Inter Milan vs Napoli: Duel Dua Kutub Italia

Inter Milan vs Napoli. Ilustrasi: Arif Utama

Duel Inter vs Napoli akan berjalan sengit. Selain masuk daftar teratas perburuan trofi Serie A, jejak perpecahan Italia Utara dan Selatan meronai laga tersebut.

Italia terpecah jadi dua kutub: Utara dan Selatan. Gap ekonomi yang cukup lebar menjadi pemantiknya. Italia Utara berteman karib dengan kemajuan, kekuasaan, produktivitas, dan modernisasi. Pembangunan mereka terdepan. Sampai-sampai mereka meyakini, tanpa Italia Utara, Italia bisa roboh.

Sedangkan Italia Selatan adalah antonim dari Italia Utara. Kemiskinan menjadi problem pelik. Italia Selatan hanya beban Italia. Tanpa Italia Selatan, kata sebagian orang Italia Utara, Negeri Piza tetap bisa berdenyut, tangguh, tumbuh, dan meroket.

Pemerintah Italia sebenarnya tidak diam. Dana miliaran dollar Amerika Serikat dialirkan untuk pembangunan Italia Selatan dari wilayah Mezzogiorno setelah perang Dunia II. Aliran dana yang disebut Cassa per il Mezzogiorno tersebut diharapkan dapat memacu kemajuan Italia Selatan dengan beragam pembangunan.

Namun, kemajuan Italia Selatan yang didambakan tidak pernah betul-betul terjadi saat itu. Per laporan The New York Times, Cassa per il Mezzogiorno hanya melahirkan korupsi dan skandal. Banyak pembangunan yang menguap begitu saja.

''Masalah Mezzogiorno bukan hanya masalah Italia, tetapi masalah Eropa,'' ucap eks Menteri Keuangan Italia Carlo Azeglio Ciampi.

Salah urus dana miliaran dollar Amerika Serikat itu membuat kebencian orang-orang Italia Utara membesar. Umberto Bossi sampai-sampai menggagas Lega Nord, yang kemudian menjadi partai politik pada 1991, untuk mendirikan Italia Utara dengan nama Padania.

Selain skandal Cassa per il Mezzogiorno, Lega Nord menilai Italia Selatan sebagai pemberat ekonomi dan politik Italia Utara. Pandangan itu terawat dengan baik. Apalagi, statistik kondisi ekonomi memperlihatkan kesenjangan kutub Utara dan Selatan di Italia.

Merujuk laporan The Economist, persentase angka kemiskinan Italia Selatan lebih besar dari Italia Utara pada 2013. Saat itu, angka kemiskinan Italia Selatan mencapai 12,6 persen, sedangkan Italia Utara hanya 5,8 persen.

Banyak orang-orang Italia Selatan yang pindah ke Italia Utara untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan laporan The Economist, sebanyak 700.000 orang Italia Selatan pindah ke Italia Utara pada kurun 2001-2013. Dari jumlah itu, 70 persen berusia 15-34 tahun.

Kebencian yang bertalu-talu di ranah politik merambat sampai lapangan sepak bola. Dalam kolomnya di Italian Journal, John Foot berbicara soal identitas Italia Selatan dan Utara yang memicu rivalitas.

Pesan-pesan bernada permusuhan bertebaran di tribune-tribune stadion ketika klub Italia Utara, seperti Juventus, AC Milan, dan Inter Milan, berlaga melawan klub Italia Selatan, seperti Napoli dan AS Roma.

Pada 1993, misalnya, suporter Milan memasang spanduk bertuliskan "(Giuseppe) Garibaldi adalah aib." Garibaldi sendiri merupakan salah satu pahlawan revolusi pemersatu Italia. Suporter klub Italia Utara, tulis Foot, selalu menggambarkan Italia Selatan tidak layak menjadi bagian Italia.

Sedangkan fans AS Roma sempat bernyanyi "Saya hanya punya satu mimpi agar Milan terbakar." Fans Milan membalas nyanyian itu dengan sindiran "Jika Milan terbakar, di mana kamu akan bekerja?"

Jejak-jejak tersebut akan meronai laga Inter Milan (Italia Utara) vs Napoli (Italia Selatan) pada pekan ke-13 Serie A 2021/22 di Giuseppe Meazza, Senin (22/11/21) dini hari WIB. Selain rivalitas Italia Utara dan Selatan, laga itu diprediksi berjalan sengit karena kedua tim berada di barisan terdepan dalam perburuan scudetto.

Inter menempati posisi tiga klasemen sementara dengan rangkuman 25 poin sampai pekan ke-12, sedangkan Napoli adalah pemuncak klasemen dengan raihan 32 poin. Hebatnya, Napoli menjadi satu-satunya klub yang belum menelan kekalahan di liga setelah AC Milan kalah 3-4 dari Fiorentina.

'Aib' Napoli cuma imbang 0-0 melawan AS Roma dan 1-1 melawan Hellas Verona. Namun, itu juga tidak jelek-jelek amat sebetulnya. Lagian, Verona sempat menumbangkan Juventus (2-1) dan Lazio (4-1).

Performa impresif Napoli berjalan lurus dengan kualitas Luciano Spalletti sebagai pelatih. Bagaimana Spalletti membentuk tim dengan lini belakang kokoh? Musim ini, Partenopei menjadi kesebelasan paling tangguh di Serie A 2021/22. Mereka baru kemasukan empat kali dari 12 laga Serie A.

