Namanya Giroud, Bukan Giroudinho, Ia Striker yang Komplet

Ilustrasi: Arif Utama

Namanya Olivier Giroud, bukan Giroudinho. Kata Patrice Evra, boleh jadi ini yang bikin ia tak banyak dilirik. Padahal, Giroud termasuk striker yang komplet.

Banyak istilah yang bisa kita asosiasikan kepada sosok bernama Olivier Giroud, mulai dari tua-tua keladi hingga sebuah wine yang enak. Namun, Patrice Evra memiliki pemikiran lain. Rekan setim Giroud di Timnas Prancis itu justru merasa Giroud lebih pas disebut Giroudinho. Kenapa Evra tiba-tiba kepikiran hal semacam itu?

“Saya rasa nama Giroud memang jadi problem tersendiri buatnya. Mungkin, jika namanya adalah Giroudinho, orang akan menyukai dan menghargainya,” ujar Evra.

Evra bicara seperti itu tentu bukan tanpa alasan. Menurutnya, Giroud adalah paket komplet seorang penyerang masa kini. Tak hanya tajam di depan gawang, tetapi juga pandai memantulkan bola serta membuka ruang buat para pemain lain di lini serang.

Alhasil, Evra pun merasa aneh saat orang-orang tidak menghargai apa yang selama ini sudah dilakukan. Ia pun membayangkan, jika nanti ia punya tim dan Giroud ada di timnya, ia pasti akan sering-sering memainkan Giroud di lini depan.

“Menurut saya, Giroud adalah penyerang paling komplet di Chelsea. Saya tidak paham, bahkan di Timnas Prancis sekalipun, orang-orang kerap mempertanyakan gaya mainnya. Di Arsenal, ia juga kerap menerima kritik. Namun, ia selalu menerima semua tantangan itu,” ujar Evra.

“Jika ia ada di timku, 100 persen aku akan memainkannya,” tambahnya.

***

Kita Shinsuke mungkin bukanlah atlet yang terkenal dari SMA Inarizaki, salah satu musuh SMA Karasuno di Haikyuu. Dibandingkan sosok-sosok macam Suna Rintaro, Ojiro Aran, serta Miya bersaudara (Miya Atsumu dan Miya Osamu), Shinsuke mungkin cuma dipandang sebagai pemain yang biasa-biasa saja.

Atsumu merupakan setter andalan Inarizaki dan mampu memberikan bola yang begitu enak bagi para spiker di tim. Aran dan Rintaro, dengan kemampuan spiker mereka yang unik dan kuat, mampu menjadi pendulang poin bagi Inarizaki. Sedangkan Osamu, ia adalah seorang all-rounder yang bisa melakukan set-up bola dan spike sama baiknya.

Shinsuke berbeda. Orang-orang menganggap bahwa Shinsuke tidak punya kemampuan khusus yang membuatnya menonjol. Ia bisa melakukan receive, spike, serta service, namun tidak seistimewa dan sespesial pemain-pemain Inarizaki yang lain.

Kita Shinsuke pada anime 'Haikyu!!'

Akan tetapi, pelatih Inarizaki, Norimune Kurozu, memiiki pandangan lain. Terlepas dari kemampuannya yang memang biasa saja, Kurozu melihat ada satu hal yang bisa dilakukan oleh Shinsuke dan tidak bisa dilakukan pemain Inarizaki yang lain: membuat tim jadi stabil.

Inarizaki yang dipenuhi pemain bertalenta memang kerap dinaungi ketidakstabilan. Miya bersaudara kerap terlalu agresif, hingga akhirnya kerap juga berbuat kesalahan. Begitu juga Aran dan Rintaro yang terkadang lepas kendali dalam melakukan spike.

Shinsuke hadir untuk menyeimbangkan itu semua. Ketika tim sudah di luar kendali atau mengalami kebuntuan, ia akan masuk ke lapangan untuk mengatakan sesuatu yang membuat pemain lain mengakui bahwa ia adalah kapten Inarizaki: lakukan seperti biasanya saja, tidak apa-apa.

Sialnya, karena ia tidak menonjol, ia tidak dihargai laiknya Atsumu bersaudara, Aran, bahkan Rintaro sekalipun.

