkannya kembali.

Chiesa juga memberikan pelajaran bahwa winger tidak melulu sebagai perusak tepi lapangan lawan dan pengumpan, tetapi juga peneror penjaga gawang. Apabila ada ruang sekecil apapun untuk melepaskan tembakan, lakukanlah.

Ini sejalan dengan tingginya kuantitas tembakan Chiesa selama Piala Eropa 2020. Mengacu WhoScored, total tembakannya di Piala Eropa 2020 menyentuh 17 tembakan. Dua di antaranya berujung gol.

Nicky Bandini dari The Guardian menilai, insting mencetak gol Chiesa sangat buas. Penilaian itu bersumber dari gol Chiesa ke gawang Austria pada babak 16 besar.

Masuk sebagai pengganti pada menit ke-84, Chiesa mampu memecah kebuntuan. Saat laga perpanjangan waktu masuk menit ke-95, Chiesa berlari di dalam kotak 16 untuk menyambut umpan silang Leonardo Spinazzola.

Chiesa berhasil menerima bola dengan kepalanya. Ia kemudian memantulkan bola ke tanah dan berusaha menguasainya. Konrad Laimer langsung menutup ruang. Chiesa memindahkan bola dari kaki kanan ke kaki kiri untuk menciptakan kembali space yang ditutup rapat. 

Boom!!

Chiesa melakukan tendangan setengah voli voli ke tiang jauh. Bola pun melesat masuk ke gawang Bachmann. Ia lantas berlari ke sisi lapangan dan melakukan selebrasi. Gol itu bukan gol sembarangan. Itu gol penting yang membukakan pintu Italia menuju babak delapan besar.

"Itu adalah teknik yang luar biasa tetapi, seperti gol ayahnya (Enrico Chiesa) pada tahun 1996, itu menjadi bagian paling mengesankan. Ia mampu melawan tekanan dengan ketenangan," tulis Bandini. 

Kapasitas dan kapabilitas bukan satu-satunya faktor yang membuat Chiesa berbinar-binar di Piala Eropa 2020. Ada banyak orang yang mendorongnya terus melesat di dunia sepak bola.

Selain Mancini yang jelas-jelas menaruh kepercayaan dan memberikan kesempatan, ada Jorginho dan Marco Verratti yang menyuplai banyak bola kepadanya melalui umpan-umpan akurat.

Adapula Ciro Immobile dan Lorenzo Insigne yang bisa membuka ruang, membuat Chiesa leluasa bergerak di pertahanan lawan. Ada juga Domenico Berardi dan Manuel Locatelli yang memudahkan Chiesa berlaga dari bangku cadangan. Berardi dan Locatelli menghabiskan tenaga bek-bek lawan sebelum Chiesa masuk ke lapangan.

Tidak boleh dilupa, benteng pertahanan Italia yang membuat fokusnya hanya tertuju saat menyerang. Salah satunya tentu saja Gianluigi Donnarumma. Meski selalu membuah keriuhan, gawang Italia toh baik-baik saja. 

***

Jika ada kisah yang serupa antara Chiesa dan Igor dalam 'The Winner Stands Alone', itu soal bagaimana cara merealisasikan ekspekstasi. Untuk meraih dunia yang didambakan, kata Igor, kita hanya perlu memunaskan dunia yang lain. Dunia yang ada di benak pemimpi andal.

Seperti kita tahu, Chiesa dan Italia tidak hanya mampu membungkam seruan orang-orang yang menginginkan sepak bola pulang, tetapi juga mimpi trofi Piala Eropa 2020 berlabuh di rumah.

Di akhir cerita Piala Eropa 2020, trofi pun sedang berteduh di Roma.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.