Parma dan Juventus, Cinta Pertama dan Terakhir Gianluigi Buffon

Foto: Cristiano Barni - Shutterstock

Buffon menghidupi masa mudanya bersama Parma, lalu merengkuh masa kejayaannya bersama Juventus. Kini ia menjadi anomali masa tua di depan gawang Juventus.

Bagi Gianluigi Buffon, Parma adalah cinta pertamanya. Semua kesuksesan yang diraih olehnya dimulai dari klub yang berada di Emilia-Romagna itu.

Usia Buffon saat itu masih 17 tahun. Namun, pria kelahiran Carrara itu sudah diberi mandat untuk mengawal gawang Parma di laga yang cukup krusial menghadapi AC Milan.

Tepatnya pada 19 November 1995, pelatih Parma ketika itu, Nevio Scala, memilih Buffon karena kiper utama, Luca Bucci, mengalami cedera. Sebenarnya masih ada nama kiper kawakan Alessandro Nista yang bisa dimainkan Scala. Namun, performa impresif Buffon saat latihan membuat Scala mengambil langkah yang nilai cukup berisiko itu. Buffon mendapat tempat utama di laga melawan Milan.

"Buffon belum pernah bermain di tim utama dan kami akan berlaga melawan tim penuh bintang. Di sana ada Roberto Baggio, George Weah, hingga Paolo Maldini," ucap Scala kepada Goal International.


Buffon bukan bocah yang penakut. Segala tantangan yang ada di depan matanya akan terus ia hadapi dengan penuh keyakinan.

"Sejak kecil, saya selalu menyukai tugas yang sulit. Setiap kali saya mengambil keputusan, saya akan mengikutinya," ucap Buffon.

Saking pedenya, Buffon sempat berujar begini di ruang ganti beberapa menit sebelum melakoni debut: "Mari berharap mereka mendapatkan penalti supaya saya bisa menggagalkan penalti itu," ucap Buffon.

Ennio Tardini kala itu disesaki 28.000 pasang mata. Wajar, karena Parma selaku tuan rumah kedatangan Milan yang saat itu tengah jaya-jayanya di Italia dan Eropa. Pasukan Fabio Capello itu meraih Scudetto tiga kali dalam empat musim ke belakang. Skuad Milan saat itu juga dihuni nama-nama menterang.

Tidak ada penalti di pertandingan tersebut. Akan tetapi, Buffon tetap tampil gemilang dan berhasil menahan gempuran-gempuran pemain Milan. Stefano Eranio, Roberto Baggio, Marco Simone, dan George Weah dibuat mati kutu oleh Buffon. Laga selesai tanpa pemenang dan tanpa gol.

Buffon yang tampil menawan menjadi headline di surat kabar Italia. Tentu aksi yang gemilang itu membuat namanya melambung dan diperbincangkan seantero Italia.

“Debut saya di Serie A adalah pertandingan terbesar. Untuk melakoni debut di Serie A pada usia 17 tahun melawan Milan dan bisa clean sheet adalah hal yang luar biasa. Saya tidak pernah memimpikan debut seperti itu,” ucap Buffon.

Buffon juga mendapatkan banyak pujian. Bahkan, senior dan pesaingnya, Alessandro Nista, heran kenapa Parma harus mendatangkannya saat itu.

“Sejak hari pertama datang ke Parma, saya menyadari ada pemain dari tim junior yang akan menjadi fenomena,” ucap Nista

"Kenapa mereka mendatangkanku? Mereka di sini memiliki Buffon yang seperti Ferrari, sementara aku hanya sebuah mobil biasa," tambahnya.


Pada musim debutnya, Buffon bermain sembilan kali untuk Parma. Penjaga gawang yang lahir 28 Januari 1978 itu mencatatkan tiga clean sheet pada musim perdananya.

