Mencari Karcis untuk Grealish

Foto: @JackGrealish.

Di tengah sesaknya Manchester City, Jack Grealish datang dengan label pemain termahal se-Inggris. Keputusan ada di tangannya, meraih karcis dengan segera atau menjadi pecundang termahal sedunia.

Seratus juta poundsterling menjadi harga tebus Jack Grealish. Peduli setan soal itu, Manchester City terus melaju. Uang mereka berkarung-karung dan tak ada kurang-kurangnya untuk belanja. Klausul lepas dari Aston Villa pun mereka tebus dan... Boom! Jadilah transfer termahal sepanjang sejarah Premier League.

Blablabla.. Kritik kemudian menghujani Grealish. Harganya dibilang terlalu mahal untuk pemain nirgelar. Memang benar, Grealish tak pernah mendatangkan satu pun trofi untuk Villa. Pencapaian satu-satunya lahir dari timnas junior Inggris, saat menjuarai Turnamen Toulon 2016.

Bandingkan dengan Paul Pogba selaku pemain termahal Premier League sebelumnya. Ia mendarat ke Manchester United setelah membantu Juventus merenggut delapan trofi. Belum lagi dengan deretan titel individu macam Golden Boy serta pemain muda terbaik Piala Dunia 2014. Itu pun masih menuai pro-kontra. Keputusan United merekrut Pogba di angka 93,25 juta poundsterling dicap boros biaya.

Namun, yang perlu dimengerti, patokan harga adalah hal relatif. Angka yang tinggi tak melulu berbanding lurus dengan trofi. Di atasnya ada urgensi. Baik itu dari klub penjual maupun pembeli. Itulah kenapa harga transfer Ben White ke Arsenal begitu tinggi. Ia adalah aset terbesar Brighton and Hove Albion saat ini. Pun dengan Grealish yang statusnya di Villa sebagai bintang sekaligus akamsi. 

Grealish, yang lahir di Birmingham, sudah masuk akademi Villa pada 2001. Umurnya 6 tahun waktu itu. Titik balik kariernya ada di musim 2015/16, sewaktu Villa masih dibesut Tim Sherwood. Satu gol dan sepasang assist dibuat Grealish di musim debutnya itu. Lumayanlah buat remaja yang mentas di Premier League dengan klub sekelas Villa.

Mulai dari situ Grealish bertumbuh menjadi personel vital buat mereka. Puncaknya, ya, saat berhasil membawa The Villans promosi pada musim 2018/19. Betul, dengan sepatu bututnya yang ikonik itu. Grealish juga memainkan peranan penting di Premier League. Tak cuma soal assist, ia juga menjadi top skorer Villa lewat 10 golnya di lintas ajang.

Banyak anggapan soal gaya main Grealish yang terkesan individualis. Ia kelewat dominan dibanding rekan-rekan setimnya. Tentu kita tak bisa menyalahkan Grealish soal itu. Salahkan saja Villa yang tak punya kreator serta algojo mumpuni. Itu juga menjadi alasan mengapa Dean Smith amat bertumpu kepada aksi individu

Grealish untuk mendongkrak permainan tim. Jangan heran kalau kemudian lawan-lawan Villa menganggap dirinya sebagai ancaman utama. Ia rutin menjadi target pelanggaran. Setidaknya, Grealish dilanggar lebih dari 4 kali dalam satu pertandingan pada 2 musim terakhir. Jumlah itu menjadi terbanyak di lima liga top Eropa.


Grealish memang spesial. Ia adalah pendribel ulung dan pengumpan jitu dalam sepaket. Mengacu situs Premier League, Grealish menciptakan 70 peluang dari open-play di musim lalu. Hanya Bruno Fernandes yang mencatatkan lebih banyak darinya. Perlu diingat, Grealish memainkan 11 pertandigan lebih sedikit dari jagoan Manchester United itu.

