Musim Ini, Lazio Adalah Langit Biru

Para pendukung Lazio pada sebuah laga. Foto: Twitter @OfficialSSLazio.

Bagaikan langit, begitu juga kondisi Lazio di musim 2020/21 ini. Di kompetisi domestik dan Eropa, mereka sulit sekali untuk ditebak.

"I, I know why

Because when I look in her eyes, I just see the sky

When I look in her eyes, well, I, just see the sky..."

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Ryan Ross, mantan gitaris Panic! At the Disco, saat menulis petikan lirik yang ada di lagu berjudul ‘She Had The World’ ini. Apakah ia menulis ini karena ia baru saja disakiti perempuan, atau, ia melihat ada sesuatu yang memang sudah tidak mungkin ia tembus lagi.

Entahlah. Namun, menilik penggunaan artikel her di lagu tersebut, kemungkinan besar, asosiasi Ross ini pasti mengarah kepada seorang perempuan. Tampaknya, Ross --kamu boleh setuju atau tidak dengannya-- berusaha menggambarkan bahwa hati perempuan bak langit luas yang sulit ditebak.

Langit, sejauh apa pun kita memandang, sejatinya memang tempat yang tidak berbatas. Di sana, segala kemungkinan bisa terjadi. Kadang langit bisa begitu cerah, tetapi dalam beberapa menit kemudian gelap dapat tiba-tiba datang menyergap.

Bagaikan langit, begitu juga kondisi Lazio di musim 2020/21 ini. Di kompetisi domestik dan Eropa, mereka sulit sekali untuk ditebak.

***

Lazio memiliki julukan yang unik, yakni Biancocelesti. Jika diartikan ke Bahasa Indonesia, julukan tersebut berarti ‘Langit Biru dan Putih’. Lho, kok cocok dengan cerita di atas? Apakah memang ada keterkaitan antara Lazio dan Panic! At the Disco?

Tidak-tidak, Lazio memang kerap menggunakan jersi dengan corak warna biru dan putih sebagai jersi inti mereka sejak lama. Dari situlah, kemungkinan besar, julukan Biancocelesti berasal. Warna biru muda berbalut putih pun menjadi identitas Lazio hingga kini.

Tetapi, laiknya langit, penampilan Lazio musim ini sulit ditebak. Di Serie A, mereka terdampar di peringkat 9 klasemen sementara dengan raihan 18 poin. Mereka memasukkan 18 gol dan kemasukan 20 gol. Mereka tertinggal dari tim-tim lain macam Juventus, AC dan Inter Milan, serta tetangga mereka, AS Roma, yang ada di papan atas.

Namun, di Liga Champions, Lazio menggila. Mereka lolos ke babak 16 besar dengan status sebagai runner-up grup, di bawah Borussia Dortmund. Mereka juga jadi salah satu tim yang belum menderita kekalahan di Liga Champions musim ini, bersama Bayern Muenchen, Manchester City, dan Chelsea.

Mengapa penampilan Lazio bisa seunik itu di musim 2020/21 ini? Apakah mereka memang berusaha mengejawantahkan makna langit yang ada di dalam julukan mereka? Ya, tidak begitu juga, sih.

Salah satu jawabannya ada pada skema dan taktik yang diterapkan Lazio. Sejak ditukangi oleh Simone Inzaghi pada 2016 lalu, Lazio rutin menerapkan pakem dasar 3-5-2 atau 3-5-1-1. Pakem ini sempat membawa keseimbangan permainan di tubuh Lazio.

Pelatih Lazio, Simone Inzaghi. Foto: Twitter @OfficialSSLazio.

Tiga bek yang ada di lini pertahanan Lazio ini saling melengkapi satu sama lain. Stefan Radu, Francesco Acerbi, serta Patric/Luiz Felipe memiliki keunggulan masing-masing yang pada akhirnya membuat lini pertahanan Lazio menjadi komplet.

Felipe memiliki kecepatan untuk mengadang lawan. Radu punya pengalaman dan penempatan posisi yang bagus. Sedangkan Acerbi, ia memiliki perpaduan kemampuan fisik, kecerdasan, dan teknik yang prima.

Ketiga bek ini juga kerap dibantu oleh dua wing-back, yang biasa diisi oleh Manuel Lazzari dan Mohamed Fares, untuk menggalang pertahanan, mengubah skema tiga bek menjadi lima bek. Belum lagi, tekel dan intersep Lucas Leiva di lini tengah yang menyaring serangan sebelum masuk pertahanan Lazio.

Sedangkan di lini serang, kreativitas Luis Alberto, berpadu dengan dinamisnya pergerakan Joaquin Correa, Felipe Caicedo, dan Ciro Immobile, masih menjadi senjata Lazio dalam membongkar lini pertahanan lawan. Musim ini saja, Alberto jadi penoreh rataan umpan kunci tertinggi per laga buat Lazio di Serie A, yakni 2,2 kali.

