Empat Gol untuk Selamanya dari Arshavin

Ilustrasi: Arif Utama.

Arshavin tidak membutuhkan trofi untuk membuatnya dikenang di Arsenal. Ia hanya perlu mencetak empat gol ke gawang Liverpool.

Para genius dan berdaya ledak tinggi enggan membuang tenaga mencari perkara, apalagi berkoar-koar mengurus isi kepala orang lain. Mereka lebih suka menyingkir, memisahkan diri dari urusan-urusan tak penting.

Sebagian dari mereka akan menghabiskan waktu untuk membaca jurnal tentang kehidupan di Mars. Sebagian lagi akan tertawa-tawa melihat telur dadar di wajan gosong sampai bau sangit.

Andrey Sergeyevich Arshavin mempunyai caranya sendiri: Menulis buku 555 Questions and Answers on Women, Money, Politics, and Football di waktu senggang, lalu merengkuh gelar sarjana desain fashion dengan nilai memuaskan.

Kedua perkara itu dituntaskan Arshavin sebelum 2008 usai, ketika membela Zenit St. Petersburg. Rupanya bermain di Liga Rusia belum cukup untuk membuat Arshavin kehabisan napas dan akal.

Arshavin, orang Rusia itu, terbiasa hidup dengan cara yang ganjil. Orang-orang berkata ia pemuda cerdas. Saking cerdasnya, cuma segelintir orang yang sanggup memahaminya. Arshavin seperti hidup di dunia sendiri yang tak terjangkau orang lain.

Keputusan untuk kuliah jurusan fashion sebenarnya tak datang begitu saja. Saat berusia 17 tahun, kira-kira pada 1997 atau 1998, Arshavin dan beberapa kawannya membulatkan tekad untuk kuliah di Universitas Teknik dan Desain St. Petersburg. Adalah teknik kimia yang menjadi sasarannya. Dengan kecerdasannya, target itu tercapai. Arshavin resmi tercatat sebagai anak teknik.

Masalahnya, pada usia segitu ia juga memulai kariernya sebagai pesepak bola profesional di Zenit-2 St. Petersburg. Jadwal latihan dan pertandingan yang sama padatnya membuat Arshavin tertinggal banyak kelas.

Arshavin mungkin bukan mahasiswa tercerdas. Namun, ia enggan berhenti di tengah jalan jika sudah telanjur memulai. Alih-alih cuti apalagi pergi dari kampus, ia pindah ke jurusan desain fashion.

Alasan pertama, belajar di jurusan itu tak sesulit teknik kimia. Alasan kedua, mayoritas mahasiswa fashion adalah perempuan. Kalaupun tidak ada yang berlanjut menjadi pacar, setidaknya ia bakal diingat oleh para perempuan itu, begitu pikirnya.

Arshavin tidak punya cita-cita untuk menjadi yang terhebat. Satu-satunya hal yang diinginkannya adalah diingat.

Watak itu barangkali sudah diperamnya sejak kanak, tetapi tumbuh membesar sejak berkali-kali tak mendapat tempat di Timnas Rusia, mulai dari Piala Dunia Jepang-Korea 2002, Piala Eropa 2004, hingga Piala Dunia 2006. 

Arshavin tak masuk skuat Rusia pada turnamen pertama karena usianya yang masih dinilai terlalu belia. Pada Piala Eropa 2004, Arshavin diiming-imingi mendapat bagian di skuat. Apes, harapan yang satu ini berkawan karib dengan kekosongan. Tak ada nama Arshavin di daftar skuad sampai turnamen selesai. 

Pintu terbuka lebar menjelang Piala Dunia 2006. Sayangnya, ketika Arshavin merasa sudah punya segalanya untuk menjejak ke sana, justru Rusia yang ‘ditolak’ berlaga di pesta sepak bola sejagat itu. Apa boleh buat, mereka memang gagal lolos.

Rangkaian penolakan di negeri sendiri membuat Arshavin ‘menggila’. Penampilan briliannya sebagai penyerang atau gelandang serang Zenit membawanya pada kesempatan berlaga untuk Rusia pada Piala Eropa 2008. 

Skuad Rusia arahan Guss Hiddink menghentak lewat penampilan apik mereka. Nama-nama seperti Yuri Zhirkov, Diniyar Bilyaletdinov, Roman Pavlyuchenko, mengguncang lewat kesuksesan mereka melaju hingga semifinal, sebelum dikalahkan Spanyol 0-3, yang keluar sebagai kampiun.

Kekalahan itu ternyata tidak menjadi akhir yang pahit-pahit amat bagi Arshavin. Tawaran demi tawaran mendatanginya setelah berlaga di Piala Eropa 2008, termasuk Arsenal. The Gunners bukan satu-satunya klub Inggris yang mengharapkan tanda tangan Arshavin.

Bersama Arsenal, Arshavin memang gagal membawa pulang satu trofi juara pun. Itu belum ditambah dengan kritik yang sempat menyerangnya karena dianggap tidak berperan signifikan untuk tim. Lalu, tibalah hari ketika Arsenal harus kembali bertandang ke Anfield. Pada 21 April 2009, Arshavin membuat namanya dicatat oleh entah berapa banyak penulis bola sejarah hari ini.

Liverpool memulai laga ini dengan intensitas tinggi. Namun, justru pasukan Arsene Wenger yang tampil beringas.

