Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Madonnina Melawan

Ilustrasi: Arif Utama.

Madonnina berkisah tentang para pembangkang yang perlawanannya sampai ke lapangan sepak bola.

Di hadapan kegilaan dan kobaran asap yang melumat San Siro, Marco Materazzi menyandarkan lengannya pada bahu Rui Costa. 

Keduanya selalu mengenang laga perempat final Liga Champions 2004/05 itu sebagai Derby Della Madonnina tergila. Apa boleh buat, laga itu terhenti. Milan terbakar oleh rivalitas para penghuninya sendiri. Mereka yang tak turun ke lapangan malah saling melawan, mereka yang seharusnya saling menjegal malah saling bersandar. 

Namun, itu bukan pertama kalinya Milan terbakar. Itu bukan kali pertama Madonnina berkisah tentang para pembangkang yang melawan.

***

Italia mengenal kisah ini. Francesco Croce, arsitek dari Veneranda Fabbrica, ditugaskan untuk membangun Menara Agung di Duomo di Milano* pada 21 Juni 1762. Pada 1765, Croce mengusulkan agar puncak menara dilengkapi dengan patung Perawan Maria yang diantar ke surga oleh malaikat.

Adalah pematung Giuseppe Perego yang dipilih untuk merancang patung tersebut. Pada 17 Juni 1769, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Keputusan untuk membangun Menara Agung dengan patung Perawan Maria pada puncaknya bulat sudah. 

Pengerjaan proyek raksasa itu melibatkan pemahat yang bertugas sebagai perancang model patung, Giuseppe Antignati, serta pandai besi Varino dan pengrajin emas Giuseppe Bini. Nama yang terakhir disebut menerjemahkan rancangan Perego menjadi patung tembaga dengan disupervisi oleh seorang pelukis bernama Anton Raphael Mengs.

Madonnina. Itulah nama patung yang berdiri kokoh di puncak Duomo di Milano. Dalam dialek Milan, ia disebut Madunina. Jika diinterpretasikan ke dalam bahasa Indonesia, Madonnina berarti Perawan Maria.

Cerita Perawan Maria adalah kisah tentang perlawanan seorang perempuan. Ia bertarung melawan logika manusia, prasangka sosial, dan keraguan calon suaminya. 

Namun, dalam segala macam kondisi memuakkan tersebut Perawan Maria berdiri teguh memperjuangkan apa yang diimaninya secara personal. Keteguhan itu pada akhirnya menjadi pintu yang mempertemukan dunia dengan keajaiban Yesus Kristus.

Foto Patung Madonnina: Kirill Neiezhmakov-Shutterstock


Madonnina bukan tentang kisah spiritual melulu. Ia juga menjadi simbol perlawanan orang-orang Italia terhadap pendudukan musuh. Seantero Italia akan selalu mengingat Insiden Lima Hari di Italia. Itu adalah pemberontakan pertama jelang Perang Kemerdekaan Italia I yang berlangsung pada 18-22 Maret 1848.

Sejak 1815, Milan diduduki oleh Kekaisaran Austria. Konflik antara warga Milan dengan Kerajaan Lombardo-Veneto yang merupakan perwakilan Kekaisaran Austria di kota itu dimulai pada Januari 1848.

Gejolak tersebut ditandai dengan rangkaian protes anti-Austria di Milan. Orang-orang Milan memboikot tembakau dan rumah judi yang dikuasai Austria. Pemboikotan ini dianggap sebagai langkah jitu. Pasalnya, kedua sektor usaha tersebut diperkirakan dapat menghasilkan pendapatan pajak sekitar 5,5 juta lira setiap tahun.

Austria merespons dengan mengirim 12 ribu pasukan militer di bawah kepemimpinan Jenderal Joseph Radetzky von Radetz. Itu berarti, bersiaplah untuk kecamuk konflik.

Bentrokan antara warga sipil dan tentara Austria mulai mencuat pada 3 Januari 1848. Enam orang tewas dalam peristiwa tersebut. Itu belum ditambah dengan 60 orang yang mengalami luka-luka. Untuk sesaat Austria mengira segala sesuatunya bakal aman terkendali lagi. Kekuasaan mereka akan berumur panjang, orang-orang Italia kehilangan taji untuk mempertahankan tanah sendiri.

Anggapan tersebut salah besar. Sejak Maret 1848, revolusi mengguncang Austria. Pada dasarnya, pusat pemerintahan Austria dijalankan di Wina. Kekaisaran Austria pada masa itu dihuni oleh Jerman, Hongaria, Slovenia, Polandia, Ceko, Slowakia, Rutenia (Ukraina), Romania, Kroasia, Italia, dan Serbia. Revolusi lahir karena semuanya ingin merengkuh kemerdekaan sendiri.

