Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Kunci Inzaghi dan Lazio Terbang Tinggi

Foto: Instagram @official_sslazio

Simone Inzaghi dipilih tanpa diberi beban dan ekspektasi. Lima tahun berjalan, ia justru membawa Lazio terbang tinggi.

Simone Inzaghi keluar dari ruangan Claudio Lotito dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menduga pertemuannya dengan Lotito saat itu, juga bersama Igli Tare, berakhir dengan sebuah kesepakatan besar yang berpengaruh pada kariernya sebagai pelatih.

Beberapa saat setelah pertemuan tersebut, mereka meresmikan Inzaghi sebagai pelatih baru Lazio. Posisi pelatih lowong karena pelatih sebelumnya, Marcelo Bielsa, mundur karena Lotito dan Tare gagal mendatangkan tujuh target yang diinginkan oleh pelatih asal Argentina tersebut.

Pelatih Lazio bukan titel baru untuk Inzaghi. Pada musim sebelumnya, yakni 2015/16, ia mendapatkan titel tersebut. Bedanya, jika saat itu ia hanya berstatus interim, musim selanjutnya ia diberi kontrak permanen.

Perjalanan Inzaghi bersama Lazio lantas dimulai. Dari satu pertandingan ke pertandingan lain hingga satu kompetisi ke kompetisi lain. Pada akhirnya, tidak ada yang menduga musim 2020/21 menjadi musim kelimanya menukangi Lazio.

Dalam lima musim tersebut, tampak bagaimana Inzaghi menjadi sosok yang super lengkap. Di luar lapangan, ia dicintai suporter karena minim kontroversi. Ia juga diketahui sebagai kawan baik dan panutan para pemain.

Dari sisi manajemen, Inzaghi juga disayangi karena tak pernah banyak meminta. Tak heran, menjelang kontraknya habis pada akhir musim 2018/19, Lotito dan Tare mati-matian mempertahankannya dari sergapan klub-klub besar macam Juventus dan AC Milan.

Hubungan baik tersebut berhasil ditambah Inzaghi dengan torehan prestasi yang cukup lumayan. Ia tercatat dalam buku sejarah Lazio karena berhasil membawa tiga piala dan menjadi pelatih pertama sejak Sven-Goran Eriksson melakukannya pada akhir 1990-an.

Inzaghi sebetulnya boleh-boleh saja menyombongkan diri mengingat prestasi dan hubungan yang ia bangun. Namun, di balik itu, ia punya satu masalah yang kerap mengganggu: Tidak mampu membuat Lazio sebagai tim yang konsisten secara penampilan.

Penyebab masalah ini bermacam-macam. Mulai dari kualitas tim utama dan cadangan hingga penampilan buruk yang kerap muncul tanpa diduga. Alhasil, sejak mulai memegang Lazio, ia seringkali gagal mempertahankan hal-hal bagus.

Beragam cara sudah dicoba Inzaghi dan Tare, mulai dari belanja dengan nilai total yang cukup besar hingga bongkar pasang taktik. Namun, ternyata hasilnya nihil. Inkonsistensi dan terpeleset di klasemen masih sering terjadi.

Saat cara tersebut tidak membuahkan hasil, mereka beradaptasi dengan hal yang sebetulnya menjadi pegangan kepemimpinan Lotito: Hanya membeli pemain yang sekiranya benar-benar dibutuhkan oleh tim.

Metode tersebut mulai dilakukan pada musim 2020/21. Dengan semakin sedikit pemain yang masuk, ditambah sedikitnya pemain yang keluar, Lazio diharapkan tidak mengulangi siklus buruk tersebut.

Awalnya, cara tersebut terlihat gagal memperbaiki Lazio. Mereka keok saat menjamu Udinese dan Hellas Verona. Mereka juga nyaris pulang dengan kekalahan saat bersua Torino. Untungnya, mereka dapat mencetak dua gol di pengujung pertandingan.

Seiring berjalannya waktu, cara ini berhasil membuat Lazio tampil lebih baik. Mereka mampu menyapu enam pertandingan terakhir di Serie A dengan tiga poin. Satu kemenangan bahkan mereka dapatkan dari rival sekota, AS Roma.