“Empat....,” kata Jon Champion yang saat itu menjadi komentator pertandingan Liverpool versus Arsenal, beberapa saat setelah Arshavin mencetak gol keempatnya di laga itu.

Liverpool sebenarnya memulai laga dengan meyakinkan. Akan tetapi, sepak bola tak bisa memberi jaminan apa-apa hanya karena awal yang brilian. Kata orang-orang, segala sesuatu bisa terjadi dalam 90 menit. 

Arshavin membuat orang-orang Arsenal yang mengkritiknya menjadi sekumpulan orang yang tercengang tanpa bisa berkata macam-macam. Pada menit 36, Arshavin mengubah umpan yang lahir dari kerja sama Cesc Fabregas dan Samir Nasri menjadi gol. Pepe Reina yang bersiaga di depan gawang Liverpool tumbang.

Untunglah Liverpool saat itu dilatih oleh pelatih yang tak kalah gila. Rafael Benitez memutar otak dan mendorong Dirk Kuyt untuk maju dan menjadi penyerang sayap kanan. Benitez dan entah berapa banyak suporter Anfield boleh menarik napas sejenak karena strategi itu memampukan The Reds menyamakan kedudukan. 

Bacary Sagna mendapat ganjaran akan pertahanannya yang ringkih. Gagal menghalau bola di area vital, Kuyt dengan leluasa mengirim umpan kepada Fernando Torres dan memantik sorak suporter tuan rumah. Tiga menit setelah turun minum tuntas, Torres menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Arshavin tahu persis bahwa tanpa gol lagi pun, ia akan diingat oleh para suporter Arsenal. Masalahnya, ingatan itu akan menjadi ingatan yang buruk. Cerita yang bakal disambungkan dari mulut ke mulut adalah kisah tentang pemuda Rusia yang tampil gemilang sekali, melempem berkali-kali.

Arshavin sudah terbiasa dengan kabar buruk. Namun, ia tak mau menjadi kabar buruk bagi timnya. Gol penyama kedudukan Torres pada akhirnya menjadi bahan bakar baru yang membuat Arshavin tampil lebih menggila, bahkan saat Liverpool berhasil meraih keunggulan 2-1.

Entah apa yang dipikirkan Arshavin jelang menit 67. Barangkali ia memandang lapangan Anfield sebagai ruang kelas tempat mempresentasikan desain-desain yang membuatnya dikenal sebagai laki-laki yang begitu memahami apa yang dicari perempuan dalam fashion.

Dalam keadaan tertinggal, Arshavin melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang membuat Reina bertekuk lutut seperti kiper kemarin sore. Arshavin bermain seperti kesetanan. Tiga menit setelah gol tadi, Reina kembali tumbang dan Arsenal unggul 3-2.

Sekali lagi harga diri Liverpool diselamatkan oleh Torres yang menyamakan kedudukan menjadi 3-3 pada menit 72. Namun, tak ada satu manusia pun di pertandingan itu yang berhak bernapas lega. Jika dalam 72 menit ada 6 gol yang lahir, apa pun bisa terjadi dalam 18 menit terakhir.

Dan benar saja, dalam situasi serangan balik, Theo Walcott berlari untuk berduel satu lawan satu dengan Xabi Alonso di sisi kiri pertahanan Liverpool. Arshavin paham bahwa kawannya itu bukan pemain kacangan yang gampang menunduk di hadapan pemain sehebat Alonso. 

Kesempatan itu dipakainya untuk berlari dari sisi lain dengan memanfaatkan pertahanan Liverpool yang renggang. Siapa juga yang tak kacau dalam kedudukan seperti itu? 

Walcott lantas melepas bola kepada Arshavin yang tanpa disadari banyak pemain The Reds sudah dalam posisi satu lawan satu dengan kiper. Entah rutukan apa yang diteriakkan Reina dalam hati ketika sekali lagi ia harus berhadapan dengan anak muda yang bisa saja sedang kesetanan beruang Rusia ini.

Arshavin menutup kegilaannya dengan tendangan kencang yang membuat Liverpool tertinggal 3-4 di menit-menit akhir. Meski demikian, laga itu selesai dengan skor 4-4 akibat gol Benayoun pada menit 90+3’. 

Dengan kegilaannya di laga itulah Arshavin membuat dirinya menjadi pembicaraan seantero Inggris.

***

Pertandingan itu memang menjadikan Arshavin sebagai pilihan utama Wenger. Akan tetapi, perjalanannya lagi-lagi tersendat karena cedera sehingga lambat-laun tersingkir. 

Arshavin mencoba untuk menemukan kembali kehidupannya sebagai pesepak bola dengan pulang ke Zenit pada 2013. Namun, langkah itu tidak ideal lagi untuk pemain tua sepertinya. 

Arshavin, sekali lagi, mencari tempat yang membuatnya bisa dikenang. Kali ini ia melangkah ke Kazakhstan dan bermain dengan Kairat. Bersama Kairat ia masih bisa mencatatkan performa impresif dengan mencetak 24 gol dalam dua tahun dan mempersembahkan tiga gelar juara.

3 Desember 2018, Arshavin memutuskan untuk benar-benar mundur sebagai pesepak bola. Ceritanya di Inggris memang tidak hebat-hebat amat. Namun, lewat kisahnya yang tak hebat-hebat amat itu Arshavin membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan trofi untuk membuatnya dikenang di Arsenal. Ia hanya perlu mencetak empat gol ke gawang Liverpool.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.