Kawan Baik Del Piero dan Totti

Ilustrasi: Arif Utama.

Dari Totti dan Del Piero mungkin kita belajar bahwa orang yang paling membutuhkan kawan baik adalah orang dewasa. Halah.

Meski yang tampak di pelupuk mata adalah hari-hari semrawut, yang berlarian dalam ingatan adalah candaan bodoh dengan kawan baik. Bagi Alessandro Del Piero, kawan baik itu adalah Francesco Totti.

Ada masanya ketika Totti dan Del Piero saling berhadapan memperebutkan kemenangan. Keduanya pun berlaga dalam satu tim yang sama di pertandingan internasional. Di level klub, Del Piero menjadi jagoan Juventus, sedangkan Totti adalah pangeran AS Roma. Di antara sekian banyak periode yang dilalui sepak bola Italia, mungkin itu menjadi kurun termanis.

Kita mungkin memiliki teman seperti ini: Orang yang pertama kali kita temui saat kuliah, bekerja, atau di perantauan menjadi orang pertama yang kita hubungi saat ingin menggerutu. 

Kita tidak merasa perlu menghabiskan waktu setiap hari dengannya, terkadang hanya seminggu sekali, tak jarang baru bertemu setelah berbulan-bulan. Kita tidak perlu menghubunginya--entah itu lewat telepon atau pesan singkat--setiap hari. Bukan karena tak peduli, tetapi karena tahu dia tidak akan meninggalkan kita.

Beberapa kali ketika sedang ada dalam rapat yang membosankan, ia akan mengirim pesan untuk kita hanya untuk mengoceh entah apa. Pada hari-hari tertentu kalian akan saling merutuk kesal, bukan karena membenci, melainkan khawatir ia bakal kenapa-kenapa. 

Tanpa diberitahu, entah bagaimana caranya kalian tahu ada yang tidak beres dan menghubunginya. Ucapan termanis kalian hanya ‘baik-baik, ya’. Namun, dibandingkan mengucapkan omongan itu, kalian lebih sering mempersilakannya memaki. Tentu saja kalian ikut menyumpahi asu, jancuk, tai, bangsat, dan sebagainya dalam obrolan itu.

Pada suatu waktu Del Piero bertemu dengan Totti. Bagi para suporter Roma, ia adalah pangeran, juru selamat yang berulang kali mengangkat mereka dari kekalahan. 

Selama bertahun-tahun Totti menjadi tulang punggung tim. Roma, apesnya, tidak selalu diperkuat oleh pemain yang sehebat Totti. Itulah sebabnya publik menganggap Totti di Roma berbeda dengan David Beckham di Manchester United, Luis Figo di Real Madrid, dan bahkan Del Piero di Juventus. 

Pemain-pemain itu layak ditahbiskan sebagai bintang lapangan. Mereka pun telah berpuluh-puluh tahun membuktikannya. Namun, Beckham, Figo, dan Del Piero juga dikelilingi oleh pemain bintang. Ambil contoh Zinedine Zidane yang pernah menjadi rekan setim ketiganya.

Orang-orang menyebut Totti sebagai fantasista. Di ranah sepak bola fantasista adalah arketipe yang saking agungnya tidak dapat dipegang oleh semua penyerang, bahkan yang tersubur sekalipun. 

Fantasista bukan sekadar penyerang yang beroperasi di sepertiga akhir lapangan seperti trequartista. Dalam permainan fantasista ada sentuhan imajinasi yang tak terjangkau oleh pemain kebanyakan. Di Italia, Totti mengemban arketipe itu setelah Roberto Baggio.

Luciano Spalletti adalah saksi hidup kesanggupan Totti menjadi fantasista. Di hadapan Spalletti, anak didiknya itu seperti melebur entah ke mana dalam formasi 4-6-0 yang digunakan Roma. Kegeniusan Totti yang tak tertebak membuat Zdenek Zeman menjawab pertanyaan siapa tiga penyerang terbaik Italia dengan: Totti, Totti, dan Totti.

