Kecewa di Wembley

Foto: @wembleystadium

Wembley adalah belantara yang disulap menjadi tempat yang memberi harapan. Sayangnya, harapan yang terlalu muluk malah membuat Wembley lebih sering mengecewakan.

Semalam sebelum final Piala Eropa 2020, Timnas Italia memilih mengunci diri di Pusat Latihan Tottenham Enfield alih-alih berada di penginapan mewah macam Hotel Hilton atau Marriott. Gli Azzurri dikepung rasa waswas. Pertandingan esok hari yang sekaligus kesempatan untuk mengakhiri puasa gelar Euro sejak 1968 dan memutus kesialan di final 2000 dan 2012, bakal tidak mudah.

Skuad Mancini mafhum bahwa menghadapi Inggris di Wembley dalam partai final agak mengerikan. Dino Zoff yang pernah memimpin Italia mengalahkan Inggris di Wembley, tetap mewanti-wanti juniornya agar tidak sembrono. “Wembley adalah kuil terlarang. Mereka seperti berasal dari dimensi waktu yang berbeda, di dunia lain," kata Zoff.

Publik Inggris sebenarnya dalam mood yang tak jauh berbeda. Mereka menjalani rasa sakit puasa gelar sepak bola selama 55 tahun. Tapi, rasa sakit itu berubah menjadi antusiasme yang membuncah.

Inggris menjalani seluruh laga Euro 2020 di Wembley tanpa kalah. Terlebih torehan mentereng Timnas Inggris di Wembley dengan catatan kemenangan 173 kali, imbang 73 kali, dan kalah 39 kali. Bahkan, Inggris bakal diuntungkan oleh jatah suporter setelah larangan arus kedatangan suporter Italia.

Atas dasar catatan yang ada, Inggris sudah memulai perayaan juara bahkan sebelum laga. Pangeran Charles sampai meminta Resimen Coldstream Guards untuk menyanyikan lagu ‘The Three Lions’ di halaman rumahnya. Kita semua mungkin muak dengan jargon “Football is Coming Home” yang tumpah ruah.

Sepakan Luke Shaw pada menit ketiga mulai membuka harapan. Italia pontang-panting hingga babak pertama berakhir. Namun permainan berbalik pada babak kedua, sampai gol penyeimbang Leonardo Bonucci. Italia terus mengepung, mengontrol 66 persen penguasaan bola.

Inggris kalah di satu tepisan terakhir Gianluigi Donnarumma. Italia menyandang status Raja Eropa. Tuahnya tak terbukti, dan Wembley kembali mengecewakan.

***

Sebuah keluarga imigran Saxons bermigrasi dari Jerman ke tanah Inggris pada tahun 825, tersingkir dari pesisir Sungai Thames yang telah penuh oleh pendudukan lain. Mereka kemudian berjalan ke arah utara, berharap ada tempat baru yang bisa dibabat untuk tinggal dan bercocok tanam.

Sebuah danau yang rebah di antara belantara pepohanan mencuri perhatiannya. Wilayah hutan belum terjamah yang mereka babat kemudian menyandang nama Wemba Lea.

Tak ada yang mengenal pasti siapa keluarga itu, seperti nasib Wemba Lea di kemudian hari yang tidak terlalu signifikan. Ketika William Duke of Normandy mendirikan pemerintahan Kota London pada 1067, wilayah Wemba Lea tak masuk hitungan. Tower of London berdiri di pesisir Thames, menegaskan patokan pusat peradaban London ada tak jauh dari Thames. Wemba Lea mendapati nasib sebagai daerah pinggiran London.

Hingga tahun 1500-an, kawasan itu hanya berupa padang rumput dan danau yang teronggok. Namanya berubah dari Wemba Lea menjadi Wembley. Sementara pinggiran Thames berkembang begitu pesat, dan Wembley hanya menjadi objek dagang lahan pertanian dan bergonta-ganti kepemilikan antar-kelas menengah.

Nasib Wembley mulai terangkat ketika perusahaan Metropolitan Railway hendak membangun jalur baru Baker Street-Harrow pada 1870. Jalur kereta baru membutuhkan lahan seluas 20 hektar dari pemilik Wembley Park saat itu, John Gray. Usai John mangkat 1887, lahan Wembley Park dibeli oleh bos Metropolitan Railway, Sir Edward Watkin, senilai 33 ribu pound sterling.

Watkin adalah konglomerat perkeretaapian sekaligus anggota parlemen Inggris. Isi kepalanya bukan cuma soal pembangunan rel, tapi juga membangun Inggris di mata dunia. Saat Paris meresmikan Menara Eiffel pada 1887, gengsi Watkin terusik. Ia punya ambisi membangun tower lebih tinggi di London.

Wembley Park kemudian dirombak habis menjadi sebuah destinasi wisata taman kota pada 1894. Pembangunan tahap awal terdiri dari fasilitas lengkap mulai dari lapangan olah raga, pertunjukan musik, dan motel. Baru aktif setahun, 120 ribu orang sudah berkunjung ke Wembley Park.

Proyek pembangunan menara yang jadi angan Watkin baru mulai tahun 1896. Pondasi awal setinggi 47 meter dari 350 meter dengan cepat selesai. Tapi uang Watkin keburu habis, dan 300 meter sisanya terus menjadi angan hingga akhirnya diruntuhkan pada 1906.

