Masalah Cedera, Masalah Lini Tengah Liverpool

Foto: LFC.

Badai cedera kembali menerpa Liverpool. Kali ini lini tengah yang jadi korbannya. Apa yang jadi penyebab dan bagaimana mereka harus mengatasinya?

Apa yang menghantui Liverpool musim lalu kini kembali lagi. Hantu bernama badai cedera itu telah tiba di Anfield.

Jika pada musim lalu yang diserang adalah lini belakang, musim ini giliran lini tengah yang jadi korban. Akhir pekan lalu jadi bukti. Saat menghadapi Brighton dalam laga lanjutan Premier League, Liverpool cuma punya empat gelandang siap tampil.

Celakanya, di awal pertandingan, Naby Keita turut mengalami cedera. Dan sejak menit 20, The Reds pun hanya memiliki tiga gelandang fit: Curtis Jones, Jordan Henderson, dan Alex Oxlade-Chamberlain. Dari delapan gelandang yang mereka miliki musim ini, hanya tersisa tiga orang.

Saat menghadapi Atletico Madrid tengah pekan lalu, Fabinho dan Thiago Alcantara memang kembali tampil. Namun, Fabinho bermain kurang dari satu jam, sedangkan Thiago main 30 menit. Mereka terlihat fit, tapi tampaknya riskan memainkan keduanya selama 90 menit. Sementara, Oxlade-Chamberlain terlihat tak nyaman dan pada akhirnya diganti pada menit 78.

Foto: @LFC

Menjelang laga vs West Ham, Juergen Klopp kemudian memastikan bahwa Jones dan Keita tak akan tampil. Mereka menyusul James Milner dan Harvey Elliott. Kini, Liverpool pun hanya memiliki empat gelandang tersisa, di mana dua (Thiago dan Fabinho) baru sembuh dari cedera dan Oxlade-Chamberlain terlihat kurang meyakinkan untuk tampil penuh.

Lantas, apa sebenarnya yang jadi masalah Liverpool? Mengapa mereka acap kali menemui momok bernama badai cedera? Dan apakah memang tidak mengganti Gini Wijnaldum dengan pemain baru adalah kesalahan?

Untuk urusan cedera ini, penyebab pertama tentu saja adalah soal jadwal pertandingan. Sejak sepak bola terhenti (untuk sementara) pada Maret 2020 lalu, jadwal jadi tak keruan. Liga-liga top Eropa berakhir pada Juli dan pada Agustus sudah mulai bergulir musim 2020/21.

Setelahnya, kita menyaksikan ada Piala Eropa dan Copa America. Waktu istirahat hanya sebentar. Ini cukup berdampak pada kondisi fisik pemain. Kebetulan, tiga dari delapan gelandang Liverpool memang berlaga di turnamen musim panas. Thiago dan Henderson di Piala Eropa, serta Fabinho di Copa America.

Bahkan Henderson tiba di Piala Eropa dengan status yang belum pulih 100%. Di sisi lain, Thiago kembali dari Piala Eropa dengan kondisi tidak 100% fit. Ini belum diperparah dengan fakta bahwa dua pemain ini memang rentan cedera. Mereka punya histori buruk soal kebugaran.

Dan di Liverpool, itu tak cuma berlaku buat Henderson dan Thiago saja. Ada pula Keita dan Oxlade-Chamberlain yang dikenal punya "kaki kaca". Terlalu sering cedera. Jadwal padat musim lalu, turnamen musim panas, waktu istirahat sebentar, ditambah pemain rentan cedera. Benar-benar mimpi buruk.

Selain itu, di musim ini, intensitas permainan Liverpool juga meningkat. Jika di musim lalu Liverpool membutuhkan waktu 11,46 menit per satu rangkaian serangan, di musim ini mereka hanya membutuhkan waktu 11,07 detik saja. Intensitas permainan yang cepat membuat gelandang kudu bekerja ekstra.

Sebab, mereka harus bisa cepat jadi jembatan saat transisi. Saat transisi ke menyerang, mereka harus bisa mendukung lini depan. Sementara saat transisi ke bertahan, mereka harus mengover ruang-ruang kosong di belakang dan melakukan duel untuk memutus serangan lawan.

Bukan kebetulan pula bahwa di musim ini, Liverpool lebih intens melakukan pressing di area tengah. Di musim lalu, pasukan Juergen Klopp melakukan 61,3% pressing di area tengah. Musim ini, angkanya meningkat menjadi 62,8%. Ini membuktikan bahwa kerja para pilar lini tengah Liverpool memang berat.