Baru pada musim 1996/97 Buffon mulai mendapat tempat reguler di Parma. Kesaktiannya mengawal gawang juga berdampak positif untuk Parma. Sepanjang kariernya, Buffon sukses mengantarkan Parma juara Liga Europa dan Coppa Italia 1998/99. Buffon juga tampil sebanyak 220 kali dan bisa membuat 85 clean sheet.

***

Kehebatan Buffon membuat klub-klub Serie A kepincut. Akhirnya, Juventus yang sanggup mengamankan tanda tangannya saat itu.

Juventus sampai-sampai mengeluarkan uang sekitar 52 juta euro untuk menghadirkan Buffon. Angka itu membuat Buffon menjadi kiper termahal pada zamannya.

Cerita unik terjadi saat Buffon datang ke Turin. Marcelo Lippi yang kala itu menjadi pelatih Juventus bercerita bahwa Buffon takut kalau harus disuruh potong rambut usai meresmikan kepindahannya.

"Dia cemas ketika dia bergabung dengan Juventus, kami akan meminta dia untuk memotong rambutnya. Saya lalu mengundangnya ke tempat latihan dan saya berkata: Tenang tidak ada yang memintamu untuk memotong rambutmu. Itu bentuk ekspresi jiwa mudamu, semua akan baik-baik saja di sini," cerita Lippi saat itu.

Buffon pun bergabung dengan Juventus. Si Nyonya Tua kudu melego Zinedine Zidane ke Real Madrid dulu untuk menambah dana segar mendaratkan Buffon ke Turin.

Keputusan Juventus untuk mendatangkan Buffon tidak menjadi senjata makan tuan. Tidak ada headline yang mengecap langkah tersebut sebagai perjudian buntung Si Nyonya Tua. Buffon menjadi pahlawan, lalu abadi sebagai legenda. 

Bahkan saat Juventus tersandung skandal dan terjerembap ke Serie B, Buffon tak meninggalkan gawangnya di Turin. Bersama para pemain yang memutuskan bertahan, Buffon melindungi dan mengembalikan derajat ‘Sang Nyonya’ ke tempat yang seharusnya.

Buffon memang sempat hijrah ke Paris Saint-Germain dua musim lalu. Namun, cintanya kepada Juventus yang membuatnya kembali lagi.

"Saya memutuskan untuk kembali ke Juventus karena klub ini adalah keluarga. Saya tak akan pernah berkata tidak kepada keluarga dan saya senang bisa kembali ke rumah," ucap Buffon.

Menariknya, Buffon tak lagi menggunakan nomor punggung satu. Selain itu, Buffon menolak ban kapten yang memang sudah dipakainya sebelum pindah ke PSG.

“Sudah seharusnya sang kiper utama, Szczesny, mengenakan nomor 1 di punggungnya. Sementara, Chiellini adalah kapten yang luar biasa. Saat ini, saya hanya ingin membantu tim. Saya harus memastikan diri saya siap ketika diminta bermain,” kata Buffon dikutip dari Football Italia.


Karier Buffon bersama Juventus memang sangat fantastis. Total ada 10 gelar scudetto yang dihasilkannya selama berseragam Juventus. Itu belum ditambah empat gelar Coppa Italia dan enam gelar Piala Super Italia.

Sampai sejauh ini, Buffon tampil sebanyak 682 kali untuk Juventus. Catatan clean sheet-nya juga cemerlang dengan angka 322.

***

Buffon belum mau berhenti mengawal gawang Juventus. Di usianya yang sudah menginjak 43 tahun musim ini, Buffon tampil sebanyak 11 kali di semua kompetisi. Catatannya, Buffon bisa membuat enam clean sheet.

Kamis (22/4/2021) dini hari WIB, Juventus dan Parma akan bertemu di pekan ke-32 Serie A. Bukan tak mungkin, Andrea Pirlo akan memainkan Buffon sejak menit pertama. Terlebih, lawan yang akan dihadapi Juventus adalah cinta pertama untuk Buffon.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.