Sementara jumlah assist-nya menyentuh 10 atau setara dengan Kevin De Bruyne serta Son Heung-min. Untuk tim sekelas Villa, catatan itu tergolong mewah. Mereka tak memiliki penyerang ampuh untuk menunjang kinerja Grealish. Kalaupun ada, itu cuma Ollie Watkins. Bandingkan dengan De Bruyne yang punya seabrek rekan yang tajam di City. Pun dengan Son yang ditemani striker sekaliber Harry Kane.

Xg Villa yang defisit 1,72 menunjukkan betapa tumpulnya mereka dalam menyelesaikan peluang. City? Surplus lima. Tottenham lebih hebat lagi karena berhasil mencetak 11 gol lebih banyak dari yang diharapkan. So, Catatan impresifnya bersama klub sekelas Villa menunjukkan bahwa kualitas Grealish sebenarnya boleh diadu dengan kreator kelas kakap Premier League macam De Bruyne, Fernandes, atau pun Son.

Bermain di Posisi Naturalnya, Winger Kiri

Ketika ditanya sejak kapan menginginkan Grealish, Pep Guardiola menjawab, "Sejak pertama kali saat saya melihatnya bermain."

“Dia mengontrol tempo saat berakselerasi dan deselerasi. Saya melihatnya ketika kami bermain melawan Aston Villa, fisiknya, mentalitasnya," tambah Guardiola.

Txiki Begiristain, kata Guardiola, juga benar-benar jatuh hati kepada Grealish. Makanya mereka memutuskan untuk memboyong sang pemain ke Etihad Stadium. Keduanya yakin Grealish akan cepat beradaptasi karena akan dibantu rekan-rekan setimnya di Timnas Inggris.

Di satu sisi, perekrutan Grealish sebenarnya cukup absurd. Sudah senormalnya City bergegas mencari pengganti Sergio Aguero yang telah pergi. Harry Kane yang paling santer. Alih-alih demikian, mereka justru menggaet winger kiri. Ya, Grealish ini.

Padahal, City sudah punya stok cukup di sana. Ada Sterling dan Phil Foden yang tampil bukan main bagusnya. Nyaris mustahil menggeser posisi Sterling. Sudah 65 gol diproduksinya dalam 4 edisi terakhir. Pun dengan Foden. Total 12 gol dan 8 assist yang dibuatnya di lintas ajang musim lalu membuktikan betapa ranumnya pemuda 21 tahun itu.

Pada Community Shield akhir pekan lalu, Guardiola baru memasukkan Grealish di babak kedua. Ia menggantikan pemain muda, Samuel Edozie, dan bermain di area sayap kiri. Namun, perlu digarisbawahi bahwa City memang tidak mengikutsertakan Sterling dan Foden dalam duel tersebut.

Masih ada kemungkinan Grealish bakal dipasang di pos winger kiri nanti. Sementara Sterling bakal dimainkan sebagai false-nine dalam wadah 4-3-3. Ini bukan formula yang buruk. Menyitat Transfermarkt, Sterling telah 40 kali bermain sebagai penyerang tengah. Sebanyak 20 gol dan 10 assist dibuatnya dari sana.

Semisal Sterling gagal tugas, Guardiola juga masih punya Ferran Torres untuk mengisi pos striker. Eks Valencia itu malah lebih subur ketimbang Gabriel Jesus. Ia memproduksi 11 gol dari total 1.650 menit penampilan di Premier League dan Liga Champions. Bila dirata-rata setidaknya ia membutuhkan 150 menit untuk mencetak satu gol. Sementara Jesus “cuma” mengemas 10 gol dari 2.223 menit di dua kompetisi yang sama atau 222 menit per golnya.

Jadi, ketajaman City tak akan berkurang meski Grealish dipasang di tepi kiri. Toh, Guardiola tetap bisa mengalokasikan produktivitas Sterling sebagai false nine. Kalau pun tidak berjalan mulus, masih ada Torres yang bisa menjadi alternatifnya.

