Kisah tentang Robben

Foto: Twitter @arjenrobben.

Arjen Robben mampu melakukan banyak hal dengan sama baiknya. Mulai dari cut inside, membalas budi klub masa kecilnya, membuat lawan menang hingga... Cedera.

Musim 2011/12. Pertandingan Borussia Dortmund vs Bayern Muenchen di pekan ke-30 dianggap bakal jadi laga bersejarah.

Selain titel Der Klassiker yang melekat pada laga tersebut, kedua klub tengah dalam persaingan ketat untuk merebut posisi puncak. Dortmund berada di urutan pertama dengan 66 poin. Sementara itu, Bayern satu strip di bawahnya dengan 63 poin.

Laga berjalan amat panas. Gesekan sering terjadi. Gol akhirnya baru tercipta pada menit ke-77 untuk Dortmund. Gol ini terjadi setelah Robert Lewandowski mengubah arah bola sepakan Kevin Grosskreutz dari luar kotak penalti.

Semua pemain Bayern mengangkat tangan dan menganggap itu offside. Namun, hakim garis menilai gol tersebut sah. Franck Ribery dan Bastian Schweinsteiger berlari dan mempertanyakan keputusan wasit. Ia bergeming dan tetap mengesahkan gol tersebut.

Dua belas menit berselang, Bayern memiliki peluang menyamakan kedudukan. Arjen Robben, yang menerima umpan terobosan Ribery, coba melewati Roman Weidenfeller. Wasit memberikan hadiah penalti untuk Bayern.

Robben dipercaya jadi eksekutor. Tak tampak ada keraguan dari wajahnya. Apalagi ia punya rekor yang cukup mantap sebagai eksekutor penalti sejak bergabung Bayern: Mencetak 7 gol dari 7 kesempatan.

Nahas, penalti Robben gagal berbuah gol setelah bola sepakannya ditangkap oleh Weidenfeller. Nasibnya makin apes setelah dirundung oleh bek Dortmund, Neven Subotic, tepat setelah kejadian.

“Barangkali ini salah satu kejadian yang buruk yang akan menimpa Anda saat bermain sepak bola,” ujar Robben. “Saya memang sedih, tapi ini tidak akan membuat saya kapok menjadi eksekutor penalti lagi.”

Kegagalan mengeksekusi penalti tersebut adalah satu perkara menyedihkan yang diingat Robben sepanjang kariernya. Namun, jauh sebelum peristiwa tersebut ada hal yang kerap mengganggu pikirannya: Cedera.

Berdasarkan penelusuran Sportnieuws, Robben mulai akrab dengan cedera sejak berkarier di klub profesional keduanya, PSV Eindhoven. Cedera tersebut mula-mula terjadi saat PSV menghadapi AJ Auxerre di ajang Liga Europa (dulu bernama Piala UEFA) 2004.

Robben mengalami cedera hamstring pada laga tersebut. Menurutnya, cedera tersebut memang tidak terlampau parah tapi memiliki dampak amat besar terhadap kariernya, termasuk absen dalam 55 pertandingan.

Sepanjang kariernya, Robben absen lebih dari 200 pertandingan karena cedera lain. Tak heran, ia sempat dijuluki ‘Man van Glas’ atau ‘Si Kaki Kaca’ karena seringnya ia absen karena mengalami cedera.

***

Robben menjadi salah satu pemain yang diminta oleh Guus Hiddink saat ia diberi tawaran untuk menangani PSV Eindhoven pada 2002. “Ia salah satu pemain sayap dengan bakat terbesar yang pernah saya lihat,” kata Hiddink.

Keputusan Hiddink membawa Robben berbuah manis. Pada musim perdananya berseragam PSV, Robben tampil sebanyak 33 kali dan mencetak 12 gol. Ia makin fenomenal setelah memberikan gelar juara Eredivisie ke-17 untuk klub tersebut.

Satu pelajaran yang didapatkan Robben dari kepemimpinan Hiddink adalah gaya cut inside. Sebelumnya, ia lebih banyak ditempatkan di sisi kiri sebagai winger klasik mengingat kaki kirinya lebih kuat.

Cut inside adalah gerakan pemain dari sisi lapangan untuk masuk ke area tengah. Gaya ini biasanya dilakukan oleh pemain yang kaki terkuatnya berbeda dengan area bermainnya. Misal pemain dengan kaki terkuat sebelah kanan bermain di lapangan sebelah kiri.

