Meet The Beckers

Foto: @LFC.

Orang-orang dengan marga Becker di Novo Hamburgo punya tangan yang terampil dan gemar mencetak sejarah. Alisson salah satunya.

Nikolaus Becker adalah pria yang berani. Pada pengujung abad 18, dia rela meninggalkan kampung halamannya di Saarland, Jerman, untuk sebuah cita-cita: Memulai hidup baru di belahan dunia lain.

Nikolaus memasukkan segala barang yang ia miliki ke dalam kapalnya. Ia memang tak berniat untuk kembali ke tanah kelahiran, seluruh sisa hidupnya akan dihabiskan di tanah yang baru.

Pada tahun 1797, Nikolaus berhasil mewujudkan cita-citanya: Menemukan tanah kehidupan baru. Ia sampai di belahan dunia lain, tepatnya di selatan Brasil. Nikolaus adalah salah satu orang Jerman pertama yang sampai di Brasil. Pionir.

Nikolaus, bersama rekan-rekannya, kemudian membangun rumah baru di Brasil. Mereka mendirikan wilayah bernama Novo Hamburgo (Hamburg Baru jika diartikan dalam Bahasa Indonesia). Kelak Novo Hamburgo akan menjadi pusatnya imigran-imigran Jerman di Brasil.

Jika Anda kebetulan pergi ke Brasil dan menemukan orang-orang yang fasih berbahasa Jerman di Rio de Janeiro, tak perlu kaget. Itu adalah orang-orang Novo Hamburgo. Cicit-cicit dari Nikolaus dan kawan-kawannya yang berangkat dari Saarland pada akhir abad 18.

Nikolaus dan orang-orang Jerman yang ada di Novo Hamburgo kemudian mendirikan pusat penyamak kulit dan pelana. Sampai akhirnya kemahiran menyamak itu membuat Novo Hamburgo menjadi pusat industri kulit dan sepatu Brasil pada era sekarang.

Orang-orang Novo Hamburgo tak cuma pandai menyamak kulit, tapi juga punya kebiasaan mencetak sejarah. Nikolaus Becker menjadi Saarlander pertama yang angkat kaki dari tanah kelahiran dan berkelana ke belahan dunia lain. Mereka juga jadi pionir industri tas dan kulit di Brasil.

Kini, berabad-abad setelah perjalanan Nikolaus, ada Becker lain yang mencatat sejarah. Nama depannya Alisson. Alisson Becker. Dia adalah salah satu keturunan Nikolaus dan, ya, masih berdarah Jerman.

Foto: Internacional

Musim 2020/21, Alisson menjadi kiper pertama yang berhasil mencetak gol untuk Liverpool. Dia menjadi penyelamat The Reds pada laga melawan West Brom. Gol sundulannya pada menit 90+5 itu membawa Liverpool menang dan jadi salah satu kunci keberhasilan finis di posisi empat besar.

Momen itu sungguh heroik. Gol menit akhir, diciptakan seorang penjaga gawang pula. Begitu memorial. Alisson hadir jadi pahlawan saat pemain-pemain di depannya tak tau apa yang harus dilakukan untuk bisa membobol gawang lawan. Ia maju ke depan, menyambut umpan Trent Alexander-Arnold dengan sundulan. Bola kemudian masuk ke dalam gawang.

***

Karier Alisson dimulai saat ia berhasil masuk ke akademi Internacional ketika masih berusia 10 tahun. Namun, perjalanannya tak selalu mulus. Sebelum usia 15, Alisson sempat ragu untuk melanjutkan karier karena masalah berat badan. Ia kegemukan dan itu membuatnya tidak percaya diri.

Namun, saat usianya mencapai 15, berat badannya mulai stabil. Bahkan saat usia 17 tahun, Alisson bertambah tinggi dan badannya jadi lebih kurus. Saat itulah ia mengaku mulai kembali yakin untuk jadi pemain profesional. Pada Februari 2013, atau saat usianya baru 20 tahun, Alisson sudah mendapatkan debut senior bersama Internacional.

Karier seniornya pun tak langsung melejit begitu saja. Alisson harus jadi pelapis dulu. Pertama ia jadi pelapis sang kakak, Muriel, dan kemudian harus bersaing dengan kiper legenda Brasil, Dida. Alisson baru benar-benar jadi pilihan utama pada musim 2015/16.

Cukup satu musim bagi Alisson untuk bermain penuh di Internacional. Sebab pada musim panas 2016, Roma datang menebusnya dengan mahar 7,5 juta euro. Internacional tak bisa mengelak dari tawaran tersebut dan dilepaslah Alisson.

Pindah ke Ibu Kota Italia tak langsung membuat namanya naik daun. Pada musim pertama ia tak pernah main di Serie A. Ia cuma jadi pelapis Wojciech Szczęsny dan hanya diberi kesempatan tampil di Coppa Italia atau kompetisi antarklub Eropa.

Baru ketika Szczęsny hengkang ke Juventus, Alisson muncul sebagai pilihan pertama Roma. Di musim penuh pertamanya itu ia mampu menjaga gawang Roma dengan baik: Mencatatkan 17 nirbobol di Serie A, cuma kebobolan 28 gol, dan punya rasio penyelamatan sukses sebesar 80,1%.

