Luke Shaw Menjawab Keraguan

Setelah dihujani rentetan kritik, termasuk dari Jose Mourinho, secara perlahan Luke Shaw mampu menunjukkan kualitas yang membuat Manchester United merekrutnya pada 2014 silam.

Gareth Southgate punya dua opsi untuk mengisi pos bek kiri pada laga perdana Euro 2020. Pertama, ia bisa memilih Ben Chilwell yang memang diprediksi banyak orang bakal mengisi pos itu. Toh, Chilwell tampil ciamik sepanjang musim. Raihan trofi Liga Champions bersama Chelsea jadi bukti.

Kedua, ada Luke Shaw. Meski performanya tak seimpresif Chilwell, setidaknya pemain Manchester United ini adalah bek kiri tulen. Tidak seperti pemain lain yang akhirnya Southgate pilih sebagai bek kiri pada laga melawan Kroasia tersebut: Kieran Trippier, seorang bek kanan.

Inggris berhasil meraih kemenangan 1–0 pada laga itu tetapi rentetan pertanyaan terus berdatangan setelahnya. Mengapa Trippier dan bukan Chilwell atau Shaw? Lantas, di hadapan media dan fans yang kebingungan, Southgate menjelaskan semua alasannya.

“Dengan Kieran, kami merasa memiliki pemain yang sangat berpengalaman dan punya kemampuan satu lawan satu yang bagus, terutama untuk menghentikan umpan silang yang masuk. Komunikasi, kepemimpinan, dan pengalamannya akan membantu kami,” ujar Southgate.

Semua yang Southgate ucapkan terbukti. Sepanjang laga, kontribusi Trippier dari sisi defensif sangat dominan. Lain halnya dengan aspek ofensif. Meski berhasil melepas satu tembakan, tak sekalipun Trippier mengirimkan crossing sukses, hal yang bisa dipahami mengingat kaki kiri bukanlah kaki terkuatnya.

Barangkali itu yang jadi alasan Southgate memilih Shaw pada laga berikutnya melawan Skotlandia. Bukannya muncul perubahan, walau demikian, yang terjadi malah sebaliknya. Kedua sisi pertahanan Inggris yang kali ini dikawal Shaw di sebelah kiri dan Reece James di sebelah kanan tampil memble.

Hasil imbang 0–0 yang Inggris peroleh adalah gambaran dari minimnya kontribusi ofensif mereka. Berbagai kritik lantas berdatangan, khususnya ke arah Shaw. Coba tebak siapa salah satu yang paling gencar melancarkan kritik? Yep, Jose Mourinho, eks pelatih Shaw di Manchester United.

“Saya tidak melihat adanya umpan dari Shaw dan James di sisi sayap. Saya tidak melihat adanya perkembangan. Saya tidak melihat mereka maju ke depan. Saya kira mereka bagus, tetapi mereka harusnya bisa memberi lebih dari itu,” tutur Mourinho.


Shaw kembali tampil sejak awal saat melawan Republik Ceko. Kali ini, Inggris berhasil meraih kemenangan. Namun, lagi-lagi, Shaw jadi sasaran kritik karena dianggap tidak tampil maksimal. Lagi-lagi, Mourinho-lah yang paling vokal melancarkan kritik. Sekarang, ia mengkritisi eksekusi bola mati Shaw.

“Buatku, ia bukan seorang pemain yang (jago) mengambil bola mati atau berada di kotak penalti untuk memenangi duel udara,” ungkap Mourinho.

Shaw familier dengan segala kritik yang keluar dari mulut Mourinho. Ketika masih bekerja sama di United beberapa musim lalu, ucapan pedas si pelatih adalah makanan sehari-harinya. Tak peduli Shaw tampil bagus atau tidak, kritikan terus saja hadir berdatangan.

Shaw ingat saat Mourinho berkata ‘Dia tampil bagus karena ia bermain dengan tubuhnya, tetapi otaknya otak saya’ ketika eks pemain Southampton itu tampil apik melawan Everton. Dalam waktu berdekatan, Mourinho juga pernah menyebut Shaw ‘tak bisa berjalan dari tempat tidur ke toilet tanpa mematahkan kaki’.

Shaw tak pernah bersuara atas semua kritikan itu. Ketika ide untuk hengkang dari Old Trafford datang, saran yang ia terima dari beberapa kawan dekat hanya satu: Bersabar. Sebab mereka tahu bahwa Mourinho jarang bertahan lebih dari tiga musim di klub mana pun yang ia latih.

Benar saja, Mourinho bahkan tak menyelesaikan musim ketiganya di Old Trafford. Ini tak cuma bikin Shaw merasa terbebaskan, tetapi juga membuat dirinya menjadi lebih berani bersuara. Dalam beberapa kesempatan, ia sesekali membalas komentar pedas Mourinho.

Saat kritikan terkait eksekusi bola matinya di Euro 2020, misalnya, Shaw merespons dengan berkata bahwa Mourinho terlalu terobsesi dengan dirinya.

“Dia terus berbicara soal saya, yang menurut saya cukup aneh. Bahkan beberapa rekan saya bilang ‘masalah dia apa, sih?’ dan ‘kenapa dia terus-menerus berbicara?’. Saya kir dia cuma perlu sedikit beranjak,” ujar Shaw. “Tidak perlu ditutupi, hubungan kami memang tidak baik.”