Kemudian Immobile, ia menjadi pencetak gol terbanyak buat Lazio di Serie A 2020/21, yakni 7 gol. Dari semua catatan ini, tampak bahwa Lazio sebenarnya tidak memiliki masalah. Lalu, kenapa Lazio tampil inkonsisten di Serie A? Jawabannya, seiring berjalannya waktu, lawan mulai terbiasa dengan skema Lazio.

Lawan-lawan di Serie A biasanya akan membiarkan Lazio mengambil inisiatif permainan. Tentu, dengan kreativitas dan dinamisme yang mereka miliki di lini depan, Lazio punya kemampuan untuk mengatur distribusi bola. Apalagi, mereka juga punya Luis Alberto.

Di sinilah pangkal masalahnya. Saat Lazio menyerang, lawan lazimnya akan menutup ruang gerak Immobile, Caicedo, atau Correa. Tidak hanya itu, mereka juga akan menekan Alberto selaku distributor bola, plus menjaga gerak Sergej Milinkovic-Savic yang acap muncul dari lini kedua.

Alhasil, di Serie A musim ini, Lazio kesulitan mencetak gol. Understat mencatat, angka xG Lazio musim ini hanya 14,25, terendah kelima di antara tim-tim Serie A yang lain. Kesulitan mencetak gol ini berdampak pada pertahanan mereka.

Saat para penyerang Lazio dikunci, kedua wing-back akan maju untuk membantu penyerangan. Nah, di sinilah titik awal kebobolan Lazio. Mereka akan ditekan balik oleh lawan dari sayap, dan membuat trio lini belakang Lazio langsung berhadapan dengan lawan.

Alhasil, jangan heran jika Lazio kebobolan 20 gol musim ini di Serie A. Mereka kalah dari tim-tim papan atas lain yang, rata-rata, baru kebobolan belasan gol saja. Bahkan, mereka juga kalah dari Udinese --si penghuni papan tengah lainnya-- yang baru kebobolan 14 gol.

Salah satu pemain andalan Lazio, Sergej Milinkovic-Savic. Foto: Twitter @OfficialSSLazio.

***

Oke, Lazio memang inkonsisten di Serie A, karena taktik mereka mulai terbaca lawan. Akan tetapi, hal sebaliknya justru berlaku di Liga Champions. Catatan mereka yang tidak pernah kalah menunjukkan bahwa skema dasar 3-5-2 Inzaghi memberikan efek positif buat Lazio di Eropa.

Terlepas dari lawan-lawan Lazio yang cuma selevel Club Brugge dan Zenit St. Petersburg, Lazio nyatanya mampu mengimbangi Borussia Dortmund. Bahkan, mereka menundukkan Borussia Dortmund di laga perdana Liga Champions 2020/21 dengan skor 3-1.

Alhasil, saat Lazio ditakdirkan harus bertemu Bayern Muenchen di babak 16 besar Liga Champions, publik menanti kejutan apalagi yang bisa mereka hadirkan. Akankah mereka mampu membuat Bayern kesulitan? Atau, malah sebaliknya?

Menilik kekuatan yang dimiliki Lazio sekarang ini, sulit rasanya buat mereka mengimbangi Bayern. Secara taktikal, Bayern sudah memiliki bekal untuk mengatasi permainan Lazio. Terutama, berkaitan dengan okupansi di sisi sayap.

Bayern punya pemain-pemain sayap mumpuni macam Kingsley Coman, Douglas Costa, Serge Gnabry, hingga Leroy Sane. Pemain-pemain inilah yang, jika Lazio tidak menjaga area sayap dengan baik, akan menjadi momok bagi lini pertahanan. Mereka akan memanfaatkan ruang sekecil apa pun yang ada di sisi sayap Lazio untuk menyerang.

Belum lagi, Bayern juga lihai dalam menyerang secara direct, seperti kebanyakan tim Bundesliga yang lain. Lebih menakutkan lagi, serangan direct Bayern ditopang pemain yang andal dalam membagi bola macam David Alaba, Joshua Kimmich, dan Corentin Tolisso.

Selain itu, Bayern juga punya banyak bek sayap agresif yang siap membantu para pemain sayap, macam Alphonso Davies ataupun Lucas Hernandez. Jadi, kejutan yang kerap Lazio tampilkan sejauh ini di Liga Champions, kemungkinan besar akan terhenti di tangan Bayern.

Tapi, ya, Lazio 'kan langit. Lalu, langit 'kan luas dan tidak berbatas. Semoga saja ada kejutan yang sudah mereka siapkan nantinya. Kejutan yang bisa membuat Bayern dan kita, selaku penggemar sepak bola, geleng-geleng kepala.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.