Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Kingkong Si Nyonya Tua

Foto: instagram @giorgiochiellini

17 tahun adalah waktu yang Chiellini habiskan bersama Juventus. Selama itu, Chiellini merawat cinta pada sepak bola dan Juventus.

Kepergian Giorgio Chiellini melahirkan tanda tanya tentang siapa petarung 'Nyonya Tua' selanjutnya yang rela tulang hidungnya patah berkali-kali demi menjaga kesucian gawang dan menjalani pertarungan dengan sekeras-kerasnya, setangguh-tangguhnya.

Laga melawan Lazio di Juventus Stadium, Selasa (17/5/22), tak cuma jadi laga kandang terakhir Juventus musim 2021/22, tetapi juga sebagai penutup kisah 17 tahun Chiellini bersama Juventus. Bisa juga, epilog bagi cerita Chiellini sebagai pesepak bola.

Chiellini menggendong dan menggandeng dua anaknya saat memasuki lapangan. Lampu utama stadion mati. Sorak-sorai penonton bergemuruh mengiringi setiap langkahnya. Pemain Juventus lainnya berjajar dan bertepuk tangan mengantar Chiellini sampai tengah lapangan.

Tulisan 'The GR3AT CHIELLO' terpampang megah di papan skor stadion. Jersi-jersi bertuliskan namanya diangkat setinggi-tingginya. Chiellini hanya menatap papan skor sambil merekahkan senyuman. Tak terlihat tanda-tanda ia sedang berduka. 

Ketika video perjalanannya bersama Juventus diputar, Chiellini terdiam. Sesekali, ia menyium anaknya sambil membisikkan kata-kata. Sedangkan senyumannya tak pernah meredup.

Setelahnya, Chiellini berjalan mendekati tribune dan menyebarkan ciuman melalui tangannya ke sudut-sudut stadion. Juventus Stadium terlalu luas bagi Chiellini untuk memeluk dan mencium satu per satu penonton yang terisak-isak di tribune. 

Di hadapan Chiellini, berduka bukan jalan terbaik. Semua harus siap dan tangguh saat bertarung melawan apapun, termasuk kehilangan. Di hadapan Chiellini juga, sekecil apapun pencapaian mesti dirayakan dengan sukacita.

Di lapangan, Chiellini menjadi "Kingkong." Julukan itu bukan hanya karena tubuhnya tinggi dan besar, tetapi juga karena hasratnya meletup-letup setiap kali merayakan sesuatu. Jika mencetak gol, ia akan menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil berteriak sekeras-kerasnya.

Beda cerita ketika Chiellini berada di luar lapangan. Ia menjadi bapak yang bijaksana. Teman yang sungguh manis dengan kata-kata berbobot dan penuh perhitungan. Karakternya pun sangat tenang dan enak diajak ngobrol.

Kata orang-orang, Chiellini adalah bek kuno. Bek yang hanya memikirkan bertahan-bertahan-bertahan-bertahan. Meski sepak bola berevolusi dan tuntutan menjadi bek berlipat ganda, ia tetap teguh pada jalannya, pada pilihannya.

Bagi Chiellini, bertahan adalah seni. Sebab, menjaga kesucian gawang bukan perkaran mudah. Tekel-menekel, menghalau bola, dan mengadang lawan, juga butuh perhitungan dan keahlian. Telat sedikit saja, ia bisa diusir wasit atau gawang akan terancam.

Semakin lawan dekat dengan gawang, marabahaya semakin menyeramkan. Dalam satu tembakan, bola bisa bersarang ke gawang. Belum lagi, serangan lawan di sekitar kotak penalti bisa datang berkali-kali dalam hitungan menit.

Makanya, Chiellini dituntut jangan lengah dan harus konsisten --tidak hanya di setiap laga, tetapi juga setiap menit. Ia diminta kudu secepat mungkin menempel lawan dengan ketat, dan merentangkan kaki untuk merebut bola dengan segera. Jika gagal, ia seringkali menjatuhkan tubuhnya untuk memblok bola sekaligus mengeliminasi ancaman.

