Inter Milan dan Logo-logo Klub yang Berubah

Foto: @inter

Ada banyak cara untuk mendapatkan pasar baru. Salah satunya adalah perubahan logo.

Ketika sepak bola menjadi sebuah industri, kita tak bisa memungkiri bahwa keuntungan finansial semakin berarti. Banyak klub, meski tidak sedikit juga yang malu-malu, menjadikan keuntungan finansial sebagai prioritas.

Dari sekian cara, mengubah logo atau badge dipilih oleh beberapa klub untuk terlihat lebih komersil. Inter Milan jadi klub termutakhir yang disebut akan melakukan hal serupa. Rencananya, pengumuman rebranding logo baru akan dilakukan pada Maret 2021 nanti.

Rencana tersebut juga menyebutkan bahwa Inter akan mengubah nama mereka menjadi Inter Milano. Menurut La Repubblica nama ini hanya akan digunakan dalam keperluan pemasaran dan sponsor. Untuk hal lain yang sifatnya resmi, Inter akan tetap menggunakan nama FC Internazionale Milano.

Sejauh ini, belum ada contekan seperti apa tampilan logo baru Inter. Namun, La Gazzetta dello Sport menjelaskan bahwa dalam logo barunya, Inter akan menghapus huruf ‘F’ dan ‘C’ yang kini ditampilkan, mengubah susunan huruf di dalamnya, dan mengganti corak di lingkaran luar.

Jika proyeksi ini benar dilakukan, maka Inter boleh jadi akan menjadi salah satu klub yang paling banyak mengubah penampilannya. Sejak berdiri pada 1908, Inter telah mengganti logonya sebanyak 14 kali, perubahan ke-13 terjadi saat mereka merayakan ulang tahun ke-100.

Inter terakhir melakukan perubahan logo pada 2014. Ketika itu, mereka menghapus bintang emas di atas logo dan mengurangi tinggi huruf “I”.

Perkara ganti logo, apa yang dilakukan oleh Inter sebenarnya bukan hal baru. Sekitar 4 tahun yang lalu, Juventus melakukan hal yang sama dengan dalih mengejar pasar baru dan menyelaraskan sepak bola dengan lifestyle.

Cara Juventus memperkenalkan logo barunya juga terbilang unik. Mereka melakukannya di Milan Fashion Week, yang notabene adalah markas Inter dan AC Milan, serta didatangi oleh banyak desainer fashion kondang.

Tiga tahun sejak mengubah logo, Juventus lebih terasa sebagai sebuah brand ketimbang klub sepak bola. Mereka tak hanya berhasil mendapatkan pasar Amerika Serikat setelah digaet Netflix lewat program 'First Team: Juventus' tetapi juga anak-anak melalui 'Team Jay by Juventus'.

Jauh sebelum Juventus, sudah banyak klub yang menjadikan perubahan logo sebagai jalan untuk mengejar ketertinggalan zaman. Chelsea memelopori alasan ini pada 1953 saat manajer Ted Drake ditunjuk.

Chelsea awalnya memiliki logo yang hanya berisi ilustrasi seorang veteran yang tinggal di sekitar Royal Hospital Chelsea. Oleh Drake, logo tersebut diganti dengan singa, yang menjadi lambang Metropolitan Borough of Chelsea, tiga mawar merah, dan nama klub.

Keputusan Drake awalnya ditolak oleh banyak pendukung The Blues. Selain karena tidak paham kultur Chelsea, ia adalah mantan pemain Arsenal. Alih-alih mendengarkan kritik, Drake malah keukeuh dan justru berinovasi pada hal lain yang saat itu tak lazim, seperti membuat tim pencari bakat dan membuat metode latihan baru.

Setelah Chelsea, Leeds United melakukan hal serupa pada 1973. Ketika itu, manajer Don Revie memutuskan untuk mengganti logo klub, yang dulunya hanya berupa burung hantu berwarna biru karena menganggap binatang tersebut membawa sial.

Logo burung hantu tersebut sempat diganti oleh logo yang terdiri dari susunan huruf ‘L’, ‘U’, ‘F’, dan ‘C’. Namun, perubahan ini dinilai oleh Revie tak terlalu menarik dan perlu ada perubahan tambahan yang terbilang revolusioner.

Revie kemudian menggandeng kartunis kenamaan, Paul Trevillion, untuk mengerjakan logo baru Leeds. Logo baru ini terbilang unik karena mirip sebuah emoji. Pada akhirnya, Leeds langsung menjuarai First Division pada musim pertama menggunakan logo baru ini.

Foto: logos-world.net

Pada 1998, Manchester United membuat keputusan untuk menghilangkan frasa ‘Football Club’ dari logo mereka. Logo lama United terdiri dari 2 banner, banner atas diisi frasa ‘Manchester United’ dan banner bawah yang diisi frasa ‘Football Club’.

United tidak menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Namun, menurut banyak sumber, United menghapus ‘Football Club’ dengan alibi ingin dikenal sebagai entitas yang lebih dari sekadar klub sepak bola.

Hal menarik lain terjadi pada 2017 saat muncul isu perubahan logo Real Madrid. Dalam logo buatan isu tersebut, tidak lagi tampak lambang salib berwarna kuning di atas mahkota.

Usut punya usut, logo ini ternyata menjadi bagian dari langkah pemasaran Madrid untuk wilayah Timur Tengah. Mengingat wilayah Timur Tengah didominasi oleh umat Muslim, ditakutkan akan muncul hal-hal sensitif.

Satu tahun sejak keputusan tersebut, penjualan merchandise Madrid di Timur Tengah melesat. Pada akhir 2018, dalam sebuah survei yang digelar oleh SMG Insight, 35% responden adalah pendukung Madrid dan 45% di antaranya mengakui memiliki Madridista card.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.