Belum lagi Klopp dikenal sebagai manajer yang jarang melakukan rotasi dan minim melakukan pergantian. Di musim ini memang sudah ada 24 pemain Liverpool yang tampil di Premier League. Namun, dari 24 pemain itu, hanya 17 nama yang sudah merumput lebih dari 200 menit.

Hal-hal di ataslah yang menjadi beberapa penyebab meningkatnya risiko cedera bagi para pemain Liverpool. Memang, tim sudah berusaha untuk meminimalisir risiko ini dengan mendatangkan staf ahli. Pada 2016, Klopp mendatangkan Mona Nemmer, seorang ahli gizi dari Bayern Muenchen, untuk mengontrol asupan anak asuhnya.

Tahun lalu, giliran Andreas Schlumberger yang didatangkan dari Schalke untuk mengisi posisi Head of Recovery and Performance. Dia membantu Head of Fitness and Conditioning Liverpool, Andreas Kornmayer--pria yang sering disebut mirip Klopp--untuk menjaga kebugaran dan menata waktu istirahat pemain.

Namun, perkara cedera memang masih sulit untuk dibenahi Liverpool. Ini menjadi momok yang terus muncul sejak musim lalu. Musim lalu, total ada 18 pemain Liverpool yang cedera. Total pemain absen karena cedera mencapai angka 155 pertandingan.

Lalu, jika melihat angka musim lalu dan bagaimana fakta di musim ini, apakah keputusan untuk tidak mencari pengganti Wijnaldum adalah hal yang tepat? Well, delapan gelandang--dengan tiga di antaranya main tiap pekan--sebenarnya cukup. Itu jumlah yang ideal.

Akan tetapi, kasusnya Liverpool berbeda karena dari delapan itu setengahnya adalah injury prone (Henderson, Keita, Thiago, dan Oxlade-Chamberlain). Sementara Milner sudah berusia di atas 35 tahun. Harusnya ada Fabinho, Jones, dan Elliott yang bisa diandalkan terus-menerus. Namun, takdir berkata lain.

Fabinho dan Jones ikut-ikutan rajin cedera, sedangkan Elliott mendapat cedera berat yang membuatnya harus absen panjang. Di situasi seperti ini, pilihan untuk mencari pengganti buat Wijnaldum jadi masuk akal. Terlebih gelandang Belanda itu sebelumnya selalu bisa diandalkan. Ia jarang cedera.

Sebab, absennya para gelandang ini sangat merugikan Liverpool. Salah satunya jika Fabinho absen.Tanpa pemain Brasil itu, lini tengah Liverpool terlihat mudah ditembus lawan. Ada jarak yang terlalu lebar antara pemain belakang dan gelandang, karena Henderson--yang biasa mengisi pos Fabinho--acap maju terlalu jauh ke depan.

Situasi saat Liverpool transisi ke bertahan, ada gap di depan lini belakang.

Pada situasi tersebut, transisi ke bertahan menjadi buruk. Ruang di depan pertahanan lawan bisa dieksploitasi lawan dan itu bikin Liverpool gampang diserang. Pada laga vs Brighton, situasi ini terlihat jelas. Dan, itu diperparah dengan lambatnya Jones melakukan bantuan ke area pertahanan sendiri.

Curtis Jones & Henderson terlambat kembali ke posisi. Situasi 3 vs 2 di lini belakang.

Selain itu, saat Henderson tidak berada di gelandang tengah kanan, serangan Liverpool di sisi itu akan sedikit berkurang keganasannya. Ini karena Henderson, Trent Alexander-Arnold, dan Mohamed Salah sudah punya chemistry yang baik di sisi tersebut. Kita bisa melihatnya di laga vs Atletico tengah pekan kemarin.

Selain itu, Henderson pula yang punya kapabilitas untuk mengovers sisi yang acap ditinggalkan Alexander-Arnold. Kemampuan defensifnya yang oke, serta kengototannya membuat area kosong bisa dikover dengan baik. Jika bukan Henderson yang ada di kanan, serangan dan pertahanan di sisi itu tak sebaik biasanya.

Salah, Henderson, & TAA jadi kunci serangan sisi kanan Liverpool.

Itu memang PR-nya Klopp, untuk membuat Liverpool tetap bagus dengan siapa pun yang ada di atas lapangan. Namun, kita juga tak bisa memungkiri bahwa cedera memperberat kerja Klopp melakukan tugas-tugasnya. Ini menjadi masalah yang penyelesaiannya mungkin tak sebentar.

Karena itu, mari kita lihat laju Liverpool di periode yang cukup berat ini. Jika tidak bisa melewatinya dengan baik, nasib bisa seperti musim lalu. Akan tetapi, bila bisa cepat menemukan solusi bagaimana bermain dengan baik tanpa pilar-pilar inti, The Reds bisa terbang makin tinggi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.