Napoli versi Spalletti menerapkan pressing tinggi untuk meredam serangan lawan. Itu terlihat dari PPDA atau passes per defensive action. PPDA Napoli sejauh ini berada di angka 10,5 atau terendah ke empat di antara konstestan Serie A musim ini.

PPDA sendiri adalah salah satu statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. Kita bisa melihat seberapa garang sebuah tim menekan lawannya. PPDA menghitung berapa banyak operan yang dilakukan tim lawan sebelum tim coba merebut bola kembali dengan aksi defensif, baik tekel maupun intersep.

PPDA biasanya menghitung umpan yang terjadi di area pertahanan lawan saja. Karena pressing yang intens sudah dilakukan sejak area pertahanan lawan. Semakin dikit angka PPDA berarti semakin intens pula pressing yang dilakukan tim.

Selain intensitas pressing yang cukup tinggi, Napoli memasang garis pertahanan rendah ketika lawan masuk ke area mereka. Empat bek akan berada di kotak penalti, sedangkan tiga gelandang menjadi pintu pertahanan pertama.

Kemampuan defensif gelandang Napoli tergolong mumpuni. Selain Fabian Ruiz, ada Andre-Frank Zambo Anguissa yang jago memutus serangan lawan via tekel atau intersep. WhoScored mencatat, rata-rata tekel dan intersep Anguissa berada di angka 3,1 per laga.

Jika lawan berhasil melewati gelandang Napoli, mereka akan berhadapan dengan Kalidou Koulibaly dan Amir Rrahmani. Kedua pemain itu tangguh saat berduel. Mengacu FBref, persentase menang duel Koulibaly mencapai 65,4 persen, sedangkan Rrahmani 62,1 persen.

Jangan lupakan keberadaan dua bek sayap dalam mengadang serangan lawan. Baik Giovanni Di Lorenzo dan Mario Rui begitu cekatan dalam meredam daya ledak pemain sayap lawan.

Di Lorenzo sendiri menjadi pemain dengan persentase menang duel tertinggi di Napoli, yakni 73,1 persen. Rata-rata tekel dan intersep pemain berkebangsaan Italia itu mencapai 2,9 di tiap pertandingan.

Kemampuan individual itu turut ditopang dengan koordinasi yang baik. Jika Di Lorenzo atau Mario Rui gagal memenangi duel, pemain lain akan cepat mengover. Belum lagi performa kiper David Ospina sedang bagus-bagusnya. Menurut data FBref, Pria berusia 33 tahun itu berhasil menepis 87,5% dari total tembakan tepat sasaran.

Untuk membongkar pertahanan Napoli, Inter butuh sosok pemain yang dapat melakukan dribel-dribel mumpuni. Ambil contoh gol Verona ke gawang Napoli sebelum jeda internasional. Gol yang dicetak Giovanni Simeone itu berawal dari keberhasilan Antonin Barak mengecoh Mario Rui.

Jika melihat statistik skuat Inter, Simone Inzaghi bisa memberikan keleluasaan kepada Nicolo Barella untuk mengobrak-abrik pertahanan Napoli dengan aksi dribel. Sejauh itu, rata-rata dribel sukses Barella tertinggi di antara pemain Inter lain, yakni 1,3 per laga.

FBref mencatat, Barella mampu masuk ke kotak penalti lawan via dribel sebanyak enam kali. Selain Barella, Inter bisa bertumpu kepada Ivan Perisic yang sudah merangkum sembilan dribel sukses ke dalam kotak penalti.

Inter juga merupakan tim yang pandai menciptakan peluang berkualitas melalu open play (tidak termasuk xG dari bola mati). The Analyst mencatat, expected goal (xG) via open play Nerrazurri mencapai angka 15,4 atau tertinggi kedua setelah Atalanta (15,6).

Dari angka 15,4 itu, Inter mencetak 21 gol. Bandingkan dengan Atalanta. Kendati memiliki xG 15,6, mereka mencetak 18 gol. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin catatan kebobolan Napoli akan bertambah.

Namun yang perlu Inter waspadai adalah penurunan performa kedua striker mereka, Edin Dzeko dan Lautaro Martinez. Kedua pemain itu gagal mencetak gol dalam empat laga terakhir di lintas ajang. Jika sudah gitu, Inter dapat bertumpu kepada Joaquin Correa.

Correa sendiri sudah mengemas empat gol. Dua gol di antaranya, ia lesakan saat Inter melawan Udinese pada pekan ke-11 Serie A 2021/22. Kecepatan plus kemampuan dribel yang mumpuni bisa menjadi pemecah kebuntuan Inter.

***

"Ini adalah kota tempat sepak bola dan keajaiban adalah hal yang sama."

Itu adalah pernyataan Spalletti setelah resmi melatih Napoli. Kota yang dimaksud pria 62 tahun itu adalah Naples, rumah Napoli. Namun, kali ini, Spalletti akan kembali menjejak kota fashion bernama Milan. Tempat di mana ia sempat merasakan pemecatan.

Pemecatan itu tentu bisa Spalletti balas dengan kemenangan Napoli atas Inter, meski meraup tiga poin di Giuseppe Meazza bukan hal mudah. Namun, kans itu masih tetap hidup sebelum laga benar-benar berakhir dini hari nanti.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.