Masalah City, Beban Fernandinho

Kapten Manchester City Fernandinho. Foto: @fernandinho.

Fernandinho menjadi komponen penting bagi Manchester City dan Pep Guardiola, baik di lapangan maupun ruang ganti.

"Jika saya memiliki rambut, tidak diragukan lagi, sudah pasti beruban."

Itu adalah kelakar Fernandinho kepada Fred Caldeira dari TNT Sport. Sebelum mengeluarkan candaan tersebut, Fernandinho bercerita soal betapa berat beban hidupnya usai didaulat menjadi kapten Manchester City.

Pria 36 tahun itu tidak hanya bertugas sebagai gelandang bertahan, tetapi juga penampung kegelisahan pemain. Apabila performa pemain City sedang drop, ia akan datang sebagai seorang kakak: Bertanya banyak hal, dan mengakhiri perbincangan dengan motivasi.

Sebelum menggamit trofi Premier League musim 2020/21, misalnya, City kesulitan mengawali kompetisi. Oke, pada laga perdana, The Citizens menang 3-1 atas Wolverhampton Wanderers. Setelah itu, dua hasil buruk dialami Fernandinho cs. Mereka keok 2-5 dari Leicester City dan imbang 1-1 dengan Leeds United.

Hasil minor itu membuat City terdampar di peringkat sembilan papan klasemen pada pekan kelima.

Performa buruk City meneror Fernandinho. Ia berpikir, kapten harus menemukan sekaligus memecahkan masalah yang menjangkit dalam tubuh tim. Saat Pep Guardiola bekerja keras mematangkan taktik, Fernandinho menyambangi rekan-rekannya.

"Kadang-kadang, saat semua terasa sulit, kita membutuhkan percakapan. Percakapan manusia ke manusia. Itu dilakukan untuk menemukan masalah," kata Fernandinho.

Sesudah Guardiola dan Fernandinho menuntaskan semua perkara, City tidak terbendung. Manchester Biru merangkum 21 kemenangan beruntun di semua kompetisi. 

Tidak hanya berkontribusi memecahkan masalah internal klub, Fernandinho adalah pembimbing yang baik. Ia membantu Gabriel Jesus beradaptasi dengan banyak hal saat bergabung dengan City.

Selain Jesus, ada Phil Foden yang mengaku mendapat bimbingan luar biasa dari Fernandinho. Bagi Foden, Fernandinho bukan hanya pemain yang hebat di lapangan, tetapi juga seorang pria yang hangat.

"Dia mengenal semua orang dengan baik. Jika ada pemain yang sedang kesal, ia akan mendatanginya. Ia akan banyak bertanya soal keadaan rekannya itu. Dia adalah pesepakbola dan orang yang hebat," kata Foden.

Kehangatan Fernandinho kepada rekan-rekannya membantu Guardiola menyelesaikan problem-problem di luar taktik dan statistik. Guardiola sempat menuturkan, Fernandinho seringkali menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa ia lakukan.

"Saya senang dan bersyukur atas apa yang telah dilakukan Fernandinho, terutama saat ini menjadi kapten musim ini (2020/21)," kata eks pelatih Bayern Muenchen dan Barcelona tersebut.

Rasa syukur Guardiola akan keberadaan Fernandinho tentu tidak berlebihan. Fernandinho, selain dapat menuntaskan peran sebagai kapten, merupakan komponen penting dalam permainan City versi Guardiola yang mengusung pakem 4-3-3.

Fernandinho berposisi sebagai gelandang bertahan pendistribusi bola atau holding midfielder. Urusan umpan-mengumpan bola, Fernandinho memang jago. Mengacu WhoScored, Fernandinho merangkum 48,3 umpan per laga, dan akurasi umpannya mencapai 87,2 persen sepanjang Premier League 2020/21.

Pergerakan Fernandinho di sepertiga pertahanan sendiri sangat efektif. Ia mampu membuka ruang umpan bagi pemain-pemain di dekatnya. Apa yang dilakukan Fernandinho dapat mengatasi klub-klub yang menerapkan permainan high pressing.

Selain itu, Fernandinho cepat memutuskan ke mana bola harus dialirkan. Hal itu dapat ia lakukan karena selalu melihat pergerakan rekan dan lawannya sebelum menerima umpan. Maka, ketika bola mendarat di kakinya, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. 

Tugas lain dari Fernandinho adalah memperkuat pertahanan. City menerapkan formasi 3-2-5 saat mode menyerang. Dalam skema tersebut, area bermain holding midfielder City pun sangat luas karena harus menutup ruang bek sayap yang turut terlibat dalam aksi ofensif.

Oleh karena itu, holding midfielder City harus cerdik membaca permainan lawan. Ia dituntut memprediksi ke mana bola akan dialirkan dan ke sisi mana serangan akan dilancarkan. Fernandinho memiliki kecerdikan tersebut.

Eks pemain Shaktar Donetsk itu selalu bergerak ke posisi yang tepat. Ia akan melihat pergerakan pemain yang tidak menguasai bola sambil memperhatikan progresi serangan lawan. Kecerdikan tersebut dilengkapi dengan kemampuan tekel dan intersep yang memadai.

