Dua Babak Fernando Torres

Ilustrasi: Arif Utama.

Karier Torres, di Liverpool dan Chelsea, selalu berkelindan di antara rasa syukur dan penyesalan.

Fernando Torres. Menulis namanya membuat saya mengingat iklan Nike yang dirilis untuk merayakan kedatangannya ke Liverpool.

Iklan itu menunjukkan bagaimana orang-orang di Liverpool belajar (dan menggunakan) Bahasa Spanyol untuk menyambut Torres. Menarik sekali. Ada dua bait yang juga saya sangat ingat dari iklan itu. Begini bunyinya:

"We bought the lad from sunny Spain,

He got the ball he scored again"

Dua bait itu kemudian benar-benar menjadi nyata. Torres datang dan ia menjelma jadi mesin gol Liverpool. Pada musim pertama, dia mencetak total 33 gol di seluruh kompetisi. Beberapa rekor klub maupun Premier League juga berhasil ia pecahkan. Pemain yang diboyong dari Atletico Madrid itu juga masuk dalam Tim Terbaik Premier League versi PFA.

Pada musim berikutnya, meski sempat terganggu cedera, Torres mampu membuat 17 gol di seluruh kompetisi. Peran pentingnya juga berhasil membawa Liverpool muncul sebagai tim tersubur Inggris dan finis di posisi dua klasemen Premier League.

Namun, masa-masa indah Torres di Liverpool berhenti di situ.

Memasuki musim 2009/10, pikirannya sudah mengawang ke mana-mana. Hatinya untuk Liverpool tinggal setengah. Pertama, ini karena karib dan rekan senegaranya, Xabi Alonso, hengkang dari Anfield. Kedua, pikirannya sudah beralih ke Piala Dunia 2010. Dia yakin Spanyol akan juara dan ingin terlibat dalam tim. Pada musim itu, prioritasnya adalah Tim Nasional. Fokus Torres pecah.

Ditambah lagi, kondisi tim juga sedang buruk. Musim itu, Liverpool cuma berada di posisi tiga fase grup Liga Champions dan kemudian hanya bermain di Liga Europa. Di Premier League, The Reds kewalahan. Sepanjang musim mereka hanya berkutat di papan tengah. Kondisi diperparah oleh makin buruknya manajemen klub di bawah kepemilikan George Gillett and Tom Hicks.

Semua kian buruk buat Torres setelah Rafa Bentiez hengkang pada 2010. Lalu pada musim yang sama, Javier Mascherano yang jadi karibnya di tim selain Alonso juga ikut-ikutan hengkang. Torres semakin yakin bahwa masa baktinya di Liverpool akan segera berakhir.

Keyakinan Torres semakin menguat manakala dia bertemu dengan Christian Purslow (Direktur Pelakasana Liverpool waktu itu) dan Roy Hodgson (Manajer Liverpool waktu itu) di Ibiza, Spanyol, pada musim panas sebelum musim 2010/11 bergulir. Dalam pertemuan itu, Torres diberi tahu bahwa Liverpool ingin mempertahankannya.

Namun, alasannya bukan karena Liverpool ingin menjadikannya legenda klub. Purslow saat itu jujur kepada Torres bahwa Liverpool tak punya uang untuk mencari pengganti sepadan dan karena itu meminta sang pemain untuk tinggal. Torres tak suka dengan alasan tersebut.

Dalam benaknya, dia juga melihat kondisi tim sudah jauh berbeda dengan saat dia baru datang ke Liverpool. Torres merasa klub tak punya ambisi. Sebagai pemain yang sudah melewati usia 25 tahun, dia ingin merasakan gelar di level klub dan itu rasanya tak akan didapat jika tetap bertahan di Liverpool.

Dari situ, perangai Torres mulai berubah. Beberapa pemain senior seperti Steven Gerrard dan Jammie Carragher langsung bisa melihat bahwa Torres ogah-ogahan. Dia menunjukkan sikap tak percaya dengan kepemimpinan Hodgson. Torres dicap memandang sebelah mata sang manajer.

Selain itu, pria kelahiran Fuenlabrada ini juga mulai angin-anginan. Dia hanya akan bermain bagus jika Liverpool menghadapi klub besar. Jika Liverpool tengah menghadapi klub yang biasa-biasa saja, rekan-rekannya tak lagi melihat wujud Torres yang asli. Dia lebih payah dari biasanya. Usut punya usut, itu dilakukan Torres agar klub besar tersebut tertarik padanya.

Dalam sebuah wawancara di The Athletic, salah satu pemain muda Liverpool kala itu mengungkapkan bahwa Torres mulai dikucilkan. Termasuk di ruang ganti. Kala Liverpool menang 2-0 atas Chelsea pada musim 2010/11 itu, di mana Torres mencetak dua gol, tak ada satu pun rekan setim yang memberi selamat atau berterima kasih padanya. Semua sudah hilang respek pada Torres akibat tingkah lakunya sendiri.

Manajemen Liverpool yang mulai melihat gelagat tak enak mencari cara agar Torres kembali kerasan. Pada musim dingin 2011, mereka mendatangkan Luis Suarez untuk menjadi partner baru Torres di lini depan. Transfer ini diharapkan membuat Torres tak merasa sendirian menopang beban lini depan tim.

Kondisi di Melwood juga mulai membaik setelah Hodgson dipecat dan diganti oleh Kenny Dalglish. Torres hormat kepada legenda Liverpool itu. Performanya mulai menanjak. Pada Januari 2011, dalam lima laga pertama kepemimpinan Dalglish, Torres mencetak tiga gol.