Dengan melakukan cut inside, pemain jadi punya semakin banyak opsi untuk melakukan serangan. Mereka tidak hanya dapat mengirimkan umpan silang, tapi juga melepaskan percobaan langsung ke arah gawang lawan.

Dengan begitu, si pemain bisa melepaskan sepakan dengan kaki terkuatnya. Ruang tembak si pemain juga menjadi lebih luas jika dibandingkan dengan pemain berkaki kiri di sisi kiri (atau berkaki kanan di sisi kanan). Ini yang menyebabkan para inverted winger yang biasa melakukan cut inside menjadi begitu berbahaya.

Musim 2003/04 jadi musim perdana Robben menggunakan cut inside dengan rutin. Satu cut inside yang ia lakukan bahkan terus diingat oleh pendukung PSV karena berhasil berbuah gol dan menjadi gol terakhirnya di klub tersebut.

Saat pindah ke Chelsea, Robben kembali diandalkan untuk melakukan cut inside. Jose Mourinho, Pelatih Chelsea saat itu, menempatkan Robben di sisi kanan lapangan. Sementara, sisi kiri, ditempati pemain berkaki kiri lain, Damien Duff.

Keahlian Robben dalam melakukan cut inside sempat tak terlihat saat ia bergabung dengan Real Madrid pada musim 2007/08. Saat itu, ia lebih banyak dipasang di sisi sebelah kiri. Semua berubah sejak ia memutuskan menerima pinangan Bayern di 2009/10.

Dipimpin Louis van Gaal, Robben dan Ribery sama-sama menjadi senjata Bayern dari tepi. Robben di sebelah kanan dan Ribery, yang kaki kanannya lebih kuat, dari kiri. Mereka sama-sama mengandalkan cut inside saat sudah memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap peran pemain lain, kombinasi keduanya terbilang mengerikan; 8 gelar Bundesliga, 5 gelar DFB Pokal, dan satu juara Liga Champions jadi bukti magisnya peran Robben dan Ribery.

***

Robben adalah buah dari bakat dan kerja keras. Sejak kecil, ia dikenal punya lari yang di atas rata-rata. Kemampuannya mengolah bola jauh pun lebih baik ketimbang anak seusianya.

Ayahnya, Hans, adalah salah satu pebisnis yang banyak usahanya berkaitan dengan sepak bola. Pada usia 5 tahun, ia bergabung dengan akademi sepak bola milik klub VV Bedum. Di luar klub ia mempelajari metode latihan bernama Coerver Method.

Metode latihan tersebut dikembangkan oleh pelatih sepak bola asal Belanda, Wiel Coerver. Ia dipercaya punya efek untuk meningkatkan kemampuan teknis pemain muda untuk kelak dapat menjadi pemain kelas dunia.

Coerver Method terbukti berhasil mengangkat kemampuan Robben. Menurut Sportwereld, semasa kecil, melihatnya mencetak lebih dari 5 gol dalam satu pertandingan adalah hal yang biasa. Ia bahkan mampu membukukan 18 gol saat Bedum menang 20-0 di satu laga.

Pada usia 12 tahun, Robben bergabung FC Groningen. Pemanggilan ini membuatnya makin mantap memilih jalan untuk hidup di sepak bola. Ia pun meninggalkan sekolah formal untuk fokus pada perkembangan kariernya.

Robben menghabiskan 4 tahun di tim junior Groningen. Memasuki musim 1999/00, ia didaftarkan oleh pelatih Jan van Dijk di tim utama. Debut Robben baru terjadi pada musim 2000/01 dalam laga melawan RKC Waalwijk. Ia diturunkan pada menit ke-79 setelah menggantikan Leonardo Dos Santos.

Meski telah melanglang buana ke berbagai penjuru Eropa, Robben tak pernah melupakan Groningen. Sejak bergabung Chelsea, ia tak jarang untuk pulang dan menyaksikan Groningen bertanding di Oosterpark.

Beragam cedera yang menghantam Robben selama bermain untuk Bayern membuatnya karib dengan dedengkot suporter Groningen. Dalam wawancara kepada De Telegraaf, Robben mengakui bahwa alasannya menganulir keputusan pensiunnya pada 2019 lalu adalah suporter Groningen.

“Banyak suporter Groningen memberikan saya surat setelah saya pensiun. Namun, ada seorang kakek yang mengirimkan email dan berkata, ‘Maukah Anda kembali bermain di Groningen bersama cucu saya?” kata Robben.

Robben tersentuh melihat pesan tersebut. Tidak lama kemudian, ia memutuskan kembali dari pensiun dan mengenakan lagi seragam Groningen.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.