Extraordinary Pedri

@Barcelona

Pedri bukan pemuda biasa. Visi, determinasi, dan kematangannya seakan menunjukkan bahwa dia memang pemain yang terlahir untuk Barcelona.

Pedri melakukan dua gerakan tipuan. Ivan Rakitic korban pertama, lalu Diego Carlos yang kedua. Di sana Pedri tidak benar-benar menendang bola.

Pada tahap pertama dia menggesernya dengan kaki kiri. Yang Pedri lakukan setelahnya adalah menjejakkan kaki ke tanah dengan kaki kanan. Baru pada step ketiga dia betulan mengayunkan kakinya ke si kulit bundar. Bola itu mengarah diagonal ke tiang jauh, melewati sela kaki Joan Jordan dan jangkauan Yassine Bounou.

Camp Nou bergemuruh. Xavi Hernandez menghentakkan tangan dan kakinya bersamaan. Dia gembira enggak keruan. Gol Pedri itu bukan hanya dicetak dengan cara tak biasa, tetapi juga mengantar Barcelona menang atas Sevilla.

“Seperti yang kucetak di Turki. Saat melihat tekel lawan, aku melakukan tipuan. Dan saat menendangnya, aku tahu bolanya akan masuk," kata Pedri dilansir Marca.

Dua pekan sebelumnya Pedri melakukan hal serupa. Menipu dua pemain Galatasaray sebelum mencetak gol pertama Barcelona. Lesakan itu pula yang kemudian membantu Blaugrana lolos ke perempat final Liga Europa.

Apa yang dilakukan Pedri ini extraordinary. Dibutuhkan skill olah bola ciamik serta ketepatan timing. Untuk mendapatkan timing yang pas juga diperlukan ketenangan serta visi mumpuni. Dua hal yang hampir mustahil dipunyai oleh pemain berusia 19 tahun. Dan Pedri, jelas-jelas memilikinya.

Sejak kecil Pedri menganggap Andres Iniesta sebagai role model. Pedri melahap semua video permainan Iniesta sebagai acuan agar bisa bermain seperti idolanya. Apa yang dia lihat itu kemudian dituangkan di lapangan.

Ruben Delgado, pelatih Pedri di masa lampau, menceritakan betapa spesialnya Pedri. Dia, kata Delgado, terbiasa melakukan dribel melewati beberapa pemain sekaligus sebelum melesakkan bola ke dalam gawang. Itu semua dilakukannya dengan sederhana, tanpa skill-skill mewah macam stepover atau nutmeg. Ya, ini mengingatkan kita bagaimana Iniesta bermain.

“Aku selalu menyukai Iniesta. Caranya bermain sepak bola dan bagaimana di dalam maupun di luar lapangan. Dia menjadi referensi dan aku mencoba untuk menirunya,” kata Pedri kepada The Associated Press.

Pedri meng-copy betul cara main Iniesta. Bagaimana mengontrol bola dengan halus, mendribel bola dengan rapat, dan mengumpan di ruang sempit, seperti Iniesta memainkan peran sebagai pemain nomor 8. Namun, Pedri tidak benar-benar sama dengan Iniesta. Ini bukan persoalan baik atau buruk, tetapi bagaimana peran yang mereka emban.

Begini, Barcelona-nya Xavi ini tidak sama seperti Pep Guardiola. Sementara Guardiola mencanangkan juego de position, Xavi cenderung melakukan pendeketan direct. Dua dari tiga gelandang dalam format 4-3-3 didorong untuk aktif aktif bergerak ke depan. Lini serang nantinya akan membentuk shape 5 pemain. Winger tetap berada di tepi dan 2 gelandang tadi, salah satunya Pedri, akan mengisi spot half space.

Barcelona kerap memanfaatkan skema seperti ini. Lagi pula, di tepi mereka mempunyai Ousmane Dembele yang punya kemampuan untuk merenggangkan bentuk pertahanan lawan. Nantinya dia akan melepaskan umpan ke salah satu di antara empat pemain yang berada di garis terdepan. Itu sekaligus menjawab mengapa torehan assist Dembele menyentuh angka 11. Nah, gol Pedri ke gawang Sevilla juga lahir dari skema semacam ini. Menerima bola Dembele dari tepi sebelum melakukan aksi tipu-tipu tadi.

Foto: Youtube La Liga

Pemosisian seperti ini beririsan dengan kejelian Pedri mencari ruang. Itu pula yang membuatnya berguna ketika Barcelona menghadapi lawan yang menumpuk banyak pemain di lini pertahanan.

Xavi juga memanfaatkan betul kemampuan Pedri. Dia piawai melepaskan umpan pendek demi melanjutkan distribusi bola dari Sergio Busquets. Opsi long ball juga biasa Pedri lakukan untuk melakukan counter attack atau memindah jalur serangan. Menurut data La Liga, Pedri mencatatkan rata-rata 20,8 umpan di area lawan (tertinggi kelima). Persentase kesukesan umpan lambungnya mencapai 86,7% (terbanyak kedua).

Pedri memang bukan distributor bola utama Barcelona, bukan pula playmaker yang rajin mendulang peluang untuk lini depan. Namun, Pedri punya peranan vital dalam proses pembangunan serangan Barcelona. Dia bisa menarik pemain lawan dengan dribel atau umpan satu dua. Alternatif lainnya adalah mengeliminasi layer pertahanan musuh dengan kemampuan umpan lambungnya.

Itu baru perkara aksi ofensif. Toh, Pedri juga punya kecenderungan tinggi dalam melakukan aksi bertahan dan ini penting untuk mendukung metode counterpress yang diusung Xavi. Tak jarang kita melihat Pedri berada di layer pertama ketika Barcelona kehilangan bola di area pertahanan lawan.

Menyitat Fbref, Pedri telah mencatatkan 61 pressures di sepertiga pertahanan musuh atau terbanyak keenam di Barcelona (didominasi penyerang). Secara keseluruhan, Pedri mengukir 220 preassures dengan persentase kesuksesan 32,3%. Jumlah tersebut hanya kalah tipis dari Busquets (34,7%) dan Jordi Alba (32,9%). Ini merepresentasikan bahwa Pedri cukup kapabel untuk menekan lawan.

Pedri bukan pemuda biasa. Visi, determinasi, dan kematangannya seakan menunjukkan bahwa dia memang pemain yang terlahir untuk Barcelona. Xavi pun mengakui betapa spesialnya Pedri dan menyamakannya dengan Iniesta.

“Dia banyak mengingatkan saya pada Andrés Iniesta. Dia luar biasa. Saya belum melihat banyak talenta seperti itu".

Bakat itu berkah dan kematangan adalah hal bisa didapatkan dengan pengalaman yang terasah. Pedri mempunyai keduanya sekaligus. Jika memang belum bisa sejajar dengan Iniesta, Pedri masih punya banyak waktu. Kami rasa kalian memercayai itu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.