Chiellini tak pernah peduli seberapa kencang bola menghantam tubuhnya atau seberapa keras tabrakan terjadi di lapangan. Tubuhnya kokoh dalam menghadapi itu semua. Yang terpenting bagi Chiellini, gawang harus aman meski tulang hidungnya harus patah.

Chiellini menjadi arketipe yang sama berharganya dengan bek-bek modern --bek yang piawai mengirim umpan dari kedalaman maupun mengeliminasi tekanan lawan via dribel mumpuni. Namun, arketipe tersebut sebenarnya bisa saling melengkapi.

Di Juventus, Chiellini mendapat kawan yang sempurna. Ada Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli. Jika Bonucci adalah regista, Barzagli adalah profesornya. Bonucci jago betul soal umpan-mengumpan. Sedangkan Barzagli paham betul bagaimana menutup ruang-ruang di pertahanan. Urusan tekel-menekel dan mengejar lawan menjadi tugas Chiellini.

Sebenarnya, petualangan Chiellini bersama Juventus tidak sedap-sedap betul. Pada 2006 atau satu musim setelah ia bergabung dengan Juventus, mereka harus turun kasta ke Serie B karena dinilai bersalah dalam skandal calciopoli yang juga menyeret klub-klub papan atas Serie A.

Sebagai pemain muda potensial, Chiellini mendapat panggung untuk unjuk gigi. Ketika teman-teman setimnya kala itu ada yang memutuskan hengkang dalam sekoci untuk menyelamatkan karier diri sendiri, Chiellini mampu membuktikan diri sekaligus mengangkat kembali muruah Juventus.

17 tahun adalah waktu yang Chiellini habiskan dengan Juventus. Selama itu, Chiellini merangkum 20 trofi di berbagai ajang. Selama itu juga, Chiellini merawat cinta pada sepak bola dan Juventus.

Jika perayaan hanya sebatas mengangkat trofi, kita bisa menghitung seberapa banyak Chiellini berpesta dengan Juventus. Namun, Chiellini bukan orang yang begitu. Ia selalu merayakan sekecil apapun keberhasilan dengan sukacita, dengan bersorak-sorai.

Ambil contoh saat Juventus melawan Tottenham Hotspur pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2017/18. Dalam laga itu, Chiellini berhasil menghalau umpan pemain Tottenham dengan menjatuhkan badan dan menyorongkan kaki.

Setelah melakukan itu, Chiellini bangkit. Bahunya kemudian digoyang-goyangkan Buffon. Kemudian, mereka sama-sama berteriak dengan lantang. Bagi orang yang menggilai permainan ofensif, apa yang dilakukan Chiellini belebihan. Namun, bagi Chiellini dan orang-orang yang mengagungkan permainan defensif, halauan Chiellini laik dirayakan serupa mencetak gol.

Itu hanya satu kejadian. Di luar itu, Chiellini sering mengepalkan tangan, melompat, melayangkan tinju ke udara, dan berteriak, setelah melakukan aksi defensif krusial. Maka, kita tidak bisa menghitung seberapa banyak Chiellini merayakan keberhasilan bersama Juventus.

Di laga kandang terakhirnya bersama Juventus, Chiellini hanya bermain 17 menit. Ia kemudian meninggalkan lapangan dengan senyum yang begitu merekah. Ia memeluk satu per satu rekan sambil berbisik-bisik dan memberikan ban kapten kepada Dybala.

Chiellini masuk ke bangku cadangan Juventus Stadium. Senyumnya masih saja hidup. Entah apa yang ia katakan kepada orang-orang, fan bersorak-sorai memberikan tanda hormat kepada Kingkong Si Nyonya Tua untuk terakhir kalinya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now