Keeping Up with The Glazers

Foto: Twitter @FOS.

Apakah keberhasilan Tampa Bay Buccaneers menjuarai Super Bowl LV membuat Keluarga Glazer mempertimbangkan untuk menjual Manchester United? Tolong jangan banyak berharap.

Orang-orang merayakan Tom Brady sebagai salah satu atlet terhebat sepanjang masa setelah dirinya berhasil meraih cincin Super Bowl untuk ketujuh kalinya. Beberapa lainnya sibuk membanding-bandingkannya dengan atlet-atlet besar seperti Serena Williams, Michael Jordan, dan Lionel Messi.

Mereka yang tak terlalu peduli dengan pencapaian Brady—atau kemungkinan besar emoh mengakui Brady sebagai salah satu yang terhebat—mungkin terlalu sibuk menangisi kekalahan Kansas City Chiefs beserta penampilan memprihatinkan mereka di Super Bowl LV.

Chiefs datang sebagai juara bertahan Super Bowl dengan Patrick Mahomes, atlet dengan label “generational talent”, sebagai quarterback mereka. Alih-alih memenuhi ekspektasi banyak orang, Mahomes dan Chiefs menciut di hadapan kesempurnaan Brady dan Tampa Bay Buccaneers.

Mahomes memang tampil luar biasa. Ketika barisan line di depannya bobol, ia masih bisa memutar tubuhnya dan berkelit ke sana-ke mari, menghindar dari kejaran pemain defensif Buccaneers. Bahkan Mahomes masih sempat-sempatnya melempar bola dalam posisi yang tidak menguntungkan, kadang dalam posisi nyaris jatuh ke tanah.



Lantas, orang-orang mencari kambing hitam, mulai dari performa offensive line Chiefs yang ala kadarnya dan ketidakbecusan rekan-rekan Mahomes menangkap bola hingga strategi Andy Reid yang memilih menggunakan zone defense. Si generational talent itu tak dibiarkan melempar untuk membuat touchdown satu kali pun. Chiefs akhirnya kalah 9-31.

Namun, tak sedikit pula yang memuji ketenangan dan fokus Brady dalam memimpin peleton offense Buccaneers. Hanya untuk memusatkan diri menghadapi Super Bowl ia bahkan rela tak bertemu keluarganya selama dua minggu. Ini adalah sikap seorang veteran menghadapi perang yang sesungguhnya.

Brady adalah perjudian yang berhasil dari Buccaneers. Ketika banyak yang mempertanyakan apakah dalam usia 42 tahun Brady masih layak bermain di level puncak, ia menjawabnya dengan lantang. Alih-alih tampak seperti berjudi, Buccaneers kini seperti memenangi lotre karena mendapatkan tanda tangan Brady ketika berstatus tanpa tim.

Keberhasilan Buccaneers meraih gelar juara Super Bowl kedua dalam sejarah—dan juga kedua sejak 2003—membuat senyum Keluarga Glazer merekah. Ada candaan bahwa tahun ini mereka sedang mendapatkan berkah. Selain keberhasilan Buccaneers di Super Bowl, Manchester United sedang menunjukkan progresi meski belum bisa dikatakan sempurna.

Keputusan Keluarga Glazer membeli Buccaneers pada 1995 sempat mendapatkan pertanyaan. Buccaneers bukan franchise besar yang super menguntungkan dan banjir prestasi. Oleh karena itu, Keluarga Glazer dianggap gila ketika menggelontorkan dana 192 juta dolar AS untuk membelinya.

Setelah 26 tahun dan dua gelar Super Bowl yang semuanya didapatkan ketika Buccaneers berada di bawah kepemilikan mereka, Keluarga Glazer boleh membusung. Namun, apakah romantisme serupa juga terjadi pada Manchester United?

***

Cerita antara Keluarga Glazer dan United sudah diketahui banyak orang. Mereka membeli mayoritas kepemilikan saham ‘Iblis Merah’ dalam kurun 2003 hingga 2005 senilai 800 juta poundsterling. Namun, tidak seluruh uang yang digunakan untuk membeli klub berasal dari kantong mereka sendiri. Sebagian besarnya berasal dari utang.

Ketika proses pembelian itu tuntas dan Keluarga Glazer resmi menjadi pemilik klub, utang pribadi mereka dialihkan sebagai utang klub. Alhasil, United yang tadinya bersih dari utang menjadi punya beban berupa setumpuk utang senilai 540 juta poundsterling, lengkap dengan bunganya.

Laporan David Conn untuk The Guardian pada 2019 menyebutkan bahwa kala itu United masih memiliki utang sebesar 511 juta pounds dengan bunga mencapai 25 juta pounds per tahun. Namun, mengingat United masih bisa mendapatkan keuntungan finansial, terutama dari pemasukan sponsor mereka yang bisa mencapai 627 juta pounds, Conn menyebut bahwa besarnya utang itu masih bisa diatasi United.

Keluarga Glazer pun masih bisa anteng-anteng saja. Laporan Manchester Evening News menyebutkan bahwa United mengeluarkan 23,3 juta pounds untuk membayar dividen untuk tahun buku 2018-2019. Angka yang sama juga disebutkan oleh Conn pada laporannya di The Guardian.

