Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Liverpool vs Milan dalam Tiga Babak

Ilustrasi: Arif Utama.

Liverpool dan Milan akan kembali bersua di Liga Champions musim ini. Namun, mari kita nostalgia dulu akan dua pertemuan bersejarah mereka: Istanbul dan Athena.

Dalam historinya, Liverpool dan AC Milan hanya pernah dua kali bertemu. Namun, dua pertemuan itu terjadi pada puncak tertinggi pertandingan antarklub: Final Liga Champions. Yang lebih membuat istimewa, dua pertemuan itu menghasilkan dua laga yang begitu ikonik.

Liverpool dan AC Milan memang sama-sama jagoan Eropa. Keduanya sama-sama, mengutip kata orang-orang, punya DNA Eropa. Pada pertemuan pertama, kedua tim total sudah mengumpulkan 10 trofi Liga Champions. Pada pertemuan kedua, angka itu bertambah satu.

Oleh karena itu, tak berlebihan kalau menyebut bahwa, saat itu, final Liga Champions memang jadi tempat terbaik bagi keduanya untuk bersua.

Musim ini, kedua tim akan kembali bertemu di ajang Liga Champions. Akan tetapi, bukan di partai final. Liverpool dan AC Milan sudah harus bersemuka sejak fase grup. Sebuah hal yang baru buat keduanya.

Memang, situasi sudah berubah. Ada banyak hal yang dilalui Liverpool dan Milan sejak pertemuan terakhir 2007 silam. Cerita sebenarnya mirip. Mereka sempat terpuruk sebelum akhirnya berhasil bangkit. Namun, yang satu bangkit dan meraih kejayaan lebih cepat dari yang lain.

Well, menyambut pertemuan ketiga (dan juga keempat) mereka, kami ingin mengajak kalian nostalgia. Mengingat kembali apa yang terjadi pada dua pertemuan sebelumnya. Mengingat dua laga historis yang tak pernah bisa dilupakan para penikmat sepak bola.

Babak I: Istanbul

Liverpool datang ke Istanbul sebagai kuda hitam. Musim 2004/05 adalah musim pertama mereka kembali ke Liga Champions setelah terakhir kali mentas di kompetisi itu pada musim 2002/03--yang itu pun hanya sampai fase grup saja.

Mereka juga sedang dalam masa peralihan. Rafa Benitez baru datang sebagai pelatih anyar. Bintang mereka, Michael Owen, baru saja pergi ke Real Madrid. Sebagai ganti, mereka mendatangkan nama berpengalaman macam Fernando Morientes dan Luis Garcia, juga pemain potensial macam Djibril Cisse dan Xabi Alonso.

Langkah mereka menuju partai final cukup meyakinkan. Raksasa Italia, Juventus, ditumbangkan pada babak perempat final. Di semifinal, Chelsea-nya Jose Mourinho yang saat itu sedang tampil perkasa mampu disingkirkan. Liverpool pun tiba di Istanbul.

Akan tetapi, status mereka saat itu adalah kuda hitam. Sebab, Liverpool menghadapi AC Milan yang dua tahun sebelumnya baru meraih trofi Liga Champions keenam mereka. Belum lagi, Milan amat bertabur bintang. Kaka, Andrea Pirlo, Paulo Maldini, Alessandro Nesta, Hernan Crespo, sampai Andriy Shevchenko ada di tim. Mereka semua turun jadi starter.

Sementara starter Liverpool boleh dibilang kalah pamor. Lagi pula, kita tak mungkin membandingkan Djimi Traore atau Steve Finnan dengan Cafu atau Maldini, kan? Perbedaan kualitas itu terlihat jelas saat babak pertama berakhir. Milan sudah menang 3-0 berkat gol cepat Maldini dan dua gol cantik Crespo.

Foto: Wikimedia Commons

Namun, sepak bola katanya tercipta untuk mereka yang berani. Dan Benitez adalah orang yang berani. Ia berani mengganti satu pemain belakang, Finnan, dan memasukkan pemain tengah, Dietmar Hamann. Pola diubah dari empat bek jadi tiga bek. Tujuannya sederhana, Benitez ingin lini tengahnya mematikan lini tengah Milan yang tampil semena-mena di babak pertama.

Aliran bola pampat, Milan sulit menyerang. Kini giliran Liverpool yang menyerang balik. Dari sayap, dari tengah. Semua diupayakan. Maka ketika Steven Gerrard berhasil mencetak gol pertama pada menit 54, Liverpool tak menyia-nyiakan kesempatan. Dua gol berikutnya hadir dalam kurun waktu enam menit saja. Menit 60, skor sudah 3-3.

Milan kemudian balik menyerang, mendapat banyak peluang. Serginho, Jon Dahl Tomasson, sampai Rui Costa kemudian dimasukkan. Namun, kegigihan Jerzy Dudek, Jamie Carragher, dan Sami Hyypia membuat tak ada lagi gol yang tercipta hingga babak tambahan berakhir.

Di babak adu penalti, kita semua tahu ceritanya. Serginho, Pirlo, dan Shevchenko gagal menunaikan tugasnya dengan sempurna. Sementara di kubu Liverpool, hanya John Arne Riise yang gagal. Pertandingan berakhir untuk kemenangan Liverpool. Orang-orang kemudian menyebut laga ini sebagai magis di Istanbul.

