Kembang Kempis Atletico Madrid

Foto: Instagram @atleticodemadrid

Jarak yang tadinya lebar perlahan mulai terkikis. Apakah Atletico Madrid bisa menutup La Liga dengan status juara?

La Liga musim 2020/21 terasa menyenangkan bagi Atletico Madrid di awal. Barcelona yang sempat mengalami masalah internal dan gaya bermain Real Madrid yang semakin mudah dimatikan, membuat mereka yakin bahwa inilah saatnya untuk menutup musim sebagai juara.

Harapan Atletico perlahan mulai menjadi kenyataan. Tujuh kemenangan beruntun dari pekan keenam membuat mereka mendapatkan posisi puncak. Sejak itu, mereka tidak tergeser dan bahkan sempat menjauh dari peringkat kedua yang bergantian diisi Barcelona dan Real Madrid.

Namun, pelan-pelan Atletico mulai mengumbar permasalahan. Imbasnya jatuh di Februari lalu. Sejak saat itu,, Atletico kerap menunjukkan permasalahan. Jarak yang tadinya curam perlahan mulai terkikis. Kini mereka hanya terpaut satu poin dari Madrid yang ada di urutan kedua dan dua poin dari Barcelona di posisi ketiga.

Foto: Whoscored

Penampilan Atletico memang berantakan sejak kalender berganti ke Februari. Dari 11 pertandingan yang dijalani, mereka hanya menang empat kali. Sisanya, lima kali bermain imbang dan dua kali menelan kekalahan.

Atletico mengubah banyak hal untuk mendapatkan apa yang mereka capai sekarang. Salah satunya gaya bermain. Berbeda dengan musim-musim sebelumnya, kali ini Atletico mengutamakan penguasaan bola.

Musim ini, Atletico memiliki rata-rata penguasaan bola 52.2% dengan 541 operan per pertandingan. Angka ini di atas rata-rata penguasaan bola dan jumlah operan terbaik mereka selama dipegang oleh Diego Simeone, yakni 49.4% dengan 501 operan yang terjadi pada musim 2018/19.

Meski demikian, dominasi tidak berbanding lurus dengan hasil manis di atas lapangan. Berbekal dominasi, Atletico justru terpuruk sebulan terakhir. Melihat penampilan selama periode tersebut, apa, sih, yang salah dari Atletico?

Lubang di Dua Sisi Pertahanan

Pola tiga bek menjadi pola utama Atletico pada musim ini. Dari 30 pertandingan yang telah mereka lakoni musim ini, Simeone menggunakan tiga bek dalam 19 pertandingan. Jumlah tersebut jauh di atas penggunaan pola empat bek yang hanya 10 pertandingan.

Mulanya, pola ini membawa Atletico mengungguli lawan karena mereka bisa dengan mudah membangun penguasaan bola dari belakang. Perkara lainnya, mayoritas tim di La Liga hanya menggunakan satu pemain depan.

Untuk membantu tiga pemain tersebut, Simeone kadang menempatkan satu gelandang bertahan. Lantas, bagaimana dengan dua wing back? Mayoritas kerja dua wing back Atletico adalah menyerang dan bukan bertahan.

Alhasil, pendekatan tersebut malah membuat Atletico mudah ditekan lawan melalui dua sisi pertahanan. Hal ini dikarenakan saat ditekan lawan, para pemain Atletico (terutama pemain belakang dan gelandang bertahan, bermain rapat di kotak penalti.

Satu contoh terjadi saat Atletico bersua Villarreal pada pekan ke-25. Meski saat itu Atletico berhasil menang, Villarreal berhasil melepaskan 26 dari sayap dan 18 umpan dari half space yang diarahkan ke kotak penalti.

Mayoritas upaya Villarreal dilakukan dari sayap. Foto: Whoscored

Sejak memasuki pekan ke-22, 3 dari 10 gol yang bersarang di gawang Jan Oblak berasal dari dua sisi sayap. Jika tidak segera diperbaiki, bisa jadi masalah ini akan semakin menjadi-jadi.

