Oke, Benitez

Rafael Benitez. Foto: @everton

Jika Benitez sudah mengambil keputusan, ia akan menutup telinga dan menghidari perdebatan. Pemain seakan-akan dipaksa mengatakan "oke" atas semua keputusan si pelatih.

Kata "ok" atau oke dapat berdiri sendiri dalam percakapan maupun tulisan. Oke bisa berarti baik-baik saja, setuju, atau semua benar.

Penulis buku OK: The Improbable Story of America's Greatest Word, Allan Metcalf, bertanya-tanya: kenapa "ok" dapat menjadi salah kata paling populer dalam percakapan umat manusia?

Menurut laporan BBC, "ok" adalah kata yang unik. Ia terdiri dari dua huruf, sebelum terserap dalam KBBI menjadi "oke", tapi bukanlah sebuah akronim. Vokal O dan konsonan K membuat kata tersebut terdengar jelas, lantang, sederhana, dan mudah diingat.

Sama seperti kata-kata lain, "ok" tidak hadir begitu saja. Ada kejadian dibalik popularitasnya.

"Ok" pertama kali dikenalkan pada 23 Maret 1839 oleh surat kabar Boston Morning Post. Dalam sebuah tulisan panjang, editor surat kabar tersebut memasukkan kata "ok" sebagai penanda semua benar.

Oh, ya, pada medio 1830-1840, surat kabar Amerika memang sedang senang-senangnya melahirkan singkatan-singkatan fantastis. Sebelum "ok", mereka menggunakan "OW" untuk menyatakan baik-baik saja.

Kata "ok" semakin familiar di Amerika kandidat presiden Amerika, Martin Van Buren, memakai OK sebagai akronim Old Kinderhook pada pilpres 1840. Setelah itu, "ok" rutin digunakan untuk menandai semua benar dalam dokumen-dokumen maupun telegraf.

Selain terdengar jelas, lantang, sederhana, dan mudah diingat, "ok" dapat menyatakan persetujuan tanpa harus memberikan pendapat dan dapat segera mengakhiri perbincangan. Itu juga menjadi alasan lain kenapa kata "ok" populer dalam percakapan manusia.

A: "PPKM Level diperpanjang."

B: "Oke."

***

Rafael Benitez bukan pelatih yang senang berdebat dengan pemain soal taktik. Jika ia sudah mengambil keputusan, ia akan menutup telinga dan menghidari perdebatan. Pemain seakan-akan dipaksa mengatakan "oke" atas semua keputusan si pelatih.

Greg O'Keeffe dan Adam Crafton dari The Athletic melaporkan, Benitez selalu mengharapkan pemain menerima metode dan sistem yang ia terapkan. Ia tidak terlalu peduli apakah pemain menyukainya atau tidak.

Pria berusia 61 tahun itu sangat rasional dan profesional. Ia tidak akan mencak-mencak kepada pemain saat kalah. Pun demikian saat menang. Yang ia bicarakan selepas pertandingan hanya soal taktik dan skema pertandingan.

Tidak ada pemain favorit maupun pemain bintang dalam kamus Benitez. Baginya, semua pemain sama-sama krusial. Sikap tersebut membuat mantan pemain asuhannya memiliki penilaian yang berbeda-beda.

Ada yang menghormatinya. Ada juga yang enggan bekerja kembali bersama Benitez. Juan Mata adalah salah satu pemain yang menghormati Benitez. Menurut Mata, Benitez selalu dapat menyelesaikan problem di tengah kekisruhan internal klub.

"Benitez adalah ahli strategi. Semua ia kendalikan. Ia memiliki obsesi yang positif," kata Mata kepada The Athletic.

Stabilitas menjadi fokus utama Benitez dalam pertandingan. Eks pelatih Valencia itu gemar memberikan tekanan kepada lawan agar pemainnya dapat mengendalikan permainan.

Menurut laporan The Athletic, kebugaran pemain adalah hal terpenting dalam klub. Pemain mendapatkan waktu berlatih tanpa bola lebih banyak ketimbang dengan bola. Orang-orang Italia menyebutnya lavoro a secco.