Kehadiran Alisson di bawa mistar Roma memang berpengaruh. Buktinya pada musim 2017/18 Roma mampu lolos ke semifinal Liga Champions, sebuah prestasi yang terakhir mereka catatkan 34 tahun sebelumnya. Alisson memang luar biasa saat itu, sehingga ia juga jadi kiper utama Brasil di Piala Dunia 2018.

Rangkaian penampilan ciamik pada musim 2017/18 kemudian membuat Alisson dipinang Liverpool. Saat itu Juergen Klopp mencari kiper baru seiring dengan buruknya penampilan dua kiper yang dimiliki, Loris Karius dan Simon Mignolet. Dan Klopp hanya mau Alisson, ia tak mengindahkan nama lain yang disodorkan Michael Edwards atau tim scouting Liverpool.

Nyatanya pilihan Klopp tepat. Alisson adalah salah satu game-changer buat Liverpool. Kehadirannya tak hanya membuat pertahanan lebih baik, tapi juga memperbagus Liverpool secara keseluruhan. Di musim pertamanya, dia mencatatkan 21 clean-sheets dan mendapatkan gelar Premier League Golden Glove. Alisson juga memimpin angka rasio penyelamatan sukses di Premier League dengan catatan 77,08%.

Kehadiran Alisson pun mampu membuat Liverpool jadi kampiun Liga Champions musim itu, sesuatu yang gagal diraih di musim sebelumnya saat kiper mereka masih Karius. Pada ajang tersebut, Alisson bermain gemilang: Mulai dari melakukan penyelamatan krusial di fase grup melawan Napoli sampai jadi salah satu penampil terbaik Liverpool di partai final.

Pada musim 2019/20, Alisson juga membawa Liverpool jadi tim dengan angka kebobolan paling sedikit di Premier League. Cuma 33 gol dari 38 penampilan. Catatan yang jadi salah satu kunci sukses The Reds keluar sebagai kampiun Premier League musim itu.

Di 2020/21, semuanya memang berbeda. Catatan kebobolan Alisson tak segemilang musim-musim sebelumnya, beberapa kali juga dia bikin blunder yang merugikan Liverpool. Namun, perlu diingat bahwa musim ini Alisson tak mendapat perlindungan seaman musim-musim sebelumnya.

Jika biasanya ada Virgil van Dijk dan Joel Matip/Joe Gomez yang begitu kokoh di depannya, musim ini Alisson harus melihat nama-nama berbeda hampir tiap pekan. Entah Fabinho, Jordan Henderson, Ozan Kabak, sampai duet yang di akhir musim sering dipasang Klopp: Rhys Williams dan Nat Phillips.

Belum lagi ia juga acap diterpa cedera. Pria bertinggi 1,91 meter itu harus absen 43 hari karena cedera di musim 2020/21. Sesuatu yang juga membuat performanya (dan performa Liverpool) naik-turun. Kendati Alisson juga masih kita lihat acap menunjukkan kebolehannya di bawah mistar.

Di Premier League musim kemarin, Alisson mencatatkan 2,5 penyelamatan per 90 menit. Rasio penyelamatannya juga masih ada di atas 70%. Selain itu, sebagai kiper yang cukup piawai dalam soal distribusi, persentase umpan per laga miliknya masih di atas 80%. Semua catatan itu bukan hal buruk.

***

Orang-orang di Novo Hamburgo punya tangan yang terampil. Sebagian terampil berlayar, sebagian terampil menyamak kulit, sebagian terampil mendesain sepatu, ada yang terampil menyetir mobil balap, dan ada yang terampil menangkap serta menepis bola seperti Alisson.

Sang kiper ini kebetulan juga dianugerahi postur ideal. Tinggi dan atletis. Serta ia juga cepat. Kelebihan lain Alisson sebagai penjaga gawang adalah kecepatannya dalam memposisikan diri untuk bisa menutup ruang tembak lawan. Karena itu Alisson sulit ditaklukkan dalam situasi 1 lawan 1.

Tak cuma tangan, kepala Alisson juga terampil. Isinya membuat ia punya visi yang bagus sebagai ball-playing goalkeeper dan bagian luarnya membuat ia mampu jadi kiper yang bisa mencetak gol. Sudah lama sekali (khususnya di Premier League) kita tak melihat seorang kiper mencetak gol dengan kepalanya.

Alisson bukanlah berkah buat Liverpool saja, tapi juga buat Brasil. Sama seperti Nikolaus sang nenek moyang, Alisson punya pengaruh besar buat Brasil. Sebab kini (dan bahkan sejak 2016), ia adalah penjaga gawang nomor satu Seleção. Alisson secara total sudah mencatat 46 penampilan buat Brasil.

Sepanjang jadi kiper utama itu, Alisson pernah mempersembahkan gelar Copa America 2019. Gelar yang ia harapkan tak akan jadi satu-satunya. Alisson ingin kembali memberikan trofi buat negaranya dan itu bisa ia lakukan di Copa America 2021 ini. Kebetulan Brasil jadi tuan rumah dan ia masih berstatus sebagai penjaga gawang utama.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.