Liverpool 101

Foto: @LFC

Liverpool meraup 2 gelar dan berpeluang menambah 2 di musim ini berkat perubahan dan penyesuaian yang dilakukan Juergen Klopp dalam taktiknya. Apa saja?

Liverpool juara lagi. Kemenangan atas Chelsea di final Piala FA 2021/22 membuat pasukan Juergen Klopp sudah mengoleksi dua gelar musim ini.

Pencapaian tersebut jelas melebihi ekspektasi, terlebih Liverpool masih berpeluang mendapat dua gelar tambahan dari Premier League dan Liga Champions. Orang-orang, terutama di awal musim, mungkin tak akan menyangka bahwa The Reds bakal setangguh ini.

Namun, yang sepertinya orang-orang lupa adalah fakta bahwa Liverpool sebenarnya tidak menurun. Kejatuhan mereka musim lalu murni karena cedera. Ketika di musim ini pilar-pilar mereka bisa terus berada di lapangan, laju Liverpool tak terhenti. Mereka susah betul dikalahkan.

Tim ini memang sudah matang bersama Klopp. Banyak pemain sudah lebih dari semusim dan sudah paham betul dengan kemauan sang manajer. Pemain baru seperti Ibrahima Konate dan Luis Diaz pun bisa cepat nyetel. Alhasil Liverpool tak perlu waktu lama untuk kembali ke performa semula selepas musim yang bobrok.

Belum lagi Klopp melakukan beberapa penyesuaian yang membuat Liverpool makin berbahaya. Beberapa detail taktik yang mampu membuat Jordan Henderson cs. menemukan solusi dari kelemahan-kelemahan yang ada pada musim sebelumnya, kelemahan yang membuat Liverpool makin sulit takluk.

2-4-4 yang Rapat

Dalam mode menyerang, akan mudah melihat Liverpool memiliki pola 2-4-4, terutama ketika aliran serangan sedang dibangun dari bawah. Dua bek tengah akan berdiri sejajar, di depannya kemudian ada dua gelandang tengah (biasanya Fabinho dan Thiago) yang diapit dua full-back. Di depan, satu gelandang akan masuk ke half-space atau mengisi sisi sayap untuk menggenapi trio penyerang.

Dengan pola seperti ini, opsi umpan akan terus ada. Ini dikarenakan jarak antarpemain jadi tak terlalu jauh. Setiap koridor lapangan (flank, half-space, tengah) pun terisi. Liverpool bisa mengarahkan serangan ke mana saja: Direct langsung ke depan ataupun melebar lewat samping terlebih dahulu.

Karenanya, mereka punya banyak opsi. Kita bisa melihat Liverpool tiba-tiba menyerang dengan direct dan cepat sebagaimana keahlian mereka atau mereka bisa menunjukkan kesabaran dalam membongkar lawan. Liverpool sendiri merupakan tim paling progresif di Premier League. Per 90 menit, umpan-umpan yang dilepaskan mereka mengarah ke depan dengan jarak 3115 meter.

Ketika nantinya bola sudah sampai ke sepertiga akhir area lawan, pola Liverpool bisa berubah menjadi 2-2-6 atau 2-3-5. Tujuannya untuk memperbanyak opsi di depan, agar kecairan terus terjaga. Ketika lawan rapat, mereka bisa memperlebar dengan bermain di area sayap. Ketika lawan lebar, mereka akan memanfaatkan half-space atau celah antarpemain. Itu karena akan selalu ada opsi di sana.

Switch Play Cepat

Ketika menghadapi lawan yang menumpuk pemain dan bertahan dengan rapat, Liverpool juga punya solusinya musim ini. Itu adalah switch play cepat. Mereka akan memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya dengan umpan lambung terukur. Musim ini aktor yang acap melakukannya adalah Thiago.

Kehadirannya di lini tengah adalah untuk membuat progesivitas Liverpool berjalan cepat. Thiago akan jadi pengarah jalur serangan. Ia bisa melakukan switch ke depan dengan cepat karena ia punya kualitas umpan yang amat baik. Persentase umpan menengah (14-27 meter) miliknya ada di angka 92,5%. Persentase umpan jauh (lebih dari 30 meter) yang dicatatkannya pun ada di angka 83,1%. 

Selain Thiago, Liverpool masih punya Trent Alexander-Arnold dan Virgil van Dijk yang bisa jadi aktor dalam melakukan switch play. Joel Matip juga bisa diandalkan soal ini. Tak heran kalau Liverpool bisa menang saat menghadapi tim-tim dengan pertahanan rapat musim ini.

Salah satu guna dari melakukan switch play cepat adalah untuk mendapatkan momentum saat lawan belum bertahan terlalu dalam. Dengan begitu, masih banyak ruang kosong yang bisa dimanfaatkan pemain depan Liverpool. Pertahanan lawan pun bisa disorganisasi karena mereka acap tak siap saat diserang secara tiba-tiba.

Inverted Full-Back

Sudah bukan rahasia lagi kalau Klopp membuat Alexander-Arnold jadi full-back yang lebih modern musim ini. Sang pemain tak cuma ditugaskan untuk menyisir sisi tepi saja, tapi juga diberi kebebasan untuk menusuk ke tengah. Entah itu untuk jadi opsi umpan, mengubah arah serangan, mendapat ruang tembak, atau mengirim umpan kunci ke depan.