Semua itu terjadi saat bola ada berdekat-dekatan dengan kakinya. Ketika berada di luar lapangan, Totti akan menjelma menjadi laki-laki konyol yang menyambut semua puja-puji dan kebencian yang diberikan padanya dengan lelucon. Bahkan ada saja orang yang membantunya menyusun guyonan-guyonan itu menjadi buku yang penjualannya digunakan untuk program UNICEF. Menyelamatkan dunia dengan banyolan, cuma Totti yang bisa.

Pesepak bola ajaib dan pria konyol, begitu dunia melihat Totti. Namun, buat Del Piero Totti lebih dari itu. Baginya, Totti adalah kawan baik yang ditemukannya selama melakoni hidup sebagai pesepak bola.

Dalam bukunya, Del Piero: Giochiamo Ancora, hanya ada dua orang yang disebut Del Piero sebagai sahabat: Pierpaolo dan Nelso. Mereka bertiga bersahabat sejak umur 10 tahun. Keduanya bahkan menjadi saksi pernikahan Del Piero dengan Sonia Amoruso. Akan tetapi, tak ada satu pun dari kedua sahabatnya itu yang berprofesi sebagai pesepak bola. Salah satu dari mereka adalah suporter Inter Milan, sedangkan satunya lagi sama sekali tidak menyukai sepak bola.

Teman masa kecil, kata Milan Kundera dalam noveletnya yang berjudul Identitas, adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. Kundera percaya bahwa kita yang sebenarnya dan yang paling utuh adalah kita pada masa kecil. Maka ketika dewasa, sesekali kita harus bercermin pada kawan-kawan masa kecil supaya kita tidak kehilangan siapa diri kita sebenarnya.

Sialnya, semakin dewasa kita akan semakin berjarak dengan teman masa kecil. Ada kalanya kita tak dapat memangkas jarak, ada saatnya pula kita berhadapan dengan kehilangan.

Del Piero pun demikian. Katanya, keputusannya untuk meninggalkan kampung halaman demi menjadi pesepak bola membuat persahabatan mereka menjadi agak berbeda. Del Piero tak mempersoalkannya. Toh, setiap mudik dan bertemu dengan kedua sahabatnya itu, ia merasa segala sesuatunya kembali ke awal. 

Masalahnya, Del Piero tak cuma membutuhkan kawan saat pulang ke kampung halaman. Terlebih, Juventus bukan klub yang tepat untuk merawat persahabatan. Itulah yang dikatakannya dalam bukunya tadi.

Del Piero tak selamanya jadi sebatang kara. Walau tak memberikannya seorang sahabat, lapangan bola memberkatinya dengan seorang kawan baik. Bukan dari Juventus, tetapi dari Roma. Barangkali pertemanan keduanya dimulai karena membela Timnas yang sama.

Kawan baik yang kita temukan saat dewasa berbeda dengan teman masa kecil yang dijabarkan Kundera. Ia tidak pernah menjadi cermin yang memantulkan masa silam kita. 

Semakin dewasa, kita akan sering berhadapan dengan waktu yang membuat tenggorokan tersekat. Pada hari-hari seperti ini, kita memerlukan seorang kawan yang mau mendekat untuk membenturkan gelasnya yang berisi bir ke gelas kita. Dentingannya adalah penanda bahwa hari itu kita merayakan hidup dan segala hal baik yang tetap datang dalam waktu yang buruk.

Bagi Del Piero waktu yang buruk itu ada banyak macamnya. Salah satu yang terberat adalah kasus calciopoli yang menjerat klubnya, Juventus. Pada 2006, mereka diminta untuk turun kelas ke Serie B karena dianggap bersalah dalam skandal yang juga melibatkan klub-klub lain seperti Milan dan Lazio.

Del Piero bisa saja dengan mudah angkat kaki dari Juventus detik itu juga. Ketika itu Del Piero memang sudah berusia 32 tahun. Namun, mendapatkan klub baru bukan persoalan rumit bagi seorang pemain yang baru saja mempersembahkan gelar juara Piala Dunia untuk Italia.