Jumlah tersebut tidak bisa dibilang sedikit, mengingat United juga mesti membayar utang plus bunganya setiap tahun. Keluarga Glazer, yang sudah membebani klub dengan utang sedemikian banyak, masih bisa mendapatkan keuntungan darinya. Oleh karena itu, jangan heran kalau banyak pendukung United menganggap Keluarga Glazer sebagai lintah ketimbang pemilik yang murah hati.

Ada jarak yang tak kunjung terpangkas antara si pemilik klub dan para pendukung yang hampir setiap tahun menyumbang ke kas klub lewat tiket musiman. Maka, ketika para pendukung membentangkan syal hijau-kuning di Old Trafford—warna asli United ketika masih bernama Newton Heath—sebagai bentuk protes bertajuk “Love United, Hate Glazer”, Keluarga Glazer tak peduli-peduli amat.

Mereka sudah sejak lama tidak berkomunikasi dengan pendukung. Janji Joel Glazer, salah seorang putra Malcolm Glazer, pada 2005 untuk tetap berhubungan dengan pendukung karena “komunikasi adalah kunci” dan “pendukung adalah daya hidup klub” cuma berakhir sebagai omong kosong.

Ed Woodward. Foto: Twitter @DailyStar_Sport.

Laurie Whitwell, dalam laporannya untuk The Athletic, mengatakan bahwa sejak resmi menjadi pemilik sampai sekarang, Keluarga Glazer (atau Joel Glazer sebagai perwakilan) tidak sekalipun berani berhadapan atau berkomunikasi langsung dengan pendukung. Satu-satunya orang yang secara konstan berkomunikasi dengan Joel sehari-hari adalah Ed Woodward, executive vice-chairman klub yang juga cukup sering jadi sasaran amukan suporter.

Meski berstatus sebagai executive vice-chairman, Woodward berada di tampuk tertinggi hierarki klub. Dialah yang mengawasi jalannya operasi klub. Oleh karena itu, wajar kalau ia menjadi satu-satunya orang yang berkomunikasi dengan Joel secara konstan. Pembicaraan mereka pun tak jauh-jauh dari bisnis hingga aspek terkecil budget klub.

Jadi, kalau Anda termasuk fans United yang mengutuki kegagalan transfer Jadon Sancho pada musim panas 2020, silakan bersumpah-serapah kepada Joel Glazer. Kabarnya, dialah yang menolak proposal pembelian Sancho yang nilainya mencapai 100 juta pounds.

Meski penolakan tersebut bisa dimaklumi karena kondisi finansial klub sebelum dan setelah pandemi COVID-19 jelas berbeda, masih banyak pendukung yang menganggap bahwa Keluarga Glazer emoh menopang United dengan dana transfer segunung.

Woodward, sebagai karyawan yang baik, membantah anggapan tersebut. Menurutnya, investasi United untuk mendatangkan pemain baru sejak 2019 mencapai 200 juta poundsterling. “Lebih banyak, saya yakin, dari klub besar Eropa mana pun dalam jangka waktu yang sama,” kata Woodward.

Namun, jika berbicara konteks kemurahan hati pemilik dalam membantu klubnya, Keluarga Glazer jelas tidak berbuat apa-apa. Nilai investasi yang disebut Woodward itu berasal dari pemasukan klub sendiri, bukan dari kantong Glazer.

Sementara United harus membayar utang klub yang tadinya merupakan utang pribadi si pemilik, Keluarga Glazer bisa ongkang-ongkang kaki. Mereka hanya mengeluarkan 270 juta pounds dari uang pribadi untuk membeli United, tetapi sudah menerima 200 juta pounds sejak 2003 dari dividen.

Dalam sudut pandang tersebut, Keluarga Glazer telah mengisap banyak keuntungan dengan pengeluaran yang boleh dibilang amat minim. Wajar kalau kemudian para pendukung mencak-mencak.

***

Kabarnya, Keluarga Glazer menaruh investasi lebih banyak kepada Buccaneers ketimbang United. Kabar tersebut diperkuat dengan laporan The Athletic yang menyebutkan bahwa semenjak menjadi pemilik tim, Keluarga Glazer telah melakukan upgrade untuk stadion Buccaneers dan fasilitas latihan mereka.

Tak heran kalau Pelatih Buccaneers, Bruce Arians, dan General Manager Jason Licht berulang kali memuji Keluarga Glazer. Keberhasilan Buccaneers menjuarai Super Bowl LV boleh jadi bakal membuat posisi Keluarga Glazer aman di mata staf tim dan pendukung.

Lantas, apa arti kemenangan Buccaneers di Super Bowl untuk United? Mungkinkah Keluarga Glazer mempertimbangkan untuk menjual juara 20 kali Liga Inggris itu? Selama mereka masih bisa menerima keuntungan—dan United masih bisa mendatangkan pendapatan yang tidak sedikit—rasanya sulit untuk mengharapkan itu.

Ketika kabar bahwa ada pihak dari Arab Saudi berniat untuk membeli United mencuat, Keluarga Glazer dengan cepat membantahnya. Mereka cuma rela melepas kepemilikan klub dengan skala kecil, sebesar 20%. Melepas seluruh kepemilikan? Jangan harap.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.