Mungkin Pirlo Melihat Dirinya Sendiri pada Nicolo Rovella

Foto: Instagram @n.rovella.

Nicolo Rovella memiliki beberapa atribut yang membuatnya mirip dengan Andrea Pirlo. Kelak, ia mungkin bisa memberi impak yang sama seperti Pirlo pada permainan.

Ini masih soal manga “Giant Killing” (saya harap Anda tidak bosan), kira-kira dalam volume 20an, ada sebuah skena yang menggugah batin. Itu terjadi saat East Tokyo United berhadapan dengan Tokyo Victory dalam derbi Tokyo jilid pertama.

Saat itu, Takeshi Tatsumi, manajer karismatik ETU, tertegun melihat sosok Ren Mochida, ace Tokyo Victory. Selepas laga yang berakhir dengan skor 1-1 itu, Mochida mengelus-elus lututnya, sembari berkata.

"Sabar ya, kakiku, tinggal sedikit lagi. Nah, begitu," ujarnya sembari tersenyum getir.

Tatsumi tertegun. Memori tentang cedera parah yang merenggut kariernya sebagai pesepak bola di usia 26 tahun menyeruak. Ia sadar, status Mochida itu sama seperti dirinya saat masih bermain dulu: Berbakat, andalan klub dan harapan Timnas, tetapi tidak berdaya karena dihantam cedera.

Ya, begitulah. Kadang reinkarnasi bisa muncul dalam bentuk yang tidak disangka-sangka. Ia bisa menjelma orang dekat, atau bahkan orang jauh yang memang takdirnya segaris dengan kita. Selepas laga itu, timbul rasa hormat dalam diri Tatsumi, sekaligus pikiran yang mungkin agak menggelitik (dan tak pernah termaktub dalam manga “Giant Killing”).

"Suatu hari, aku ingin melatih pemain ini,"

***

Mungkin, apa yang dirasakan Tatsumi itu sama seperti yang dirasakan Andrea Pirlo saat ia melihat Nicolo Rovella. Baru-baru ini, Juventus resmi mengumumkan Rovella akan menjadi bagian dari skuat mereka.

Namun, Rovella belum dapat membela Juventus dalam waktu dekat. Setelah resmi mendapatkan Rovella, Juventus meminjamkan pemain berusia 19 tahun ini ke klub lamanya, Genoa. Ia diharapkan mendapatkan banyak jam terbang di sana.

Secara posisi, Rovella biasa beroperasi di posisi gelandang bertahan atau gelandang tengah. Selama membela tim muda Genoa, ia fasih memainkan peran deep-lying playmaker. Ia punya kemampuan passing yang mumpuni serta kemampuan mengatur ritme permainan dengan apik.

Rovella juga lihai mencari ruang untuk dirinya sendiri sebelum melakukan progresi serangan. Ia punya kemampuan ball keeping dan dribel yang mumpuni. Berkat hal tersebut, ia mampu lepas dari kawalan pemain lawan. Ketika ruang itu sudah ada, ia bisa melakukan umpan-umpan yang menjadi titik mula serangan timnya.

Selama musim 2019/20, Rovella rutin turun bersama tim Primavera Genoa. Ia tampil dalam 15 laga, menorehkan 3 assist. Selain itu, menurut data dari Total Football Analysis, dalam musim yang sama, catatan umpan Rovella mengungguli semua gelandang bertahan di tim-tim Primavera lainnya.

Rataan umpan per laga Rovella mencapai angka 64,85 kali, dengan 13,83 di antaranya merupakan umpan-umpan yang mengarah ke depan, serta 2,58 di antaranya merupakan umpan terobosan. Akurasi umpan Rovella mencapai angka 85,38%, dengan rataan jarak umpan mencapai 22,85 meter. Catatan-catatan ini menjadikan Rovella sebagai sosok sentral penggerak permainan Genoa dari lini tengah.