Foto Duomo di Milan: Elesi-Shutterstock

Gejolak bertambah hebat ketika Pangeran Metternich-Winneburg zu Beilstein digulingkan dari kursi Perdana Menteri Austria. Dibayang-bayangi kudeta, ia memutuskan untuk melarikan diri ke Inggris.

Orang-orang Milan memang terluka, tetapi mereka tak tuli. Kabar penggulingan sang perdana menteri menyulut api pemberontakan yang sempat padam.

Bersama ribuan warga, Walikota Milan, Gabrio Casati, turun ke jalan untuk menolak kekuasaan Austria. Orang-orang Milan mendirikan 1.700 barikade yang mengepung 12.000 pasukan Jenderal Radetzky. 

Kelima bintang yang melekat pada seragam Jenderal Radetzky kehilangan pendarnya. Pada hari ketiga pemberontakan Milan, pasukan Austria mesti menyingkir ke Verona, Legnano, Mantua, dan Peschiera del Garda. Keempat kota ini adalah kota-kota benteng yang tersebar di penjuru Milan. 

Di antara pasukan tersebut juga terdapat tentara yang ditugaskan menjaga Diomo di Milano. Pada saat itulah, dua tokoh pemberontakan, Luigi Torelli dan Scipione Bagaggi, naik ke puncak menara untuk mengibarkan bendera hijau-putih-merah di patung Madonnina.

Pengibaran bendera triwarna itu dibarengi dengan dibunyikannya lonceng di sejumlah gereja. Barangkali itu menjadi penanda bahwa manusia dan Tuhan bersepakat mengusir para penguasa Austria dari tanah Milan.

****

Segala sesuatu yang disebut sebagai sejarah adalah ia yang sudah berakhir. Perang Italia adalah salah satunya.

Milan membalut luka dan kehilangan, lalu bangkit bersama kota-kota Italia lainnya. Ketika perang tak ada lagi, Italia mengarahkan wajah ke lapangan-lapangan rumput yang tersebar di seantero negeri. 

Sepak bola ternyata bisa menjadi kawan baik para pesolek. Klub-klub sepak bola bermunculan di Negeri Piza. Pada 16 Desember 1899, tanah Milan bahkan melahirkan AC Milan yang kelak dikenal sebagai salah satu raksasa sepak bola Italia, bahkan Eropa.

Jika perang sudah dianggap usang, sepak bola dipandang sebagai cara paling beradab untuk menentukan siapa yang paling digdaya. Italia menyediakan panggung yang megah bagi siapa pun yang ingin merengkuh tujuan tersebut.

Dibidani para pejabat teras Milan, Internazionale Milan lahir pada 9 Maret 1908. Di Restoran L’Orologio, Giorgio Muggiani, Enrico, Arturo Hintermann, Carlo Hintermann, Pietro Dell’Oro, Hugo Rietmann, Hans Rietmann, Carlo Ardussi, serta Giovanni Paramithiotti sepakat untuk memberikan rival sekota bagi AC Milan yang ketika itu sudah merengkuh tiga gelar juara.

Kelahiran Inter dipicu oleh konflik internal dalam tubuh manajemen Milan. Ketika itu sebagian tokoh klub menolak penerimaan dan penggunaan pemain asing. Jika dipikir-pikir penolakan ini lumayan rancu. Toh, yang mendirikan Milan adalah Herbert Kiplin dan Alfred Edwards yang berasal dari Nottingham, Inggris.

Sepak bola memiliki satu adagium, bahwa olahraga ini diperuntukkan bagi kelas pekerja. Sepak bola adalah jeda bagi para buruh yang memeras keringat dan menegarkan otot untuk memastikan tak ada orang yang tidur dengan perut lapar di rumah mereka.

Gemuruh suara yang memenuhi stadion di hari pertandingan adalah mimpi yang menjalar ke dalam tubuh ribuan buruh yang berkawan lagi dengan udara segar setelah lima hari penuh dibekap pekat asap pabrik.


Namun, Inter berbeda. Restoran L’Orologio hanya berjarak sepelemparan batu dari patung Madonnina. Jika dulu menjadi simbol perlawanan orang Milan terhadap penguasa Austria, kini Madonnina menjadi simbol perlawanan Inter terhadap kepercayaan yang meyakini sepak bola hanya pantas untuk kelas pekerja.

Bagi mereka, sepak bola bukan milik satu kelas tertentu. Mereka yang berduit, mengenakan jas, dan bergelut dengan tumpukan kertas juga memiliki pertarungannya sendiri. 

