Jackson Irvine Jelang Indonesia vs Australia

Foto: Socceroos

Saya berbincang dengan Irvine tentang Timnas Indonesia, Piala Asia, BlockCore, Jersei Vintage, sampai Have Heart.

Saya tengah berada dalam kereta ketika mengetahui Indonesia lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023. Saya terkejut, dan tambah terkejut lagi, ketika mengetahui bahwa lawan yang akan dihadapi adalah Australia. Tentu satu hal yang langsung saya ingat adalah Jackson Irvine.

Dua bulan sebelum turnamen dimulai, saya berbincang dengan Irvine di Millerntor soal Piala Asia. Akan tetapi, saat itu tak terbesit dalam benak saya untuk bertanya soal kemungkinan ia dan Australia akan menghadapi Indonesia. Sebab ada dua kemungkinan dalam kepala saya. Pertama, Indonesia tak akan lolos dari fase grup. Kedua, jika lolos, kelolosan akan lewat jalur runner-up. Tak terbesit di benak saya soal jadi salah satu peringkat tiga terbaik.

Saya bersyukur saya salah dan di malam itu juga saya mengontak Irvine secara personal untuk mengajaknya berbincang soal laga vs Indonesia. Irvine, di tengah kesibukannya di turnamen, merespons dengan baik dan menyatakan siap menyediakan waktu. Saya sudah mengenal Irvine sebagai sosok yang rendah hati di luar lapangan, kami juga hampir berbincang tiap dua pekan sekali di Millerntor. Namun, kesanggupannya menerima wawancara saya membuat saya makin terkesima.

Laga Indonesia vs Australia besok akan jadi laga yang sangat spesial buat saya. Sebab, ini bukan hanya soal laga Tim Nasional negara saya, juga bukan hanya soal ini laga fase gugur pertama mereka. Namun, ini juga karena mereka akan menghadapi orang yang saya sebut sebagai kapten, Irvine, di atas lapangan nanti.

So, ini adalah wawancara saya dengan Irvine. Juga saya tanyakan kepada dirinya beberapa pertanyaan yang dikumpulkan The Flanker dari mereka-mereka yang sudah menitipkan pertanyaan—tentu karena keterbatasan waktu, saya tak bisa menanyakan semua yang ada di sana.

***

Jacko (saya memanggilnya begini dalam keseharian), kamu akan menghadapi Indonesia di babak 16 besar. Kamu jelas famous di Indonesia. Namun, apakah kamu pernah menonton Indonesia bermain atau mengetahui soal tim ini sebelumnya?

Ini juga seperti surprise buat saya. (Jelang pertandingan) Instagram saya sudah dipenuhi oleh banyak fans Indonesia haha. Saya tentu excited dengan pertandingan ini dan saya rasa Indonesia adalah lawan yang sangat menarik. Jujur saja saya baru memerhatikan mereka setelah tahu dari turnamen ini

Namun, tim kalian punya excitement tersendiri. Saya rasa Indonesia juga berada di grup paling berat di turnamen, jadi untuk bisa lolos sebagai peringkat tiga dengan satu kemenangan adalah sebuah pencapaian yang begitu bagus. Mereka (Indonesia) juga selalu berhasil mencetak gol di setiap pertandingan, jadi saya rasa kami akan menghadapi lawan yang sulit.

Apakah kamu pernah mendengar atau mengetahui soal pemain-pemain Timnas Indonesia?

Saya mendengar banyak soal mereka (di turnamen ini) dan tahu soal beberapa pemain, seperti Jordi Amat. Saya juga tahu Marc Klok. Dia pernah bermain di klub yang sama dengan saya, Ross County. Dia bermain di sana sebelum saya datang. Saya juga mengetahui para pemain yang saat ini bermain di Inggris. Bisa dibilang masih ada koneksi yang tidak begitu jauh dengan mereka.

Jacko, kamu adalah top-skorer Australia di turnamen. Well, bagi saya dan fans St. Pauli ini mungkin bukan sesuatu hal yang mengagetkan. Namun, ini mungkin mengejutkan bagi banyak orang di luar sana mengingat kamu gelandang. Dan mungkin mereka ingin tau apa kuncinya buat kamu untuk bisa punya insting tinggi buat mencetak gol?