Semua pemain, dalam benak Benitez, harus terlibat dalam proses bertahan, tidak terkecuali para penyerang. Penyerang harus dapat menekan bek lawan supaya melepaskan umpan panjang. Dengan begitu, probabilitas skuad kembali memegang kendali permainan semakin besar.

Jika pressing yang diterapkan gagal, Benitez akan menginstruksikan pemain untuk bertahan dengan rapat. Setelah berhasil merebut bola, serangan balik dengan cepat bakal dilancarkan. Maka tidak heran jika ia selalu memberikan tempat spesial kepada bek sayap dan gelandang yang memiliki kecepatan.

Meski saklek dengan gaya bermain tersebut, Benitez tidak ragu mengubah pakem. Saat mengarsiteksi Newcastle United, ia memasang tiga bek tengah. Sebelumnya, ia gemar menerapkan formasi 4-2-3-1.

Pada laga perdana Premier League 2021/2022 melawan Southampton sekaligus titik awal perjalanannya sebagai pelatih Everton, Benitez mengusung pakem 4-2-3-1. Serangan-serangan The Toffees sering bersumber dari kedua sayapnya, entah itu bek sayap maupun gelandang sayap.

Kecepatan Richarlison dan Lucas Digne benar-benar termaksimalkan. Kedua pemain itu selalu menyisir tepi lapangan dengan cepat. Setelah mendekati kotak 16, mereka akan menyodorkan umpan silang. Keberadaan Calvert-Lewin menjadi krusial untuk mengakhiri serangan dan mencetak gol.

Saat lawan menguasai bola, Calvert-Lewin maupun Richarlison aktif memberikan tekanan. Gol pertama Everton bisa menjadi buktinya.

Southampton melakukan lemparan ke dalam di area pertahanannya. Meski begitu, Calvert-Lewin, Richarlison, dan Demarai Gray, menjaga ketat bek Southampton.

Apa yang dilakukan ketiga pemain itu membuat Southampton kesulitan melakukan build-up ataupun melepaskan umpan jauh. Tekanan itu juga membuat pemain Southampton melakukan kesalahan. Peluang dari tendangan sudut pun didapatkan Everton.

Meski bola tidak langsung menggetarkan jala gawang Southampton karena gol berasal dari kemelut, tetapi sepak pojok itu menjadi titik awal keberhasilan Everton menyamakan skor menjadi 1-1.

Gaya bermain yang menekankan pada pressing dan stabilitas permainan itu akan menjadi senjata Everton mengarungi musim 2021/2022 dengan Benitez sebagai nakhodanya. Kemenangan 3-1 atas Southampton pada laga perdana Premier League merupakan modal penting.

Melalui gaya bermain seperti itu, kita mungkin akan melihat sinar Richarlison semakin terang, termasuk Andros Townsend dan Alex Iwobi.

*****

Tidak ada sambutan hangat yang didapat Benitez saat bergabung dengan Everton. Ia mendapat ancaman dari pendukung Everton. Ancaman tersebut meminta Benitez untuk tidak menandatangani kontrak dengan klub kesayangan mereka.

Latar belakangnya tentu saja rekam jejak Benitez. Benitez adalah pelatih Liverpool, rival Derbi Merseyside Everton, pada 2004-2010. Ia juga mengambil peran penting dalam kisah 'Miracle of Istanbul' yang akan terus hidup selama bumi berputar sebagaimana mestinya.

"Kami tahu di Mana Anda Tinggal. Jangan Tanda Tangan."

Begitulah isi ancaman pendukung Everton. Namun, Benitez tidak mempedulikan ancaman-ancaman yang datang. Ia tetap saja menandatangani kontrak bersama Everton.

"Saya tidak takut (dengan ancaman itu). Saya ingin menang, kompetitif, dan ambisius. Saya yakin kami akan melakukannya," ucap Benitez dalam jumpa pers pertama sebagai pelatih Everton.

Melihat respons Benitez yang meletup-letup tersebut, kita cuma bisa berkata: Oke, Benitez.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.