Del Piero bertahan. Ia memilih untuk bersetia dengan Juventus bersama Gianluigi Buffon, Mauro German Camoranesi, Pavel Nedved, dan David Trezeguet. Bertungkus lumus di kubang derita demi mengangkat kembali harkat dan martabat "Si Nyonya Tua" sama sekali bukan perkara gampang. Pada waktu-waktu menyebalkan seperti inilah Del Piero membutuhkan kawan baik untuk bersama-sama menertawakan nasib.

Selain mereka berdua, tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan Totti untuk menghibur Del Piero. Namun, bukan tak mungkin Totti akan mengeluarkan segala kejenakaannya yang sama tidak masuk akalnya dengan kemampuannya sebagai pesepak bola. 

Jika humor Totti yang tak jelas itu bisa membantu menyelamatkan anak-anak telantar, seharusnya untuk sejenak Del Piero bisa terbebas dari keraguan dan kemarahan ketika mendengar humor dari orang yang sama. Sebagai kawan di luar lapangan, Totti bukan orang elegan dan cerdas. Namun, wataknya yang konyol dan naif itu menyadarkan Del Piero akan pentingnya tertawa ketika hari buruk datang menghantam.

Kekecewaan tidak pernah pilih kasih. Sehebat apa pun pengabdiannya, seajaib apa pun permainannya, dan sekokoh apa pun kesetiaannya untuk Roma, pada akhirnya Totti ditempeleng kekecewaan. 

Pada 28 Mei 2017, tepat setelah laga terakhir Serie A 2016/17, ia memasuki Olimpico, berdiri di tengah-tengah lapangan, lalu menyampaikan beberapa patah kata perpisahan. Para pemain mengerumuninya, para suporter menangisi dan menghormatinya. Namun, musim itu adalah musim ketika Totti lebih sering mengendap di bangku cadangan. Ia cuma 18 kali ia bermain di Serie A dengan torehan 2 gol dan 3 assist.

Atas dasar inilah Totti menganggap musim terakhirnya itu bak malapetaka kendati Roma tampil menggila dan finis sebagai runner up. Totti bahkan tak mau mengenang musim terakhirnya bersama Roma. 

Untuk kali ini Totti tak lagi bisa melucu. Tak ada tawa renyah yang menyertai kepergiannya. Namun, sepertinya Del Piero juga ada di hari-hari berat itu. Menjelang laga terakhir Totti sebagai pesepak bola, Del Piero berbicara. Dia menginginkan Totti selalu tersenyum. 

Kalaupun harus pergi dari Roma, tak masalah karena ia sudah memberikan sebagian besar hidupnya untuk Roma. Jika Totti masih mampu berlari dan mencetak gol, tetapi tidak dapat tersenyum lagi, buat apa? 

Barangkali omongan itu pula yang kembali berputar-putar dalam kepala Totti hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari hari-hari buruk di Roma walau sudah berstatus sebagai salah satu petinggi. Lagi pula Totti sudah menyaksikan bahwa Del Piero baik-baik saja setelah angkat kaki dari Juventus. Kalau kawannya itu baik-baik saja hingga sekarang, bukan tak mungkin ia mengalami hari serupa.

Kehebatan Totti dan Del Piero membuat dunia berdebat. Entah ada berapa banyak pencinta sepak bola yang meributkan  siapa yang terbaik di antara mereka. Mereka yang berpihak pada Del Piero akan merujuk pada statusnya sebagai pencetak gol terbanyak di Juventus sepanjang masa. Orang-orang ini akan merujuk pada keganasan Del Piero sebagai penyerang mematikan.

Kubu yang memegang Totti akan mengungkit kreativitasnya sebagai fantasista. Totti tidak hanya piawai menjadi muara serangan dan mencetak gol. Totti bahkan mampu menjadi hulu serangan yang tak tertebak. Jika Juventus adalah orkestra yang dipenuhi oleh pesepak bola hebat, Roma adalah lagu yang jadi masterpiece karena seorang solois bernama Totti.

Namun, ada yang lebih penting daripada perdebatan tentang siapa yang terhebat. Totti dan Del Piero adalah cerita yang membuktikan bahwa kawan baik yang kita temukan saat dewasa adalah aliansi melawan nasib sial dan rangkaian ketidakberuntungan. Barangkali itulah alasan mengapa orang dewasa adalah orang yang paling membutuhkan kawan baik.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.