***

Giroud, seperti kata Evra, adalah paket penyerang komplet di lini depan Chelsea. Ya, ia tidak salah. Selain lihai dalam mencetak gol, Giroud juga andal dalam membuka ruang dan memberikan jalan bagi para pemain lain untuk mencetak gol. Peran ini sejatinya sudah ia jalani ketika membela Montpellier di Ligue 1.

Saat Montpellier meraih gelar Ligue 1 2011/12, Giroud menjadi sosok kunci di lini depan. Selain torehan 21 gol yang ia cetak dalam 36 laga Ligue 1, sosok kelahiran Chambery itu mampu menorehkan 12 assist. Catatan ini sudah menunjukkan bahwa Giroud tidak cuma penjebol gawang lawan. Ia juga membantu kawannya membobol gawang lawan.

Peran ini tetap berlanjut saat ia membela Arsenal. Dari 253 laga yang ia jalani bersama ‘Meriam London’, Giroud mampu menyumbangkan 105 gol dan 41 assist. Catatan assist-nya yang banyak ini menunjukkan bahwa ketika di Arsenal, ia mampu jadi pelayan buat para penyerang yang lain, termasuk Alexis Sanchez.

Makin kentaranya peran penting Giroud di lini depan terlihat ketika ia membela Timnas Prancis di ajang Piala Dunia 2018. Di turnamen tersebut, Prancis mampu menjadi juara dengan sosok Giroud yang jadi andalan di lini depan. Ia memang tidak mencetak gol, tetapi ia mampu menopang kawan-kawannya yang lain di lini serang.

Dalam ajang yang dihelat di Rusia itu, cukup sering kita menyaksikan Giroud menarik bek lawan, menjemput bola, lalu membagikannya di depan. Ia mampu mencetak rataan 1 umpan kunci per laga selama Piala Dunia 2018. Berkat permainannya ini, Antoine Griezmann dan Kylian Mbappe punya banyak ruang yang bisa dieksploitasi di lini pertahanan lawan.

Apa yang Giroud perlihatkan bersama Prancis, Arsenal, dan Montpellier, ia tunjukkan juga saat berseragam Chelsea. Dari 100 laga yang ia jalani bersama ‘Si Biru’, Giroud mampu membukukan 35 gol dan 14 assist sejauh ini. Terbaru, ia mampu mencatatkan 4 gol ke gawang Sevilla di Liga Champions 2020/21 dan 1 gol ke gawang Leeds United.

Twitter @_OlivierGiroud_

Catatan assist-nya yang kerap sama menonjolnya dengan catatan golnya, baik itu di Montpellier, Arsenal, serta Chelsea, termasuk Timnas Prancis, menandakan bahwa Giroud memanglah paket penyerang komplet.

Kemampuan dalam duel udara, menahan bola, memberikan umpan, sampai melakukan finishing, acapkali membuat lini depan tim makin hidup. Alhasil, tak heran jika Frank Lampard keukeuh ingin mempertahankannya di Chelsea. Sayangnya, kontrak Giroud akan habis pada akhir musim 2020/21. Akankah ia benar-benar bertahan di Stamford Bridge?

***

Giroud dan Shinsuke punya banyak kemiripan. Mereka adalah pemain senior di dalam tim. Shinsuke adalah murid kelas 3 SMA, sedangkan Giroud kini sudah berusia 34 tahun. Keduanya juga jarang diturunkan dan biasanya baru diturunkan pada saat-saat tertentu.

Namun, maksud dari diturunkannya kedua pemain ini juga sama. Shinsuke akan diturunkan saat tim tidak stabil. Dengan kemampuannya untuk tetap bermain normal dalam situasi apa pun, ia akan mendinginkan emosi pemain-pemain macam Atsumu bersaudara, Aran, maupun Rintaro yang kerap meletup-letup.

Sedangkan Giroud, ia akan diturunkan untuk memberikan variasi di lini serang. Ketika para pemain muda Chelsea di lini serang mengalami kebuntuan, ia akan turun untuk membuka celah-celah di lini pertahanan lawan terbuka. Ia kerap membuat perbedaan dan mendinginkan situasi panas di lini serang saat diturunkan.

Bagi pelatih, peran tak terlihat macam ini tentu adalah sesuatu yang penting di dalam tim. Namun, sayang, terkadang butuh mata yang lebih jeli untuk memahami pentingnya peran Olivier Giroud dan Kita Shinsuke ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.