Proyek menara boleh gagal, tapi hibah Watkin dengan membangun Wembley Park mengubah wajah pinggiran London di barat laut. Jalan raya besar telah selesai. Permukiman baru menampung warga-warga yang belum cukup uang membeli properti di pusat London, namun tetap punya akses mudah ke pusat kota. Kawasan itu ramai. Penutupan Wembley Park pada Perang Dunia I justru memulai harapan baru.

***

Inggris mengakhiri Perang Dunia I pada dengan dada tegap. Status pemenang perang membuat para ningrat Kerajaan Inggris merasa perlu menjaga marwah bangsanya. Pada 1919 atau setahun setelah perang, Putra Mahkota Prince of Wales menghendaki sebuah perayaan akbar untuk memamerkan kebesaran Inggris. Format acaranya semacam pameran dagang. Tujuannya, “Agar mempersatukan setiap orang yang mewarisi kebanggaan Inggris.”

Perusahaan BUMN kemudian dibentuk untuk menyelenggarakan. Pusat Kota London sudah terlalu padat dan tak punya cukup ruang untuk menampung banyak pengunjung. Panitia kemudian memilih lahan Wembley Park.

Pangeran Edward menyukainya, dan langsung memberi perintah untuk merombaknya jadi kawasan megah, sekalian membangun kawasan olah raga yang belum pernah ada di Inggris.

Inggris sebenarnya punya stadion melimpah. Dalam kurun 1889 sampai 1910, tidak kurang 50 klub sepak bola di Inggris membangun stadion baru. Jumlah sebanyak itu tidak ada satu pun yang layak menampung kapasitas penonton berjumlah besar. Pembangunan stadion yang mulai tahun 1922 memulai proyek mercusuar komplek Wembley.

Stadion di Wembley Park kemudian dilabeli sebagai stadion kerajaan. Pembangunannya tak main-main, ia menyedot biaya paling besar dari 750 ribu pounds anggaran yang terkumpul. Kerajaan memilih arsitek dan pengembang terbaik, dan mereka sampai berani menggunakan material serat beton yang pada zaman itu dianggap penanda era konstruksi modern. Pembangunannya dikebut, dan langsung siap pakai 1923.

Stadion nasional langsung menjadi venue Final Piala FA 1923 begitu selesai dibangun. Keputusan ini ternyata mendapat sambutan antusias dari publik Inggris. Kapasitas stadion yang hanya mampu menampung 120 ribu orang, diserbu 300 ribu penonton, membuat pinggiran lapangan begitu sesak.

Gegap gempita tetap berlangsung dalam penyelenggaraan The British Empire Exhibition setahun berikutnya. Raja George V ikut dalam kekaguman. “Tidak ada satu pun bangunan modern di tanah Inggris semegah ini,” kata Raja George V dalam pidato pembukaan.

Menyandang status sebagai stadion nasional, pemerintah Inggris menetapkan Wembley sebagai etalase citra bangsanya. Pembukaan Olimpiade 1948, sengitnya partai tinju Henry Cooper melawan Muhammad Ali di tahun 1963, gelegar penampilan Queen di konser musik amal LiveAid 1985, hingga final Piala Dunia 1966, semuanya diselenggarakan di Wembley.

***

Sejarah Wembley adalah sejarah yang dipermak. Sepak bola tidak berasal dari sana. Pertandingan sepak bola internasional pertama di lapangan Racecourse, Wales. Sementara Timnas Inggris pertama kali berlatih Kennington Oval di Bramall Lane, Sheffield.

Wembley jadi salah satu bagian dari hasrat orang Inggris mendaku sepak bola. Tapi karena stadion itu adalah stadion modern pertama di Inggris dan mendapat dukungan dari kerajaan, mereka tidak pernah main-main dalam mengurus Wembley.

Memasuki akhir abad-19, kualitas bangunan Wembley sudah kalah bersaing dari stadion-stadion baru di tanah Eropa. Pemerintah Inggris memutuskan membangun ulang stadion nasionalnya. Lokasinya tak berubah atas nama simbol dan pengkultusan, meski publik mendesak agar stadion nasional berada di pusat London.

Stadion ini mengalami renovasi pada tahun 2000, namun pembangunan baru benar-benar mulai 2 tahun setelahnya. Pemerintah Inggris rela mengucurkan dana sampai Rp 18 triliun. Jadilah sebuah stadion baru yang megah, dengan kapasitas terbesar kedua di Eropa setelah Camp Nou. Pada 2007, debut wajah baru Wembley tercoreng. Skuad Steve McClaren tersungkur 2-3 kala menjamu Kroasia di Wembley. Bukan hanya kekalahan, tapi juga kegagalan lolos ke Piala Eropa 2008.

Wembley memang menjadi stadion yang prestis. Tapi publik Inggris butuh lebih dari sekadar itu. Pertandingan Timnas Inggris selanjutnya tidak ada yang benar-benar menghapus noktah kekalahan Joe Cole cs. di tahun 2007. Bagaimana rasanya melihat kekalahan Manchester United sebagai wakil Inggris yang kalah dari Barcelona di final Liga Champions 2011? Tak pelak, fatamorgana Bobby Moore mengangkat trofi Piala Dunia 1966 selalu mengusik orang Inggris.

Dengan gagalnya Inggris membawa pulang trofi Euro 2020, penantian 55 tahun masih terus bertambah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.