Hmm... Pemain Nomor 8, Mungkin?

Guardiola mempunyai banyak akal untuk memaksimalkan para pemainnya. Walaupun itu membuat mereka harus bermain dengan peran atau porsi yang tak seharusnya. Hasilnya? Jangan ditanya. Keberhasilan City meraih titel Premier League musim lalu menjadi bukti terbarunya.

Toleh ke belakang bagaimana The Citizen tertimpa petaka di pertengahan jalan. Aguero dan De Bruyne tumbang karena cedera. Sterling juga lagi mandul-mandulnya. Siapa pula pelatih yang tak puyeng saat kehilangan produsen gol dan kreator utama sekaligus? City pun kesulitan merangkak ke papan atas. Mereka tak pernah merangsek ke di lima besar sampai pekan ke-16 Premier League 2020/21.

Namun, penderitaan City terhapus setelah Guardiola menggunakan Ilkay Guendogan. Eks Borussia Dortmund itu menjadi senjata City untuk mendulang gol. Betul, 13 gol lahir darinya dan jumlah itu menjadi yang terbanyak di antara rekan-rekan setimnya. 

Dalam mode serangan, umumnya City beralih ke formasi 3-2-5 atau 3-2-2-3. Oleksandr Zinchenko stay di belakang bersama Aymeric Laporte dan John Stones. Sementara Joao Cancelo maju ke tengah menjadi tandem pivot Rodri.

Nah, persebaran ini membuat Guendogan lebih leluasa untuk bergerak progresif, apalagi Sterling dan Foden lebih intens mengisi sisi tepi. Makin besar pula ruang Guendogan untuk bereksplorasi dari tengah.

Bukan tak mungkin Guardiola mengaplikasi peran yang sama untuk Grealish. Ia memiliki kecerdasan gerak dan finishing yang sama bagusnya dengan Guendogan, bahkan lebih. Selain dari kreativitasnya, Grealish bisa mencurahkan kemampuannya dalam carrying the ball (membawa bola). Hanya pemain dengan kecepatan dan dribel mumpuni yang mafhum untuk melakukan penetrasi semacam itu.

Menurut data Fbref, musim lalu Grealish tercatat 80 kali membawa bola ke kotak penalti lawan. Jumlah itu lebih banyak dari Sterling (62) yang berada di urutan kedua. Tentu saja ini menjadi keuntungan bagi City yang memang gemar melakukan penetrasi ke area lawan. Mereka mencatatkan 809 carries ke sepertiga pertahanan lawan di musim lalu. Angka tersebut jauh meninggalkan Liverpool di posisi kedua dengan 695.

Dengan begitu, City bakal mendapatkan banyak opsi saat melakukan serangan. Lebih dari musim-musim sebelumnya. Grealish punya kemampuan membawa bola sedekat mungkin dengan penjaga gawang. Bisa ia salurkan kepada Sterling, Torres, dan Riyad Mahrez atau ia selesaikan sendiri peluang itu.

Barangkali aksi defensif menjadi satu-satunya kekhawatiran saat Grealish mengemban peran sebagai pemain nomor 8. Tapi, itu tak terlalu signifikan. Toh Guendogan juga tak banyak terlibat dalam aksi defensif City musim lalu. WhoScored mencatat rerata tekel per laga Grealish menyentuh angka 1,2. Torehan itu bahkan masih lebih baik dari Guendogan yang mengumpulkan 0,9 tekel di tiap pertandingan.

***

Sejujurnya, tak ada yang benar-benar tahu soal nantinya Grealish dipasang di mana. Hanya Guardiola yang bisa menjawabnya. Yang pasti, ia bukan pelatih dungu yang memboyong pemain tanpa perhitungan. 

Namun, tentu saja takdir ada di tangan Grealish sendiri. Bagaimana caranya beradaptasi lalu menjawab tingginya ekspektasi. Manis atau tragis nasibnya, dia yang menentukan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.