Ini tentang feeling untuk menilai lawan. Soal bagaimana mereka bermain dan bagaimana saya bisa memaksimalkan itu untuk menemukan ruang, kapan harus bergerak. Saya tau (status top-skorer) saat ini mungkin lawan akan lebih aware (terhadap pergerakan saya), tapi ini membuat saya berusaha bekerja lebih baik lagi soal bagaimana meningkatkan kreativitas soal bergerak di area lawan, kapan masuk ke kotak penalti, soal bagaimana menemukan ruang.

Australia yang saat ini berbeda dengan Australia sebelumnya. Bisa dibilang tim kalian ada pada masa transisi karena banyak pemain muda dan kamu sendiri merupakan salah satu pemain paling senior (yang tersisa). Bagaimana kamu melihat tim Australia saat ini secara keseluruhan?

Kamu bisa lihat bahwa tim ini adalah tim yang muda. Ini membuat dinamisme tim berubah. Pada Piala Dunia kemarin (2022) ada pemain seperti Aaron Mooy yang memiliki banyak caps di tim. Sekarang ada saya dan Matt Ryan yang boleh dibilang sebagai figur senior dalam tim. Kami sekarang juga memiliki pemain seperti Jordan Bos, Keanu Baccus, hingga Harry Souttar yang menjadi bagian penting di tim sekarang dan masa depan.

Dan seperti yang saya bilang, dinamisme dalam tim berubah, jadi bagaimana kami bermain juga berubah. Saya rasa tim ini bermain dengan penuh energi dan kami sangat dinamis ketika berada di sepertiga akhir lawan. Bagaimana kami mampu mengeksekusi chances dengan berbagai cara, itu tidak membuat (kami) monoton.

Australia sendiri bukan merupakan negara sepak bola. Maksud saya ada olahraga yang lebih populer seperti kriket atau Australian Football. Namun, tentu sepak bola di sana makin masif seiring tahun. Tahun lalu juga ada Piala Dunia Perempuan yang begitu masif. Buat kamu sendiri, apa yang menjadi alasan pertama kamu memilih sepak bola? Apakah ini karena keluarga (karena kamu memiliki darah Inggris Raya?)

Tentu, sepak bola semakin besar dan masif di Australia. Penonton semakin banyak. Dan seperti yang kamu bilang, sepak bola buat saya pribadi berasal dari keluarga. Ayah saya berasal dari Skotlandia dan saya tahu sepak bola dari dirinya.

Dan, seperti kebanyakan anak lain, saya juga tidak main sepak bola saat masih kecil di sekolah dulu. Saya lebih dulu bermain Australian Football bersama teman-teman. Sampai kemudian saya beranjak remaja dan saya mulai bermain sepak bola, dan meneruskannya (sampai menjadi profesional) seperti sekarang.

Kamu juga sadar bahwa antusiasme terhadap turnamen Piala Asia 2023 ini semakin besar. Publik sepak bola dunia mulai memberi perhatian terhadap turnamen. Para pemain Asia seperti kamu dan banyak pemain lain juga terus mendapat tempat di Eropa. Bahkan di level pelatih, mengingat mantan pelatihmu Ange (Postecoglou) melatih di Premier League. Bagaimana pendapatmu soal Piala Asia ini, atau mungkin sepak bola secara keseluruhan?

Saya rasa sejak Piala Dunia 2022 lalu tim-tim Asia sudah berhasil mencuri perhatian dunia. Kami (Australia) punya capaian yang bagus dengan lolos ke babak 16 besar dan menghadapi Argentina. Jepang dan Korea Selatan punya cerita yang bagus di turnamen, mereka juga lolos ke 16 besar. Arab Saudi juga, dengan berhasil mengalahkan Argentina. Sepak bola Asia memang punya potensi besar.

Satu hal yang menurut saya jadi pembeda Piala Asia dengan turnamen-turnamen lain adalah soal bagaimana setiap tim punya ceritanya sendiri. Mereka punya narasi sepak bola mereka sendiri, tentang tim dan orang-orang (masyarakat)nya. Kalian bisa lihat bagaimana mereka semua punya cerita yang luar biasa dan kemudian lihatlah apa yang terjadi di turnamen ini.