Saat menyerang, Fernandinho tidak jarang turut masuk ke sepertiga pertahanan lawan. Selain menjadi opsi umpan dan memanfaatkan bola pantul, ia akan langsung memberikan tekanan manakala lawan dapat merebut bola. Entah itu dengan tekel atau melakukan pelanggaran.

Persoalannya, Fernandinho sudah berusia 36 tahun. Staminanya, meski saat ini masih oke, akan berangsur menurun. City memang sudah punya penggantinya, yakni Rodri. Pemain Spanyol itu pun menjadi pilihan pertama musim 2020/21.

Kemampuan Rodri soal distribusi bola dan menekel tidak kalah dari Fernandinho. Musim lalu, Rodri mencatatkan 1 umpan kunci dan 4,8 long balls per laga. Akurasi umpannya pun mencapai 91,3 persen. Sedangkan untuk urusan menghentikan lawan, ia merangkum 2,1 tekel per 90 menit.

Nilai plus Rodri lainnya adalah mahir melakukan dribel. Ia selalu tenang dalam melepaskan tekanan lawan dengan menggiring bola. Mengacu WhoScored, sepanjang Premier League 2020/21, Rodri melakukan 1 dribel per laga.

Sam Lee dan Tom Worville dari The Athletic menilai Rodri masih memiliki pekerjaan rumah. Menurut penilaian Lee dan Worville, Rodri masih belum tahu kapan waktunya membantu serangan, dan kapan berlari menutup ruang-ruang saat lawan melancarkan serangan balik.

Fernandinho yang terus menua dan keberadaan Rodri membuat pressing City menurun. Hal itu terlihat dari PPDA atau passes per defensive action City.

PPDA sendiri adalah salah satu statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. Kita bisa melihat seberapa garang sebuah tim menekan lawannya. PPDA menghitung berapa banyak operan yang dilakukan tim lawan sebelum tim coba merebut bola kembali dengan aksi defensif, baik tekel maupun intersep.

PPDA biasanya menghitung umpan yang terjadi di area pertahanan lawan saja. Karena pressing yang intens sudah dilakukan sejak area pertahanan lawan. Semakin dikit angka PPDA berarti semakin intens pula pressing yang dilakukan tim.

Pada musim 2016/17, PPDA City mencapai 8,33. Musim 2017/18, pressing City semakin intens dengan PPDA 8,26. Namun, dalam tiga musim terakhir, PPDA City selalu berada di angka 10. Bahkan PPDA City musim 2020/21 yakni 10,98.

Selain intensitas pressing yang terus menurun, City masih memiliki persoalan. Mereka acap kerepotan menahan serangan balik yang cepat. Laga perdana Premier League 2021/22 saat melawan Tottenham Hotspur menjadi buktinya.

Dalam laga tersebut, City tampil dominan dengan penguasaan bola mencapai 65,6 persen dan 18 tembakan. Meski begitu, Spurs lah yang keluar sebagai pemenang dengan skor 1-0 berkat sepakan Son Heung-Min pada menit 55.

Sebelum gol terjadi, City beberapa kali kewalahan mengadang serangan balik Hotspur. Pada menit 40, misalnya, usai menerima umpan dari lini belakang, Lucas Moura mengiring bola dengan cepat. Ia kemudian menyodorkan umpan kepada Son Heung-Min.

Saat pemain Korea Selatan itu menguasai bola, situasi tiga lawan tiga terjadi di sekitar kotak penalti. Situasi itu terjadi karena jarak antara bek dan gelandang City sangat jauh. Son Heung-Min dapat memegang bola dengan leluasa sebelum melepaskan tendangan.

Situasi serupa terjadi juga pada menit 60. Kecepatan trio lini depan Hotspur, Son Heung-Min, Moura, dan Steven Bergwijn, sulit diatasi karang-karang belakang City. Bahkan Moura dapat berhadapan langsung dengan kiper, tetapi sepakannya melebar.

Menurut Lee dan Worville, meski intensitas pressing perlahan menurun dan sulit meredam serangan balik yang cepat, City belum membutuhkan gelandang bertahan baru. Rodri, tulis Lee dan Worville, dapat menjalankan tugas holding midfielder dengan baik.

Yang dibutuhkan Rodri saat ini adalah jam terbang dan berlatih bermain tanpa bola. Dengan begitu, Rodri akan semakin tangguh membaca permainan lawan dan memutus serangan lawan tanpa melakukan foul.

Pada laga kedua Premier League melawan Norwich City, Rodri bermain sejak menit awal. Dalam pertandingan itu, Rodri bermain apik. Ia lebih banyak bermain di area pertahanan lawan. Tentu saja karena Norwich jarang sekali melancarkan serangan balik cepat yang berbahaya. Soal aksi defensif, ia mencatatkan satu tekel.

Keberadaan Rodri bisa membuat City menarik napas panjang. Tapi, jangan lupa, jika Fernandinho hengkang, City berikut Guardiola harus memutar otak mencari holding midfielder kembali. Itu bukan perkara mudah. 

Bukankah City sempat kesulitan mencari gelandang bertahan oke sebelum mendatangkan Rodri?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.