Akan tetapi, telepon Damien Comolli, Direktur Olahraga Liverpool kala itu, tak pernah berhenti berdering. Pihak Chelsea terus melakukan panggilan. Mereka menawar Torres. Pada akhirnya, pihak Liverpool tak bisa menolak tawaran 50 juta poundsterling. El Nino (julukan Torres) dilepas.

Pada waktu itu, Torres menjadi pemain termahal dalam sejarah sepak bola Inggris.

Saat berita transfer menyebar, seluruh fans Liverpool berang. Banyak di antara mereka yang membakar jersi dengan nama Torres di punggung. Pemain yang pernah mengenakan ban kapten bertuliskan "You'll Never Walk Alone" saat masih berseragam Atletico Madrid itu dicap pengkhianat.

Foto: Chelsea FC

Dalam wawancara bersama Simon Hughes, Torres sendiri mengakui bahwa dia menangis di dalam helikopter yang membawanya terbang dari Liverpool ke London. Lebih sedih lagi, dia mengakui bahwa transfer itu terjadi karena klub, bukan mutlak karena keinginan dia sebagaimana yang tersebar di media selama ini.

Soal argumen itu, Torres memang tak salah. Pihak Liverpool memang menyepakati transfer ke Chelsea--dan dengan persetujuan dari Dalglish pula. Namun, pihak Liverpool menjawab bahwa keputusan itu didasari performa dan itikad Torres yang sudah buruk bersama klub. Hatinya sudah tak di Liverpool.

***

Chelsea, bagi Torres, seperti dua mata koin. Di satu sisi, klub ini adalah klub yang bisa mewujudkan impiannya: Di Chelsea-lah Torres berhasil meraih gelar Liga Champions, Liga Eruopa, dan Piala FA. Gelar-gelar yang tak pernah diraihnya bersama Liverpool.

Namun, di satu sisi, Chelsea merupakan klub yang "menenggelamkannya". Penampilan Torres di Chelsea tak sesuai ekspektasi banyak orang. Tak sesuai harga juga. Jauh dari apa yang dia tunjukkan saat masih berseragam Liverpool.

Pada setengah musim pertamanya di Chelsea, pria yang juga pernah berseragam AC Milan itu cuma mencetak sebiji gol. Pada musim berikutnya, dari 33 penampilan, dia cuma mencetak enam gol. Torres yang pernah begitu berapi-api bersama Liverpool tak kelihatan.

Reputasinya semakin buruk kala dia gagal menceploskan bola ke gawang kosong saat menghadapi Manchester United pada September 2011. Torres langsung mendapatkan olok-olok.

Beberapa momen seperti gol ke gawang Barcelona di semifinal Liga Champions 2011/12 dan gol di final Liga Europa semusim kemudian memang sempat menyelamatkan namanya. Momen itu membuat beberapa fans Chelsea menganggapnya pahlawan. Namun, cap Torres sebagai pembelian gagal sulit untuk luntur.

Bagi Torres, masa-masa di Chelsea juga menyulitkan karena dia berada pada periode di mana Chelsea cepat dan mudah sekali gonta-ganti pelatih. Belum sempat nyetel dengan pelatih yang satu, eh, sudah ganti lagi.

Musim terbaiknya justru datang saat Rafa Benitez menukangi Chelsea di musim 2012/13. Saat itu secara total Torres sukses mencetak 17 gol di seluruh kompetisi. Keduanya pernah bekerja sama di Liverpool dan sudah saling mengerti satu sama lain. Itu yang membantu performa Torres menanjak.

Namun, pada akhir musim itu, Benitez hengkang. Torres mengalami hal yang sama seperti saat dia berada di Liverpool pada musim panas 2010 itu. Apalagi di musim itu dia merasa tak pernah diinginkan oleh Jose Mourinho yang baru ditunjuk jadi manajer anyar. Di sepanjang musim, Torres kemudian cuma mencetak sembilan gol.

Satu hal lain yang diungkapkan Torres soal Chelsea adalah ketidaknyamanannya di ruang ganti. Saat dia datang, ruang ganti Chelsea masih dipenuhi banyak bintang. Didier Drogba, Frank Lampard, John Terry, Petr Cech, atau Ashley Cole masih ada di sana. Ada ego segunung di ruang ganti The Blues yang membuat Torres tidak terlalu kerasan.

Ketika Simon Hughes bertanya kepada Torres apakah dia bahagia di Chelsea dengan banyak gelar juara, tetapi juga dengan pamor yang menurun dan ketidanyamanan, sang pemain menjawab diplomatis: "Mungkin mendapat banyak medali sudah cukup bagi saya.".

Di Chelsea, Torres memang tak pernah menjadi raja sebagaimana saat dia masih di Liverpool. Namanya tak pernah dipuja seantero stadion. Dia tak pernah mendapat momen yang disebutnya sebagai "keajaiban" itu. Namun di Chelsea, capaiannya sebagai pemain lengkap.

***

Karier Torres, di Liverpool dan Chelsea, selalu berkelindan di antara rasa syukur dan penyesalan. Dia bersyukur pernah menginjakkan kaki di Liverpool dan merasakan magi serta puncak karier di sana. Di Chelsea, dia pernah bersyukur karena memilih klub yang bisa mewujudkan impiannya.

Di Liverpool, pria yang kini sudah berusia 36 tahun itu pernah menyesali berbagai macam keputusan. Termasuk keputusannya hengkang dengan cara yang kurang baik. Di Chelsea, dia menyesali momen tak pernah lagi merasakan nikmatnya disanjung, tak pernah lagi merasa hebat sebagai pemain.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.