Bagaimana banyak negara-negara yang mampu mengejutkan, memiliki cerita mereka sendiri. Seperti Indonesia, Bahrain yang menjadi pemuncak klasemen, bagaimana Malaysia mampu menahan imbang Korea Selatan di menit-menit akhir. Cerita-cerita seperti ini, dan juga bagaimana permainan yang ditunjukkan, inilah narasi tentang bagaimana sepak bola yang bagus itu. Asia memiliki individu-individu yang sangat potensial, juga terbukti bagus, baik itu pemain maupun pelatih. Jadi saya rasa sudah seharusnya Piala Asia atau sepak bola Asia mendapat perhatian yang lebih lagi.

Jacko, kita bergeser ke luar sepak bola. Saya sudah pernah bilang ke kamu bahwa kamu sangat terkenal di Indonesia. Tentu karena gaya berpakaianmu, yang mungkin kamu pernah dengar dicap sebagai aliran “BlockCore”. Apakah kamu punya tips buat yang lain untuk bisa bergaya sepertimu dan bisa percaya diri menggunakan jersei sebagai fashion dalam keseharian?

Saya masih tidak mengerti mengapa (saya terkenal di Indonesia), tapi terima kasih. Sulit untuk memberi tips karena saya rasa itu kembali soal bagaimana kita menggunakan sesuatu yang nyaman untuk diri kita sendiri, menggunakan sesuatu yang sesuai dengan diri kita sendiri. Mungkin, saya bisa bilang cobalah mengombinasikannya dengan trousers atau loose fit, alih-alih dengan celana seperti track-pants. Cobalah menggunakan sepatu seperti Docmart, juga cobalah memadukannya dengan hal-hal lain seperti blazer.

Nah, banyak juga yang penasaran dengan koleksi jerseimu mengingat kamu acap menggunakan jersei vintage/retro. Kalau boleh dibuka, di mana kamu biasanya membeli jersei tersebut dan sebutkan tiga jersei retro favorit kamu?

Mungkin website seperti Classic Football Shirt adalah yang paling mudah diketahui, tapi saya tahu harganya juga mahal. Saya biasanya membeli di situs second-hand, seperti eBay atau Vinted. Namun, yang jelas, saya juga akan lebih dulu cek keautentikan jersei tersebut, apakah memang betul-betul original. Belakangan juga saya bekerja sama dengan PFC (situs jersei vintage di Australia, Irvine brand ambassador-nya), karena saya tahu mereka autentik dan sudah terkurasi dengan baik.

Soal favorit. Wow, ini pertanyaan yang sulit. Pertama, saya bisa bilang adalah jersei Australia era 70-an yang pernah saya kenakan. Saya mendapatinya dari seseorang dan saya tau ini original, juga begitu langka. Kedua, jersei St. Pauli dengan Jack Daniels di depannya. Saya sangat suka itu. Dan terakhir, yang baru saya dapat, adalah jersei Jepang long-sleve 2015/16 dengan nameset (Shunsuke) Nakamura di belakangnya. Ini spesial karena dia adalah pemain favorit saya.

Salah satu foto kamu yang viral juga adalah foto saat kamu mengenakan kaos band Have Heart. Lantas ada yang bertanya, mana album favorit kamu: The Things We Carry atau Songs to Scream at the Sun?

Ini juga pertanyaan yang sangat sulit. Saya sangat suka keduanya. Have Heart spesial buat saya karena saya mendengarkannya terus-menerus saat saya masih muda. Bahkan jadi inspirasi saya saat bermain band dulu, inspirasi saya sebagai gitaris. Konser mereka juga sangat spesial buat saya. Saya masih ingat ketika menyaksikan mereka di Melbourne pada 2009 atau 2010 lalu. Salah satu yang sangat berkesan. Namun, kalau harus memilih, saya akan pilih The Things We Carry.

Lalu, pertanyaan terakhir. Jika boleh memilih, adakah tiga band Australia yang mau kamu rekomendasikan kepada pembaca kami di Indonesia?

Tentu ada banyak. Banyak sekali musisi-musisi menarik dari Australia. Namun, jika tiga… Pertama, saya rasa Royel Otis. Mereka memang tengah viral setelah melakukan kover, tapi mereka juga sangat menarik dan bagus. Sesuatu yang suka saya dengarkan. Lalu ada juga Floodlights. Dan terakhir, ini mungkin agak lama, satu band dari Melbourne bernama Scott & Charlene’s Wedding.