Menggantungkan Harapan kepada Koke

Tidak ada yang dapat menyangkal peran Koke untuk Atletico. Apa pun pola yang digunakan oleh Simeone, Koke selalu mendapatkan kesempatan untuk menjadi pilihan utama di lini tengah. Tidak terkecuali pada musim ini.

Sejauh ini, Koke kerap diturunkan dalam dua posisi, gelandang tengah dan gelandang bertahan. Koke tidak kesulitan saat diberi tugas saat dimainkan dalam dua posisi tersebut. Yang jadi masalah, Atletico berharap amat besar pada Koke.

Saat Koke diturunkan sebagai gelandang bertahan, ketajaman Atletico menurun. Sebaliknya, ketika Koke dimainkan sebagai gelandang tengah, pertahanan Atletico yang rapuh. Beban Atletico semakin berat apabila lawan berhasil mereduksi kesempatannya mengolah bola.

Dalam pertandingan melawan Real Madrid, Atletico amat sulit mengembangkan permainan ketika berada di sepertiga akhir kotak penalti lawan. Di luar 4 umpan silang, hanya ada 4 peluang yang dilahirkan dari kerja sama di area half space dan depan kotak penalti.

Menempatkan Koke di pos gelandang bertahan, juga membuatnya kontribusinya terhadap serangan anjlok. Dari 8 pertandingan terakhir di posisi tersebut, ia hanya mampu melepaskan rata-rata 2,3 progressive passes atau umpan yang mengarah ke kotak penalti. Padahal, pada musim ini ia melepaskan rata-rata 6 umpan.

Hingga pekan ke-30, Koke lebih banyak dimainkan oleh Simeone di pos gelandang tengah. Catatan penampilannya di posisi tersebut mencapai 20 kali. Persoalannya sekarang, lawan punya cara untuk membuatnya tidak banyak berperan terhadap serangan.

Saat bersua Sevilla, pergerakan Koke ditutup oleh Ivan Rakitic. Jika pun bisa lepas, Fernando sudah menunggunya. Alhasil, penampilan Koke hari itu terbilang mengecewakan: Hanya dua kali melepaskan umpan dan sekali melakukan dribel di sepertiga akhir area lawan.

Tidak Bisa Tanpa Suarez

Atletico tidak hanya ketergantungan terhadap Koke tetapi juga 3 pemain lain, Marcos Llorente, Mario Hermoso, dan Luis Suarez. Jika dua pemain yang lain memiliki pelapis dengan level permainan nyaris serupa, Suarez berbeda.

Sejauh ini, Suarez telah mencetak 19 gol dan 2 assist dari 52 gol yang diciptakan oleh Atletico. Itu artinya, ia berperan terhadap 40% gol Atletico. Ia pun menjadi pemain paling berpengaruh ketiga soal produktivitas gol tim di La Liga, di bawah Lionel Messi dan Karim Benzema.

Peran Suarez untuk ketajaman Atletico memang besar. Hingga pekan ke-30, Suarez menerima rata-rata 12.3 umpan di dalam kotak penalti. Angka tersebut membuatnya sebagai satu-satunya pemain Atletico yang menerima lebih dari 8 umpan per pertandingan.

Dengan kondisi tersebut, sangat mudah bagi lawan untuk mematikan Atletico. Cukup buat Suarez tidak berkutik dan sulit bergerak di kotak penalti kalian, maka kemenangan atas Atletico sudah di depan mata.

Ada beberapa pertandingan yang menunjukkan bagaimana Atletico kesulitan mencetak gol apabila Suarez diredam lawan. Laga melawan Sevilla contohnya. Dalam laga tersebut, ia tidak mampu mencetak gol, bahkan melepaskan percobaan ke gawang lawan.

Penyebab sulitnya Suarez saat itu adalah kawalan ketat yang ditunjukkan oleh Diego Carlos. 4 dari 5 aksi defensif (duel udara, tekel, dan intersep) yang dilakukan Carlos hari itu bahkan melalui upaya merebut bola dari Suarez.




Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.