Atribut menonjol lain dari Rovella adalah soal kemampuannya dalam bertahan. Rataan aksi bertahan suksesnya per laga mencapai angka 15,05, dan itu adalah angka yang tinggi untuk ukuran seorang pemain dengan peran deep-lying playmaker. Rovella juga andal dalam melakukan intersep, buah dari kemampuannya yang apik dalam membaca permainan.

Buat Juventus, kemampuan-kemampuan ini jelas diperlukan. Apalagi, mereka kerap mengalami kebuntuan saat menghadapi lawan yang menerapkan pertahanan blok rendah. Dengan memulai serangan di posisi yang lebih bawah, maka akan ada lawan yang tertarik, sehingga akan ada ruang tercipta di lini pertahanan lawan

Namun, saat ini Rovella masih muda. Salah satu kekurangan yang mesti ia perbaiki adalah soal pengambilan keputusan. Jika ia kelak naik level menjadi pemain Serie A, terutama pemain Juventus, ia harus memiliki pengambilan keputusan yang cepat. Alhasil, ia kudu mengumpulkan pengalaman-pengalaman bertanding di level sepak bola yang lebih tinggi dari Primavera.

Terlepas dari kekurangannya ini, Rovella tetaplah salah satu talenta menjanjikan di Serie A. Apalagi, ia juga sudah memiliki pengalaman bersama Timnas Italia di level junior, mulai dari U-17, U-18, dan U-19. Kehadiran Rovella ini juga merupakan buah dari proyek Juventus yang memang sedang rutin mendatangkan pemain muda.

Selain Rovella, Juventus juga menghadirkan nama-nama muda seperti Weston McKennie (22 tahun), Federico Chiesa (23 tahun), serta menaikkan nama-nama dari tim muda ke tim senior, seperti Manolo Portanova (21) dan Gianluca Frabotta (21). Proyek yang memang tak akan terasa hasilnya kini, tetapi akan jadi sebuah investasi Juventus di masa depan.

***

Selepas insiden di derbi Tokyo perdana, pertemuan di derbi Tokyo edisi kedua jadi penuh dengan drama. Kondisi jagoan ETU, Daisuke Tsubaki, sudah lebih prima, ditambah pengalamannya mentas bersama Timnas Jepang senior. Di sisi lain, Tokyo Victory juga diperkuat oleh Mochida sejak awal, yang memang berambisi untuk membuktikan diri bahwa ia masih layak menjadi poros permainan Timnas Jepang.

Mochida tampil apik di laga itu. Ia benar-benar jadi momok buat pertahanan ETU. Namun, dalam satu momen saat Victory menyerang, cedera Mochida kambuh sehingga membuatnya harus keluar lapangan lebih cepat. Hal ini berpengaruh terhadap hasil akhir laga. ETU menang 4-3, tetapi Tatsumi memiliki pandangan berbeda.

Rasa respek yang sudah timbul membuat Tatsumi menghormati Mochida, tidak hanya sebagai pemain yang satu nasib dengannya, melainkan sebagai pemain yang memang memiliki kemampuan serta mental bertanding yang apik. Mungkin, hubungan macam itu pula yang nantinya akan tercipta antara Rovella dan Pirlo.

Secara kemampuan dan tipe permainan, Rovella memang memiliki kemiripan dengan Pirlo. Keduanya fasih memainkan peran deep-lying playmaker, dengan kemampuan umpan serta kemampuan membaca permainan yang baik. Jika nantinya Rovella sudah mencapai level yang lebih tinggi, baik itu bersama Juventus maupun tim lain, boleh jadi akan ada rasa respek juga yang tercipta antara Pirlo dan Rovella.

Akan tetapi, saat ini, mungkin Pirlo baru sebatas melihat Nicolo Rovella sebagai reinkarnasi dari dirinya. Belum ada pembuktian dari Rovella yang membuat dirinya mendapatkan respek dari Pirlo.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.