Tren enam kemenangan beruntun ini lantas menyamai tren terbaik Inzaghi yang terjadi pada musim 2017/18. Satu kemenangan pada musim tersebut bahkan didapatkan oleh Lazio saat melawat ke kandang Juventus.

Satu hal yang membuat Lazio tampil konsisten adalah peran Pepe Reina. Dari enam pertandingan tersebut, kiper berusia 38 tahun tersebut tampil dalam lima pertandingan dan hanya kebobolan dua kali.

Kedatangan Reina tidak lepas dari strategi transfer Lazio yang berfokus pada minimnya jarak antara kualitas pemain inti dan cadangan. Saat pertama kali datang, ia memang hanya disiapkan sebagai pengganti Thomas Strakosha.

Namun, siapa sangka Reina justru menggusur takhta Strakosha? Per fbref, Reina membukukan 76,4% penyelamatan per pertandingan. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang Strakosha yang hanya memiliki rasio penyelamatan per pertandingan 59,3%.

Kunci Lazio tidak hanya Reina, tetapi juga pada Sergej Milinkovic-Savic. Di usia yang kini menginjak 25 tahun, Milinkovic-Savic kian matang. Ia, bersama Ciro Immobile dan Luis Alberto, bahkan menjadi pemain yang paling banyak diturunkan sebagai starter oleh Inzaghi.

Sebagai gelandang box to box, catatan Milinkovic-Savic membaik musim ini, salah satunya dari aksi bertahan yang ia lakukan. Per musim lalu, ia hanya melakukan 0,56 per laga dengan keberhasilan 22,4%. Pada musim ini, ia melakukan 0,88 tekel dengan tingkat keberhasilan 28,3%.

Dari kontribusi terhadap gol, pemain Timnas Serbia tersebut memiliki kontribusi terhadap gol sebanyak 0,33 per 90 menit pada musim lalu. Per musim ini, angka tersebut meningkat menjadi 0,55 per 90 menit.

Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah Ciro Immobile. Immobile memang tampil spektakuler musim lalu. Total 36 gol ia bukukan dari 37 penampilan di Serie A. Hal yang membuat lebih baik adalah ia lebih konsisten musim ini.

Masalah Immobile musim lalu adalah kerap menemui kebuntuan saat dibutuhkan. Meski angka mencetak golnya terbilang tinggi, ada beberapa momen ia gagal mencetak gol dalam pertandingan secara berurutan.

Sejak absen karena kartu merah pada pekan keempat, Immobile tampil amat efisien. Jika gagal mencetak gol hari ini, pasti pada pertandingan berikutnya ia menorehkan namanya di papan skor.

Kalaupun Immobile gagal, Lazio masih memiliki senjata dalam diri Luis Alberto. Dibandingkan musim lalu, mantan pemain Liverpool tersebut memiliki tugas yang berbeda musim ini. Sebelumnya ia tampil sebagai kreator serangan, musim ini ia dituntut untuk lebih banyak berada di kotak penalti dan menyelesaikan peluang.

Hingga pada pekan ke-21 musim lalu, Alberto hanya mampu mencetak 3 gol. Dari jumlah pekan yang sama musim ini, ia telah membukukan 6 gol.

Di luar individu-individu tersebut, Inzaghi memang tak benar-benar mengubah taktiknya. Ia tetap menggunakan pola 3-5-2, mengedepankan permainan agresif, dan menjadikan pemain sayap sebagai kunci permainan.

Satu perbedaan yang signifikan hanyalah lini depan yang kian cair dan saling mengisi. Meski masih bergantung pada Immobile, kini Lazio punya banyak senjata untuk menjebol lawan. Entah itu Milinkovic-Savic, Alberto, Joaquin Correa, atau Felipe Caicedo.

Serie A musim 2020/21 masih cukup panjang. Ada 17 pertandingan tersisa yang harus dimaksimalkan oleh Inzaghi agar Lazio dapat beranjak--atau setidaknya bertahan--dari posisi mereka sekarang.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now