Hal tersebut lantas membuat Alexander-Arnold makin kreatif. Sebab, ia makin punya banyak ruang. Musim ini, pemain bernomor 66 itu punya catatan expected assist (xA) 10,5 dengan total 12 assist. Ia juga mencatat rerata 2,74 umpan kunci dan 7,17 umpan ke kotak penalti lawan per 90 menit. Catatan-catatan itu masuk daftar teratas di Premier League.

Ketika musim-musim sebelumnya orang-orang sering bilang bahwa salah satu masalah utama Liverpool adalah ketiadaan playmaker, di musim ini Alexander-Arnold menjawabnya dengan lugas. Kehadirannya di peran dan tempat-tempat baru berhasil mendongkrak kreativitas tim. FYI, Liverpool adalah tim dengan kualitas penciptaan peluang (yang diukur via xA) terbaik di Premier League musim ini.

Bola Mati

Senjata rahasia Liverpool musim ini. Di Premier League saja, total sudah ada 17 gol yang mereka ciptakan dari situasi bola mati. Situasi ini memang kerap menyelamatkan mereka dari kebuntuan. Beberapa kali Liverpool unggul margin gol atas lawannya berkat proses ini.

Dua asisten Klopp, Pep Ljinders dan Peter Krawietz, adalah sosok di balik keberhasilan ini. Dalam sesi latihan, mereka biasanya menambahkan rutinitas bola mati yang sesuai dengan karakteristik lawan yang bakal dihadapi. Dan tak cuma soal teknis saja, tapi juga perihal meningkatkan fokus pemain di situasi tersebut.

Yang menarik, pola set-piece Liverpool sebenarnya tak bertumpu pada kuantitas. Dalam arti mereka tak coba menumpuk banyak pemain di dalam kotak penalti lawan. Biasanya hanya akan ada empat sampai lima pemain di sana. Pada merekalah Liverpool kemudian bertumpu, tepatnya pada pergerakan dan kejelian menebak arah bola jatuh. Ini juga didukung dengan eksekutor yang mumpuni, biasanya Alexander-Arnold, Andrew Robertson, atau Kostas Tsimikas.

Selain itu, Liverpool akan menyiapkan tiga sampai empat pemain di luar kotak penalti. Tujuannya adalah untuk memenangi second ball. Jadi ketika bola hasil dari set-piece dibuang lawan, ada pemain Liverpool yang siap mengambil bola tersebut kembali. Bisa kemudian diteruskan dengan umpan lanjutan ke kotak penalti atau sekadar mengamankan penguasaan bola.

Garis Pertahanan Tinggi

Ini sebenarnya bukan hal baru karena sudah diterapkan sejak bermusim-musim silam. Namun, musim ini penerapan garis pertahanan tinggi Liverpool makin paripurna. Setidaknya kita tak melihat lagi garis pertahanan mereka diobok-obok lawan seperti laga vs Aston Villa musim lalu dan ini ada kaitannya dengan poin pertama.

Seperti yang sudah disebutkan, Liverpool amat bergantung pada rapatnya jarak antarpemain. Juga dengan rapatnya jarak antarlini. Pemain belakang akan berdiri tak jauh dari pemain tengah dan depan. Itu artinya, garis pertahanan tinggi harus selalu diterapkan.

Garis pertahanan tinggi akan membuat Liverpool lebih mudah meretensi penguasaan bola. Selain karena proses distribusi akan lebih mudah, mereka bisa cepat merebut bola kembali dari lawan. Ini karena akan selalu ada pemain untuk meng-cover pemain lain yang kehilangan bola. Belum lagi karena ruang buat lawan dipersempit berkat kerapatan itu tadi.

Selain itu, garis pertahanan tinggi sangat penting buat tim yang melancarkan pressing secara kolektif seperti Liverpool. Ini untuk memastikan bahwa tak ada ruang kosong di tengah yang tercipta karena beberapa pemain naik ke depan untuk menekan lawan. Ruang di tengah itu akan diisi pemain belakang dan ruang yang ada hanya ruang di belakang lini pertahanan.

Memang Liverpool beberapa kali kebobolan saat lawan melancarkan serangan cepat via transisi menyerang. Itu menghajar ruang kosong di belakang pertahanan mereka. Namun, mereka acap berhasil menjebak lawan yang ingin masuk ke dalam ruang itu lewat offside trap. Musim ini, Liverpool berhasil memerangkap lawannya 143 kali ke posisi offside. Keberhasilan terbanyak di liga.

Awareness Van Dijk yang dipadukan dengan kesiagaan Matip atau Konate bisa menangkal ancaman-ancaman tersebut. Makin lama mereka juga makin fasih untuk tak kebobolan. Buktinya sejak 1 Januari 2022, Liverpool cuma kebobolan delapan kali di liga, sebuah peningkatan yang membuat mereka ada di posisi sekarang.

***

Tim yang berkembang jadi lebih baik adalah tim yang bisa selalu menemukan solusi untuk menghapus masalah-masalah yang mereka miliki. Dan itu, biasanya, karena tim tersebut punya perencanaan yang baik dan memiliki pelatih/manajer mumpuni. Liverpool menunjukkan dan punya itu semua.

Karenanya, lagi-lagi saya harus menuliskan ini, pencapaian yang mereka raih di musim ini bukanlah sebuah kejutan. Itu adalah hasil dari perubahan atau penyesuaian yang dilakukan Klopp untuk makin menyempurnakan taktik dan strateginya. Serta jangan sampai lupa: Tim ini memang sudah merekah dari sananya, dari tiga atau dua tahun silam.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.