Shaw sebetulnya pemain berbakat. Ketika United mendatangkannya pada 2014, narasi yang beredar adalah tentang salah satu bek kiri terbaik yang pernah lahir di Inggris. Padahal, usia Shaw waktu itu masih 19 tahun. Padahal, baru dua musim saja ia tampil di Premier League.

Embel-embel terbaik sayangnya tak sejalan dengan karier yang dia jalani. Jangankan tampil apik, untuk turun secara konsisten saja ia kesulitan setengah mampus. Yang justru kita ingat dari Shaw adalah kisah tentang seorang pemain yang memegangi lutut sambil meringis kesakitan.

Adegan itu adalah apa yang kamu saksikan saat mengetikkan ‘daftar cedera terparah sepanjang sejarah’ di Google. Cedera tersebut memang sangat parah yang sampai-sampai sempat mengancam kariernya. Kala itu, menerima tekel horor dari Hectro Morena saat melawan PSV Eindhoven pada 2015.

Tekel brutal itu membuat kakinya patah dan mengharuskannya naik meja operasi. Dampaknya besar dan sangat bisa kita pahami. Secara fisik, Shaw kesakitan setengah mati. Dari segi mental, Shaw hancur berkeping-keping, terutama saat ia diberi tahu soal kemungkinan amputasi.

Nahasnya, Mourinho memilih pendekatan yang super agresif. Seperti biasa, Mourinho yang tahu segalanya berkilah. Dia bilang bahwa semua yang ia lakukan, semua komentar pedasnya, adalah untuk membangkitkan semangat seorang pemuda yang tengah hancur lebur.

Yang barangkali luput dari pandangan Mourinho, Shaw masih sangat muda. Dengan cedera horor yang dia derita, barangkali yang dia butuhkan bukanlah pompaan semangat beraroma pedas ala militer. Yang lebih Shaw butuhkan adalah lengan di bahu dan dorongan semangat yang lebih manusiawi.

Ketika Ole Gunnar Solskjaer datang tak lama setelah Mourinho hengkang, anggapan itu tampaknya benar belaka. Ketimbang Mourinho, Solskjaer memiliki sentuhan yang lebih manusiawi. Menggunakan pengalamannya sendiri, ia bisa lebih memahami apa yang diinginkan si pemain.

Yang seperti itu jauh lebih sesuai untuk pemain yang pernah mengalami momen terburuk seperti Shaw. Orang-orang terdekatnya bahkan bercerita bahwa Shaw masih sangat bergantung pada orang tuanya. Ayahnya, Paul, masih kerap menyaksikan pertandingannya, bahkan hingga ke Kazakhstan.

"Saya tidak ingin tampil seperti saya adalah anak kecil yang tidak bisa menghadapi tekanan karena di klub besar seperti Manchester United, Anda selalu berada di bawah tekanan dan sorotan,” ungkap Shaw.

“Namun, saya sedang tidak percaya diri saat itu (di bawah arahan Mourinho). Saya kehilangan kepercayaan saya. Saya pikir itulah yang berubah dengan Ole. Ia mengatur saya dengan benar dan mendapatkan kepercayaan diri saya kembali. Saya sangat menikmatinya saat ini,” tambahnya.

“Kenikmatan dan kepercayaan diri. Bagi saya, itu adalah dua hal terbesar yang Anda butuhkan di lapangan. Anda membutuhkan keyakinan pada kemampuan Anda untuk tampil di tingkat tertinggi. Saya merasa saya memilikinya sekarang,” lanjutnya.

Dampaknya luar biasa. Musim lalu, Shaw jadi salah satu kunci keberhasilan United finis sebagai runner up Premier League. Catatan satu gol dan lima assist-nya meyakinkan Southgate untuk membawanya ke skuat Inggris sejak terakhir kali pada September 2018.

“Dia tidak bersama kami selama beberapa tahun,” kata Southgate suatu kali. “Anda sering bermain di laga-laga seperti itu dan berusaha untuk tidak membuat kesalahan, alih-alih maju dan berkembang. Dia merasa lebih nyaman di lingkungan sekarang. Dia merasa cocok. Dia nyaman dengan itu.”


Setelah tampil di bawah standar pada laga melawan Skotlandia dan Ceko, Shaw bangkit dengan performa yang jauh lebih baik saat melawan Jerman. Ia membuat Joshua Kimmich tak bisa berbuat banyak sepanjang laga, ia juga terlibat pada gol kedua Inggris yang dibikin Harry Kane.

Menghadapi Ukraina, dominasinya di sisi kiri Inggris semakin kentara. Dia mencetak dua assist untuk gol-gol yang dicetak Harry Maguire dan Harry Kane. Dari dua assist itu, salah satunya berasal dari eksekusi bola mati yang indah, sesuatu yang sebelumnya sempat dikritik habis Mourinho.

Inggris terus melaju hingga ke babak final setelah laga tersebut. Shaw, sementara itu, berhasil mencetak satu gol dan tiga assist secara keseluruhan. Meski lagi-lagi gagal meraih juara, setidaknya catatan itu jadi bukti bahwa Shaw berhasil menjawab keraguan yang selama ini mengarah kepadanya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.