Babak 2: Athena

Milan datang ke partai final ini masih dengan status sebagai unggulan. Mereka mencapai tiga final Liga Champions dalam kurun waktu lima musim. Secara skuad, tim mereka masih bertabur bintang juga. Memang Andriy Shevchenko sudah pergi, tapi mereka masih punya Filippo Inzaghi dan Alberto Gilardino.

Kaka pun sedang gila-gilanya di musim ini. Sebelum final di Athena, ia sudah mencetak 10 gol. Jumlah yang kemudian membuatnya jadi top-skorer turnamen. Belum lagi ada Pirlo, Nesta, Massimo Oddo, sampai Gennaro Gattuso yang berstatus sebagai juara dunia bersama Italia.

Di perjalanan sebelum partai final, mereka juga menyingkirkan tim kuat macam Bayern Muenchen dan Manchester United. Jadi modal kuat buat mereka balas dendam kepada Liverpool setelah kekalahan di Istanbul dua tahun sebelumnya.

Liverpool sendiri masih dalam fase peralihan. Nama-nama seperti Luis Garcia, Milan Baros, Vladimir Smicer, sampai Djimi Traore yang tampil di Istanbul sudah tak ada dalam skuad final. Hyppia, Dudek, dan Harry Kewell sudah tak berstatus sebagai starter lagi.

Foto: Wikimedia Commons

Memang Liverpool kedatangan Pepe Reina, Daniel Agger, Javier Mascherano, Dirk Kuyt, dan Peter Crouch yang meyakinkan. Namun, siapa yang percaya bahwa ada tim yang memenangi Liga Champions dengan Jermaine Pennant dan Boudewijn Zenden di sisi sayap? Rasanya tak ada.

Milan tampil lebih dewasa di laga ini. Mereka tak mau tergesa-gesa, hati-hati dengan Liverpool. Beberapa kali pressing Liverpool memang merepotkan. Namun, pasukan Carlo Ancelotti bisa meloloskan diri dengan baik. Dan akhirnya mereka berhasil unggul lewat sebuah ketidaksengajaan.

Milan mendapatkan tendangan bebas di depan kotak penalti Liverpool. Tinggi sepakan Pirlo, sang eksekutor, tanggung. Tak rendah, tapi juga tak tinggi-tinggi amat. Itu yang membuat sepakannya bisa mengenai bahu Inzaghi dan akhirnya masuk ke gawang Reina. Milan unggul.

Jika Gerrard jadi kunci magi Liverpool di Istanbul, Inzaghi adalah kunci keajaiban Milan di Athena. Pada menit 82 ia mencetak satu gol lagi yang menunjukkan betapa orang-orang salah: Inzaghi tidak terlahir offside. Tuhan mengaburkan batasan offside hanya untuknya.

Ia meloloskan diri dari garis pertahanan Liverpool, menyambut umpan Kaka, menggocek Reina, dan menceploskan bola dengan sempurna. "Pippo Inzaghi, the Greek god." Begitu kata komentator usai Inzaghi menciptakan gol keduanya.

Kendati di pengujung pertandingan Liverpool mampu mencetak gol melalui Kuyt, laga sudah terlanjur selesai. Seperti rindu, dendam Milan dua tahun lalu berhasil dibayar tuntas. Mereka berjaya di Athena, mendapatkan trofi Liga Champions ketujuh dalam sejarah panjangnya.

Babak 3: Anfield dan San Siro

Pertandingan ketiga dan keempat akan tercipta musim ini. Tidak ada laga final, yang ada hanya dua laga fase grup. Situasi pun sudah jauh berbeda ketimbang dua pertemuan sebelumnya.

Saat ini, Liverpool yang berstatus lebih matang dan penuh bintang. The Reds adalah jawara Eropa tiga tahun lalu. Juara Inggris tahun 2020 silam. Sementara Milan baru mencicipi lagi ajang Liga Champions setelah terakhir kali bermain di kompetisi ini pada musim 2013/14.

Skuad Liverpool dihuni oleh nama-nama yang sudah teruji kualitasnya di level Eropa, sedangkan Milan diisi oleh banyak pemain muda. Liverpool memiliki Virgil van Dijk, Mohamed Salah, Alisson Becker, hingga Fabinho yang sedang berapi-api.

Sementara Milan bakal mengandalkan Sandro Tonali, Fikayo Tomori, Theo Hernandez, Franck Kessie, sampai Brahim Diaz yang sama-sama potensial dan menjanjikan musim ini. Mungkin secara skuad tak seimbang, tapi performa kedua tim juga sedang sama baiknya di awal musim ini.

Liverpool mengumpulkan 10 poin dari empat laga awal Premier League. Mereka belum pernah kalah dan cuma kebobolan satu. Milan, sementara itu, mampu menyapu bersih tiga laga awal Serie A dengan kemenangan. Mereka juga baru kebobolan satu gol sejauh ini.

Liverpool yang agresif akan berhadapan dengan Milan yang klinis. Dua tim yang sama-sama suka melancarkan pressing dengan intensitas tinggi dan bermain direct dalam membangun serangan akan berjumpa. Jadi, kita masih bisa mengharapkan bahwa dua pertemuan kedua tim akan berlangsung seru dan alot.

Dan laga ini bukan hanya tentang siapa yang akan jadi pemenan, tapi juga siapa yang bisa menabur lebih banyak drama dan intrik agar rivalitas kedua tim tetap berjalan menarik. Agar pertemuan Liverpool vs Milan tetap dikenang sebagai pertemuan yang tak pernah biasa-biasa saja.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now