Para pekerja kantoran pun dihajar pening dan nyeri karena duduk berjam-jam memeriksa angka-angka abstrak. Mereka yang terbiasa tersenyum manis di hadapan para pembesar berulang kali menelan makian akibat kesalahan satu atau dua kalimat. Serupa dengan para buruh yang berhak atas sepak bola, kelas menengah atas pun berhak atas sepak bola.

Berangkat dari situ, narasi usang bersemi kembali. Pertandingan Milan dan Inter adalah pertarungan dua paham: Sayap kiri dan sayap kanan. Karena kebanyakan suporter Milan berasal dari kelas pekerja, kubu mereka dianggap sebagai sayap kiri. Sebaliknya, kubu Inter adalah pendukung politik sayap kanan.

Terlepas dari paham apa pun yang dibela oleh masing-masing klub, rivalitas yang melibatkan orang-orang terdekat acap melahirkan perseteruan tersengit. Itu pulalah yang terjadi pada Derbi Milan. Terlebih, Milan dan Inter sama-sama bermarkas di San Siro.

Derbi Milan pertama kali dihelat pada 1909. Meski demikian, konon penamaan Madonnina baru diberikan pada 1935. Rivalitas antara suporter Milan dan Inter mulai meruncing sejak era 1960-an. Kondisi ini berbarengan dengan dominasi Milan dan Inter di ranah sepak bola Italia. 

Era 1960-an adalah periode spesial bagi sepak bola Italia. Dunia dibuat terpukau dengan catenaccio, pertahanan ketat yang membutuhkan fisik kuat dan pemahaman taktik mumpuni yang bertumbuh menjadi identitas sepak bola Italia.

Dua pelatih yang membawa pemahaman ini adalah Nerio Rocco dan Helenio Herrera. Jika Rocco melatih Milan, Herrera mengarsiteki Inter. Catenaccio tidak menuntut tim menguasai permainan, tetapi menjadikan serangan balik sebagai jalan mencetak gol atau, setidaknya, ancaman serius bagi lawan. Itulah sebabnya ia memerlukan penyerang tajam dan gelandang cerdik.

Mendunianya catenaccio memberikan panggung megah bagi Gianni Rivera dan Sandro Mazzola. Meski terlihat ringkih karena posturnya yang kurus, Rivera adalah anugerah bagi Milan karena visi dan skill-nya. Bahkan orang-orang menyebut Rivera sebagai pemain paling bertalenta di Italia.

Mazzola adalah jawaban bagi Inter yang berulang kali kepayahan karena pertahanan yang payah. Meski dalam perkembangannya pertahanan sepak bola Italia dipimpin oleh para sweeper seperti Gaetano Scirea yang masyhur bersama Juventus pada era 1970-an, Inter memulainya dengan memberikan kekuasaan penuh kepada Mazzola yang ada di sektor gelandang. Mau berlaga sebagai gelandang kanan atau kiri, Mazzola tetap menakutkan. Ia merupakan salah satu alasan mengapa Inter berhak menyandang predikat La Grande Inter yang harum semerbak itu.

Narasi sepak bola Italia berubah menjadi persaingan Milan dan Inter. Keduanya bergantian naik podium kampiun kompetisi domestik dan Eropa. Selama lebih dari satu dekade, jutaan pasang mata mengarahkan pandangan ke Kota Milan.

Budaya ultras tumbuh pula pada era tersebut. Persaingan tak hanya melibatkan mereka yang berlaga di atas lapangan bola, tetapi mereka yang berseru di tribune-tribune penonton. 

Rivalitas yang tak terbendung dapat menjalar menjadi kebencian. Kerusuhan dan perseteruan acap terjadi, membuat suporter Milan dan Inter menjadi kelompok ultras yang dicap sebagai biang onar belaka.

Sepak bola seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para pencintanya. Namun, adakah keamanan yang bisa direngkuh di atas tempat yang berlumuran darah?

Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah petinggi suporter sepakat untuk 'berdamai'. Kedua kubu sepakat untuk tak saling memantik kerusuhan dengan menyepakati pakta perdamaian pada 1983. 

Lewat pakta tersebut disepakati bahwa siapa pun yang memenangi derbi berhak membentangkan spanduk bergambar patung Madonnina dan bertuliskan “ti te dòminet Milan” hingga derbi berikutnya dimainkan. Kamu menguasai Milan. Itulah ganjaran yang kamu dapatkan jika menjadi pemenang di Derby Della Madonnina.

====

*Dalam bahasa Indonesia, Duomo di Milano berarti Katedral Milan.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now